Saya punya seorang Om yang nama panggilannya bukan seperti nama aslinya, yakni Om Aris. Om Aris adalah adik dari ibu saya yang sejak SMA tinggal di Jogja. Om Aris adalah orang yang pertama memperkenalkan saya pada dunia otak-atik IT (waktu itu jamannya aplikasi Symbian, edit-edit foto atau video, scanning gambar, masang router, dll) mengajarkan saya cara merawat barang-barang yang ada di rumah (servis motor, nyemen tembok demi memasang terminal baru, dll). Termasuk pula Om Aris-lah yang membimbing saya dalam berstrategi soal pemilihan kuliah dan SPMB. Om Aris juga yang waktu itu membawa saya untuk bertemu dengan penulis buku seri “Perang Siasat”, Abdul Muis, yang bukunya begitu saya gemari. Singkatnya mah, Om Aris itu Om saya bangetlah, yang bener-bener membuat saya bersyukur punya Om seperti beliau.

Om Aris dan Khansa. Kata mama saya, tidak benar juga pendapat orang yang bilang bahwa anak hanya akan dekat dengan ibu, lihat saja Khansa yang tetap dekat dengan ayahnya dan selalu menangis ketika ayahnya akan pergi ke Jakarta, “Ayah ndak boleh ke Jakarta”. (Tante Rahma dan Khansa tinggal di Madiun, sementara Om Aris tinggal di Jakarta)

Singkat cerita, saya baru dikasih tahu oleh mama saya bahwa Om Aris akan wisuda magister. Eyang juga akan datang ke wisuda Om Aris. Kebetulan saya juga sedang ingin membeli kacamata, dan harga kacamata di Indonesia lebih murah (untuk kacamata yang tidak bermerk, yang sekedar paketan, toh minus saya juga kecil), dan selain itu memang ada kata hati saya yang menyuruh saya untuk pulang ke tanah air meskipun hanya untuk dua hari. Maka saya pun memesan tiket pesawat, dan kebetulan mendapatkan harga promo untuk salah satu trip.

Di Balairung, saya, Eyang, Tante Rahma, dan Khansa (Putri Om Aris) menunggu di tempat yang telah disediakan sementara Om Aris menjalani proses di dalam gedung. Kami masih menunggu Mas Hata yang akan menyusul. Ohiya, karena Khansa masuk angin, Tante Rahma dan Khansa ke bilik kesehatan yang disediakan.

Nah, tentu saja ibu-ibu di sana tidak hanya Eyang saya, ada ibu-ibu yang lain yang mengantarkan anak-anaknya wisuda. Di situ Eyang saya pertama berbincang dengan seorang ibu yang juga sudah ditinggal oleh suaminya. Lalu mereka sama-sama bernostalgia, bahwa pada akhirnya perjuangan mereka membesarkan anak-anak tidak sia-sia ketika anak-anaknya jadi ‘orang’. Dan mungkin ada juga sedikit bayangan di antara mereka, terbayang apabila suaminya juga ikut berada di sana menyaksikan wisuda anaknya.

Selayaknya pembicaraan ibu-ibu, mereka pun berbagi cerita tentang anak-anaknya. Oiya, tentu saja ibu ini masih jauh lebih muda dari Eyang saya. Ibu ini agak terkejut ketika Eyang saya bercerita kalau saya, cucunya, sudah lulus dari ITB. Setelah itu Eyang saya juga bercerita tentang cicitnya.

Nah, ketika bercerita ini itu, sering sekali Eyang saya membangga-banggakan anak-cucunya. Mulai dari ini itu lah, sampai hal-hal yang terkadang menurut saya kurang penting seperti bercerita kalau cucu-cucunya mendapatkan nilai 10 di ujian nasionalnya (mulai dari yang SMA, SMP, dan SD). Saya sendiri kurang nyaman ketika diri saya yang disinggung, apalagi kalau hal yang disinggung kurang akurat.

Dan Eyang Putri saya tidak hanya berbincang dengan satu orang. Ketika si ibu ini pamit duluan, tak lama kemudian ada ibu-ibu lain yang mengajak ngobrol. Lalu Eyang pun kembali bercerita dengan kadar keakraban yang sama seperti yang tadi. Setelah prosesi wisuda selesai, kami sempat berfoto-foto di dekat danau dengan background perpustakaan UI yang baru. Di sana Eyang saya sudah tidak terlalu berminat untuk ikut berfoto, beliau pun memilih untuk duduk menunggu dan kembali berbincang-bincang akrab dengan ibu-ibu yang lain.

Oh iya, Sempat Eyang Putri berkata kepada saya di tengah prosesi wisuda

Kalau Eyang gitu sih sebenernya ya berharapnya pada bisa lanjut sampai S3. Saya kalau untuk anak-cucu itu, cita-citanya tinggi. Apalagi kalau untuk pendidikan. Karena kan nanti tantangan yang akan dihadapi jauh lebih berat dibanding tantangan jamannya Eyang.

Waktu itu sempat ada juga helikopter yang mendarat di dekat Balairung. Sempat kami menebak-nebak, mungkin itu anggota MWA atau tamu dari luar.

Kamu nanti juga kalau suatu saat jadi MWA lagi mungkin ya kayak gitu Fik

Ah enggak Yang, kalau aku nanti naiknya roket

Esok harinya ketika saya hendak kembali ke Singapura, seperti biasa, saya berbincang berdua dengan mama saya. Biasanya kami sampai di bandara sejam sekitar 2 hingga 3 jam sebelum jadwal keberangkatan. Di sana kami selalu berbincang tentang banyak hal, mulai dari yang berkaitan dengan kehidupan akhirat sampai dunia, termasuk membicarakan tentang adik-adik saya.

Di situ saya sedikit mengungkapkan kegundahan saya tentang Eyang yang suka cerita hal-hal yang sebenarnya menurut saya tidak perlu diceritakan, too much information to stranger. Saya terkadang takut bahwa itu sebenarnya wujud kebanggaan yang berlebihan terhadap anak cucu.

Ma, apa emang kalau sudah tua jadinya seperti itu sih? Jadi suka cerita yang nggak penting?

Kalau memang kebanyakan orang begitu tua jadi seperti itu, aku mau berdoa aja biar kalau tua aku nggak banyak omong

Tentu saja kata-kata ini keluar dari seorang anak berusia 21 tahun yang belum pernah merasakan bagaimana perjuangan yang berliku dan panjang dalam membesarkan anak-anak hingga cucu. Awalnya mama saya hanya tertawa dan bertanya, “emang ceritanya ke orang-orang gimana?

Lalu tak lama kemudian Eyang Putri menelepon, sedikit bercerita kalau kemarin perjalanan dari Jakarta-Malang harus menunggu antrean take-off. Eyang juga bilang kalau sekarang Eyang sudah berani pergi sendirian naik pesawat. Tentu saja pada kesempatan itu saya mohon pamit dan meminta doa restu. Setelah Eyang selesai menelepon, mama saya akhirnya melanjutkan tanggapannya.

Ya mau gimana lagi. Buat Eyang itu semangat hidupnya ya anak dan cucu-cucunya.

Eyang sendiri sudah nggak butuh dunia, jadi ya wajarlah kalau suka cerita-cerita seperti itu. Itu bentuk syukurnya..

Wujud semangat hidupnya

Lalu saya pun mulai bisa menerima dan terharu atas hal-hal ini.

Dan hari ini lagi-lagi saya berpikir tentang ‘mimpi’ atau semangat hidup. Sembari membaca The Valkyries dari Paulo Coelho, saya kembali merenung tentang semangat hidup saya. Biar bagaimanapun juga kita masih hidup di dunia,  kita butuh yang namanya semangat hidup, sebuah alasan untuk tetap bekerja di dunia.

Tentu ada alasan atas dikirimnya makhluk-makhluk akhirat ke sekolah yang bernama dunia. Kita tidak bisa hidup zuhud lalu benar-benar menafikan dunia, tidak mau punya mimpi, tidak mau berusaha untuk dunia, hanya karena alasan naif: akhirat lebih bernilai. Bahkan Eyang saya yang sudah berusia 60-an tahun saja, masih punya semangat hidup, masa saya tidak sih. Masa saya cuman let it flow, let it flow-doang-ajah?

Dan terakhir ada penggalan doa dan nasihat yang diberikan Eyang Putri saya ketika saya sedikit bercanda:

misalnya aku nanti udah jadi wakil presiden, terus masih bisa dateng ke mana-mana, termasuk ke surau tanpa dikawal, tanpa naik helikopter.

Ya nanti kamu yang merubah tradisi.

Ya, saya pun mulai menggali mimpi-mimpi yang sudah saya kubur cukup lama.. saya ingin menghidupkan Sang Pemimpi dalam diri saya. Satu kali lagi, untuk seterusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s