Supremacy

It suddenly crossed my mind when I read someone’s facebook notes mentioning Noam Chomsky. Of course, it discusses the role of media in politics. My take on this: it always goes back to this very quote,

“First we create the tool, and then the tool shapes us”

When it comes to politics, we have to take into account the price of interaction between technology and society. First, we need technology to solve our problem. We develop technology to build our civilization. But, when we further take into account the speed of technology advancement, it is very terrifying. Supercomputer, ultra-connected world, biomedical devices, nuclear weapon, drone…. What if one day those greedy elites have the absolute control of this technology which can shape the society? We will not just enter the electrical warfare.. It will be an intelligent-electrical warfare!

The society will lose everything. They will keep thinking that they make choices by themselves. Although in fact they make a decision according to the knowledge they have got from the media. It’s like a pseudo-free will.

And one day, that time will come.. When the human race loses their supremacy.. Because they keep fighting each other and forget about the very reason they live here…

Teman Inspiratif: Si Jenius Boy – Chapter 1-5 (habis)

Teman Inspiratif: Si Jenius Boy – Chapter 1-5 (habis)

CAUTION! MENGANDUNG TERLALU BANYAK MAJAS HIPERBOLA

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang teman-teman saya yang perkenalan saya dengannya memberikan banyak inspirasi. Beberapa draft sudah ditulis. Berkali-kali saya menulis, “akhirnya postingan pertama saya jatuh kepada si X“. Tapi nampaknya baru postingan ini yang benar-benar konkret.

Dan episode perdana serial teman inspiratif ini jatuh kepada… yak Anda benar! Amril Hidayat!! (Ya iyalah lha wong udah ada di linknya, piye toh mase) Continue reading “Teman Inspiratif: Si Jenius Boy – Chapter 1-5 (habis)”

Sajak-sajak Lama di Facebook

Gara-gara satu dua hal saya jadi membuka-buka notes facebook saya. Saya menemukan banyak sajak yang dulu saya tulis di sana. Kalau dibaca-baca lagi, rasa-rasanya saya waktu itu sedang bergejolak-bergejolaknya, seorang pemuda berusia sekitar 17 tahun yang sedang mencari banyak hal.. Tak jarang komentar-komentar saya pun sangat emosional dan temperamental. Malu sih bacanya, tapi ya “kalo dulu nggak gitu, ya sekarang nggak gini.”

Berhubung ini bener-bener saya yang nulis, sok aja sih kalo ada yang suka sajaknya terus pengen dipost di blognya sendiri atau dimana. Tapi ya, at least cantumin link-nya biar kita sama-sama bisa belajar menghargai diri sendiri aja sih.. kalau inspirasi dan kebijaksanaan mah sebenarnya memang tercecer dimana-mana, bukan saya juga yang punya.. ūüėÄ Continue reading “Sajak-sajak Lama di Facebook”

Jenis-Jenis Sembahyang

Jadi ceritanya beberapa hari lalu saya sempat berbincang dengan teman. Dia bilang kepada saya sudah tidak sholat dua minggu. Dan dia merasa tidak ada pengaruh apa-apa buat dia. Dia masih sholat jumat sih tapi sholat yang lainnya males. Pointless. Hidupnya tetap jalan. Jakarta tetap macet.

Meskipun sholat saya sendiri belum tegak betul, sebagai teman dan sekaligus untuk menasehati diri sendiri saya tentu hanya bisa berkata bahwa sholat itu tidak sekedar untuk dunia, tapi ini investasi untuk akhirat. Saya bilang seperti itu karena baru-baru ini sering kepikiran, yang Islam saja akidah nya belum tentu benar; yang kiyai saja belum tentu masuk surga; apalagi saya kalau nggak sholat. Saya ngomong gitu spiritnya dalam rangka berbicara ke diri sendiri sih sebenernya.

Nah, baru-baru ini saya sedang membaca sebuah buku dan sampai pada bab tentang sembahyang. Jadi jenis-jenis sembahyang di buku tersebut adalah: Continue reading “Jenis-Jenis Sembahyang”

Role Model dan Love of Life

Sebagai makhluk sosial, interaksi dengan manusia lain ikut membentuk karakter dan cara kita hidup. Dan saya baru menemukan bahwa ada dua jenis ‘sosok’ yang penting dalam kehidupan kita. Mereka bisa memberikan drive, namun tak jarang mereka juga bisa membuat kita kecewa.

The Role Model

Sadar atau tidak kita selalu memiliki role model. Baik itu orang tua kita atau teman-teman kita, atau tokoh yang kita kagumi. Dengan segala hal positif yang ada pada mereka, kita tumbuh sebagai pengagum mereka. Continue reading “Role Model dan Love of Life”

Waktu Adik Merengus

Kakak baru pulang dari kantor. Umi mulai mengeluh lagi saat ia bertanya mengapa Adik masih merengus. Padahal Umi sudah meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya; padahal Umi sudah melakukan semua yang dia bisa untuk membalasnya, mencintainya dengan lebih. Kakak hanya tersenyum dibalik kerudung putihnya.

Kakak betul-betul tahu betul apa yang dirasakan oleh Adik. Kakak berkata singkat pada Umi; bilang bahwa semuanya butuh waktu, dan anak muda memang seperti itu, sedang panas-panasnya, sedang ingin ruang privat seluas-luasnya, keakuan-nya sedang meraksasa; dan kita harus memahaminya. 

Namun, Umi masih merasa pongah, tapi sampai kapan? Setiap orang harus berubah, dan kapan dia mau berubah?¬† Continue reading “Waktu Adik Merengus”

‘Intuisi’

It’s like when you think some things are better left untold, but then your lips just say it.

It’s like when you want to send a postcard that you’ve been wanting to send since so long, and then suddenly your heart tells you not to send it.

It’s like when you really need a ticket to go to Bandung for a train which will depart from Jogjakarta 37 minutes from now. You go to the ticket counter only to find there is no ticket left for you. And then you feel like want to wait in some place. You just stand in there, not know what you are really up to. Then, five minutes later, a man comes to you. He says he wants to cancel his trip to Bandung. He asks you if you want to buy it.

‘intuisi’ vs intuisi Continue reading “‘Intuisi’”

Meta

Kau berada di tengah sebuah jalan raya pada malam hari. Jalanan kosong. Tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Semak belukar memagari tepi jalan. Kau mulai risih dengan lolongan anjing di belakangmu yang siluetnya nampak seperti serigala. Bukan hanya kau tak tahu sedang apa kau di sini, tapi kau pun ragu untuk berjalan karena lampu penerangan jalan sangat redup. Bahkan kau tak dapat melihat apa yang ada di ujung jalan ini, lima puluh meter ke depan saja sudah pekat. Dan rasa-rasanya, bentuk lampu jalannya kuno. Apakah kau sedang terlempar ke masa lampau?

Seseorang menepuk pundakmu. Kau menoleh.

“Hei, kenapa diam? Ayo jalan”

Dia adalah sosok yang kau kenal dengan baik, sangat baik. Jalan hidup kalian berdua telah bersilangan pada suatu masa. Dan sejak saat itu seperti ada sesuatu yang terkait antara kalian berdua. Begitu berbeda, tapi terhubung. Apa yang dia alami dan apa yang kau alami dalam hidup seperti memiliki persamaan, meskipun dengan cara yang tak sama. Kalian jarang berbicara, tapi selalu tersambung. Wujudnya yang tiba-tiba saja hadir, membuat ruang yang tadinya sama sekali asing menjadi sedikit familiar.

Dia menggandeng tanganmu, dan menuntunmu berjalan bersama menyusuri jalanan sepi ini.

Tapi, ini dimana? Continue reading “Meta”

My Entrepreneurial DNA Profile : HEART Dominant

My Entrepreneurial DNA Profile : HEART Dominant

On Saturday, I went to Hendry’s housewarming party with Ronggo. Since his house is located in Eunos, Ronggo and I decided to go to Singapore Expo afterward. A book expo was taking place there. Since it was a very rare chance to get cheap books, I went home with 10 books in my hand.

I know it might not be the perfect time to buy those books since the exam is approaching very fast and I still have many unread books. But I took it as an investment. And luckily, I got a few books that I’ve been wanting to read since the last year (due to friend’s recommendation and some excellent review on the Internet). And I paid only 20% of the normal price. Continue reading “My Entrepreneurial DNA Profile : HEART Dominant”

Sekelebat

Surga dan neraka terpisah oleh satu tembok. Ada pintu pada temboknya. Saat pintu itu terbuka, mereka yang di neraka dapat melihat keindahan surga, sementara yang di surga dapat melihat api yang begitu menyala-nyala. Mereka dapat saling berpandangan, serta berbincang. Tapi tak dapat mereka siramkan air dari surga untuk memadamkan api neraka.

Bagi mereka yang pernah melintasi pintu itu, neraka benar-benar siksaan yang menderita dan tiada habisnya. Setiap hari berharap untuk terbebas dari apinya namun tak bisa. Terasa kekal menapak di atas baranya. Menangis hati karena telah jauh dari apa yang seharusnya dijalani. Setiap hari bertanya, kapan bisa keluar dari sana. Akan tetapi, saat pintu itu berhasil terbuka dan dilalui, semua menjadi berbeda. Kekekalan yang dirasa di neraka terasa hanya sejenak saja, angin lalu dalam lembar perjalanan jiwa. Dan di surga, semuanya ada. Semuanya terasa indah. Seolah menjadi orang paling bahagia di jagad raya dengan segala dimensinya. Cukup, cukup, cukup, sebab sudah berada dalam benteng Sang Hyang. Tak ada hentinya tangis bahagia, senyum karena merasa dicinta dan mencinta. Sebab Sang Hyang selalu ada untuknya.

———

Tak akan pernah kalah setan dilawan. Semakin kita bertarung dan melawan, tak jarang ia justru menjadi lebih kuat, dan satu-satunya cara adalah dengan tak mengacuhkannya.

Maka, satu-satunya senjata adalah eling lan waspada, menyadari bahwa kesadaran dan ketidaksadaran kita adalah satu-satunya dayung untuk menjalankan perahu kehidupan. Kita selalu bisa memilih, hendak menolak sambutan tangannya, lalu berbalik pergi. Atau, kita menolak sambutan tangannya sambil memaki-maki, dan kita tak beranjak. Kita akan terjebak dalam permusuhan yang tiada habisnya.

Dan kemenangan atas mereka hanya bisa diperoleh saat kita bergabung bersama pasukan-Nya, berlindung di dalam benteng-Nya.

———-

Dalam petualangan jiwa, tentangnya adalah rasa-merasa. Perbedaan tipis dalam lapisan jiwa, hanya bisa dirasa saat seseorang memisahkan berbagai jenis kesadarannya. Saat jiwa menyambar semesta bersabda. Memberikan petunjuk dan jawaban atas beragam tanya. Terasa, dirasa, dan membekas, meski tak bertekstur dan tak kasat mata.

Kapan kau mengejar matahari, kapan kau hanya membutuhkan sinarnya? Bukankah doa, cinta, dan cita hanyalah antara? Tapi jika kau telah merasa cukup akan semua yang kau punya dalam hidupmu, engkau tak akan lagi terkekang oleh apa yang kau minta.

———-

Jangan acuhkan, termasuk egomu sendiri, dalam berdoa dan menjalani hidup. Senang kan kau jelang. Kau ada di titik bebas, menari-nari di tengah hujan. Bahagia saat membuka mata, bersyukur saat akan tidur.

———-

Sawang-sinawang; yang melihat orang lain lebih bahagia justru sejatinya lebih bahagia dari orang yang dilihatnya. Sebab kebahagiaan itu adalah pilihan. Jangan biarkan dunia merusak kebahagiaan yang sudah menjadi hakmu! Kau terlahir di surga!

Surga kita ada di kesadaran yang terlelap. Ia adalah dapur bagi masakan-masakan kehidupan yang kita santap. Dan asapnya tak pernah berhenti mengepul. Saat kesadaran ini buruk, maka buruklah semua kehidupan. Gaji tak pernah cukup. Tak ada orang yang sayang. Neraka!

Dialah hati, mungkin sebuah bagian dari hati. Dialah yang terus bekerja saat kita terlupa dan tak awas. Saat pikiran kita berkelana, ia tetap di sana, memasak untuk kita.

Tak ada yang bisa mengemudikannya selain akal. Oh ya, bukankah karena akal kita menjadi berbeda, kita sempurna bahkan sebelum ditiupkan dalam diri kita. Kereta kita punya masinis! Dan, selayaknya dua daratan yang terpisahkan oleh lembah raksasa, dialah yang jadi jembatannya. Kita punya kuasa atas diri kita sendiri. Apalagi kalau bukan sebab Tuhan yang berikan?

Aku akan mengikuti persangkaanmengikuti persangkaan hamba-Ku

Lihat hidupmu, dan kau tahu apa saja persangkaanmu!

———-

Ada lima cara menembus faktor kritis;saat masinis bisa masuk ke dalam lokomotif: repetisi, emosi, identifikasi kelompok, testimoni otoritas, dan relaksasi.

Tell me who is your friend, I’ll tell you who you are

Tombo Ati iku limo perkorone

Kaping pisan moco Kuran lan maknane

Kaping pindo sholat wengi lakonono

Kaping telu wong kang soleh kumpulono

Kaping papat wetengiro ingkang luwe

Kaping limo zikir wengi ingkang suwe

Salah sawijine sopo iso ngelakoni

Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

Sunan, betapa cerdasnya engkau yang hidup mendahuluiku.

Hijrah

Dan tiba-tiba saja semuanya berkonspirasi, seolah menyuruhku untuk kembali membuka catatan-catatan lama. Mereka semua mengingatkanku bahwa hidup harus dirayakan dengan berbahagia. Mereka seakan mengingatkanku bahwa kita tak boleh lelah untuk berusaha menjadi lebih baik.

Perubahan itu berat di awal, memang, tapi manusia beradaptasi.

Lalu bangun pagiku hari ini disambut dengan sebuah pesan dari seseorang yang telah menghabiskan hidupnya untuk mengabdi. (Iya, hari ini pagiku tidak disambut socmed, waktu menunggu bus, waktu refreshing dan bosanku tidak dihabiskan dengan membuka path, twitter, atau facebook lagi) Kekji mengirimkan gambar yang bertuliskan

“Setiap terbit mentari, semoga Allah memperbarui imanmu. Selamat Tahun Baru Islam.”

Setelah itu aku mulai bersiap ke kampus. Dan saat menyeberang jalan, tiba-tiba saja semuanya terasa berbeda. Aku merasa bahwa akhirnya aku sudah kehabisan pertanyaan. Sebab toh sebenarnya semua sudah terbongkar jawabannya. Dan sekarang yang harus aku lakukan adalah tinggal menjalaninya.

Siangnya pun ibu mengirimkan beberapa quote:

Hidup itu mudah, sederhana, indah.. Tp manusia membuat berbagai aturan2 yg menyulitkan manusia itu sendiri. aturan2 yg menyuburkan kesombongan, individualist dan ego. Akhirnya manusia tenggelam dlm ilusinya sendiri.. (Abu 25/10/13)

Ya, begitulah sejarah kehidupan, maka yang paling penting Kita sendirilah yg menata diri Kita agar menjadi hamba Allah yg benar. Itu yg hrs sll kita pertanyakan pd diri Kita,bukan ttg seperti kita dilihat orang lain. Seperti apa kita dilihat orang lain tidak penting, yg penting spt apa kita dilihat Tuhan (Abu, 27/10/2013)

Menariknya, kutipan ini adalah jawaban atas pertanyaan yang sempat aku pikirkan kemarin malam. Aku bahkan sedang berpikir untuk menanyakan tentang hal ini ke Kekji tepat sebelum menyeberang. Tapi toh aku sudah tahu jawabannya. Dan pada akhirnya jawabannya diberikan lagi, meskipun jalurnya lain-lain. Dan didapatkan dalam tempo yang singkat; meskipun aku tak jadi bertanya.

Sampai hari ini aku berpikir, betapa beruntungnya diriku. Dan bukankah bahagia itu kita yang menentukan. Sebab bagiku, bahagia itu pada saat kita mengetahui ada yang menyayangi kita, bahkan ada Yang Tak Lelah Menyayangi kita. Ya, aku tak ingin menjadi orang-orang yang kebahagiaannya ditentukan orang lain, sehingga bisa dirusak oleh orang lain. Pun aku tak pernah ingin merusak kebahagiaan orang lain.

.. dan pada akhirnya tidak ada yang bisa aku sombongkan sama sekali. Aku ini manusia yang sudah terlalu banyak membuat dosa sejak usia muda.

.. tapi, aku masih percaya bahwa Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk kembali menjadi manusia yang bersyukur, berbuat kebaikan, berbagi manfaat bagi sesama, dan berprasangka baik kepada Tuhannya.

Bismillahirrahmanirrahiim.

Singapura, 1 Muharram 1435 H