Hijrah

Dan tiba-tiba saja semuanya berkonspirasi, seolah menyuruhku untuk kembali membuka catatan-catatan lama. Mereka semua mengingatkanku bahwa hidup harus dirayakan dengan berbahagia. Mereka seakan mengingatkanku bahwa kita tak boleh lelah untuk berusaha menjadi lebih baik.

Perubahan itu berat di awal, memang, tapi manusia beradaptasi.

Lalu bangun pagiku hari ini disambut dengan sebuah pesan dari seseorang yang telah menghabiskan hidupnya untuk mengabdi. (Iya, hari ini pagiku tidak disambut socmed, waktu menunggu bus, waktu refreshing dan bosanku tidak dihabiskan dengan membuka path, twitter, atau facebook lagi) Kekji mengirimkan gambar yang bertuliskan

“Setiap terbit mentari, semoga Allah memperbarui imanmu. Selamat Tahun Baru Islam.”

Setelah itu aku mulai bersiap ke kampus. Dan saat menyeberang jalan, tiba-tiba saja semuanya terasa berbeda. Aku merasa bahwa akhirnya aku sudah kehabisan pertanyaan. Sebab toh sebenarnya semua sudah terbongkar jawabannya. Dan sekarang yang harus aku lakukan adalah tinggal menjalaninya.

Siangnya pun ibu mengirimkan beberapa quote:

Hidup itu mudah, sederhana, indah.. Tp manusia membuat berbagai aturan2 yg menyulitkan manusia itu sendiri. aturan2 yg menyuburkan kesombongan, individualist dan ego. Akhirnya manusia tenggelam dlm ilusinya sendiri.. (Abu 25/10/13)

Ya, begitulah sejarah kehidupan, maka yang paling penting Kita sendirilah yg menata diri Kita agar menjadi hamba Allah yg benar. Itu yg hrs sll kita pertanyakan pd diri Kita,bukan ttg seperti kita dilihat orang lain. Seperti apa kita dilihat orang lain tidak penting, yg penting spt apa kita dilihat Tuhan (Abu, 27/10/2013)

Menariknya, kutipan ini adalah jawaban atas pertanyaan yang sempat aku pikirkan kemarin malam. Aku bahkan sedang berpikir untuk menanyakan tentang hal ini ke Kekji tepat sebelum menyeberang. Tapi toh aku sudah tahu jawabannya. Dan pada akhirnya jawabannya diberikan lagi, meskipun jalurnya lain-lain. Dan didapatkan dalam tempo yang singkat; meskipun aku tak jadi bertanya.

Sampai hari ini aku berpikir, betapa beruntungnya diriku. Dan bukankah bahagia itu kita yang menentukan. Sebab bagiku, bahagia itu pada saat kita mengetahui ada yang menyayangi kita, bahkan ada Yang Tak Lelah Menyayangi kita. Ya, aku tak ingin menjadi orang-orang yang kebahagiaannya ditentukan orang lain, sehingga bisa dirusak oleh orang lain. Pun aku tak pernah ingin merusak kebahagiaan orang lain.

.. dan pada akhirnya tidak ada yang bisa aku sombongkan sama sekali. Aku ini manusia yang sudah terlalu banyak membuat dosa sejak usia muda.

.. tapi, aku masih percaya bahwa Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk kembali menjadi manusia yang bersyukur, berbuat kebaikan, berbagi manfaat bagi sesama, dan berprasangka baik kepada Tuhannya.

Bismillahirrahmanirrahiim.

Singapura, 1 Muharram 1435 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s