Sekelebat

Surga dan neraka terpisah oleh satu tembok. Ada pintu pada temboknya. Saat pintu itu terbuka, mereka yang di neraka dapat melihat keindahan surga, sementara yang di surga dapat melihat api yang begitu menyala-nyala. Mereka dapat saling berpandangan, serta berbincang. Tapi tak dapat mereka siramkan air dari surga untuk memadamkan api neraka.

Bagi mereka yang pernah melintasi pintu itu, neraka benar-benar siksaan yang menderita dan tiada habisnya. Setiap hari berharap untuk terbebas dari apinya namun tak bisa. Terasa kekal menapak di atas baranya. Menangis hati karena telah jauh dari apa yang seharusnya dijalani. Setiap hari bertanya, kapan bisa keluar dari sana. Akan tetapi, saat pintu itu berhasil terbuka dan dilalui, semua menjadi berbeda. Kekekalan yang dirasa di neraka terasa hanya sejenak saja, angin lalu dalam lembar perjalanan jiwa. Dan di surga, semuanya ada. Semuanya terasa indah. Seolah menjadi orang paling bahagia di jagad raya dengan segala dimensinya. Cukup, cukup, cukup, sebab sudah berada dalam benteng Sang Hyang. Tak ada hentinya tangis bahagia, senyum karena merasa dicinta dan mencinta. Sebab Sang Hyang selalu ada untuknya.

———

Tak akan pernah kalah setan dilawan. Semakin kita bertarung dan melawan, tak jarang ia justru menjadi lebih kuat, dan satu-satunya cara adalah dengan tak mengacuhkannya.

Maka, satu-satunya senjata adalah eling lan waspada, menyadari bahwa kesadaran dan ketidaksadaran kita adalah satu-satunya dayung untuk menjalankan perahu kehidupan. Kita selalu bisa memilih, hendak menolak sambutan tangannya, lalu berbalik pergi. Atau, kita menolak sambutan tangannya sambil memaki-maki, dan kita tak beranjak. Kita akan terjebak dalam permusuhan yang tiada habisnya.

Dan kemenangan atas mereka hanya bisa diperoleh saat kita bergabung bersama pasukan-Nya, berlindung di dalam benteng-Nya.

———-

Dalam petualangan jiwa, tentangnya adalah rasa-merasa. Perbedaan tipis dalam lapisan jiwa, hanya bisa dirasa saat seseorang memisahkan berbagai jenis kesadarannya. Saat jiwa menyambar semesta bersabda. Memberikan petunjuk dan jawaban atas beragam tanya. Terasa, dirasa, dan membekas, meski tak bertekstur dan tak kasat mata.

Kapan kau mengejar matahari, kapan kau hanya membutuhkan sinarnya? Bukankah doa, cinta, dan cita hanyalah antara? Tapi jika kau telah merasa cukup akan semua yang kau punya dalam hidupmu, engkau tak akan lagi terkekang oleh apa yang kau minta.

———-

Jangan acuhkan, termasuk egomu sendiri, dalam berdoa dan menjalani hidup. Senang kan kau jelang. Kau ada di titik bebas, menari-nari di tengah hujan. Bahagia saat membuka mata, bersyukur saat akan tidur.

———-

Sawang-sinawang; yang melihat orang lain lebih bahagia justru sejatinya lebih bahagia dari orang yang dilihatnya. Sebab kebahagiaan itu adalah pilihan. Jangan biarkan dunia merusak kebahagiaan yang sudah menjadi hakmu! Kau terlahir di surga!

Surga kita ada di kesadaran yang terlelap. Ia adalah dapur bagi masakan-masakan kehidupan yang kita santap. Dan asapnya tak pernah berhenti mengepul. Saat kesadaran ini buruk, maka buruklah semua kehidupan. Gaji tak pernah cukup. Tak ada orang yang sayang. Neraka!

Dialah hati, mungkin sebuah bagian dari hati. Dialah yang terus bekerja saat kita terlupa dan tak awas. Saat pikiran kita berkelana, ia tetap di sana, memasak untuk kita.

Tak ada yang bisa mengemudikannya selain akal. Oh ya, bukankah karena akal kita menjadi berbeda, kita sempurna bahkan sebelum ditiupkan dalam diri kita. Kereta kita punya masinis! Dan, selayaknya dua daratan yang terpisahkan oleh lembah raksasa, dialah yang jadi jembatannya. Kita punya kuasa atas diri kita sendiri. Apalagi kalau bukan sebab Tuhan yang berikan?

Aku akan mengikuti persangkaanmengikuti persangkaan hamba-Ku

Lihat hidupmu, dan kau tahu apa saja persangkaanmu!

———-

Ada lima cara menembus faktor kritis;saat masinis bisa masuk ke dalam lokomotif: repetisi, emosi, identifikasi kelompok, testimoni otoritas, dan relaksasi.

Tell me who is your friend, I’ll tell you who you are

Tombo Ati iku limo perkorone

Kaping pisan moco Kuran lan maknane

Kaping pindo sholat wengi lakonono

Kaping telu wong kang soleh kumpulono

Kaping papat wetengiro ingkang luwe

Kaping limo zikir wengi ingkang suwe

Salah sawijine sopo iso ngelakoni

Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

Sunan, betapa cerdasnya engkau yang hidup mendahuluiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s