Meta

Kau berada di tengah sebuah jalan raya pada malam hari. Jalanan kosong. Tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Semak belukar memagari tepi jalan. Kau mulai risih dengan lolongan anjing di belakangmu yang siluetnya nampak seperti serigala. Bukan hanya kau tak tahu sedang apa kau di sini, tapi kau pun ragu untuk berjalan karena lampu penerangan jalan sangat redup. Bahkan kau tak dapat melihat apa yang ada di ujung jalan ini, lima puluh meter ke depan saja sudah pekat. Dan rasa-rasanya, bentuk lampu jalannya kuno. Apakah kau sedang terlempar ke masa lampau?

Seseorang menepuk pundakmu. Kau menoleh.

“Hei, kenapa diam? Ayo jalan”

Dia adalah sosok yang kau kenal dengan baik, sangat baik. Jalan hidup kalian berdua telah bersilangan pada suatu masa. Dan sejak saat itu seperti ada sesuatu yang terkait antara kalian berdua. Begitu berbeda, tapi terhubung. Apa yang dia alami dan apa yang kau alami dalam hidup seperti memiliki persamaan, meskipun dengan cara yang tak sama. Kalian jarang berbicara, tapi selalu tersambung. Wujudnya yang tiba-tiba saja hadir, membuat ruang yang tadinya sama sekali asing menjadi sedikit familiar.

Dia menggandeng tanganmu, dan menuntunmu berjalan bersama menyusuri jalanan sepi ini.

Tapi, ini dimana?

“Kau tahu, aku terkadang heran, mengapa orang-orang datang kepadaku saat mereka butuh motivasi atau inspirasi?.. Dan aku sebenarnya muak dengan diobralnya kata terakhir!”

“Bukankah memang kau banyak menginspirasi orang-orang di sekelilingmu… Hey, apa kau lupa, kehadiranmu selalu membawa energi buatku,” kau mencoba membangun sebuah percakapan dengan memberi respon. Tapi, dia seolah tak mendengar ucapanmu dan melanjutkan ceritanya

“Mereka sering datang kepadaku, justru saat aku sedang mengetahui bahwa keretaku sedang melenceng dari relnya. Saat kehidupanku seolah akan tenggelam dan tak terbit lagi keesokan harinya. Sedangkan… kehidupan mereka sepertinya cerah, tanpa perlu mengalami apa yang aku alami.”

Apakah ini nyata? Bukankah..

“Saat aku tanya mengapa mereka merasa tidak bersemangat, jawaban yang aku dapatkan beragam. Aku akhirnya dapat memahami bahwa satuan terkecil yang kurang dari diri mereka sebenarnya bukanlah motivasi.”

“Maksudmu?”

“Terkadang yang mereka butuhkan adalah sedikit keberanian, sebab mereka terlalu takut untuk mencoba hidup… sebab mereka tak bisa menghargai lentera harapan yang berpendar kecil”

Kalian berdua baru saja melewati tiang penerangan jalan. Kau melihat ke ujung tiang. Ada lentera di sana. Sesaat kemudian, dua kunang-kunang berkejaran melewati parasmu. Tak berbunyi. Dan kau masih mencerna dan berusaha memahami dimana kalian berdiri. Semuanya seperti tak nyata sekaligus nyata dalam waktu yang sama. Dunia seolah tak setajam biasanya, meski kumpulan objek-objek ini terlihat nyata.

“Ada juga yang sebenarnya lupa untuk memasukkan kepingan makna yang berhamburan di ruangannya ke dalam kotak syukur, sehingga mereka merasa hidupnya tak bermakna… padahal begitu banyak yang menyayanginya, tapi dia tak menyayangi dirinya sendiri..” dia menggelengkan kepala

“… atau terkadang, mereka gagal menjadi cinta, sehingga terjebak dalam labirin cemburu dan rasa kesal akan hal-hal yang… entah belum terjadi… entah sudah lewat,” dia mengakhiri kalimatnya dengan menghela napas panjang

“Hei, kita mau berjalan kemana sebenarnya?” kau berhenti, melepaskan genggaman tangannya

Dia tak bergeming, tetap berjalan dan melanjutkan celotehnya.

“Tanpa mereka sadari, ketika mereka mencari motivasi, justru sebenarnya mereka telah mempunya motivasi itu sendiri. Namun…. ya seperti yang aku katakan, mereka terlalu malas untuk mencari tahu apa yang mereka rasakan. Lalu mereka datang kepadaku seperti orang kebingungan. Dan yang ku lakukan hanyalah balik bertanya, memberikan pertanyaan demi pertanyaan yang sebenarnya bisa mereka ajukan sendiri jika mereka sadar.”

Dia berhenti berjalan. Menoleh ke belakang, dia memandangimu dari jarak beberapa langkah di depan. Ia tersenyum. Kau masih membisu. Hening.

Menyadari bahwa kini perhatiannya tertuju padamu, kau pun hendak mengajukan pertanyaan itu. Kau sampai sekarang masih belum dapat menafsirkan deretan kejadian yang sedang berlangsung.

Ki.. kita.. sebenarnya sedang berada di mana?? mengapa semuanya buram dan gelap.. ?? tolong jawab pertanyaanku,” kau nyatakan dengan lirih kegelisahanmu, dengan lidah yang bahkan gemetar ketika mengucapnya.

Namun, pendengaranmu mengatakan bahwa kau hanya bermonolog. Suaramu tidak terartikulasi. Tak ada udara terhembus ketika kau mengatakan ‘ki’. Tak ada udara bertekanan tinggi yang dilepaskan pada saat kau mengatakan ‘be’. Ini tak nyata, kau berbicara dalam hati.

“Ya, bukankah kita tak pernah sadar dengan apa yang kita sadari selama ini. Kita tak pernah berpusing-pusing menanyakan mengapa langit gelap malam ini dan rembulan tak menampakkan wujudnya? Dan selama masih ada secercah terang, kita akan terus bisa menikmati kehidupan dan bahkan tenggelam di dalamnya?”

Dia tersenyum.

Lalu semuanya menghilang. Seperti hitam.

—–

Tiba-tiba saja kau berada di sebuah kamar. Dengan panjang tiga meter dan lebar dua setengah meter, ruangnya terisi oleh sebuah single size bed, satu set meja belajar yang dilengkapi dengan rak dan papan tulis, serta ruang kosong di antara keduanya. Di ruang kosong itu terdapat sebuah kursi. Kau duduk di atasnya. Kau memandangi jendela yang dilengkapi dengan teralis berwarna hijau dan jaring kawat penghalang nyamuk. Namun, pemandangan di luar masih nampak jelas. Hamparan rumput dengan pepohonan yang tinggi menjulang. Begitu rindang, dan jelas. Berbeda dengan apa yang baru saja kau alami, keadaan ini lebih nyata dan lebih terang.

Kau sangat familiar dengan tempat ini. Sudah beberapa kali rasanya kau berada di sini dan duduk di kursi yang sama. Déjà vu. Kurang dari sedetik semenjak kau melihat badanmu yang terduduk di kursi, kau akhirnya menyadari bahwa ini adalah mimpi. Iya, kau telah beberapa kali memimpikan tempat ini. Pertama kali kau mengunjungi tempat ini adalah saat kau masih bersekolah di taman kanak-kanak. Dan semenjak saat itu, kau selalu mengunjungi ruangan ini dalam mimpi-mimpimu, dan kau selalu sadar bahwa kau sedang bermimpi.

Namun, kau tak pernah tahu apa maksud dari mimpi ini. Mengapa ia terjadi berulang kali?

—-

Jam sepuluh kurang sepuluh menit. Kau terbangun pada saat alarm keempat yang kau pasang berputar. Lebih tepatnya ia telah tertunda selama lima belas menit. Namun, kau tidak tergesa-gesa untuk segera bangun, ini hari minggu. Ketika bangun rasanya pandangan akan mimpi barusan masih begitu jelas. Kau sadar betul bahwa perhatianmu masih tercurah pada mimpi barusan, dan kau tak ingin melupakan mimpi itu. Ada yang menarik dari mimpi itu, ada misteri.

Kau berusaha mengarahkan perhatianmu pada mimpi yang pertama, sebab gambaran tentang mimpi yang kedua sama sekali buram. Setiap kali kau berusaha mengarahkan perhatianmu kepada mimpi yang kedua, ia justru semakin lenyap. Maka kau memutuskan untuk mengingat sedetail mungkin mimpi yang pertama.

Kau bisa mereka-reka kembali suasana di mimpi yang pertama. Tidak jelas memang, tapi kau bisa membayangkan jalanan yang gelap itu. Dan tentu saja dia. Apa saja yang dia katakan? Kau sepertinya kesulitan untuk mengingat semua percakapan itu. Yang kau ingat adalah sebuah kesan bahwa seolah dia sedang tidak bersemangat. Frustratio. Tapi kau meyakinkan dirimu sendiri bahwa itu tidak mungkin. Dia, bagaimanapun juga, selalu bersemangat, dan kau menilainya sebagai sosok yang selalu bisa memberikan saran bagi siapapun yang membutuhkannya.

Sementara itu, kau menyadari bahwa perhatianmu masih tercurahkan pada mimpi barusan. Kau tiba-tiba tersadar bahwa dirimu harus mulai memperhatikan apa yang harus dilakukan. Bukankah kau baru saja bangun tidur? Kau harus bangkit dari kasur, berkumur, lalu minum segelas air putih.

Belum sempat kau mengambil gelas, telepon genggam milikmu berbunyi. Kau meraihnya, menyentuh layarnya untuk membuka kuncinya. Sebuah pesan dari dia yang berada ribuan kilometer dari tempat kau tinggal sekarang. Dia mengirimkan pesan

Hei, sehat kan?

semalam aku bermimpi makan berdua denganmu di kantin tempat dulu kita biasa sarapan di hari minggu.

Kau terkejut, heran. Bagaimana bisa dia yang sudah lama tidak menghubungimu tiba-tiba memimpikanmu? Dan pada waktu yang hampir bersamaan kau memimpikannya. Kau mulai menyadari bahwa perhatianmu tak lagi ada pada pesan itu. Pikiranmu kembali berkelana kepada mimpimu yang kini mulai samar. Kau bertanya-tanya, mungkinkah sebenarnya dia banyak mengalami kesulitan dalam hidupnya yang membuatnya patah semangat? dan karena dia sudah sering kehilangan maka dia menjadi tahu apa yang dia berikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. 

Beberapa saat kemudian kau teringat bahwa tenggorokanmu sudah menanti untuk disiram. Kau letakkan telepon genggammu di tempat tidur, sementara kau beranjak darinya. Balas nanti saja, pikirmu. Kakimu telah menjejak lantai. Kau mengangkat badanmu agar dia menopang dirimu sendiri. Menarik napas panjang, kau mulai berjalan ke arah dapur.

Setelah mengambil gelas dari rak, kau mengisinya dengan air dari dispenser. Setengah air dingin dan setengahnya lagi air panas. Kau menempelkan bibirmu pada mulut gelas. Mengangkat gelas itu ke atas dan merasakan aliran air memasuki rongga mulut. Alirannya begitu segar membasahi lidah dan tenggorokanmu yang kering. Dan tiba-tiba saja bayangan tentang mimpi kedua kembali. Dan kali ini dalam sekejap saja, pikiranmu bekerja dan bertanya, apakah benar kau telah mengunjungi tempat itu beberapa kali? atau justru sebenarnya aku pertama kali ke sana di mimpi kemarin,namun memang di dalam mimpi itu aku telah memimpikan hal yang sama beberapa kali sebelumnya?

Tapi gambar itu begitu jelas. Dan kau bahkan tak menemukan jawabannya hingga segelas air itu habis kau teguk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s