‘Intuisi’

It’s like when you think some things are better left untold, but then your lips just say it.

It’s like when you want to send a postcard that you’ve been wanting to send since so long, and then suddenly your heart tells you not to send it.

It’s like when you really need a ticket to go to Bandung for a train which will depart from Jogjakarta 37 minutes from now. You go to the ticket counter only to find there is no ticket left for you. And then you feel like want to wait in some place. You just stand in there, not know what you are really up to. Then, five minutes later, a man comes to you. He says he wants to cancel his trip to Bandung. He asks you if you want to buy it.

‘intuisi’ vs intuisi

Akhir-akhir ini saya sedang merasa ‘intuisi‘ saya sedang bagus.

Banyak sekali hal-hal yang sebelumnya sebatas konsep filosofis yang ada di kepala saya, menjadi hal-hal yang saya baca di buku-buku yang saya beli. Iya, tiba-tiba saja saya membaca buku-buku yang isinya memang menjawab angan-angan atau pertanyaan saya. Padahal saya sendiri terkadang tak tahu mengapa saya memilih untuk mengambil buku itu dari rak di toko buku.

Saya jadi teringat bahwa dalam beberapa tahun ke belakang ada beberapa kejadian ketika ‘intuisi’ saya bertentangan intuisi logis saya. Hal ini menyebabkan saya sempat berada dalam situasi yang membingungkan karena saya tidak tahu harus mempercayai ‘intuisi’ atau intuisi. Intuisi (tanpa tanda kutip) yang saya maksud sejatinya adalah sebuah kalkulasi. Saat itu dari hitung-hitungan, saya berpikir bahwa saya tidak akan A. Tapi, anehnya, meskipun hal ini kontra-intuitif (tidak seperti hasil hitung-hitungan dan pemikiran saya), perasaan saya terus merasa bahwa saya akan A. Dan bersamaan dengan itu, muncul pikiran-pikiran yang mendukung bahwa saya akan A.

Pertempuran antara ‘intuisi’ dan intuisi tersebut akhirnya dimenangkan oleh ‘intuisi’.

Bahkan terkadang ‘intuisi’ ini sangat kuat sampai-sampai menghentikan rencana yang kita buat. Misalnya saja, tadinya sudah berencana akan belajar di rumah, tiba-tiba tergerak mau ke kampus. Eh, ternyata ada supervisor yang mengunjungi cubicle saya.

bisa digunakan untuk postdiction, bukan prediksi

(*saya tidak menemukan posdiksi atau pascadiksi di kbbi online, jadi tetap pakai postdiction)

Pernah juga saya mengalami beberapa mimpi. Awalnya saya sudah agak ragu bahwa mimpi tersebut adalah ‘intuisi’, namun sebagai makhluk yang dituntut untuk menggunakan logika dari kehidupan sehari-hari, saya berusaha untuk tidak memikirkannya. Namun, kejadiannya sama seperti tadi. ‘Intuisi’ menang.

Pernah pula saya mendapatkan mimpi, yang saking anehnya, saya sempat ingin bertanya kepada seseorang yang saya pikir mampu menjawabnya. Saking anehnya mimpi tersebut, saya selalu menganalisis kata demi kata dari mimpi tersebut. Beberapa minggu kemudian, akhirnya saya menemukan jawaban dari mimpi tersebut. Dan beliau yang tadinya mau saya tanyai mengatakan,

“Tidak usah ditanya apa maknanya, maknanya baru bisa kita ketahui setelahnya.”

Ya, seperti itulah terkadang nature dari ‘intuisi’. Kita lebih sering bisa menggunakannya untuk menghubungkan titik-titik yang ada di masa lalu, dibandingkan untuk menginterpolasi titik-titik di masa mendatang.

Sudden enlightenment

Saya sendiri percaya bahwa ‘intuisi’ adalah pekerjaan yang tidak kita sadari. Ia adalah cara pikiran bawah sadar dan alam bekerja. Semuanya seperti biasa saja, hingga pada suatu titik pekerja ‘intuisi’ telah menembus faktor kritis, dan tiba-tiba saja kita mendapat ‘pencerahan mendadak’. 

Hal ini mirip seperti bayi saat belajar berjalan. Yang awalnya jatuh dalam beberapa langkah selama beberapa waktu, tiba-tiba akhirnya bisa berjalan.

Bagi saya sampai saat ini, ‘intuisi’ masih merupakan hal yang menakutkan sewaktu-waktu. Karena intuisi logis selalu bertanya-tanya ketika ‘intuisi’ itu datang. Dan tidak ada yang lebih menakutkan selain saat ada dua suara di dalam diri kita, dan kita tak tahu harus mempercayai yang mana. Maka dari itu, kita harus belajar mematikan logika kita, saat ia benar-benar butuh untuk dimatikan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s