Waktu Adik Merengus

Kakak baru pulang dari kantor. Umi mulai mengeluh lagi saat ia bertanya mengapa Adik masih merengus. Padahal Umi sudah meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya; padahal Umi sudah melakukan semua yang dia bisa untuk membalasnya, mencintainya dengan lebih. Kakak hanya tersenyum dibalik kerudung putihnya.

Kakak betul-betul tahu betul apa yang dirasakan oleh Adik. Kakak berkata singkat pada Umi; bilang bahwa semuanya butuh waktu, dan anak muda memang seperti itu, sedang panas-panasnya, sedang ingin ruang privat seluas-luasnya, keakuan-nya sedang meraksasa; dan kita harus memahaminya. 

Namun, Umi masih merasa pongah, tapi sampai kapan? Setiap orang harus berubah, dan kapan dia mau berubah? 

Ada saatnya Mi, kelak dia akan tersenyum dan tak lagi merasa bahwa ia adalah makhluk paling menderita. Sesedikit apapun kata-kata positif yang tertulis di sketch book-nya adalah hal positif. Sudah bagus Adik punya mimpi untuk jadi pelukis, di luar sana masih banyak yang tidak tahu mau jadi apa, tutur Kakak.

Umi seharusnya bisa lebih fokus pada hal-hal positif meskipun mereka kecil. Namun Umi masih perlu berlatih. Monster-monster pikiran negatif masih diberinya makan dengan segala cerita-cerita pahit tentang bagaimana seorang remaja yang baru menginjak pubertas tidak menunjukkan gesture apresiasi terhadap semua yang telah ia berikan. Kontan saja monster-monster itu menggemuk. Mereka sanggup meniup lilin-lilin pikiran positif yang bahkan bisa memberi setitik sinar dalam gelap malam.

Sementara dalam diri Adik, terjadi pergulatan dan pertempuran. Semuanya terjadi terus menerus selama bertahun-tahun. Termasuk tentang Abi dan Umi. Bukankah akan sangat menyiksa ketika misalnya ia berusaha menunjukkan kasih sayang kepada orang yang begitu disayanginya, darah dagingnya sendiri, tetapi tak berbalas dengan tanggapan yang positif? Tapi, semuanya tidak adil, hidup tidak adil.. semua orang jahat kepadaku.. semua orang membuatku menjadi seperti ini.. aku adalah yang paling dikhianati. Aku tidak bisa membiarkan ini semua terjadi.

Tapi, tidak bisa, aku harus berubah aku tahu ini salah, tapi bagaimana? Aku tahu bahwa kasih sayang Tuhan begitu luas, namun dimana mereka disimpan? Hanya saja, kalaupun tahu tempatnya, aku belum benar-benar tahu cara mengambilnya..

Dan Kakak pun jadi merenung di teras rumah. Ia memandangi rembulan yang sedang bersinar dengan bulat penuh. Ia bertanya, dari mana datangnya kebahagiaan? Apakah kebahagiaan memang datang dari apa yang kita alami?  Ataukah ia sejatinya meluap dari dalam kalbu kita sendiri? Tentang adik, perlukah seseorang mengajari kita cara untuk bahagia? Tapi, aku pun dulu pernah jengah dengan semuanya, sampai akhirnya… Ah, apa yang terjadi waktu itu?

Mengapa tiba-tiba aku berhenti memikirkan semua penderitaan itu? Mereka telah terganti menjadi sebuah karunia yang membuat aku menjadi lebih tangguh dari pemuda-pemudi lain. Saat pemuda-pemudi masih berlomba untuk menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tak perlu, aku sudah belajar bahwa seorang miliarder pun bisa bangkrut jika tidak mengendalikan diri. Saat pemuda-pemudi lain masih mengejar kehormatan di mata manusia, aku sudah belajar bahwa jabatan adalah hal yang semu, sementara yang nyata adalah karakter kita. Saat pemuda-pemudi lain masih kekeuh agar semua keinginannya bisa terwujud, aku sudah diajari untuk bersabar dan tidak semua keinginan bisa diwujudkan. Saat semua orang sedang terlena karena dicintai, aku disuruh belajar untuk mencintai; meskipun sulit; meskipun sakit-tapi aku belajar.

Iya, melalui banyak hal aku akhirnya mengubah makna dari pengalaman yang sama, sebab semuanya hanya ada di alam pikiranku. Tapi, bagaimana agar Adik juga bisa melakukan hal yang sama?

Sembari mencuci beras untuk makan sahur esok hari, Umi bagai tersambar petir. Ia baru menyadari bahwa saat ia masih kecewa dengan tanggapan orang lain, artinya ia belum ikhlas. Dan ketika prasangka sudah terbentuk, artinya Umi terperangkap dengan bayang-bayang masa lalu. Padahal bisa saja kelak Adik berubah, tapi prasangkanya terkadang malah membatasi cinta yang hendak diberikannya. Kurang berkasih sayang. Selama ini aku kira aku sudah mengasihi dan menyayanginya dengan segala yang aku punya, tapi ternyata belum. Masih kurang cintaku pada anak-anakku.

Waktu akhirnya beranjak menuju masa pencerahan. Lambat laun melalui pergulatannya masing-masing, semua orang menjadi sadar bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang datangnya dari dalam. Segala hal-hal yang terjadi di luar diri kita hanya menyediakan pelatuk bagi senapan yang mengarah pada kebahagiaan. Sekali kita tarik pelatuknya, terluka sudah kebahagiaan yang hidup dalam hati kita, terluka oleh peluru-peluru kecemburuan, iri hati, dan rasa kesal.

Namun memang, semuanya butuh waktu. Bukankah jelas bahwa Tuhan telah bersumpah demi waktu. Demi masa. Demi dhuha. Demi fajar. Demi malam ketika ia berlalu.

Bergulat dan tahu apa yang harus kita lakukan untuk menang tidak membuat kita menang seketika. Tapi bagi mereka yang terus bersabar, mereka tak pernah lari dari pertarungan. Seberat apapun itu, kasih sayang dan prasangka baik akan memberi harapan. Terus percaya bahwa semuanya akan berakhir dengan tangis kebahagiaan. Dan jika waktu itu tiba, usai sudah pertempuran ini, bala bantuan dari semesta akan datang. Orang-orang yang hidup untuk mencintai akan menang.

Umi dan Kakak tidak berhenti percaya bahwa semua orang akan menjadi lebih baik lagi. Kepercayaan yang ada dalam hati itu terus bergetar. Usikannya sampai ke hati yang dituju. Hingga akhirnya, Adik pun tidak merengus lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s