Role Model dan Love of Life

Sebagai makhluk sosial, interaksi dengan manusia lain ikut membentuk karakter dan cara kita hidup. Dan saya baru menemukan bahwa ada dua jenis ‘sosok’ yang penting dalam kehidupan kita. Mereka bisa memberikan drive, namun tak jarang mereka juga bisa membuat kita kecewa.

The Role Model

Sadar atau tidak kita selalu memiliki role model. Baik itu orang tua kita atau teman-teman kita, atau tokoh yang kita kagumi. Dengan segala hal positif yang ada pada mereka, kita tumbuh sebagai pengagum mereka. Tak jarang kita mencoba mengakuisisi nilai-nilai yang mereka miliki. Figur ini ke depannya juga menjadi otoritas eksternal yang perkataannya bisa kita masukkan ke alam bawah sadar kita. Dengan kata lain, apa yang dia katakan akan kita dengarkan. Dan, adanya role model ini juga memberikan motivasi agar kita bisa menjadi lebih baik, seperti dia.

Nah, terkadang si role model ini berkembang menjadi sosok yang super-ideal dalam ilusi pikiran kita. Terkadang kita tidak bisa menerima kenyataan apabila role model ini melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai yang kita anut. Saat hal ini terjadi, mungkin kita akan masuk dalam sebuah konflik batin; bisa kecewa.

Misalnya saja, ada orang yang benar-benar kita kagumi, lalu suatu saat kita merasa dia tidak punya integritas. Ada kecenderungan kita akan melihat orang tersebut dari sisi negatifnya saja. Bahkan yang lebih parah, kita mungkin tidak bisa menerima bahwa kita pernah mengagumi orang itu. Padahal ya, kekaguman kita akan si role model ini juga lah yang membuat kita menjadi seperti sekarang.

Yang perlu jadi catatan, kita harus ingat bahwa role model ini tetap manusia. Dia juga punya kelemahan, dia juga masih belajar. Dan beberapa hal yang membuat kita kecewa tidak boleh menjadi alasan untuk kita menghakimi role model ini. Hargailah seseorang dengan segala kekurangan dan kelebihannya, tanpa harus menghakimi apalagi membenci.

The Love of Life 

Selain role model, ada juga yang disebut love of life. Dia mungkin tidak sempurna, dan banyak kekurangan. Tapi entah mengapa, kita tetap mengaguminya. Dia juga yang menjadi motif bagi diri kita untuk berusaha menjadi lebih baik. Adanya love of life ini bisa membuat seseorang menjadi lebih dewasa dan lebih optimis. Semua rintangan ingin diterjang demi si love of life ini. Tak peduli seberapa lemah kita sekarang, kita ingin berbuat sesuatumemberikan yang terbaik untuk love of life ini.

Bagi seorang ibu, love of life ini mungkin saja suaminya, anak-anaknya. Bagi seorang anak, bisa jadi orang tuanya, adik-adiknya. Mungkin juga love of life ini adalah seorang teman yang begitu dekat, ‘saudara yang kita pilih’.

Tapi sama halnya dengan role model, love of life ini juga merupakan seorang manusia biasa. Tak jarang ia akan bisa membuat kita kecewa, entah itu disengaja maupun tidak disengaja olehnya.

Saat Keduanya Bergabung dalam Sebaik-baiknya Manusia

Namun, perlu diingat bahwa ada pula sosok manusia yang kamil-mukammil. Beliau adalah suri tauladan yang perlu kita cintai. Dan dia adalah Rasulullah SAW. Kita mungkin sudah tidak bisa berkenalan dan berjumpa dengan beliau, tapi apa yang beliau ajarkan telah diwariskan turun temurun kepada para ulama yang disebut-sebut warasatul anbiya. Ulama-ulama inilah yang di masa kini pantas menjadi role model sekaligus love of our life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s