Jenis-Jenis Sembahyang

Jadi ceritanya beberapa hari lalu saya sempat berbincang dengan teman. Dia bilang kepada saya sudah tidak sholat dua minggu. Dan dia merasa tidak ada pengaruh apa-apa buat dia. Dia masih sholat jumat sih tapi sholat yang lainnya males. Pointless. Hidupnya tetap jalan. Jakarta tetap macet.

Meskipun sholat saya sendiri belum tegak betul, sebagai teman dan sekaligus untuk menasehati diri sendiri saya tentu hanya bisa berkata bahwa sholat itu tidak sekedar untuk dunia, tapi ini investasi untuk akhirat. Saya bilang seperti itu karena baru-baru ini sering kepikiran, yang Islam saja akidah nya belum tentu benar; yang kiyai saja belum tentu masuk surga; apalagi saya kalau nggak sholat. Saya ngomong gitu spiritnya dalam rangka berbicara ke diri sendiri sih sebenernya.

Nah, baru-baru ini saya sedang membaca sebuah buku dan sampai pada bab tentang sembahyang. Jadi jenis-jenis sembahyang di buku tersebut adalah:

1. Salat Syariat:

Salat yang dilakukan berdasarkan gerak ragawi, bersucinya menggunakan air. Merupakan salat yang biasa kita tuju ketika menggunakan kata ‘salat’. Dalam tahap ini salat lebih bermanfaat untuk latihan fisik dan interaksi sosial. Salat yang demikian jika tidak ditingkatkan ke level selanjutnya maka akan berpotensi untuk menjadi ritual semata dan tidak bisa memberikan solusi bagi kehidupan kita. Di sinilah ketika syariat dibilang wes kepelson kabeh.

2. Salat Tarekat/Sembah Cipta:

Salat yang ini dikerjakan dengan memerangi hawa nafsu. Bersucinya dilakukan dengan jihad melawan hawa nafsu. Dengan demikian salat ini bertujuan untuk menyucikan hati agar kita menjadi sadar dalam menjalani kehidupan. Karena jika kita menjalankan salat syariat saja, tapi hati kita tetap dikendalikan hawa nafsu, maka yang terjadi adalah kerusakan. Sedangkan jika berusaha menjalankan salat tarekat dengan sungguh-sungguh, kita akan bisa menjadi sadar dan waspada.

Dalam pelaksanaannya Salat Tarekat bisa dimulai dari menghayati setiap Salat Syariat yang dikerjakan. Lalu berkembang menjadi zikir dengan tertib dan teratur. Salat yang ini jika dijalankan bisa memberikan pikiran yang jernih, hati yang tenang, serta menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Dalam mengerjakan salat ini, kita akan lebih fokus dalam mawas diri, dibandingkan mengurusi keburukan orang lain.

3. Salat hakikat/Sembah Jiwa:

Cara mengerjakan salat ini adalah dengan heneng, hening, hawas, dan heling (diam, hening, awas, dan waspada). Buah dari salat ini adalah ketika kita mulai bisa menangkap hal-hal yang tidak tertangkap oleh indra ragawi. Pada esensinya salat ini dilakukan dengan membebaskan hati dan pikiran dari aktivitasnya. Ada dua metode melaksanakan salat ini: (1) berkonsentrasi/tafakur (2)mengosongkan pikiran/zikir.

Dalam berbagai agama selalu ada yang namanya meditasi, zikir, iktikaf, kontemplasi, dll. Namanya beragam tapi sejenis. Pada akhirnya salat ini akan menghilangkan ilusi pikiran dan menjadikan pelakunya beruntung dan menang dalam hidupnya. Oh iya, dalam mengerjakan salat ini, tak jarang akan menggugurkan keinginan untuk terus menjalankan hidup yang mulia. Sebab pada tingkat hakikat, seseorang harus undur diri kehidupan duniawi. Namun, perlu diingat bahwa awas diri bukan berarti harus mengasing.

4. Salat Makrifat/Salat Khusyuk/Salat Daim

Salat ini adalah buah dari Salat Hakikat. Dilakukan dengan cara hidup zuhud. Pada tingkatan ini seseorang sudah melepaskan diri dari kehendak jiwa dan raga. Ia sudah berada dalam kesadaran ilahiah, terjaga dari hal-hal yang tidak berguna. Segala rasa khawatir akan sirna.

Saya berikan kutipan langsung yang sangat indah dari buku ini:

Orang yang sudah berhasil salat makrifatnya itu seperti benda yang terhanyut oleh aliran sungai yang akhirnya tiba di laut. Hidupnya adalah manifestasi takdir itu sendiri. Ia menjadi manusia yang adil dan pemaaf terhadap orang yang berbuat salah terhadapnya. Sekaligus ia mampu memperbaiki kesalahan orang yang berbuat salah itu.

Semoga kita semua pada akhirnya bisa tiba di level ini. Aamiin.

Catatan:

Sebenarnya semenjak beberapa bulan ke belakang, saya terpikir untuk membuat ringkasan dari semua buku penting yang saya baca. Buku penting di sini adalah buku yang benar-benar life-changing di kehidupan sayaTapi belum konkret karena belum ada waktu. Nah, baru-baru ini salah satu buku yang sedang saya baca adala Syekh Siti Jenar: Makrifat Kasunyatan 1 karya Achmad Chodjim.

Saya sendiri pertama membaca tulisan Achmad Chodjim pada buku Syekh Siti Jenar: Makna Kematian. Buku tersebut sangat renyah dibaca. Tentu saja ada banyak hal-hal yang kontroversial di buku tersebut dan buku-buku Achmad Chodjim yang lain. Dan hal ini membuat saya berpikir keras karena ada banyak benturan. Ketika lebaran di Malang, saya dan beberapa Om saya sempat membedah isi buku ini, dan saling adu argumen. Tapi, pada akhirnya buku tersebut juga lah yang memberikan jawaban dan memberikan arah bagi saya untuk melanjutkan pengembaraan.

Nah, di bukunya yang baru cetakan pertama ini, Achmad Chodjim membahas tentang makrifat kasunyatan (kenyataan yang benar-benar terjadi, terang benderang). Isinya sendiri seperti biasa kontroversial. Meskipun saya tidak serta merta meyakini apa yang disampaikan di buku ini, buku ini memperluas horizon berpikir saya. Beberapa filosofi jawa juga baru saya ketahui dari buku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s