CAUTION! MENGANDUNG TERLALU BANYAK MAJAS HIPERBOLA

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang teman-teman saya yang perkenalan saya dengannya memberikan banyak inspirasi. Beberapa draft sudah ditulis. Berkali-kali saya menulis, “akhirnya postingan pertama saya jatuh kepada si X“. Tapi nampaknya baru postingan ini yang benar-benar konkret.

Dan episode perdana serial teman inspiratif ini jatuh kepada… yak Anda benar! Amril Hidayat!! (Ya iyalah lha wong udah ada di linknya, piye toh mase)

Ki-Ka: Kharisma, Amril, Saya, Syakur, dan Ryvo. Dulu saya sama Amril sering dikira bersaudara.

Chapter 1: Perkenalan Dengan Amril

Jadi, Amril termasuk salah satu orang yang pertama saya kenal waktu ke ITB. Kebetulan NIM kami juga berdekatan. Awalnya saya melihat Amril seperti sosok manusia kebanyakan. Dia menyapa dengan ramah dan supel, banyak senyum dan tertawa. Entah bagaimana ceritanya kami jadi sering bareng, mungkin karena kelas kalkulusnya juga sama. Dan ketika saya jalan bersama Amril di kampus, saya akhirnya baru menyadari kalau dia bukan manusia biasa.. dia adalah salah seorang yang gifted, mungkin termasuk 1% dari populasi manusiai! Banyak juga yang menganggap dia sudah bukan manusia, dia DEWA!

Waktu itu saya berjalan dari gerbang belakang. Ketika sampai di jalanan Sunken Court, tiba-tiba saja ada seseorang yang berjaket himpunan menyapa Amril, menanyakan nomor hapenya, dan ingin diajari soal matriks dan ruang vektor. Saya langsung melongo. Setelah itu tak lama kemudian ada yang memberitahu saya, “coba aja lo suruh bawa peraknya“.

Lalu, saya jadi teringat bahwa namanya familiar dan pernah menjadi bahan perbincangan di sebuah forum online. Di forum online bernama SPMB lover tersebut, ada gosip bahwa seseorang yang sering mengisi posisi puncak di try out NF justru tidak lulus SPMB karena lupa menulis kode soal SPMB. Waktu itu saya tidak terlalu kepo, kenal orangnya saja enggak, kemungkinan ketemu aja kecil. Pokoknya dunia rasanya jauhlah dari seorang gamer di kota Jogja yang menghabiskan banyak waktunya buat ngenet dan baca komik mah. Eh akhirnya saya nyadar, kalau orang ini dan orang itu adalah orang yang sama.

Ril, lo waktu itu lupa nulis nama atau kode soal yah? Kok bisa sih?

Ya habisnya gue udah selesai ngerjain. Ya gue tinggal tidur aja

Dan semenjak saat itu saya masih sering ditanyain, “wah lo kenal Amril nggak, dia pernah ngajarin gue tuh,” oleh orang-orang yang di masa depan saya temui meskipun saya sudah tidak berkuliah di ITB. Ya, akhirnya dalam hidup saya, saya bertemu dengan seseorang yang superior secara talenta. Dia yang sebenarnya punya peluang lebih besar dibanding mayoritas anak-anak Indonesia untuk bisa ke MIT, Harvard, atau universitas top lain di dunia, tapi malah memilih untuk masuk ITB lewat jalur SPMB… dan lupa menulis kode soal sehingga harus mengulang tahun depannya. Dan masuk bersama bocah ababil seperti saya.

Saya awalnya membayangkan; Amril ini kalau dites IQ-nya yang keluar akan tinggi pisan atau NaNs atau N/A, atau psikolognya akan datang langsung ke Amril dan mungkin berkata, “Maaf Mas, kami tidak bisa mengetes IQ Supercomputer, sebab supercomputer tidak memiliki usia mental.” Tapi secara mengejutkan rupanya kalau dites, angkanya justru tidak mengerikan, nampak seperti manusia normal (padahal di dunia nyata tetap masuk dalam kategori alien dengan kecerdasan rata-rata di ujung distribusi normal dengan confidence interval > 98%).

Saya curiga bahwa ini hanyalah upaya penyamaran yang dilakukan Amril agar dia tidak dipantau oleh KGB lalu direkrut untuk menyusun strategi agar Rusia bisa memukul balik AS. Namun, setelah saya tanya Amril, dia juga sebelumnya pernah tes dan angkanya juga biasa saja. Saya tidak tahu lagi sih kalau ternyata sebenarnya Amril pernah tes dan dapet nilai tinggi banget tapi nggak mau cerita. Yang jelas Amril tetap humble. Dan saya, semenjak saat itu jadi kehilangan kepercayaan kepada psikotes (yang selama ini sudah mengetes saya berkali-kali ketika saya masuk ke jenjang sekolah yang baru).

Chapter 2: The Rise of Amril Hidayat Turorial Club

Amril ini selama saya di ITB telah menjadi dosen saya. Setiap semester di ITB saya habiskan dengan bermain, bercanda dan tidur di kelas kalau kebetulan masuk (lebih banyak bolosnya). Dan ujung-ujungnya kalau besok sudah mau ujian, kami akan bermain guitar hero PES DotA berjoged bikin video lypsinc aura kasih nonton film belajar bersama, dan Amril akan mengajarkan saya intisari dari kuliah selama satu semester. Efektif kan? Karena saya pemalas, makanya formula ini saya pakai selama di ITB. Hasilnya? saya tidak lulus lebih 19 sks saya bisa lulus dari ITB. Cukup bertanya kepada Amril konsep dasar dan cara mengerjakan soal, lalu saya bisa tidur dengan tenang sebelum ujian (padahal dalam mimpi juga saya masih mengerjakan soal-soal ujian #yeazeik). Minimal anda akan lulus dengan formula ini.

Kisah paling epic dari masa TPB adalah di semester dua, kami mendapatkan kuliah Fisika Dasar IIA. Waktu itu wabah nilai buruk melanda. Saya mendapatkan nilai entah 19 entah 21 entah 23 (pokoknya nilai tiga angka ini termasuk bottom three dari yang ngaku, entah itu Yudha, Maul, sama Saya) dari 100 untuk UTS pertama saya. Waktu itu saya sudah hopeless. Dan ditengah wabah nilai buruk itu, Amril masih mendapatkan nilai 70an. Pernah suatu ketika di kelas, Amril yang mukanya memang selalu nampak cengengesan dituduh cengengesan oleh dosen kami Pak Agung (yang selalu bercerita bahwa dirinya akan pergi untuk meneliti muon sehingga harus ada pergantian pemain dosen di tengah pertandingan kelas)

“SAUDARA!! Berapa nilai saudara” (menunjuk ke Amril, beliau sudah nampak emosi dengan Amril; sambil berekspektasi bahwa Amril akan menjawab dengan nilai rendah, mungkin di bawah 50 atau di bawah 40. Kan biasanya yang ribut di kelas nilainya jelek, iya ga sih?)

“Cuman tujuh puluh Pak” (Amril menjawab dengan suara cemprengnya, seperti biasa)

(Pak Agung terdiam terpana tak berdaya untuk beberapa saat. Dia pun kehabisan kata-kata karena tadinya mau menceramahi mahasiswa cengengesan yang ribut di kelas. Bola matanya melirik-lirik ke segala arah.)

“Sau.. saudara .. seharusnya mengajari teman saudara yang nilainya jelek. Bukan malah ribut di kelas. Siapa nama saudara?”

“Amril Pak”

“Amril? Yang buat gosok itu ya”

(anda salah Pak, yang nilainya jelek di kelas bukan ribut di kelas, tapi dia sedang tertidur dan bangun persis waktu kejadian itu. Dan mahasiswa ini langsung melek)

Sebenarnya masih ada kejadian lain di kelas Fisika yang heboh ini, termasuk Filman yang ditegur padahal yang ribut waktu itu saya dan Agil tapi masih bisa jawab pertanyaan di kelas yang kalau saya ditanya saya pasti nggak bisa jawab. Tapi yang jelas misteri mengapa Amril disebut alat untuk menggosok menyisakan tanda tanya besar di Kelas K-06 ITB 2007. Dia bahkan tidak menyisakan tawa sama sekali setelah joke tersebut dilempar di ruang kelas 90XX Oktagon (Iya, yang buat gosok tadi sebenernya lawakan).

Tapi, sebulan kemudian waktu saya, Nicky, dan Ivan Triyadi sedang cari parkiran di basement PVJ, misteri itu terpecahkan. “Gue waktu itu nggak nyangka loh, padahal jauh ya Amril sama Amplas,” tutur Ivan Triyadi. Saya sempat tercengang beberapa saat untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ivan memang jenius. Akhirnya saya mendapatkan pencerahan tentang stand-up comedy yang dilakukan oleh Pak Agung yang akan meneliti muon. All hail Ivan Te si IP 4 yang juga titisan dari Taufik Hidayat!

Nah, mengingat Amril adalah murid yang baik, dia akhirnya mematuhi perintah Pak Agung. Kami akhirnya menggelar majelis dzikir belajar akbar di rumah Filman Ferdian (yang ternyata dipanggil Mas Ferry dan bukan Filboy kalau di rumah). Siang malam kami belajar intensif tentang Listrik dan Magnet disertai makanan enak yang disediakan oleh Filman Ferdian. Dan akhirnya sukses besar memang. Kalau bukan karena SUPER INTENSIVE LEARNING CAMP yang dibina oleh Amril Hidayat (dan tentu saja karena Tuhan masih sayang saya dengan mengirimkan teman-teman yang membuat saya akhirnya belajar) tentu saya tidak akan bisa mendongkrak nilai saya hingga akhirnya saya bisa lulus dan mendapatkan nilai B. Bandingkan dengan nilai Kalkulus saya yang akhirnya dapet C meskipun UTS pertama nya lumayan. Dengan dua eksperimen ini, saya jadi menyadari bahwa peran Amril di dalam nilai yang saya peroleh adalah signifikan.

Semenjak saat itu, Amril terus mendedikasikan dirinya untuk mengajar makhluk-makhluk bodoh yang tertindas oleh pelajaran-pelajaran kuliah di ITB. Dia telah menginspirasi kami untuk mengklaim diri sebagai AHTC (Amril Hidayat Tutorial Club). Saya ingat waktu itu banyak kursus berbayar dengan nama XXTC. Dan di sini, kami bisa mendapatkan pengajaran gratis dari seorang jenius! Dan Amril kalo ngajarin tuh bener-bener jelas banget dan gak ribet! Dan kalaupun saya nggak ngerti-ngerti, Amril masih mau ngejelasin ulang dari awal sampai saya ngerti.

Lalu kapan Amril sendiri belajar? Itu yang masih jadi misteri sekalipun saya sudah mengenal Amril sejak TPB, ikut lomba bareng, maen ke kosannya, nginep rame-rame, jogging bareng, satu bimbingan TA (semua cara sudah saya lakukan untuk menyelidiki hal ini) tapi hal itu masih menjadi misteri buat saya. Beberapa orang mulai membuat-buat teori tentang teknik belajar yang diterapkan Amril. Tapi saya sendiri tidak mau berhipotesis terlebih dahulu, mengingat idola saya Sherlock Holmes suatu ketika pernah berkata

It is a capital mistake to theorize before you have all the evidence. It biases the judgment.

Nah, sementara itu AHTC terus mengembangkan diri setelah kami lulus TPB dan meluncurkan sebuah blog. Dalam blog ini beberapa anggota mulai menulis tips dan trik menjalani kehidupan, termasuk Teknik Belajar cepat. Dan sampai saat ini, meskipun kami sudah vakum mengingat sudah lulusnya kami dari ITB dan terpencar-pencar  (hiks sedih :(), artikel tersebut masih terus diakses dan dijadikan referensi banyak orang dalam berbagai blognya:

http://rafiah33.wordpress.com/2011/10/

http://blog-ahlal.blogspot.sg/2013/05/tip-belajar-cepat.html

http://ridwan202.wordpress.com/artikel/tip-belajar-cepat/

(Sebenernya Amril sendiri nggak pernah ngepost di blog tersebut dan isinya lebih banyak nyampahnya sih😀 )

Chapter 3: Lomba PLC 

Setelah saya menjejakkan kaki di himpunan, saya menyadari bahwa hidup ternyata bukan hanya untuk bermain-main dan bercanda-canda, serta ketawa-ketiwi saja. Di HME, banyak sekali orang-orang yang berprestasi dan menjuarai berbagai lomba. Saya pun terkadang ingin bisa memenangi lomba. Tapi yah, saya ini cuman anak yang kerjanya nyampah di HME, nggak punya skill apa-apa. Saya pernah sangat ingin bergabung dengan divisi Workshop HME ITB. Tapi sampai menjelang akhir-akhir, tim saya bubar (Pambudi yang akhirnya jadi Kahim, menang lomba desain logo ITB Eco Campus dan lomba essay, dan Adit si dewa Telkom yang lanjut kuliah tentang antenna kepada murid dari balanis di KAIST). Selain itu saya pun tidak berhasil masuk ke divisi keprofesian HME karena tidak akan maksimal di divisi keprofesian lebih berpotensi di divisi karakter. Di unit saya ARC pun saya sudah ketinggalan jauh dari teman-teman yang lain dan sangat jarang ngoprek.

Hidup saya rasanya sangat sepi dan minim prestasi. Waktu itu rasanya sulit sekali jika saya ingin memenangkan lomba, almost impossible... sampai akhirnya Amril berwelas kasih bersedia menjadi tim saya untuk lomba pemrograman diagram ladder PLC tingkat nasional yang diadakan oleh prodi Teknik Fisika di ITB. Saya nggak ngerti apa motivasi utama Amril, apakah dia sudah sebegitu prihatinnya dengan saya sehingga mau membantu saya untuk meraih penghargaan tingkat nasional untuk kali pertama dalam hidup saya. Yang jelas waktu itu Amril dengan enteng menjawab “ayok aja boy, bisa lah boy!” Saya pun segera nge-print formulir pendaftaran, mengisinya, dan mencari dosen pembimbing. Mencari dosen pembimbing ini yang rada ribet gitu kan. Kami pun dengan sigap langsung mencari Pak Agung Harsoyo yang tanpa banyak basa-basi langsung bersedia tanda tangan. Hanya dalam hitungan detik, kami langsung eligible untuk mendaftar

Saking niatnya, saya akhirnya membeli buku tentang PLC programming. Sayangnya karena pengetahuan yang minim tentang PLC, saya membeli buku yang kurang tepat, karena buku ini membahas program untuk instrumen yang berbeda merk dari yang digunakan untuk lomba. Saya akhirnya tidak membacanya karena malas kecewa dengan diri sendiri karena membeli buku yang salah (huh, alasan!). Berhubung ada orang lain yang ingin meminjam, ya akhirnya saya pinjamkan saja.

Tapi, di saat itu, Amril tetap memberikan kedamaian, dia berkata kalau inti dari lomba ini adalah menggunakan logic, dan yang penting tahu syntax dan cara programmingnya. Tapi, lomba programming PLC mah pake GUI dengan ladder diagram, bukan syntax in the sense of coding in common. Akhirnya kami pun mendownload software nya dan coba-coba. Menjelang lomba sendiri kami berdua lebih banyak rileks, biar nanti otak dingin waktu lomba dan logika bisa nyala. Pokoknya Amril bilang apa, ikut aja deh!

Tak disangka-sangka akhirnya saya masuk final   Seperti yang sudah diprediksi kebanyakan orang Amril akhirnya bisa masuk final seorang diri Alhamdulillah, kami mendapatkan kesempatan untuk masuk ke babak selanjutnya, yakni babak final. Malam menjelang babak final ini, banyak finalis berkumpul di HME untuk latihan simulasi. Saya sendiri waktu sampai di HME sudah sangat lelah karena sedang banyak kegiatan di I3M, termasuk hearing calon presiden. Sementara Amril seperti biasa masih mencoba membuat program untuk bisa menguasai dunia  masih riset tentang Higgs-Boson  masih facebookan  masih berada di depan laptop (dan kami tidak tahu dia sedang mengerjakan apa).

Untuk babak final, yang berbeda hanyalah komponen yang digunakan. Dalam babak ini konon katanya akan digunakan ADC. Panitia sendiri telah memberikan sedikit tutorial tentang penggunaan ADC di hari sebelumnya. Namun karena malas  sibuk tidak diwajibkan, saya dan Amril tidak mendatangi tutorial ini.

“Lo udah tau cara make ADC nya belom?”

“Yaudah deh gue liat-liat bentar cara make ADC nya” (jawab saya sambil lihat tim lain yang sedang latihan, lalu nanya-nanya ke mereka)

“Ril, kita perlu latihan nggak nih? Apa tidur aja biar fresh”

“Yaudahlah tidur aja biar fresh”

Keesokan harinya kami pun menjalani babak final. Di babak ini kami sudah berusaha menyelesaikan soal yang diberikan, namun entah kenapa setelah didownload ke PLC, alat kami tidak juga bekerja sesuai keluaran yang diharapkan. Kami terus mengoreksi program kami dan menemukan beberapa ketidaktelitian. Namun, tetap saja program ini tidak jalan. Setelah meyakinkan diri kami bahwa program yang kami buat sudah benar dan kami tidak bodoh (Tentu saja keberadaan Amril di tim ini menaikkan rata-rata kecerdasan di tim kami, meskipun rata-rata ini lebih rendah dari kecerdasan Amril sendiri😀 ), kami pun protes ke Mas-mas panitia yang sotoy tegas.

Kami pun tidak menyerah, saya tetap ngotot dan protes ke Mas-mas panitia ini (karena ngotot ke Mas-masnya adalah kontribusi terbesar saya di lomba ini hahahaha). Protes kami terus-terusan tidak ditanggapi dan dianggapnya justru program kami yang salah. Waktu terus berputar dan kami hampir kehabisan waktu. Dan selama protes kami tidak ditanggapi kami tetap mengotak-atik program kami dan tidak menemukan kesalahan. Sampai akhirnya Mas itu, (dari perspektif saya) kesal dan ingin menunjukkan bahwa kami bodoh. “Di program ini kalian tau nggak, kalau ada fitur debugging-nya dan bisa ngelihat program kalian yang salah,” kata Mas-mas nya sambil mengotak-atik komputer kami. (Sejujurnya saya pribadi baru tahu kalau ada debugging yang semacam itu sih hahhahaha). Setelah dites dengan menggunakan debugger ternyata program kami pun benar. Saat itu juga kebetulan perwakilan dari vendor akhirnya melihat dan memang berkata “wah ini memang error device-nya, sini biar kami ganti.” Kami pun akhirnya mendapatkan alat yang baru dan akhirnya si Mas-mas tadi memberikan tambahan waktu sekitar sepuluh menit untuk kami.

Saya lupa apakah pengumuman hasil lombanya di hari yang sama atau keesokan harinya. Yang jelas, sore itu saya sangat lelah dan sedang tidur di dalam sekre himpunan. Saya lelah karena kurang tidur. Kalau tidak salah ketika itu Budi Azwen membangunkan saya dan bilang kalau saya dapet penghargaan di lomba itu.”Oi fik, lo nggak ke Aula Barat,” ujar Budi Azwen dengan suara nge-bass nya. Tapi saya yang masih setengah sadar dan benar-benar kecapekan sepertinya sudah tidak peduli, “Udah biar Amril aja deh yang ke sana,” ujar saya sambil setengah mengigau.

Setelah akhirnya terbangun, Amril pun memberikan piala dan sertifikatnya kepada saya. Saya sangat senang. Nggak perlu Juara 1 deh, dapet juara harapan II aja saya udah seneng banget. Selama di ITB saya udah ikut lomba orasi (saya nggak masuk final/5 besar tapi juri-jurinya sendiri bilang kalau saya juara favorit)dan lomba adzan (ikut bareng Zaenal yang sebelumnya juara, konon kabarnya nilai saya peringkat 4 apa 5 gitu), tapi baru kali ini saya ikutan lomba di Teknik Elektro. Saking senangnya, saya pun sudah tidak bisa lebih tidak peduli lagi terhadap ucapan orang-orang “WAH Amril Juara Harapan II? Hebat ya, sama Fikri aja dia masih bisa gitu, apalagi kalau sendiri, pasti juara 1

20935_1346521752639_4783081_nAkhirnya setelah cuman bisa nyumbang omong kosong, saya bisa turut nyumbang trofi buat HME.

Saya ingat, Amril pada suatu ketika pernah nge-tweet:

“If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader”

(setelah ditelusuri rupanya ybs ngetweet hal tersebut di tanggal 1-11-11, karena tweet count nya masih dikit sehingga bisa dilacak )

Dan buat saya, Amril sudah mau memberikan kesempatan dan membantu saya untuk berkembang. Semenjak saat itu saya jadi lebih berani untuk mencoba sesuatu yang baru, mempelajari hal-hal yang baru, mengikuti lomba-lomba lain, dan yang terpenting belajar untuk tidak mendengarkan omongan negatif orang lain yang berkata bahwa kita tidak bisa. Amril, according to what he tweeted, was already a leader who brought inspiration to me.

Chapter 4: Kemanusiaan Seorang Dewa

Amril selain sosok yang cerdas, dia juga merupakan orang yang aktif di organisasi. Dia bukan seperti orang-orang pintar yang tidak punya teman dan mengasingkan diri. Bertemu dengan Amril membuat stereotype bahwa orang superior itu biasanya nggak bisa apa-apa selain pelajaran runtuh. Dia juga sangat bersemangat dalam berolahraga, apalagi kalau futsal, staminya sudah seperti kuda yang doping pake steroid, kuku bima, extra joss, hemaviton, dan kratingdaeng untuk dosis banteng.

Selain itu Amril juga termasuk seorang teman yang perhatian. Meskipun saya melihat dia terkadang melakukan psychologizing, sebenernya dia sendiri teman yang sangat caring. Bahkan kalau saya lagi deket sama seseorang, Amril nggak segan buat ngajak ngobrol orang itu dan bilang, “nitip fikri yah” dan memberikan suatu bentuk support ketika ada orang yang menyerang saya misalnya.

Meskipun demikian, Amril masih manusia biasa, dan bisa berkonflik. Tapi menariknya, dari konflik yang dialami Amril saya memperoleh suatu wisdom (dan karena kebetulan saya sering ada di tengah konflik tersebut, dan pernah juga terlibat sebagai pihak yang berkonflik) bahwa ada kalanya kita tidak berhak menghakimi seseorang. Siapapun itu. Ada kalanya kita harus belajar untuk sekedar memahami mengapa orang lain berbuat sesuatu, dengan berempati, dan bukan psychologizing (dan saya lebih sering melakukan yang terakhir, dan bahkan sudah mengakuisisi psychologizing sebagai bagian dari karakter saya).

Dan, yang menarik saya pernah sekali melihat Amril baru membeli buku bertema self-help (waktu itu saya kurang begitu suka buku jenis ini). Lalu dia sempat bilang kepada saya, “Orang tuh biasanya kalo dikasih kelebihan tuh jadinya agak aneh fik. Di situlah saya menyadari bahwa seorang jenius pun tetap manusia biasa yang punya kekurangan, dan harus belajar.

Oh iya meskipun, Amril ini di luarnya agak tertutup, dia adalah orang yang percaya dengan temannya dan tak segan berbagi rahasia. Hal ini justru berbeda dengan saya yang meski di luarnya terbuka banyak menyimpan rahasia. Dan sebenarnya ketika Amril terkadang curhat tentang sesuatu, saya pengen juga curhat ke dia kalau saya juga mengalami beberapa hal yang sejenis dengan yang dia alami di waktu kecil. Tapi, entah mengapa saya nggak bisa cerita

Oh iya, satu lagi, Amril ini orangnya sangat mandiri.

Chapter 5: Salah Satu Figur Otoritas

Untuk chapter terakhir ini saya tidak mau banyak cerita atau memparafrasekan. Tapi saya ingin lebih banyak menempelkan potongan percakapan saya dengan Amril di Yahoo Messenger.

Amril Hidayat: yg jadi masalah knp bisa begitu? [yg ini diedit dikit, red]
Amril Hidayat: lo lom berusaha maksimal kali

Amril Hidayat: kan tinggal belajar fik

Amril Hidayat: :))

Amril Hidayat: orang kaya lo tuh harusnya bisa

Amril Hidayat: lo tuh diatas rata2

Rousyan Fikri: gw masih punya masa depan ga ya?
Amril Hidayat: masih lah
Amril Hidayat: ngaco aja lo

Amril Hidayat: disana lingkungan nya kondusif ga buat lo fik?

Amril Hidayat: nah itu
Amril Hidayat: lo mesti belajar ngendaliin diri lo
Amril Hidayat: secara otak kayanya lo ga ada masalah
Amril Hidayat: kebiasaan lo kali yg jadi masalah

Amril Hidayat: jgn nyerah dulu
Amril Hidayat: kalo emang nasib yaudah
Amril Hidayat: :))

Amril Hidayat: dulu waktu kecil akademik gw juga jelek fik
Amril Hidayat: :))
Amril Hidayat: kebanyakan maen

Amril Hidayat: kebanyakan orang yg gw kenal juga ga pinter2 fik
Amril Hidayat: cuma mereka emang rajin
Amril Hidayat: kalo nilai lo jelek karena ga belajar sih gapapa
Amril Hidayat: orang pinter kalo ga belajar ya bisa jelek juga nilainya
Amril Hidayat: :))
Rousyan Fikri: huaha
Amril Hidayat: gw juga sering males kok fik
Rousyan Fikri: tp ip lo bagus2 aja ril
Rousyan Fikri: selow
Amril Hidayat: gw kan suka kebawa perasaan orangnya
Amril Hidayat: hoki aja itu gw

Amril Hidayat: lo sering beranggapan orang laen jauh lebih baek dari lo ya?
Rousyan Fikri: maksudnya gmn tuh ril
Rousyan Fikri: gw ga pedean sih emang
Amril Hidayat: gw dulu juga begitu
Amril Hidayat: kadang mikir begitu bikin lo males ngapa2in
Rousyan Fikri: kadang gw juga mikir
Amril Hidayat: sekali lo mikir lo ktinggalan biasanya lo malah makin ketinggalan
Rousyan Fikri: mungkin gw ga cocok jd akademisi
Rousyan Fikri: gw orgnya susah fokus gini
Rousyan Fikri: dan bosenan
Rousyan Fikri: entah
Amril Hidayat: lo kira gw ga gitu?

Amril Hidayat: orang mah yang penting mentalnya fik
Amril Hidayat: masa kalah sama cewek
Amril Hidayat: :))
Rousyan Fikri: hauhau
Amril Hidayat: jangan terlalu kebawa perasaan
Amril Hidayat: lo pernah bisa fokus kan
Amril Hidayat: ?
Rousyan Fikri: masalahnya gw merasa gatau apa2 ril ttg elektro
Rousyan Fikri: ta aja ngasal
Rousyan Fikri: kuliah asal lulus
Amril Hidayat: berati pola pikir lo yg salah
Amril Hidayat: kalo ga tau ya tinggal cari tau
Amril Hidayat: kecuali lo nya emang ga mau cari tau
Amril Hidayat: itu salah lo lah
Amril Hidayat: menyerah tanpa usaha itu ujung2nya lo ngerasa gak enak sendiri
Rousyan Fikri: hmm
Rousyan Fikri: lo pernah ga ril, nyerah tanpa usaha?
Amril Hidayat: pernah kayaknya
Amril Hidayat:😀
Amril Hidayat: tapi ga lagi deh
Amril Hidayat: :p
Amril Hidayat: bikin lo ga maju2
Amril Hidayat: lo kalo liat orang lain diatas lo liat juga usahanya lah
Amril Hidayat: kok bisa ya dia lebih baek dari gw
Rousyan Fikri: sip ril, nanti gw renungkan lg
Rousyan Fikri: hukshuks
Amril Hidayat: jangan kebanyakan mikir lo
Amril Hidayat: tapi ga ngapa2in
Amril Hidayat: lo orangnya rendah diri ga?
Rousyan Fikri: haha
Rousyan Fikri: iya nih kayaknya ril
Rousyan Fikri: gatau
Rousyan Fikri: sejak lulus kuliah
Rousyan Fikri: gw baru jadi ga pedean gini
Amril Hidayat: bukannya lo ga tau malu -__-
Rousyan Fikri: haahaa
Rousyan Fikri: itu dia
Rousyan Fikri: ga tau kenapa
Rousyan Fikri: sejak lulus
Rousyan Fikri: malah jd ga pedean
Amril Hidayat: emang dulu lo pedean?
Amril Hidayat: gak juga kayaknya
Rousyan Fikri: masa sih
Rousyan Fikri: gatau jg sih ril
Rousyan Fikri: tp gw ga punya malu
Rousyan Fikri: kalo lo ngeliatnya gmn ril?
Amril Hidayat: hmmm…
Amril Hidayat: biasa aja
Amril Hidayat: tipe2 anak labil gitu deh
Amril Hidayat: =))

Amril Hidayat: hajar udah
Amril Hidayat: !!!

Obrolan ini terjadi ketika saya sedang babak belur secara mental. Dan seperti yang saya bilang, saya sudah tidak percaya hasil psikotes. Tapi, saya masih percaya Amril. Karena Amril bilang saya nggak bego itu rasanya jauh lebih signifikan dari hasil psikotes. Rasanya nggak ngaruh kalau ribuan orang bilang saya bego, idiot, biasa aja, atau pinter, atau jenius. Tapi ketika Amril yang bilang, saya jadi percaya.

Epilog

Jika berusaha psychologizing terhadap diri sendiri, rasa-rasanya dalam beberapa hal Amril sudah sempat menjadi figur yang dipandang oleh alam bawah sadar saya sebagai suatu otoritas. Terlepas dari kekurangan yang dimilikinya sebagai manusia, Amril adalah salah satu teman yang telah menginspirasi saya.

Semoga lo terus bisa menginspirasi orang dan jadi orang yang lebih baik ke depan ya Ril. Maaf juga kalau gue belom bisa jadi teman yang baik buat lo selama ini.

(Maap juga kalo ada kata-kata di postingan yang gak berkenan, murni bercanda kok boyyy)

Sekian

*Ditulis non-stop dari 8.45 demi ke-konkretan kategori serial teman inspiratif. Semoga saya bisa menuliskan cerita tentang teman-teman yang lain (mengingat draftnya juga sudah banyak sebenarnya). Dan honestly, ada banyaaaaaaak sekali nama yang ingin saya tulis ceritanya. Kemungkinan besar kalau saya dan Anda pernah berinteraksi di suatu kegiatan, sering main bareng, sering ngobrol-curhat cewek, apalagi punya panggilan sayang. Anda adalah salah satu nama yang terlintas. Dan kalau sampai akhir tidak tertuliskan, mungkin memang bentuk inspirasi yang Anda hadirkan adalah inspirasi yang lebih baik tidak dilukiskan dengan kata buat saya hazeik.

5 thoughts on “Teman Inspiratif: Si Jenius Boy – Chapter 1-5 (habis)

  1. Mantap. +1. Ane ngerasa hal yang sama banget untuk cerita chapter 4 dan 5. Amril udah banyak ngasih inspirasi ke ane. Trus inget juga jadinya apalah TA awak kalo ga ada amril, bakal lama beresnya😦..

    1. Hahaha, iya banget yah chapter 4 dan 5. Kalo ente masuk K-06 pasti merasakan chapter 1 dan 2 nya :))
      — cek LINE btw, ‘riset’ kita menemukan titik cerah😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s