Rumput Malam dan Rembulan di Sungai

Hari Sabtu lalu aku menyambut seorang teman. Kami akhirnya berjalan-jalan di sekitar Singapore River. Aku tersadar, sudah lama aku tidak ke tempat-tempat ini. Satu semester ini adalah sebuah perubahan besar bagi diriku. 

Saat berjalan dari arah esplanade menuju helix bridge, aku teringat bahwa beberapa bulan sebelumnya aku sempat berjalan berdua bersama temanku. Ia bercerita tentang apa yang hendak ia presentasikan sebagai perwakilan perusahaannya; sebuah perusahaan multinasional yang bermarkas di negara bekas jajahan. Yang dipresentasikannya? Potensi energi terbarukan di negara kami. Lalu, tepat saat melintasi helix bridge, aku teringat bahwa dulu aku dan seorang temanku sangat sering menyusuri jalan ini. Sambil bertanya bagaimana masa depan kami berdua, dan apa makna hidup yang sebenarnya. Singapura telah mempertemukan kami. Sekelompok orang yang percaya bahwa masih ada yang bisa kami perbuat untuk negeri kami, dengan cara meraih mimpi kami.

Tapi, meraih mimpi tak pernah instan. Begitu banyak aral melintang.

Masih segar di ingatanku, kami terduduk di pinggir sungai. Menatap refleksi malam pada sungai. Refleksi rembulan dan lampu-lampu yang menghiasi gedung-gedung milik instrumen ekonomi menemani perenungan kami malam itu.

Saat menatap ke belakang, semuanya nampak berbeda. Satu tahun rupanya membawa begitu banyak perubahan. Ada yang nampak, ada yang hanya bersembunyi dibalik hati. Ada yang berhasil menyadari bahwa dia sempat berkenalan dengan depresi. Selalu duduk di atas rerumputan yang basah oleh embun malam. Sembari memandangi rembulan yang kadang ada kadang tidak. Sembari mengamati, betapa cepat awan bergerak. Dan tak terasa waktu beranjak lalu. Ia memberikan kesulitan untuk memejamkan mata saat jam tidur seharusnya tiba. Ia memberikan kesulitan untuk terbangun dari tidur. Ia memberikan rasa lelah yang tak pernah terobati dengan istirahat. Ia memberikan gores hitam di bawah mata meskipun tiada orang ini berkarya. Ia terkadang memberikan rasa takut yang begitu menggigit di waktu-waktu yang tak terduga. Rasa takut itu benar-benar menghantui meskipun mungkin ia hanya berlangsung beberapa menit.

Kejam. Perasaan itu kejam. Memenuhi seluruh ruang pikiran dan tak menyisakan satu fokus untuk hal-hal yang seharusnya dilakukan. Maka pergilah ke atap gedung ditemani tabung kertas. Melepaskan sejenak kacamata untuk dapat melihat langit yang begitu besar. Galaksi begitu luas. Tapi burung-burung tidak peduli. Matahari senja sudah hendak melambaikan tangan. Dan burung-burung itu terbang dengan formasi yang teratur. Bebas.

Hingga akhirnya ia mulai melepaskan. Ia lepaskan satu persatu yang selama ini dilindunginya, dipegang erat-erat. Ia lupakan mimpinya dan menggantinya dengan pertanyaan sekaligus penyerahan. Apa yang Langit inginkan?

Dan, memang benar. Berjumpalah dengan rasa takutmu yang terbesar. Berkawanlah dengannya. Biarkan dirimu tersiksa, asalkan kau dapat bertatap muka dengan yang selama ini kau hindari. Hingga suatu saat ia tak lagi jadi mengerikan. Mengosongkan ruang-ruang yang penuh sesak sebelum ini. Melakukan pengembaraan pikiran yang menyingkap rahasia semesta.

Ketika terduduk di sana memandang langit, akhirnya dia harus bertanya. Apa yang aku harus takutkan lagi?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s