IMG_20131211_223724

Riset

Dua puluh menit menjelang pukul sebelas di tanggal sebelas dua belas tiga belas waktu Singapura. Beginilah kondisi meja saya. Seperti biasa target tidak tercapai. Dalam ngerjain riset dengan tingkat independensi yang tinggi dan ketidakfamiliaran terhadap topik riset, hal ini sangat biasa. At least, itu yang saya rasakan selama satu setengah tahun ini. Well, selama beberapa bulan terakhir riset saya hiatus dulu demi ujian. Karena dokumentasi yang buruk hari-hari ke belakang saya habiskan untuk memahami lagi apa yang sudah saya kerjakan, dan memahami codingan yang saya buat. Saya juga berencana mau nginstall SVN tools.

Sungguh saya sepertinya sudah lupa banyak hal. Lupa cara ngoding ini itu. Kalau inget berbagai ragam hal yang saya kerjakan waktu kuliah di ITB dulu, rasa-rasanya produktivitas saya berkurang sangat menyangat drastis.

Dua hari yang lalu saya ngobrol dengan Hanif, saya bilang mau tulis cerpen tentang komurindo kami, one of those good old times. Tapi saya ketiduran begitu sampai rumah, tidur cepat jam satu semalam. Di alam mimpi pun saya jadi mimpi pengen beli xbee untuk dioprek. Absurd? Iya. Paginya tiba-tiba Pak Doni masang game status di facebook, jadi inget komurindo lagi. Siangnya tiba-tiba M Ikhsan Mabok nanya, “fik lo dulu pake xbee, interface ke arduino pake apa?” Semesta oh semesta.

Omong-omong belum pasti apakah semester depan saya akan masih di sini dan menjadi Ph.D student atau tidak. Tapi, saya hanya berusaha menjalankan peran yang saya pegang sekarang dan berusaha menikmatinya. Saya bisa memahami perasaan teman saya yang sedih dan merasa hidup tidak adil, dan lain-lain. Tapi masa itu terlewati buat saya. Selama satu semester kemarin saya diajari Tuhan: berhentilah khawatir! Apa yang perlu dikhawatirkan selama saya bisa makan, minum, tidur, bernapas, tidak kehilangan hak hidup, dan yang paling penting masih bisa beribadah? apalagi masih bisa cium bau ketek sendiri, sudah cukup.

Cinta

Kemarin juga ada orang yang nanya ke saya “How To Not Love A Guy”. I never fall in love to a guy. Akhirnya saya kasih tau saja kalau untuk cewek. Saya suruh dia cari analoginya.

there is two way to not love a girl
first is to meet another girl
second
is to shift your focus
until one day you realize, you don’t love her anymore
I mean, don’t try to think about her
but don’t also try to not think about her when you think about her out of nowhere
cara pertama paling gampang tp paling ga menjamin kalo lo akan lupa orang itu
cara kedua susah sih: lo harus bisa merasakan bahwa cinta tuh cuman experience
sama kayak benci, dan rindu
dia kadang datang, tapi gak selalu ada
dia kayak tamu sih
kalo lo suguhin makanan atau minuman ya dia akan tetap singgah
tp kalo lo temuin dan tunggu ampe dia pulang
dia akan pergi

Kemarin juga ada yang curhat soal relationship. Saya bilang aja.

yah tp namanya hubungan sih
kalo udah ga saling percaya mah buat apa
even bukan skeedar percaya deh
lo mungkin percaya sama dia, dia percaya sama lo
tp lo ga percaya kalo lo masih sayang sm dia ya mending putus
ato ga percaya ada future buat kalian
ya mending putus
tapi……
ya itu tadi, kalo masih ada rasa percaya
mungkin bisa mengungkapkan apa yg perlu diungkapkan
atau mungkin
belajar memaafkan dan memilih untuk melupakan hal2 yg lalu
dan tetep deh berhubungan🙂

Inti hubungan itu percaya sih menurut saya. Percaya kalau kita akan jadi baik bersama dia dan dia akan jadi baik bersama kita. Simpel kan ya. Ga perlu yang perfect dah. Ga ada lagi yang perfect mah..

Petuah cinta dari saya selalu keren yah. Walaupun saya sendiri nggak bisa menjalaninya. Dan akhir-akhir ini ada beberapa cewek curhat sama saya tentang cowok Gemini. Mereka mengeluh betapa cowok Gemini itu wise, pandai berkata-kata manis, tapi selalu membingungkan dan tidak tahu maunya apa dalam hubungan; dan centil juga katanya. Saya gemini😦 (Saya ingin jadi dokter cinta saja jika dengerin curhat dan ngemeng bisa dibayar)

Meanwhile, ditengah segala kegalauan tentang jodoh, ada teman saya namanya Yonny. Dulu saya kagum dan amazed sama dia. Dia orangnya yakin banget menentukan target menikah. Yang ada di pikiran saya, nikah kok fungsi waktu sih? Bukannya menikah itu adalah sebuah konsekuensi dari bertemu orang yang tepat (yang ingin dinikahi), pada waktu dan tempat yang tepat hingga saat yang tepat?

Tapi keren sih, Yonny dengan segala romantismenya hari ini banyak posting di social media (blog soundcloud )tentang projectnya ini. Keren! Apalagi sudah ada titik cerah. Semoga sukses Yon!

Sementara itu Imam Reiza Fahlevi entah kenapa getol banget manas-manasin saya (dari dulu sih sebenernya) untuk urusan cinta. Kemarin aja dia tag saya di path. Dia juga bilang, “lo harusnya tiru si X, sekali nemu cewek yang oke dikejar habis-habisan.” Saya sih sekarang cuman bisa miris kalau flashback ke love life saya, untuk apa saya tenggelam dalam hal-hal semacam itu berlarut-larut. Sedih sih karena banyak melakukan kesalahan, banyak mengambil peran jadi jahat. Sejujurnya saya lebih memilih patah hati daripada jadi orang jahat.

Tapi yah begitulah hidup, kadang pelajaran itu kita dapatkan bukan hanya dari menjadi baik, bertemu orang baik, bertemu orang jahat, tapi juga saat kita menjadi jahatDan saya pikir, cinta adalah cara Tuhan mengajarkan banyak hal kepada manusia. Tentang keikhlasan, tentang penantian dalam kesabaran, terutama bagi mereka yang selalu mencintai dalam persembunyian (iya ini maksudnya elo kalo misalnya lo baca sih). Mencintai dalam persembunyian itu berat memang, cinta-cinta sendiri, sakit-sakit sendiri, derita-derita sendiri, tapi kalo ikhlas ya ikhlas-ikhlas sendiri.

Kematian

Akhir-akhir ini ada banyak berita duka. Mengingatkan kita kalau kematian itu mengintai manusia kapan saja. Jadi inget pernah nonton video Jalaludin Rakhmat menjelaskan tentang kematian. Kata Martin Heidegger mah ada kematian yang tidak bisa dihindarkan, dan selalu menghantui manusia. Dan manusia mencoba lupa akan kematian. Toh, akhirnya semua akan ditinggalkan. Akan terjadi, untuk apa dipikirkan?

Tapi selain itu ada juga kematian yang kedua: yang diinginkan. Kematian yang ini dikejar-kejar, direncanakan; ingin mati seperti apa.

Dan saya juga terharu masih ada orang-orang yang peduli sama saya, mau mengajarkan saya tentang hidup dan cara menyongsong kematian. Hakikat kehidupan mungkin baru bisa kita serap maknanya saat memikirkan kematian. Dan salah seorang Bapak-bapak berkata kepada saya: tanpa adanya cita-cita hidup kita akan jadi pasif. Tapi, niat kita harus benar tentunya, bukan untuk ego pribadi, bukan sekedar untuk dunia.

Ah mari kita sudahi saja, memang benar kata seorang Guru, ..pelajaran menjadi manusia yag tidak pernah selesai..

“Setiap tarikan nafas adalah langkah ke kuburan” 

– Ali bin Abu Thalib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s