Chapter 1 Prolog Si Introvert

Hari ini saya merasa mulai kembali ke kehidupan saya yang seperti semula. Yang absurd.

Asalnya saya masih pengen menjalani peran sebagai makhluk pemikir introvert yang nyaman dalam kesendirian. Iya, beberapa bulan ke belakang saya males banget ketemu orang dan lebih suka baca buku atau merenung sendirian. Makan pun lebih nyaman kalau sendirian, dan sebisa mungkin menghindari interaksi yang bikin saya awkward dan ga enak hati kalau mau menyudahi atau kabur.

Pas tadi siang mau berangkat jumatan pun asalnya saya masih mau seperti itu. Bahkan waktu ada orang yang saya kenal jalan melewati saya, saya pun tidak menyapa dia. Malas kalau harus mengobrol dan awkward. Seperti kemarin-kemarin juga begitu, meskipun saya tahu saya bakal satu bus sama teman satu bimbingan, saya berusaha agar kami tidak bertatap muka di jalan. Maklum, perjalanan dari lab sampai ke bus stop cukup jauh dan saya takut merasa awkward kalau di tengah-tengah kehabisan topik obrolan.

Tapi entah kenapa tiba-tiba secara tidak sengaja saya bertemu Emir dan Dinar di kantin pas makan siang. Saya pun jadi makan bareng mereka. Setelah itu saya dan Emir jumatan bareng dengan berlari-lari mengejar bus (juga bersama teman saya yang dari India bernama Hisham, yah, kurang lebih sebelas dua belas dengana adegan kejar-kejaran antara penjahat dan inspektur vijay di film bollywood). Sudah dapat bus, ternyata kami sebus dengan Mirza (seorang anak undergraduate yang sering dikira orang India dan diajak ngobrol bahasa tamil atau hindi, and you know what, Mirza adalah nama seorang petenis wanita di India dan doi memperkenalkan diri seperti itu ke temen saya). Dan seperti biasa saya dan Hisham mengobrolkan kehidupan Ph.D student tahun kedua. Lagi nge-hype banget ngebahas QE. Saya mah iya-iya aja.

Mirza dan makanan kari ala Indian food, foto distalk dari facebooknya.

Sepulang dari jumatan secara tidak sengaja saya bertemu Husna yang juga teman serumah Mirza. Kabarnya mereka baru pindah ke student hostel tanpa ada perabotan rumah tangga. Tak ada kasur dan sofa. Bahkan tidak ada internet. Di tahun 2013 di 1st world country. Kata Mirza, hanyalah gitar satu-satunya yang mereka punya. Saya sangat miris sekali mendengar ceritanya. Rasa-rasanya saya ingin pergi ke sana dan mendedikasikan satu blog post tentang hostel baru mereka. (sebenernya sih gak semiris itu sih, karena masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah dari ini)

Saya nggak yakin ini Husna atau foto model untuk kalender tahun 2014. Tapi saya ambil dari facebook ybs.

Pas sholat maghrib di mushola pun mendadak ketemu Emir. Saya tadinya lapar, mau makan sendirian terus balik ke lab lagi. Tapi karena Emir mengajak makan di pioneer dan saya tiba-tiba jadi ngidam banana prata, saya pun mengiyakan ajakannya. Oh iya, saya sempet meninggalkan hape saya di rak di luar mushalla. Heran, hape udah segede gaban masih juga bisa ketinggalan. (Galaxy Tab 2.0 7′)

Chapter 2 Ekspektasi yang Berlebihan Kepada Tahu Telor 

Sampai di pioneer, kami bertemu Dinar. Kami akhirnya pergi ke jurong point.Di perjalanan, tentu saja kami membahas tentang teman kami, Abi yang merupakan keturunan sastrawan. Somehow, puisi Abi bisa jadi lumayan bagus meskipun hanya diterjemahkan Google translate. Ini sedikit nyambung dengan obrolan random saya dan Emir yang membahas tentang buku-buku peraih Nobel untuk literatur yang misalnya terjemahan. Bukankah jadi agak beda gimana gitu kan kalau terjemahan.

Sampai di Jupo/JP Dinar ngotot pengen makan di tempat bernama “kantin” (saya lupa spellingnya) yang dulu bernama “banquet”. Sedangkan saya dan Emir sebenarnya ingin makan di ayam penyet ria, tergoda oleh bayangan nikmatnya gado-gado dan tahu telor yang biasa dijual abang-abang dengan gerobak. Tapi, sebagai gentlemen, kami pun akhirnya menuruti kemauan Dinar. Namun pucuk tidak dicinta, ulam pun tak tiba, tidak ada kursi kosong di sana. Saya sampai bilang ke Dinar (sebenarnya ini sarkasme, tapi kayaknya malah ditanggapi positif oleh Dinar yang baru balik dari Cape Town), Yaudah kita mau lesehan aja di sini? Atau mungkin mau bungkus terus kita makan di central park-nya Boon Lay?” dan Emir membalas dengans serius tanpa tertawa, “Jangan deh, kayaknya sih basah karena habis hujan

Akhirnya kami menuju ayam penyet. Kita anggap saja ini ronde pertama. Saya dan Emir sudah benar-benar membayangkan gado-gado dan tahu telor yang enak. Sayangnya sampai di sana gado-gado sudah habis. Saya pun akhirnya memesan tahu telor seperti Emir. Sebenarnya Emir sudah menawarkan untuk pesan satu buat berdua, tapi dengan sombongnya saya mengatakan satu-satu saja. Mungkin karena ekspektasi kami berlebihan, tahu telor itu jadi tidak bisa memenuhi ekspektasi kami. Mungkin saya terlihat begitu menikmatinya di foto di bawah, tapi sesungguhnya tidak demikian.

Difoto oleh Emir dengan hapenya, dan diupload ke facebook sehingga bisa saya tempel di sini

Atas dasar pertimbangan biaya dan rencana bahwa akan ada ronde kedua di “kantin”, saya dan Emir tidak pesan minum. Sementara anehnya, Dinar pesan main dishes dan gitu deh padahal katanya ngidam ramen di “kantin”.

“Hah, kok lo pesen nasi sih. serius lo nanti bakal masih kuat makan ramen?”

“Biarin aja fik, dia habis pulang dari Cape Town, katanya laper banget di Cape Town”

“Iya nih, gue kemarin laper banget pas di Cape Town”

“Hah? Apa hubungannya gitu, karena jauh dari Equator?” (saya mencoba mencari rasionalisasi yang tidak rasional atas fenomena ini)

Well, ternyata pada akhirnya kami semua kekenyangan di ronde pertama ini. Dan tentu saja saya dan Emir sudah merasa seret sekali karena tidak pesan minum. Saya melihat Dinar masih menyisakan minumnya sekitar seperlima gelas. Saya pun dengan tanpa mengiba meminta minumnya. Detik ketika saya hendak meminumnya, rupanya Emir juga menginginkannya. Demi tata krama, maka saya hanya minum satu sedotan (sesuai falsafah kepemimpinan Jawa). Maksud saya sih biar nanti Emir juga melakukan hal yang sama sehingga saya akan dapat minum lagi setelah Emir minum. Di luar dugaan ternyata Emir langsung menghabiskan semua minumannya. Huh.

Maka dari itu kami pergi membeli minum di “kantin” dan nongkrong sejenak karena sudah sepi. Dari obrolan yang mulanya, “kenapa rupiah bisa anjlok?” kami jadi memperbincangkan banyak hal. Dari mulai tentang perekonomian, kepresidenan Indonesia, swasembada pangan, sampai blog AHTC.

Chapter 3 Nostalgia Lagu Indonesia Jaman Dulu

Tak lama kemudian karena masih ingin nongkrong, kami pun kembali ke hawker pioneer. Makanan yang saya idamkan pun akhirnya muncul: banana prata. Kami nongkrong cukup lama di sana. Dinar awalnya memberi tahu saya bahwa ada seorang penyanyi Singaporean-Indonesian descent yang mengaransemen ulang lagu “terlanjur sayang “dari memes. Saya awalnya lupa lagunya yang mana

“Yang ini bukan sih: Kini hanya bisa menangis sendiri, hanya bisa bercanda dalam sepi”

“Oh bukan bukan.. itu mah: NOKTAH MERAH PERKAWINAN TELAH MENGHANCURKAN MAHLIGAI CINTA

“Oh iya bener-bener kalo memes itu yang:

seribu ragu yang kian menyerang..

tapi diriku terlanjur sayang..

walau arah mata angin melawan..

tapi ku bertahan dan ku berjalan. satu per kata kau pun menanyakan..

mengapa cinta dipertahankan tetapi haruskah dipertanyakan bila ku terlanjur ku terlanjur sayYAAAAAAAANGG”

Berawal dari obrolan ini kami pun mulai mengingat-ingat lagu-lagu Indonesia jaman dulu. Mulai dari Katon Bagaskara, Nugie, Kahitna, Sheila on 7, tipe lagu-lagu Ariel, dan Ada Band, Kafein, Jamrud, Cilapop, Melly Goeslaw dengan AADC nya, hingga Titi DJ yang sudah memakai “GALAU” untuk judul lagu jauh sebelum saya mulai menggalau kata ini populer, dia memang paham bahasa kalbu. Mulai dari tersanjung, tersayang, terpikat, sampai terpesona eh itu mah sinetron  yang membuat kami refleks menyanyikan.

Terpesona ku pada pandangan pertama.. dan tak kuasa menahan rinduku”

Intinya mah jaman dulu lagu Indonesia jauh lebih puitis dari lagu jaman sekarang. Dan entah kenapa bahasa kita mendukung untuk hiperbola seperti “walau mentari terbit di utara, hatiku hanya untukmu” atau “kan kutunggu sampai samudera mengering” yang posibilitasnya telah dibahas di tautan yang saya berikan.

Ya, dan sepanjang nongkrong di hawker centre ini kami menyanyikan satu persatu lagu yang kami coba ingat-ingat. Misalnya saja lagu-lagu Jikustik yang sangat puitis sampai-sampai dulu masuk buku pelajaran Bahasa Indonesia. Atau lagu-lagu Sheila on 7 yang liriknya membahas banyak topik dan begitu menohok sangat dalam. Selain “pemuja rahasia” (yang video klipnya bisa merubah pemaknaan baris perbaris lagu ini), “itu aku” yang berkisah dengan keteguhan hati seorang pencinta, salah satu lagu yang dianggap dalem banget adalah ketika cinta itu akhirnya KETEMU!

Serapuh kelopak sang mawar
Yang di sapa badai berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri di terpa
Dan luka oleh senja …

Semegah sang mawar di jaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada di sini dan pekat
Pun berakhir sudah

Akhirnya aku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pemah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu
Setenang hamparan samudra
Dan tuan burung camar
Takkan henti bernyanyi

Saat aku berkhayal denganmu
Dan janjipun terukir sudah
Jika kau menjadi istriku nanti
Fahami aku saat menangis

Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pemah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu
Jika kau menjadi istriku nanti

Fahami aku saat menangis
Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pemah berhenti memilikiku
Hingga ujung … Waktu

Tentu kita tidak boleh lupa lagu Sephia yang sebenarnya Duta nggak mau nyanyiin karena kurang bisa menjiwai lagu-lagu bertema seperti itu.

Tapi tetep ga ada yang bisa ngalahin romantisme lagu Once yang bener-bener berisi keteguhan hati seorang lelaki yang “rela terluka untukmu selalu” dengan segala optimismenya “kuyakin pasti suatu saat semua kan terjadi”. Oh, tunggu dulu, kita belum masukkan “Kisah Romantis” (saya refleks bilang ‘gua mau nyanyiin itu ah nanti ke calon istri gua kalo udah ada’)dari Glenn Freddly, meskipun mungkin kita juga peru memperhitungkan lagunya yang super sadis semacam “Sedih Tak Berujung“.

Sebenarnya masih banyak yang kami bahas, termasuk lagu Ada Band yang liriknya absurd tapi lagunya bagus, “lari telanjang tanpa seorang pun yang akan mau peduli. inikah surga cinta yang banyak orang pertanyakan“; lalu lagu caffeine “hidupku kan damaikan hatimu”, atau “aku ini bukan pujangga, aku mungkin tak selalu ada, ini diriku apa adanya“…. atau the legendary one “MUNGKINKAH

Hingga akhirnya kami menyanyikan lagu-lagu… Opick yang selalu menghiasi mudik lebaran dulu. Di antara lagu yang bagus adalah alhamdulillah dan yang bikin merinding adalah….. “teman sejati hanyalah amal“.. Terus ada juga lagu rohani Chrisye yang ketika tangan dan kaki berkata.. Saking saya menghayati nyanyi yang terakhir, mata saya sampai berkaca-kaca, “Fik, udah fik”Kita juga sempet ngebahas kalau Ungu pernah membuat lagu religi Surga-Mu (yang nggak ada yang bisa ngerecall lagunya kayak apa meskipun tahu judulnya) dan tentunya “aku lah para pencari-Mu“.

Pokoknya banyak deh yang kita nyanyi-nyanyiin gitu. Iya kita emang gak tahu diri, kalo kata Emir:

“Ini orang udah cuman pesen martabak, nongkrong lama, nyanyi-nyanyi pulak”

Jadi inget kalau di Indonesia kan sering begitu. Pesan teh panas doang tapi nongkrong lama. Pesen burjo doang tapi nongkrong buat nonton bola. Nah, biar ada variasi dikit, Dinar memerintahkan Emir untuk Selfie bertiga seperti Obama. Iya, Obama sih nggak pake tongsis.

Selfie kita bertiga, diambil dari uploadan Emir di facebook.

Selfienya Obama, gambar diambil dari sini.

Sebelas dua belas kan selfie kita! Belum semua lagu dibahas tapi waktu juga yang akhirnya memisahkan kami. Setelah sebelas tiga puluh, kami memutuskan bubar jalan.

Nah sebagai bonus track dan penutup post ini, kami persembahkan video klip yang sangat mencerminkan judul lagunya oleh band yang lagunya nggak pernah memuja wanita dan isinya patah hati mulu, ya siapa lagi kalau bukan yang vokalisnya Ariel:

Salam Absurd!

*seperti biasa mohon maap kalau ada salah kata, murni untuk hiperbola dan hiburan semata :p

One thought on “Kembali Ke Kehidupan Absurd Bersama dengan Lagu Indonesia Jaman Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s