Teman Inspiratif: Adhipati Blambangan

Pada postingan kali ini saya hendak bercerita tentang seorang teman yang banyak memberikan pencerahan buat saya. Saat saya bilang kalau mau menulis tentang salah satu kisah hidup dia, dia sendiri dengan bijaknya berkata,

cukup jadi pembelajaran untuk kita2 aja
penting maneh got the point
hehe
gak semua orang deserve pembelajaran hidup yang sama rata

Ya, itulah dia, (sebut saja) Adhipati Blambangan, seorang teman saya yang punya tingkat kedewasaan yang tinggi meskipun dia adalah anak terakhir di keluarganya (terkait dengan stereotype bahwa anak terakhir tidak mature). 

#1 Awal Perkenalan

Saya pertama mendengar sepak terjang dia dari Eyang saya. Katanya anaknya pinter, baik, soleh, dan berprestasi, baik akademik maupun non-akademik. Beda dengan saya yang nakal, sholat bolong-bolong, nilai pas-pasan dan tidak punya prestasi non-akademik. Saya lupa kapan persisnya kami berkenalan secara langsung, sepertinya di gedung annex saat pendaftaran mahasiswa baru.

Kami sendiri awalnya tidak terlalu dekat dan bukan teman sepermainan meskipun kami merupakan anggota unit yang sama.  Sampai akhirnya ketika tingkat dua, takdir nasib  huruf awal nama kami yang berdekatan  undian kelompok praktikum menyebabkan kami harus sering menjalani siksaan asisten dan dosen killer kehidupan praktikum dalam grup yang sama. Dari sinilah bibit-bibit chemistry muncul. Dia termasuk seseorang yang reliable, resourceful, dan tidak segan berbagi tugas pendahuluan, tes awal, dan laporan praktikum ilmu dalam praktikum demi praktikum yang dijalani. Dia orangnya selalu prepare sebelum praktikum, beda dengan saya.

Pernah ada suatu kejadian yang pastinya berkesan bagi kami. Saat itu asisten praktikum membantu kami dengan menyarankan untuk melakukan sesuatu terhadap rangkaian dalam sebuah eksperimen di lab. Seorang teman yang lain bertanya kepada kami tentang masalah yang sama. Kami pun memberitahukan kepada teman tadi bahwa asisten menyuruh mengerjakan dengan ‘cara ini’. Tak lama kemudian si teman kami ini kebagian ‘inspeksi mendadak’ dari Pak Dosen. Dan karena melakukan hal yang juga kami lakukan, teman kami ini diusir.

“Ini kenapa rangkaiannya seperti ini?”

“Disuruh asisten Pak”

“Keluar kamu! Siapa asisten yang nyuruh?”

Kami memandang ke arah asisten kami. Asisten kami pun langsung  memasang wajah terkejut, panik, dan ketakutan. Padahal dia adalah salah satu highest GPA di angkatannya, ternyata dia bukan robot masih bisa salah juga. Dia pun segera memberikan instruksi revisi dan untungnya tidak ada tindak lanjut dari Pak Dosen. Dan alhamdulillah, mungkin karena rasa bersalah dari asisten nilai kami di percobaan ini tinggi dan kalau tidak salah kami mendapatkan nilai A. Dan sejujurnya karena kejadian ini, saya jadi lebih berhati-hati ketika menjadi asisten.

#2 Dia yang berprestasi, jago, dan banyak proyek

Adhipati Blambangan ini tipikal orang cool. Dia nggak banyak cingcong tapi konkret. Dia adalah tipikal orang ngulik/ngoprek yang mengembangkan hard skill di luar perkuliahan. Walhasil, dia jadi bisa cari duit sendiri.. dan bisa beli Macbook sendiri kalau tidak salah jaman kita masih tingkat tiga. Selain itu dia juga memenangkan juara kompetisi tingkat nasional. Waktu itu saya benar-benar malu sama diri sendiri gara-gara melihat si Adhipati Blambangan ini.

#3 Pejuang Beasiswa yang menginspirasi saya untuk sekolah lagi

Kalau bukan gara-gara Adhipati Blambangan ini, mungkin saya tidak akan kepikiran untuk sekolah lagi di luar. Maklum selain waktu itu niatnya masih kurang, di awal tahun kelima saya berpikir untuk bekerja dulu saja atau mungkin memulai start-up sambil S2 di ITB.Tapi gara-gara banyak berbincang sama dia, wawasan saya jadi banyak terbuka dan saya kagum sekali melihat semangat dia.

Bersama dia saya jadi beberapa kali mendatangi presentasi tentang peluang beasiswa dari beberapa universitas di luar yang diselenggarakan di kampus. Dan akhirnya saya jadi tergerak ketika ada pengumuman tentang presentasi NTU, walaupun dia sendiri tidak datang di presentasi tersebut. Oh iya, dia rupanya sudah banyak mencoba apply beasiswa, dan tidak menyerah meskipun beberapa kali gagal.  Sementara saya belum mencoba saja sudah malas, apalagi dengan tetek bengek persyaratan beasiswa yang segudang. Buat saya, untuk apply satu universitas saja rasanya memenuhi persyaratannya sudah ribet sekali. Saya tidak terbayang betapa berdedikasinya dia.

Pernah suatu ketika kami nongkrong di angkringan di depan ITB. Meskipun waktu itu lagu yang diputar memiliki lirik yang sangat aneh “lebih baik kau mati saja daripada kau bersama yang lain” dan sangat alay, tingkat kedalaman obrolan galau kami tentang kehidupan tidak berkurang. Ia justru semakin dalam.

Kami berdua waktu itu sedikit mengeluh sih sebenarnya. Mengapa kami ini memilih jadi mahasiswa yang medioker. Kami dulu tidak terpikir kalau kami segitu pengennya sekolah lagi di detik itu, sementara nilai kami pas-pasan, tidak cumlaude. Tapi akhirnya ketika kami melihat nasib orang-orang lain, kegundahan ini sirna hazeik. Kami menyadari bahwa meskipun nilai kami pas-pasan, peluang kami masih terbuka untuk berbagai pilihan setelah lulus. Ya, kami menyadari ini ketika tersadar bahwa di luar sana banyak juga orang-orang yang tidak diberikan pilihan. Mereka yang lulus dengan ip yang lebih kecil dari kami dan tidak cukup untuk melanjutkan sekolah, tentu pilihan mereka lebih sedikit dari kami. Namun, jangan salah, banyak di antara mereka yang sangat skillful dan dengan mudah mendapatkan pekerjaan atau proyek-proyek karena experiencenya. Pokoknya di saat itu kami jadi lebih bersyukur deh.

#4 Dia yang punya prinsip dan sangat berbakti kepada orang tua

Adhipati Blambangan ini di akhir-akhir kehidupan kami di ITB sempat bimbang. Bimbang sebab dia mendapatkan sebuah offer dari salah satu sekolah di negeri seberang namun ia masih menjalani proses di universitas yang ia inginkan sebab ada seorang profesor yang sangat bagus di sana. Dan di saat-saat itu kami sering menggalau berdiskusi tentang bagaimana seharusnya membuat pilihan dalam hidup. Dan yang saya suka dari dia adalah, dia tidak takut mengorbankan, menolak, atau menarik diri dari sebuah pilihan jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip dia. Ya, mungkin memang jadinya dia merasa tidak enak hati dengan pihak tersebut, tapi keteguhannya pada nilai yang dia anut sangat mengagumkan buat saya.

Well, pada akhirnya dia pun mendapatkan offer yang cukup wah, meskipun bukan yang dia idam-idamkan. Namun, kali ini lagi-lagi dia menunjukkan bahwa prinsip hidup adalah yang nomor satu. Dan pada kesempatan ini concern-nya satu: orang tua. Dia selalu bilang sama saya kalau dia merasa bersyukur orang tuanya masih bisa datang ke wisudanya. Dan atas pertimbangan orang tua yang sudah sepuh, dia tidak jadi mengambil pilihan ini, sekalipun orang tuanya sebenarnya mendukung-mendukung saja. Ketika itu dia bercerita kepada saya bahwa bahkan di jaman Nabi dulu ada seseorang yang hendak berjihad di medan peran tapi disuruh pulang saja dan jihad di rumah karena masih memiliki orang tua. Kata dia biar orang seperti saya saja yang ke medan perang. Ya, dia begitu memikirkan orang tua dan gak segan-segan dari dulu balik ke rumahnya demi orang tua, padahal rumahnya ya agak jauh dari Bandung. 

Dan buat saya ini adalah sebuah bentuk pengkhidmatan yang luar biasa terhadap orang tua: sampai berani mengorbankan cita-cita yang diusahakan sedari lama! Semoga Tuhan membalas lebih kepada Anda!

#5 Kejadian Terminal Cicaheum dan Titip Satpam

Nah, ada suatu kejadian di Terminal Cicaheum. Waktu itu kami hendak melayat ke seorang teman yang orang tuanya meninggal di propinsi lain. Kami sudah beli tiket dan duduk di sebuah bus yang sekitar setengah jam lagi berangkat. Namun pada saat itu saya tiba-tiba saja gelisah. Memang saya sudah cukup resah selama di angkot Cicaheum-Ledeng. Saya jadi kepikiran, bukankah saya sudah bertahun-tahun tidak mengunjungi Endeh (nenek di banten) saya yang sudah begitu tua dan sudah pikun. Dan kebetulan Ayah saya juga sedang di rumah Endeh.

Ya, dan pada saat itu tiba-tiba hati saya mengatakan saya harus ke Cilegon hari ini juga. Saya pun akhirnya berkata ke Adhipati Blambangan bahwa sepertinya saya akan membatalkan perjalanan ini. Saya tahu pasti sebenarnya dia merasa sedikit keberatan. Hal itu sangat manusiawi. Kami sudah merencanakan ini, sudah membeli tiket, dan tiba-tiba saja saya memutuskan untuk tidak jadi berangkat beberapa saat sebelum bus ini digas. Tapi dia begitu pengertian, tidak menunjukkan emosi atau kemarahan, dan berkata nggak papa. Dia akhirnya juga membatalkan keberangkatan dan kami berdua sama-sama mencari cara untuk me-refund tiket kami. Maklum, kondektur di bus merasa tidak bisa mengembalikan uang kami (tentu saja sebenarnya ini fenomena tersendiri yang terjadi dari rumitnya jalur distribusi di terminal dan tentu saja kerasnya hidup di terminal!). Dan akhirnya kami mendapatkan uang kami meskipun tidak seratus persen, tapi berkat kejelian Adhipati Blambangan dalam melakukan hitung-hitungan saat bernegosiasi dengan makelar tiket, kami masih terhitung untung. Dan ya, berkat pengertian dia saya akhirnya menemui Endeh dan Ayah saya, dan sampai detik ini saya belum mendapatkan kesempatan untuk bertemu muka lagi dengan mereka berdua dan keluarga besar di Cilegon.

Selain itu salah satu kejadian penting lain yang terjadi berkat dia adalah ketika saya sempat makan bersama dia dan seorang teman di sebuah restoran dekat rumah seseorang. Sesungguhnya itu semua tidak terencana. Namun, saya memang sedang membawa sebuah buku yang saya sengaja beli dengan niat untuk memberikannya sebagai kenang-kenangan kepada seseorang. Tapi saya sendiri masih belum memiliki plan yang konkret dan bahkan saya tidak berani.

Adhipati Blambangan ini terus mengencourage saya untuk memberanikan diri mengeksekusi plan ini saat itu juga. Akhirnya kami pun mencari-cari alamat rumah seseorang tersebut. Kami sempat nyasar beberapa kali. Dan pada akhirnya saya sempat ingin menyerah saja mengingat sudah terlalu malam. Tapi pokoknya lagi-lagi berkat dia, misi itu berhasil dijalankan, meskipun tidak secara langsung. Pada akhirnya buku itu sampai ke tangan si dia.

#6 Beberapa tamparan

Selain sama-sama sering merenungkan tentang kehidupan ditemani beberapa lagu John Mayer yang nampak cocok dengan fase hidup yang kami alami, dia juga sering menampar dan mengingatkan saya.

“enak sekali ya dapet uang tapi kerjaannya nonton youtube”

-waktu saya lagi males-malesan di lab

“PhD student masih punya waktu untuk bikin hal semacam itu?”

-waktu saya memulai proyek Rudi Kusnadi

“maneh hari gini masih mikirin hal-hal yang remeh gitu?”

-waktu saya menanyakan hal yang emang sebenernya tidak terlalu penting untuk dipikirkan dan dipertanyakan

And he’s the man who walks the talk! Pernah suatu ketika saya bilang ke dia, “Antara iya dan tidak itu selisihnya cuman pertanyaan. Dan kalau kita nggak pernah nanya ya jawabannya selalu tidak,” yang saya ambil dari quote yang muncul di dashboard tumblr saya. Dan, tiba-tiba saja beberapa hari kemudian dia cerita kepada saya, kalau dia sudah dapat bertanya dan mendapatkan jawaban. Keren kan!

Well mungkin segini dulu yang bisa saya ceritakan tentang salah satu teman saya ini. Dan sekali lagi, saya berikan respek untuk teman di banyak situasi: Adhipati Blambangan!

*Maaf bro kalau ada salah-salah kata. And if it happens that something I wrote in this post makes you feel not quite comfortable please let me know. Your story is really great to be shared to many people bro!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s