Mensyukuri Sebuah Kesempatan

Post kali ini singkat saja.

Sebenarnya saya sampai detik ini masih sering bergulat dengan rasa kesal ketika dinasehati. Jadi misalnya ada nasehat (biarpun itu benar, dan saya pun mungkin sebenernya tahu kalau itu benar) saya tetap merasa risih karena dinasehati. Jadi masih ada perasaan kayak, “yaelah udah tau, ngapain dinasehatin sih”

Tapi ya memang biar bagaimanapun juga Tuhan memerintahkan kita untuk saling-menasehati dalam kebaikan. Apalagi kalau orang tua terhadap anak. Kemarin, lagi-lagi saya dinasehatin Ayah saya tentang betapa beruntungnya saya jika dibandingkan orang-orang seumuran saya. Awalnya ya seperti yang saya bilang,  dalam hati mikir“gausah dibilangin juga tahu”, meskipun di luarnya “iya iya”.. Namun, tadi sore tiba-tiba terlintas lagi kalimat itu.

Terkadang kita lupa bersyukur atas sesuatu yang namanya kesempatan. Bentuknya bukan karunia yang tangible. Belum terjamin mendapatkan sesuatu. Masih berupa kesempatan. Dan itu seharusnya kita syukuri. Sama persis seperti nasihat Guru saya. Waktu itu saya mau ikut lomba dan memohon doa restu biar bisa juara. Beliau hanya berkata, “Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk ikut lomba.”

Luar biasa ya. Hal sekecil itu sering kita lupakan.

 

 

Fenomena Tindihan+Lucid Dream

Biasanya saya tidak menceritakan mimpi buruk yang saya alami. Tapi hari ini mimpi buruk itu justru menambah keyakinan saya, jadi saya hendak share di blog.

Kronologisnya begini, saya bangun sekitar jam 5 pagi, subuh di sini jam 6. Nah, pada pukul 07.03 saya menerima BBM dari guru ngaji saya:

Screenshot_2014-01-27-13-42-40-1

Nah, setelah itu saya tidur-tiduran di kasur sambil mikirin kenapa saya bisa mikirin orang lain terus-terusan. Karena sangat rileks, jadi saya sadar dalam proses tidur tersebut dan sadar dalam menjalani mimpi (lucid dream). Continue reading “Fenomena Tindihan+Lucid Dream”

Mencintaimu Itu Urusanku

Sketsa #1

A: Iya kayak kata pidi baiq “mencintaimu itu urusanku” jadi ya kalau orang suka sama orang ya suka aja. mau orangnya gimana-gimana kek, mau orangnya jadian kek.. ya tetep suka aja

B: Wah kayak gua dong. Tetep suka sama orang mau orangnya jadian putus jadian putus juga tetep suka

A: Oh gitu?

B: Iya

A: Gua lagi lihat Indonesian Idol ada tuh yang oke banget physically

B: Wah sama itu aja tuh cocok kan

A: Yah B, gua dinasehatin kalo milih pasangan tuh bukan dari fisik atau usia, tapi lihat dari akhlaknya. Gua mah mikirnya cari pasangan tuh cari yang bisa bikin anak gua nanti bangga. Karena gua selalu bangga punya orang tua seperti orang tua gua. Yazeik.

B: Buset lo udah kayak orang tua banget gitu kalo ngomong

A: Hahahaha

Sketsa #2

M: Naah CLBK wkwkwk.. I know what you feel

G: Lo merasakan hal yang sama?

M: Ngga se lo lah. Gw menahan diri ga mengubungi dia

G: Emang segimana sih perasaan lo sekarang, bangkit lagi?

M: Emang pernah mati ya? Yeaseik Chart gw ga pernah berubah kok. Chart lo gimana

G: Kayaknya chart gw gitu-gitu aja

M: Si eta nomor berapa?

G: Si eta mah nggak pernah masuk chart entah kenapa. Biarpun kayak gitu juga 

M: Serius?

G: Iya, entah kenapa ama dia ngobrol nyambung banget, ‘cerita’ udah panjang tapi ga pernah ada di chart gw. Lo gimana, berubah dong karena yg cem-ceman SMP udah kawin?

M: Lah emang kalo udah kawin turun ya? Gw mau kayak zainuddin aja

G: Wanjir! Lo mau nunggu janda? Engkuuu berat kali sumpahmu

M: Nggak lah chart tetep chart.

G: Yaudah konkret lah lo sekarang ke si itu, lamar langsung

M: Ah dia mah temen aja. Kalo gw nikah ama Top 3 nanti ga ada semangat buat yang lain. Karena gw merasa cukup. Dan terlalu cinta ama mereka. Kalo lo udah bisa hidup bersama terus dengan orang yang lo cintai, buat apa ngerjain yang lain kan? Lebih baik menghabiskan waktu sama mereka. Zainuddin gabisa kayak gitu kalo dia dulu nikah ama Hayati

G: Halah. Kisah hidup nggak cuman zainudin. Cinta sejati Rasul tuh Khadijah, apakah beliau nggak ngapa-ngapain setelah sama Khadijah? 

M: Nice one. Tapi ada moment dia ditinggal khadijah

G: Eh jadi kenapa temen aja ke si eta

M: Gw gamau kehilangan sahabat lagi, lo sama itu

G: Iya sih sebenernya sampe sekarang yg gw rasa bener-bener nyambung mindsetnya ya lo berdua sih. Tapi sementara gw dan lo merasa bersahabat sama itu. Apakah itu merasa bahwa kita adalah sahabatnya?

M: Hahaha ngga tau sih, Gw ama dia bertepuk sebelah tangan .. apasih galau gini kesannya Hahah

G: Elo mah nggak sebelah tangan kali, gw yang sebelah tangan. Hahaha

Renungan

Mungkin terkadang ada orang-orang yang pertemuan kita dengan mereka mengubah begitu banyak hal. Mungkin saja mereka stranger, mungkin saja teman seperti Nick dan Jess di New Girl (S2E03), atau mungkin juga pacar. Mungkin kita nggak selalu dekat, mungkin juga selalu dekat. Mungkin bahkan kita pernah membencinya, mencoba untuk tidak kenal, tapi ujung-ujungnya kita tetap sadar bahwa dia yang selalu ada dalam hati meskipun dia juga yang nggak selalu kelihatan ada di hati. Mungkin ada juga yang berkali-kali datang kembali. Ada juga yang singgahnya sesaat namun berkesan sekali.

Dan pertemuan dengan mereka memberikan makna. Meskipun dia nggak sempurna, tapi dia jadi sumber inspirasi kita. Dan kita bersyukur pernah dipertemukan dengan mereka. Menaruh nama mereka di doa-doa kita.

Meskipun kita nggak tahu kayak apa bentuknya, dan nggak bisa mengungkapkan, yang jelas perasaan itu ada. Dengan mereka, kita ingin bisa berguna. Kalau mereka bahagia, kita akan ikut atau minimal berusaha ikut bahagia buat mereka. Kalau mereka sedih pun sama. Dan perasaan-perasaan ini ya urusan kita. Tak peduli gimana perasaan dia ke kita. Tak peduli bahwa mungkin dia nggak tahu sebenar-benarnya apa yang kita rasakan ke mereka. Tak peduli apa saran orang lain untuk kita. Mencintainya itu urusan kita. Kita yang bisa merasakan kapan kita harus bertindak dengan rasa tersebut. Bukan mereka, bukan mereka yang lain.

Karena bagi beberapa orang mencintai itu tidak harus memiliki. Terkadang cinta itu cukup dengan tersenyum saat mengenang dia dan segala hal yang terjadi atau berkaitan dengannya. Kadang ada yang menghargai persahabatan lebih daripada per-kekasih-an. Tapi bagi sebagian orang mungkin mencintai itu tidak dapat menunggu harus dikejar dari sekarang. Kalau gagal ya sudah berarti tidak jodoh. Ada juga yang terus coba lagi karena ingin memaksa agar dia jadi jodohnya. Ada pula yang saking yakinnya dia jodohnya, jadi malah diam-diam aja di saat perang berlangsung. Ada yang jadi two timer karena nggak tau mana yang tepat. Ada yang udah pacaran lama tapi masih ga yakin. Macam-macamlah, dan itu urusannya masing-masing.

Lagu

Lalu kemarin pas iseng buka twitter saya nemu lagunya pidibaiq. Di tweetnya sih katanya dibikin karena temennya naksir orang yang udah punya pacar.

Sekian

*kata ganti dan inisial digunakan secara random atau rolling

Kadang Kita Tidak Percaya dengan Diri Sendiri (Meskipun Banyak Orang Percaya kepada Kita)

Kadang Kita Tidak Percaya dengan Diri Sendiri (Meskipun Banyak Orang Percaya kepada Kita)

PROLOG

Tulisan ini saya buat untuk seorang teman saya yang mungkin sedang berjuang untuk berdamai dengan diri sendiri. Dan sebenarnya tulisan ini merupakan tulisan yang dari dulu ingin saya post di blog, karena isu tentang self-confidence dan inferiority complex merupakan isu yang sangat umum saya temui dalam lingkup pertemanan saya (saya pribadi pun juga masih bergelut dengan isu ini). Oh iya, saat membuat tulisan ini, saya sambil nyontek-nyontek dari dua buah buku: The Tools dan Search Inside Yourself.

Seperti biasa tulisan ini absurd, seabsurd judulnya yang panjang dan membingungkan namun tak seratus persen menggambarkan isi tulisannya. Tulisan ini dibagi ke dalam empat bagian. Continue reading “Kadang Kita Tidak Percaya dengan Diri Sendiri (Meskipun Banyak Orang Percaya kepada Kita)”

Mengejar Ufuk

Dimanakah batasan kesabaran? 

Kalau boleh menebak, saya pikir mereka seperti ufuk, cakrawala. Sesaat kita melihat mereka seolah nyata. Garis yang memisahkan antara bidang dari planet bumi dengan langit yang begitu luas, meskipun terkadang langit biru terang kucing-kucingan dengan langit gelap hitam.

Sesaat kita merasa inilah batas kita. Lewat dari ini kita sudah tidak sanggup lagi. Terlalu berat. Ini garisnya. Perbekalan sudah habis, saya mau pulang saja. Sudah-sudah, cukup-sudah.

Namun ternyata, saat kita menjalaninya, kita masih dapat bertahan. Seperti cakrawala. Kita tak akan pernah bisa mengejarnya, menyentuh tapal batasnya, sebab dia hanyalah garis imajiner.

Iya, saya yakin bersama Yang Di Atas, semuanya menjadi tak berbatas. Ujian yang diberikan ternyata bisa lebih berat, dan kesabaran yang dianugerahkan kepada kita masih bisa lebih luas lagi. Tetapi, saya juga percaya Tuhan akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi mereka yang tidak pernah menyerah. Persis seperti yang saya dapatkan dari Guru saya:

Hidup ini adalah sebuah cerita, yang didalamnya terdapat kisah sedih. 

Tetapi kisah sedih ini akan segera berakhir.

Dan kalau itu terjadi maka jadilah orang yang pandai-pandai bersyukur.

Dan, pada saat menunggu bus hari ini saya jadi teringat. Kisah yang saya ingat adalah kisah seorang sufi yang justru sedih ketika hidupnya tenang-tenang saja, tanpa ujian. Sebab, dia paham betul bahwa ujian hidup adalah suatu alat untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Seorang yang percaya dengan Tuhan tidak seharusnya mengutuk hidup saat ia mendapatkan ujian, tak seharusnya mengeluh. Karena jika ia bisa melihatnya, hal-hal ini adalah uluran tangan Tuhan, dekapan mesra dari Sang Cinta.

Saya yang dulu hanya sebatas konsep abstrak “sabar itu tidak ada batasnya, tapi ada tempatnya“, perlahan mulai meraba-raba maknanya. Mudah-mudahan saya masih diberi kekuatan.

Oh iya, tadi pagi saya iseng nge-cover lagu yang baru-baru ini sering terngiang karena kebetulan juga sedang baca buku Rectoverso. Jadi karena perenungan tentang ufuk ini diiringi lagu ini, saya jadi merasa ada keterkaitan antara keduanya.

Beberapa Kiasan dan Kutipan Singkat tentang Hidup

Rumahku Surgaku

Rumah adalah surga. Ketika kita bepergian, kita pasti merindukan rumah. Sebab semuanya lebih nyaman di rumah kita, seperti ada di surga. Mau buang air enak, mau makan enak, mau ngapa-ngapain enak. Sedang kalau tidak di rumah, apalagi kalau menginap di emperan toko atau berkemah, tentu tidak nyaman.

Dan begitu pula surga, surga adalah rumah kita. Continue reading “Beberapa Kiasan dan Kutipan Singkat tentang Hidup”

Satu Tahun Berlalu

Langit Malam Berkawan Hujan antara Jakarta-Singapura,

1 Januari 2014

Mungkin agak terlambat menulis review ini. Seperti tahun lalu, saya tidak sempat membuat ebook kumpulan tulisan saya selama setahun ke belakang. Namun bedanya, kali ini review tidak sempat dibuat karena saya terlampau menikmati akhir tahun. Memang dari awal, saya sudah mencanagkan tahun baru yang berbeda dari tahun baru setahun lalu, dan lebih serupa dengan tahun baru dua tahun lalu.

Last year, there was no ‘happy’ new year for me. Pergantian tahun dari 2012 ke 2013 saya habiskan dengan nelangsa, bersedih dan mengutuk hidup. Mungkin di luar saya masih nampak normal, berdiskusi dan tertawa, tapi saya tahu (beberapa orang mungkin tahu) ada yang hilang dari jiwa saya. Rasa-rasanya tak berlebihan jika sesuatu tersebut bisa disebut sebagai “keyakinan”, meskipun jika ditanya secara sadar saya waktu itu tak akan mengakuinya.

Saya begitu sedih. Terlampau fokus pada hal-hal ‘buruk’ yang terjadi, yang tak sesuai dengan rencana yang saya punya. Saya, dengan segala kenaifan sekaligus kesombongan, telah melupakan cara-cara untuk menjalani hidup. Saya lupa bersyukur dan berpikir positif. Saya membiarkan ego dan hawa nafsu mendikte saya. Saya lupa bahwa dunia ini permainan. Dan ketika saya mulai tersadarkan, saya terlanjur terjebak dalam penjara jiwa dan semua setan di dalamnya.

Butuh waktu lama dan usaha yang keras untuk membebaskan diri. Namun, pada akhirnya saya bersyukur sebab semua kejadian ini membuat jiwa saya berkembang dan semakin dewasa.

Sering kita berpikir bahwa Tuhan ‘mengambil’ apa yang milik kita (padahal milik Tuhan). Sering kita berpikir bahwa kita merugi. Itu semua karena kita tidak mencoba melihat dengan mata hati, betapa itu semua merupakan ujian dari Tuhan untuk membuat jiwa kia bertambah kaya.

Maka di awal bulan desember lalu saya putuskan. Alhamdulillah, Tuhan mengabulkan. Tahun baru kali ini saya harus bahagia, tak peduli apapun yang terjadi. Dan saya memulainya dengan aktivitas yang baik di tempat yang baik pula. Alhamdulillah.

Bisikan Tahun Baru

Semalam
Merayap dengan padat ledakan demi ledakan
Di angkasa
Untung bukan sangkakala yang sebabkan semua gegap gempita
Jika tidak, sirna sudah jasad tak lagi ada tawa

Masih
Deras hujan belum letih membasahi tanah
Beradu dengan bau ikan asin entah darimana asalnya
Mengakifkan seluruh indera
Menampar, menyadarkan bahwa

Kita mesti berburu
Selagi masih ada waktu
Tuk basuh masa lalu
Memerasnya dengan pertaubatan
Membilasnya dengan kebaikan
Menghubungkan dua titik hitam
Menarik sekali lagi goresan
Pada satu garis keimanan

Masih, dan akan terus selamanya
Kita belajar untuk memahami kehidupan
Masih, dan akan terus selamanya
Kita berperang dan berkawan dengan kesadaran
Supaya tertunduk kepala kita sembari jalankan
Hidup dengan kesungguhan meski ia bukan sungguhan

Mereka bilang Islam adalah fikir dan dzikir dalam perkalian
Sedang ilmu dan amal menghasilkan keimanan
Mereka bilang hidup itu untuk bergembira
Tiada guna kita khawatir soal dunia
Sebab lima puluh kali seharusnya
Dalam sehari kita memuja
Sembari bekerja di sela antara
Maka doa adalah sarana
Mencari keridhoan Sang Pencipta

Dan kelak garis demi garis yang tergores
Akan menebal dan tak dapat terhapuskan
Membekas tak hanya di luar namun juga di dalam
Hingga kita siap menjadi bejana yang bersih
Siap menampung air hujan tetap jernih
Sebab telah dituliskan cetak biru diri
Sebuah permata akan jadi permata
Dan ulat remeh kelak terbang menjadi kupu jelita
Yang terbang mematuhi keridhoan Sang Raja

Dengar dan taat
Semoga kelak kita tak perlu memasuki surga lagi
Di akhirat

Bekasi, 1 Januari 2014