Beberapa Kiasan dan Kutipan Singkat tentang Hidup

Rumahku Surgaku

Rumah adalah surga. Ketika kita bepergian, kita pasti merindukan rumah. Sebab semuanya lebih nyaman di rumah kita, seperti ada di surga. Mau buang air enak, mau makan enak, mau ngapa-ngapain enak. Sedang kalau tidak di rumah, apalagi kalau menginap di emperan toko atau berkemah, tentu tidak nyaman.

Dan begitu pula surga, surga adalah rumah kita.

Hidup untuk mempersiapkan kepulangan kita pada Ilahi

Pada hakikatnya, hidup hanyalah sebuah persinggahan. Dulu kita diantarkan oleh malaikat dengan kondisi roh yang suci. Dan kelak, ketika mati, malaikat pula yang akan menjemput kita. Tentunya kita perlu menjaga kesucian roh tersebut agar kelak malaikat tersebut masih mengenali kita. Bayangkan apabila orang yang seharusnya menjemput kita di bandara (seusai kita menuntut ilmu di luar negeri) tidak bisa mengenali kita (karena kita jarang mandi, tidak potong rambut, baju lusuh, tidak seperti saat diantarkan dulu), lalu dia berpikir, “Oh Fikri nggak jadi pulang.”

Lalu mereka meninggalkan kita, dan kita tidak tahu jalan pulang. Maka kita tidak akan bisa pulang. Tidak akan sampai surga. Tersiksa.

Menjaga kesucian

Sebuah botol air minum yang dibuka tutupnya akan menjadi kotor terkena debu. Sedangkan air yang sudah terlampau kotor tentu sudah berbeda dengan kondisi air saat botol masih tertutup rapat. Mengapa kita mencuci baju? Karena sehati-hati apapun kita beraktivitas, baju akan kotor juga.

Begitu pula rohani yang harus kita jaga kesuciannya. Kita harus senantiasa mensucikannya.

Perjalanan kita menuju tak hingga

Dalam perjalanan pulang, kita selalu bisa memilih kendaraan yang kita gunakan. Kita bisa jalan kaki, naik mobil, atau pesawat. Tentu masing-masing punya kecepatan yang berbeda. Kalau dari Jakarta ke Singapura naik mobil mungkin nggak sampai-sampai. Mungkin harus menginap-inap dulu, naik kapal, dan lain-lain. Sedangkan kalau naik pesawat hanya dalam hitungan jam sudah sampai. Bisa langsung sampai rumah. Nikmat.

Tapi kita perlu ingat bahwa perjalanan menuju Tuhan adalah menuju jarak tak berhingga.

Segala sesuatu ada hukumnya (rukun dan syaratnya)

Di dunia ini segala sesuatu ada hukumnya. Mau membuat kacang panjang ya harus dibikin tegak. Telor yang ingin menetas harus dierami. Untuk membuat es batu, air harus didinginkan suhunya. Untuk bisa lulus kuliah nilai harus bagus. Begitu pula kalau kita mau naik pesawat, harus punya tiket dengan data-data yang sesuai.

Di dunia, terkadang kita bisa memanipulasi aturan-aturan karena yang mengawasi adalah manusia. Tapi untuk akhirat, kita tidak bisa menyogok malaikat.

Fokus pada diri sendiri

Misalnya anda sedang naik pesawat, tak usahlah kita berandai-andai apabila kita jalan kaki lalu harus bermalam di pinggir jalan. Lebih baik kita baca petunjuk keselamatan yang ada di pesawat dan mematuhi instruksi dari awak kabin.

Hidup untuk senantiasa beribadah

Dahulu perintah sholat adalah sebanyak 50 waktu. Bisa-bisa dalam satu jam kita sholat sebanyak dua kali. Hal ini berarti hampir setiap saat kita gunakan untuk beribadah. Kini, jumlah sholatnya sudah dikurangi hingga 5 waktu. Kita bisa mengerjakan hal-hal lain di antara sholat tersebut. Namun, pada hakikatnya pekerjaan tersebut adalah sekedar cara kita menunggu waktu sholat, bukan hal utama.

Belajar ilmu akhirat pun perlu guru

Mengapa kita belajar jauh-jauh meninggalkan kampung halaman kita? Karena di situ ada maestronya. Karena kita ingin menuntut ilmu dari ahlinya. Bila untuk dunia yang sementara saja kita rela pergi jauh demi berguru pada sang ahli, lantas bagaimana untuk akhirat yang merupakan sebuah peristirahatan abadi?

Praktek atau Teori 

Teori disusun atas eksperimen dan perhitungan-perhitungan. Singkat cerita, Teori baru valid apabila memang sudah ‘dipraktekkan’. Kalau kita mau pergi ke Bandung ya paling enak perginya sama orang yang sudah pernah ke Bandung.

Rasa

Dalam bahasa Sunda, “Amis” berarti manis. Sedangkan dalam bahasa Jawa, “Amis” berarti anyir. Bahasa bisa menipu dan membuat salah paham hingga pertengkaran. Tetapi saat semua orang merasakan manisnya gula, maka mereka tak akan bertengkar lagi.

Lalu kira-kira, mengapa ummat terpecah belah?

Belajar ilmu akhirat tidak ada habisnya

Dalam ilmu dunia setelah lulus SMP, kita masuk SMA. Setelah SMA, kita kuliah. Tapi dalam mempelajari ilmu tentang akhirat, tidak akan ada habisnya sebab tujuan kita adalah Tuhan yang Maha Tak Hingga.

Listriknya sama, efeknya bisa berbeda

Kipas angin, AC, televisi, komputer, di dalam suatu rumah bisa dipergunakan dengan listrik dari sumber yang sama. Begitu pula cara Tuhan mengajari setiap makhluknya, berbeda-beda.

Screenshot_2014-01-04-01-39-37-1

Screenshot_2013-12-10-15-42-09-1

Demikianlah beberapa kiasan dan kutipan tentang hidup yang saya dapatkan sebulan ke belakang, terutama saat saya berlibur ke Indonesia menjelang tahun baru. Semoga nanti saya bisa menambahkan lagi. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s