Mensyukuri Sebuah Kesempatan

Post kali ini singkat saja.

Sebenarnya saya sampai detik ini masih sering bergulat dengan rasa kesal ketika dinasehati. Jadi misalnya ada nasehat (biarpun itu benar, dan saya pun mungkin sebenernya tahu kalau itu benar) saya tetap merasa risih karena dinasehati. Jadi masih ada perasaan kayak, “yaelah udah tau, ngapain dinasehatin sih”

Tapi ya memang biar bagaimanapun juga Tuhan memerintahkan kita untuk saling-menasehati dalam kebaikan. Apalagi kalau orang tua terhadap anak. Kemarin, lagi-lagi saya dinasehatin Ayah saya tentang betapa beruntungnya saya jika dibandingkan orang-orang seumuran saya. Awalnya ya seperti yang saya bilang,  dalam hati mikir“gausah dibilangin juga tahu”, meskipun di luarnya “iya iya”.. Namun, tadi sore tiba-tiba terlintas lagi kalimat itu.

Terkadang kita lupa bersyukur atas sesuatu yang namanya kesempatan. Bentuknya bukan karunia yang tangible. Belum terjamin mendapatkan sesuatu. Masih berupa kesempatan. Dan itu seharusnya kita syukuri. Sama persis seperti nasihat Guru saya. Waktu itu saya mau ikut lomba dan memohon doa restu biar bisa juara. Beliau hanya berkata, “Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk ikut lomba.”

Luar biasa ya. Hal sekecil itu sering kita lupakan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s