Jus Pilihan Cinta dan Cerita Hati tentang Rendang Basi

Cemburu hanya diam saat Cinta mengucapkan salam perkenalan. Di rumah Hati, akhirnya mereka resmi berkenalan. Dan Cemburu masih saja nakal. Ia teguk teh milik Cinta sampai ke penghabisan.

“Cemburu, seharusnya kau bisa lebih dewasa. Hormatilah Cinta, dia sudah datang dengan sopan dan niat baik melalui pintu depan. Tak seharusnya kau meminum teh yang aku sajikan untuknya. Lagipula, aku juga sudah menyediakan secangkir teh untukmu,”Hati mencoba menegur Cemburu. Continue reading “Jus Pilihan Cinta dan Cerita Hati tentang Rendang Basi”

Advertisements

Log #2

Dear blog,

aku bikin log lagi nih

Tadi aku memulai hari dengan perasaan lega karena sudah menuntaskan kewajiban. Habis itu aku langsung ke kampus untuk makan siang di McD, lalu menuju Vanner untuk menonton Emir menyanyi, bersama Dinar. Sampe di depan auditorium aku ketemu Fikri undergrad. Ada orang-orang di situ mau ngewawancara orang local. Heran deh, apa kami (Fikri-Fikri) tidak nampak seperti orang Indonesia? Pas kami bilang kami bukan lokal, orangnya berkali-kali nanya, “seriously”, padahal logat kami juga gak singlish banget. Continue reading “Log #2”

Agar Kita Tidak Memutus Harapan Orang Lain

Sejujurnya saya adalah pribadi yang paling tidak suka saat ada orang melebih-lebihkan tentang saya, atau bicara apa-apa tentang saya yang tidak sepenuhnya benar. Tapi saat ada orang menjelek-jelekkan saya, saya cuek saja, kecuali kalau dia teman saya. Kalau dia teman saya yang saya peduli sama dia (dan saya percaya dia sedang dalam kondisi untuk bisa menerima masukan saya), saya akan bilang point blank ke dia bahwa dia salah.

Tapi jangan salah, saya melakukan itu bukan karena sakit hati, saya hanya ingin mereka menjadi lebih baik lagi. Kalau mereka berbuat seperti itu sama saya, saya mungkin akan kesel, marah untuk beberapa saat. Setelah itu saya akan minta maaf kepada mereka kalau ada kata-kata saya yang salah. Lagipula di era komunikasi teks seperti sekarang, lebih banyak miskom-nya sih, jadi mau sehati-hati apa juga seringnya masih ada gak nyambungnya. Harga yang harus dibayar di era chatting.

Nah, iya, sebenernya saya di sini cuman mau cerita tentang suatu wisdom yang saya dapat dari ibu saya. Saya orangnya punya tendensi untuk speak up ketika ada orang yang tidak update tentang hidup terkini dari saya, atau melebih-lebihkan kehidupan saya. Waktu itu kami sempat bercakap-cakap dengan seseorang. Lalu ketika orang tersebut menyebutkan sesuatu tentang saya yang agak sensitif, saya memilih untuk diam sejenak. Akhirnya ibu saya yang menjawabnya. Saat di angkot, ibu saya bilang seperti ini kepada saya yang esensinya seperti ini,

“Kamu itu, gitu aja kok nggak dijawab. Jawab gitu (sebuah jawaban yang benar meskipun tidak sepenuhnya sesuai konteks untuk diri kita) aja kan bisa. Dia sudah menaruh harapan sama kamu, masak kamu mau langsung mematikan harapan dia?” Continue reading “Agar Kita Tidak Memutus Harapan Orang Lain”

Just Another Way to Enjoy Chinese Garden

Just Another Way to Enjoy Chinese Garden

Here’s the thing. I just wanted to borrow Mirza’s capo when he told me that four of them were about to cook something in their hostel. Since I had not eaten anything, I decided to go there hoping for free lunch although in the end they told me “there’s no free lunch” so I had to do dishwashing.

I brought my guitar. A few moments later, after we attempted to sing a few songs, I heard Ali and Husna were about to go to Chinese Garden. So I said, “Why don’t we just play guitar in there?”

DSC03875

It just looks like a fake “NTU Vibrant Atmosphere” photo in campus advertisement. :)) Continue reading “Just Another Way to Enjoy Chinese Garden”

Pagi ini

Gw pengen nyoba mem-fungsikan blog ini selayaknya web log. Jadi gw coba menulis log singkat.

Dear blog,

hari ini pas asik-asik tidur ampe siang, jam 10 aku dibangunkan oleh telepon dr mahasiswa master. dia minta source code tentang RMSE. karena masih setengah sadar aku jawab iya-iya aja. eh udah gitu dia nggak sabaran banget, baru aja beres mandi, masukin pakaian kotor ke cucian, tiba-tiba dia sms. seperti teror.

kenapa sih orang ga bisa sabar? kadang kita mikir orang tuh sesabar kita. tapi asumsi itu salah. ga semua orang mikirnya sama kek kita.

aku jadi mikir-mikir lagi mau ngasihin file-nya apa enggak. beberapa kali sih dia konsultasi, terus udah dua kali aku kasih source code matlab. itu untuk algoritma yang agak rumit. nah, masalahnya, sekarang dia minta sesuatu yang sebenernya gampang. kalau aku kasih ke dia file nya, dia gak akan berkembang dong. disuapin terus menerus? nanti aku jadi berkontribusi pada lingkaran kebodohan. hiks

oh iya agendaku hari ini: kemarin aulia dewantari minta dikirimin gigitaran lagunya Nadya Fatira – Lekas Pulang. aku belum pernah nonton sebelumnya jadi aku tadi coba dengerin. lagunya easy listening sih. jadi mudah-mudahan hari ini bisa bikin itu.

terus ya paling mau nyoba ngerjain riset atau tugas atau.. ngerjain pekerjaan sampingan kecil-kecilan yang saya dapat dari ganang: bikin transcript video youtube + terjemahin. susah-susah gampang sih pekerjaannya, time consuming dan a little bit frustrating ketika aku ga bisa paham apa yang diomongin.

oh iya tadinya pengen nulis tentang “cowok creepy” heran aja kenapa hari gini di usia udah dua puluh something masih ada aja cowok creepy. sebenernya itu juga alasanku mau bikin novel enam cerita rudi, sebab di situ aku mau bikin awalnya si cowoknya creepy banget, tapi akhirnya dia menjadi bijak seperti di lagu restoe boemi:

“Seorang bijak’kan memahami

Cinta bukan dicari, di raih

Cintapun hadir sendiri”

Dan makanya aku juga berusaha untuk tidak menjadi creepy soal cinta-cintaan.

Ah sekian dulu deh lognya. Sampai ketemu lagi, blog!

Gimana, tipe tulisan seperti ini menarik kan? Hahahha. Sudah beberapa hari ini gw deactivate path dan twitter. Mau nyoba mengurangi negative self talk. Tapi tetep deh, tiap hari pikiran gw memproduksi banyak hal. Tetep butuh penyaluran, kayaknya ya mau bikin kategori baru di blog ini: “log” yang model-modelnya rada bencis kayak post ini. :))

Empat Tahun dan Satu Hari yang Tak Ternilai

Empat Tahun dan Satu Hari yang Tak Ternilai

Gara-gara menulis postingan sebelum ini, saya jadi sedikit terbawa kenangan masa lalu. Dulu saya bukan anak rumahan. Saya sangat hobi kelayapan. Salah satu momen bahagia buat saya adalah saat saya mendapatkan dua benda: sepeda motor dan kunci rumah. Karena dengan dua hal itu saya bisa di luar rumah sampai malam. Sebelum memiliki dua benda itu, saya juga sering kelayapan di Game Center. Kadang naik bus, kadang naik sepeda, kadang minta diantar. Dan pernah sampai dijemput oleh salah satu Mas-mas Toko karena sudah kelewat malam.

Saya dulu tidak betah di rumah. Continue reading “Empat Tahun dan Satu Hari yang Tak Ternilai”

Bagaimana Dulu Anak 15 Tahun Itu Berusaha Mengejar Mimpinya

Di tahun 2007, ada seorang anak SMA yang berhasil mendapatkan informasi tentang nilai nasional SPMB. Sebuah data yang bahkan tidak semua dosen ITB bisa mengaksesnya (walaupun konon sempat bocor juga sih). Anak tersebut tinggal jauh di kota Jogjakarta, tidak punya saudara yang bekerja di ITB pula. Dia hanyalah seorang anak SMA pecandu game online dan forum-forum di internet.

Di sini saya hanya ingin mengenang sejenak, bagaimana dulu saya benar-benar menjadi gila dalam mengejar sesuatu. Mungkin fase-fase itu adalah fase tergila yang pernah saya lalui. Dan hal yang men-trigger kenangan itu adalah ketika saya membuka email lama saya.

Oknum : Gue bukannya mau ngejekin orang yah, tapi lo liat deh email ini?

Saya: What?

Oknum: Anak ITB emailnya alay kayak gini ya?

Saya: Yaelah semua orang juga punya email alay kali. Email pertama lo gimana?

Oknum: Email pertama gue udah ga aktif lagi nih. Hotmail.

Saya: Gue dulu ada bikin gmail: amazing.rou

Saya lalu iseng membuka. Saya pun tak yakin dengan passwordnya. Tapi secara mengejutkan, password yang saya ketik benar. Saya membuka sent mail, hanya ada 8 email dan salah satunya percakapan sebagai berikut:

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan Bapak yang mau memberikan passing grade dan metode penghitungan SPMB.
 
Nama saya Rousyan, saya adalah siswa SMA yang sudah mendapat surat keterangan lulus. Saya sangat berminat untuk melanjutkan studi saya di ITB, lebih spesifik di STEI. Saya pun sudah mengikuti USM Terpusat namun saya dinyatakan belum bisa diterima karena kapasitas yang terbatas. Di bawah ucapan “maaf”, saya disarankan mengikuti SPMB dengan pilihan tertentu dan saya tidak disarankan masuk STEI.
Kemudian, saya ingin bertanya, apakah dengan begitu peluang saya masuk STEI menjadi kecil? Atas dasar apakah ITB memberi saran demikian? Continue reading “Bagaimana Dulu Anak 15 Tahun Itu Berusaha Mengejar Mimpinya”

Apakah Anda Memiliki Puting? (Part 2)

Apakah Anda Memiliki Puting? (Part 2)

Post singkat kali ini adalah panduan memilih jenis puting yang tepat.

#1 Mari kita sebut puting yang palsu sebagai putsi (puting ilusi).

Saat kita mencapai putsi, kita berpikir bahwa kita berada di puncak. Besar kemungkinan kita merasa demikian karena kita baru saja melewati lembah terendah (lendah) dalam hidup kita. Di lembah itu lah biasanya kita merasa menjadi manusia paling hancur, malang, dan paling berduka di dunia.

IMG_20140215_195051

Nah, setelah melewati lendah ini, biasanya ada kecenderungan bahwa hidup kita akan memang menanjak. Sebab memang tanjakan itu ada setelah kita melewati titik terendah bukan? Namun, sayang ketika kita merasa tinggi, ada satu titik dimana kita akan terlena. Merasa hebat. Merasa tak terkalahkan karena berhasil bangkit dari lendah.

Kita merasa sudah mencapai puting, padahal kita masih di putsi. Jalan hidup masih panjang, akan ada banyak putsi-putsi yang lain. 

#2 Jangan memilih putsi sebagai puting

Selain bahaya karena merasa sudah di puting padahal masih berada di putsi, rupanya ada yang lebih mengerikan. Yakni, saat ternyata apa yang kita yakini sebagai puting rupanya hanya sebuah ilusi.

Saya pikir sebuah puting harus seperti mentari. Letaknya jauh tak terjangkau, tapi cahayanya memberi kita harapan dan energi. Memilih puting yang seperti ini tentu akan membuat kita senantiasa berjuang dalam mendaki putsi demi putsi.

Selain konsep puting yang seperti ini, saya percaya juga bahwa puting sebenarnya bukan berbentuk pencapaian. Puting dari seorang manusia bukanlah pencapaian, melainkan kondisi jiwa dan pikiran kita. Dan jika sudah sampai puting, kita harus berhati-hati supaya tidak tergelincir ke lendah lagi.

Sekian posting kali ini.

*Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan “Apakah Anda Memiliki Puting?” yang saya tulis lima tahun yang lalu.

Life as a moody perfectionist (thoughts round-up)

Life as a moody perfectionist (thoughts round-up)

“Everyone has their own ‘Robin’. Some people managed to change their mindset, take their Robin as the one they always adore but can never have. Some managed to just accept the reality.. but unfortunately, some people are just like Ted, still insist..”

“She’s different. Other girl points out the truth although it’s bitter, say it clearly if she’s not comfortable or if she just can’t be with me.. meanwhile.. she can only gives smiley..”

“What is your definition of ‘the one’, is it the one that you’ll be married to?”

#1 The One

No, I won’t talk about love tonight. Those excerpts are just some ideas for blog post topic that I have in mind. Since a few weeks ago, my friend Emir keep suggesting me to write a blog post about ‘the one’. It’s very understandable. We are growing up accompanied by HIMYM wherein Ted keeps saying ‘what if she’s the one’, while in some recent episode there’s also a line “after ‘the one’, there will be ‘the next one'”

And as my friends couldn’t hold it anymore, wedding invitation is everywhere. And still, some of my friends are still in danger of unhealthy relationship, love triangle/square/hexagon drama, unable to move on tragedy, or one-sided love that could lead into catastrophic hyperreality for the victim.., just another friendzonized case, etc. That’s why such a topic is still interesting for us, even for some of my friends who are married.

#2 NATO Love Doctor

Apart from that, recently I’ve got an idea (probably this afternoon/night), while chatting with my current bestbro, to write about “How to deal with broken heart“. The motivation behind this idea is to strengthen my reputation as the greatest love doctor who can never help himself for his own love life because my experience on surviving hundreds of heartbreaks.

However, in the morning, it also crossed in my mind the idea of writing “What gentlemen do when falling in love”. This idea came up after a junk discussion in my friend’s Path account. One of my friends used to promote some kind of romance seminar/tutorial.

#3 Evaluating Plan

In the beginning of this semester, I made a few plans and resolutions. But as usual, time flies, and it leaves me here without any chance to evaluate myself. Sometimes I think life as introvert suits me better. When I first came here, I couldn’t imagine my life without participating into any single organization nor I could imagine myself without having chat with 3-4 people everyday.

Anyway not that I don’t enjoy or regret hanging out with friends, but I think I’ve changed into a more solitude person. Yeah, maybe sometimes I still want to blame myself for not being firm enough and managing my time according to my priorities.

#4 Coursework

Yes. I haven’t finished my coursework. And it’s probably my last chance. I had become the most senior student in coursework I guess. And since it’s the last chance, I’m expecting myself to make the most of every chance to score A. Consequently, I always want my assignment to be perfect. It makes me leave aside other tasks that I should do. But somehow, I couldn’t find enough information and data for this assignment (that I’m currently doing). I keep browsing on the internet but can never find enough data. And when I get bored and frustrated, I’ll be watching youtube videos.

It’s been a few days I’ve been doing this assignment. Tomorrow (today) is the deadline. So I guess the only thing that can stop my inefficient perfectionism is the deadline itself. So I think tomorrow (the real tomorrow I mean), I could start doing other tasks.

#5 Short Story

Other than Rudi Kusnadi project, I really want to write short stories in English. Some ideas that crossed my minds are:

  • a story of a person who is in a dillemma between career-passion-job-money-parents ideal go to visit his friend who’s studying abroad out of nowhere and undergo some absurd adventure. I also want to write a song about it.
  • a story of a person who is friendzonized. The main idea is simple, but I want to convey the message by using “Gentlemen Should Hold the Umbrella with Left Hand” slogan.
  • a story of a person who is in love with his country or his vision for his country but couldn’t manage to realize it although he has got the power to do so due to the not-quite-supportive circumstances. It’s inspired from two things: Habibie’s story (Indonesian 3rd President), and a song “Sepatu” from Tulus. I’m also planning to make a cover of the song. I really like it, it’s so philosophic

#6 Illustration

1622613_10203015884747598_612780492_n

Recently I re-developed my interest into illustration again. It all started from this caricature project. All of a sudden, I get interested to make 3D sketch. Picture above is one of my attempt to do so.

Hand-drawing is more enjoyable than digital drawing with mouse anyway (say goodbye for a while to CorelDRAW).  However due to #4 I have not got the time to draw. But, I’m planning to incorporate my illustrations into Enam Cerita Rudi project, to make it as a Graphic Novel integrated with OST.

#7 Wise Words

I can never forget when some of my friends say “Fikri, I remember once you told me something, I’ll never forget those words.“, but I always forget what did I say back then. I suppose the words always speak for itself, I am just a conduit to articulate it. That’s why those words are so powerful that my friends cannot forget, but I, the one who they think has said it, can easily forget it. and when those people are re-telling me those words, all I can do is trying to understand what they really mean.. especially when those words look like related to what I’m currently doing.

#######

I think I need to get some sleep right now. In fact there are still a few more things in my mind palace (if I’m allowed to borrow the term from Sherlock Holmes) but I just couldn’t take it anymore. Number seven is a good number to stop at.

I’m so grateful to have a place as a shelter, nice foods to eat, and really good and sincere friends. Alhamdulillah.

This is one of a kind post in this blog.. with maximum absurdity level.

Kerinduan

Ada rasa rindu yang menyeruak
Menyelinap dalam sekejap

Rindu ini asing
Terkadang ia memecah malam hening
Sesekali menikam di siang bolong
Menciptakan ruang yang kosong
Pada jiwa, dalam dada
Menyisakan aku yang seolah terluka
Oleh sesal karena telah menyia-nyiakannya

Saat kemarin ia menghampiri
Aku tak sempat menyadari
Bahwa dia begitu berarti

Bukankah aku punya banyak kenangan bersamanya?
Dengannya aku temukan pintu kebenaran
Setiap tahun ia datang, mengetuk pintu pertaubatan
Tapi yang lalu rasanya menyisakan sendu
Dan entah sudah sejak berapa minggu
Aku merindu

Tuhan, aku masih ingin bertemu dengannya
Lima puluh, enam puluh, atau mungkin tujuh puluh lagi kesempatan
Dan jika Engkau berkenan
Ijinkan aku untuk menyapanya dengan ramah
Penuh syahdu dalam penghayatan
Berkarya nyata dalam kesalehan
Jikalau tidak demikian
Tentu aku akan tersiksa selamanya dalam kerinduan
Bisa bertemu dengannya
Tanpa bisa berbuat nyata
Merugi di dunia

Rindu yang sekejap
Oleh manusia naif ini
Semoga terbalas lunas
Saat kita bertemu lagi

Singapura, 10 Februari 2014

Hyperreality & Tsuki no Me Keikaku

Tanpa disadari keberadaan social-media memang menciptakan hyperreality. Tak perlu jauh-jauh bahas politik, atau ekonomi deh, ambil contoh yang simpel: pertemanan dan cinta. Saat ada seseorang membuat update bermuatan emosional dan misterius di social media, maka teman-teman yang lain akan mulai mengembangkan teori tentang apa yang sedang terjadi dengan si orang tersebut. Lama-lama hal ini berkembang, dari yang penasaran psychologizing, mulailah teman-temannya mencari info. Karena memang sebenarnya tidak sepeduli itu dengan temannya, akhirnya dia mencari-cari sumber informasi sekunder, tersier, dan lain-lain yang sudah tidak jelas akurasi dan validitasnya.

Nah, pada akhirnya teman-temannya akan mendapatkan sebuah kesimpulan dan judgement dari data-data yang tidak valid dan menganggap hal itu sebagai sebuah realita yang benar. Bayangkan betapa mengerikannya hal ini? Hal ini (info yang menyimpang setelah mulut kesekian) memang sudah lama terjadi. Namun, keberadaan social media semakin memperbesar exposurenya. Apalagi kalau setiap orang menyamakan orang lain dengan dirinya. Misalnya “saya ngetweet X kalo saya lagi Y, berarti orang lain kalau ngetweet X tandanya sedang Y.”

Sebenarnya ada metode yang bisa kita gunakan untuk menghindari bias akibat hal-hal seperti ini. Yakni metode ORID (bisa dicari di internet; contoh artikel tentang ORID). Hal ini penting agar kita bisa membuat keputusan yang jernih, bukan dengan EMOSI sesaat. Kalau di buku Dan Ariely yang “The Upside of Irrationality” diceritakan bahwa manusia sering membuat keputusan berdasarken EMOSI sesaat yang berakibat jangka panjang. Misalnya sedang EMOSI lalu mecat orang, ya efeknya kan ga bisa hanya dengan “maaf”.

Ya tentunya hyperreality ini sering ada di hubungan percintaan antar dua manusia: kode-kodean dengan segala asumsi masing-masing pihak. Tapi di sisi lain ada bagusnya juga sih kalau hyperreality ini membuat orang lain jadi kelihatan sempurna. Misalnya kita naksir orang, orangnya biasa saja tapi kita anggap dia sempurna. Terus, jadinya kita berusaha jadi sosok yang lebih baik lagi.. positif kan? 😀

Tapi ya kalau menjurus ke hal yang berbau fitnah jadi tidak baik. Saya sedang berpikir, mengapa fitnah dikatakan lebih kejam dari pembunuhan? Mungkin karena orang tersebut dibunuh secara karakter sedangkan kehidupannya masih berjalan. Dan karakter seseorang bisa dibunuh berkali-kali.

Sekian postingan kali ini, rada pake istilah gahar lagi setelah beberapa hari ini cuman bikin dongeng di Dongeng Dugong. Dan kebetulan saya lagi mikir random aja, kalau saya selama ini sering delusional terhadap sesuatu. Tapi gimana ya, setiap orang kayaknya hidup dalam delusi masing-masing. Mungkin solusi holistiknya memang seperti Moon’s Eye Plan dari Uchiha Madara. Yah pokoknya gitu lah, kalau kita emang peduli sama seseorang dan ingin mencari kebenaran ya tanya ke orangnya langsung. Di situ nanti kita bisa ngejudge sesuai value kita. Tapi hati-hati ketika mengungkapkan hasil ORID kita kepada orang lain.. bisa-bisa argumen kita menjadi data simulasi untuk hyperreality bagi orang lain.

Bingung bacanya? Saya juga. Sekian dulu deh, kayaknya udah kepanjangan.

Semoga kita dijauhkan dari fitnah dan permusuhan dan senantiasa dipertemukan dengan teman dan orang-orang baik. Amin