Hyperreality & Tsuki no Me Keikaku

Tanpa disadari keberadaan social-media memang menciptakan hyperreality. Tak perlu jauh-jauh bahas politik, atau ekonomi deh, ambil contoh yang simpel: pertemanan dan cinta. Saat ada seseorang membuat update bermuatan emosional dan misterius di social media, maka teman-teman yang lain akan mulai mengembangkan teori tentang apa yang sedang terjadi dengan si orang tersebut. Lama-lama hal ini berkembang, dari yang penasaran psychologizing, mulailah teman-temannya mencari info. Karena memang sebenarnya tidak sepeduli itu dengan temannya, akhirnya dia mencari-cari sumber informasi sekunder, tersier, dan lain-lain yang sudah tidak jelas akurasi dan validitasnya.

Nah, pada akhirnya teman-temannya akan mendapatkan sebuah kesimpulan dan judgement dari data-data yang tidak valid dan menganggap hal itu sebagai sebuah realita yang benar. Bayangkan betapa mengerikannya hal ini? Hal ini (info yang menyimpang setelah mulut kesekian) memang sudah lama terjadi. Namun, keberadaan social media semakin memperbesar exposurenya. Apalagi kalau setiap orang menyamakan orang lain dengan dirinya. Misalnya “saya ngetweet X kalo saya lagi Y, berarti orang lain kalau ngetweet X tandanya sedang Y.”

Sebenarnya ada metode yang bisa kita gunakan untuk menghindari bias akibat hal-hal seperti ini. Yakni metode ORID (bisa dicari di internet; contoh artikel tentang ORID). Hal ini penting agar kita bisa membuat keputusan yang jernih, bukan dengan EMOSI sesaat. Kalau di buku Dan Ariely yang “The Upside of Irrationality” diceritakan bahwa manusia sering membuat keputusan berdasarken EMOSI sesaat yang berakibat jangka panjang. Misalnya sedang EMOSI lalu mecat orang, ya efeknya kan ga bisa hanya dengan “maaf”.

Ya tentunya hyperreality ini sering ada di hubungan percintaan antar dua manusia: kode-kodean dengan segala asumsi masing-masing pihak. Tapi di sisi lain ada bagusnya juga sih kalau hyperreality ini membuat orang lain jadi kelihatan sempurna. Misalnya kita naksir orang, orangnya biasa saja tapi kita anggap dia sempurna. Terus, jadinya kita berusaha jadi sosok yang lebih baik lagi.. positif kan?😀

Tapi ya kalau menjurus ke hal yang berbau fitnah jadi tidak baik. Saya sedang berpikir, mengapa fitnah dikatakan lebih kejam dari pembunuhan? Mungkin karena orang tersebut dibunuh secara karakter sedangkan kehidupannya masih berjalan. Dan karakter seseorang bisa dibunuh berkali-kali.

Sekian postingan kali ini, rada pake istilah gahar lagi setelah beberapa hari ini cuman bikin dongeng di Dongeng Dugong. Dan kebetulan saya lagi mikir random aja, kalau saya selama ini sering delusional terhadap sesuatu. Tapi gimana ya, setiap orang kayaknya hidup dalam delusi masing-masing. Mungkin solusi holistiknya memang seperti Moon’s Eye Plan dari Uchiha Madara. Yah pokoknya gitu lah, kalau kita emang peduli sama seseorang dan ingin mencari kebenaran ya tanya ke orangnya langsung. Di situ nanti kita bisa ngejudge sesuai value kita. Tapi hati-hati ketika mengungkapkan hasil ORID kita kepada orang lain.. bisa-bisa argumen kita menjadi data simulasi untuk hyperreality bagi orang lain.

Bingung bacanya? Saya juga. Sekian dulu deh, kayaknya udah kepanjangan.

Semoga kita dijauhkan dari fitnah dan permusuhan dan senantiasa dipertemukan dengan teman dan orang-orang baik. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s