Bagaimana Dulu Anak 15 Tahun Itu Berusaha Mengejar Mimpinya

Di tahun 2007, ada seorang anak SMA yang berhasil mendapatkan informasi tentang nilai nasional SPMB. Sebuah data yang bahkan tidak semua dosen ITB bisa mengaksesnya (walaupun konon sempat bocor juga sih). Anak tersebut tinggal jauh di kota Jogjakarta, tidak punya saudara yang bekerja di ITB pula. Dia hanyalah seorang anak SMA pecandu game online dan forum-forum di internet.

Di sini saya hanya ingin mengenang sejenak, bagaimana dulu saya benar-benar menjadi gila dalam mengejar sesuatu. Mungkin fase-fase itu adalah fase tergila yang pernah saya lalui. Dan hal yang men-trigger kenangan itu adalah ketika saya membuka email lama saya.

Oknum : Gue bukannya mau ngejekin orang yah, tapi lo liat deh email ini?

Saya: What?

Oknum: Anak ITB emailnya alay kayak gini ya?

Saya: Yaelah semua orang juga punya email alay kali. Email pertama lo gimana?

Oknum: Email pertama gue udah ga aktif lagi nih. Hotmail.

Saya: Gue dulu ada bikin gmail: amazing.rou

Saya lalu iseng membuka. Saya pun tak yakin dengan passwordnya. Tapi secara mengejutkan, password yang saya ketik benar. Saya membuka sent mail, hanya ada 8 email dan salah satunya percakapan sebagai berikut:

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan Bapak yang mau memberikan passing grade dan metode penghitungan SPMB.
 
Nama saya Rousyan, saya adalah siswa SMA yang sudah mendapat surat keterangan lulus. Saya sangat berminat untuk melanjutkan studi saya di ITB, lebih spesifik di STEI. Saya pun sudah mengikuti USM Terpusat namun saya dinyatakan belum bisa diterima karena kapasitas yang terbatas. Di bawah ucapan “maaf”, saya disarankan mengikuti SPMB dengan pilihan tertentu dan saya tidak disarankan masuk STEI.
Kemudian, saya ingin bertanya, apakah dengan begitu peluang saya masuk STEI menjadi kecil? Atas dasar apakah ITB memberi saran demikian?
 
Sehubungan dengan data yang Bapak berikan, saya tetap saja tidak bisa menghitung nilai mentah rujukan untuk memasuki STEI ITB. Sekiranya Bapak berkenan untuk memberikan nilai mentah rujukan, saya akan sangat berterima kasih. Mengenai penilaian SPMB, saya juga ingin mengajukan beberapa pertanyaan.
 
Pertama, Apakah ada yang disebut faktor pengali? sehingga menjawab lebih banyak pada Kemampuan IPA bernilai lebih dari Kemampuan Dasar atau misalnya menjawab benar Fisika 8 soal lebih baik ketimbang menjawab benar 8 soal Bahasa Indonesia?
 
Lalu, apakah benar ada yang disebut dengan nilai mati? Kalau ada, apakah jika Peserta IPC mendapat nilai mati di IPS, nilai IPAnya ikut mati? Berhubung saya akan mengikuti IPC untuk menyiasati memilih ITB untuk pilihan IPA dan IPS untuk universitas di regional 2 agar bisa tes dari Jogjakarta.
 
Demikian, apabila ada salah tulis mohon Bapak memaafkan saya. Apabila Bapak berkenan membalas surat saya, saya sangat berterima kasih.
 
Atas perhatian Bapak, kami ucapkan terima kasih.

Judul dari percakapan tersebut singkat “Mohon pencerahannya”, lalu dibalas

Lho anda yg namanya Rousyan? rasanya saya pernah baca nama anda,lupa di
mana.
Saran bu XXXXXX pada peserta USM, untuk memilih jurusan/fakultas tertentu, maksudnya justru untuk “memberitahu” bahwa peserta USM tsb sebenarnya sudah mencapai level tertentu. Sebagai contoh, Passing grade USM ITB untuk fakultas STEI adalah 83,23 %, ini nilai statistik, kira-kira berarti peserta yg diterima di STEI ITB melalui USM 2007, terburuknya ada diperingkat  100 – 83,23 = 16,77 % , karena peserta USM II ada 4005. jadi
peserta USM yg diterima di STEI, terjelek  berada di peringkat 672. Sepintas SPMB lebih sulit dibanding USM.
Sebagai perbandingan, pd 2006 lalu, peserta SPMB dg nilai terjelek yang diterima  di STEI berada di peringkat 1436 dari keseluruhan peserta IPA & IPC  SPMB 2006, yg jumlahnya saya lupa persisnya, mungkin lebih dari 150 ribu. 
Tetapi jangan kecil hati. Pada USM ITB, ada pembobotan nilai, dimana  IPA dan matematika diberi bobot tinggi. SPMB tidak ada bobot nilai, jawaban semua mata pelajaran dijumlah berapa yg benar, berapa yg salah , berapa yg kosong, dan dihitung nilainya. Tidak ada nilai mati. Beberapa bimbel yg menakuti siswanya bhw ada nilai mati,
tujuannya spy muridnya jangan ada yg meremehkan salah satu mata pelajaran.
Perhitungan nilai juga dipisah IPA dan IPS. Peserta IPCmempunyai dua macam nilai:nilai IPA didapat dari test hari pertama + test hari kedua session satu, nilai IPS didapat dari nilai test hari pertama + test hari kedua session kedua. Keduanya tidak saling menjatuhkan. Pada th 2006, sangat banyak peserta yg tidak lulus USM, tetapi malah lulus
SPMB. tetapi juga tidak sedikit yg lulus USM ITB, tidak diambil, ikut SPMB milih ITB lagi, malah tidak lulus. Jangan curiga lho, ITB sangat fair dalam soal nilai, kalau tidak diterima memang benar-benar karena nilainya jelek.
Selamat berjuang.

 

Begitulah contoh ngirim email dengan muka tebal. Dulu muka saya tebel banget yah (masih banyak email-email sejenis kepada berbagai narasumber berbeda). Tapi berkat kecanduan saya terhadap internet juga lah akhirnya saya mengumpulkan banyak informasi dan berkenalan dengan banyak orang (termasuk beberapa yang akhirnya saya kenal di dunia nyata). Dan bahkan kegiatan mengumpulkan informasi dan motivasi ini lebih menyita waktu saya ketimbang belajarnya sendiri.

Saya ingat, dulu saya sama sekali tidak pernah punya kepikiran masuk ITB. Cuman kepikiran mau masuk universitas negeri, kalau nggak UGM ya UNIBRAW. Maklum, dari kecil saya selalu gagal masuk sekolah negeri. Sampai akhirnya saya termakan promosi tentang ITB yang dibawakan oleh kakak kelas saya. Sejak saat itu saya terobsesi dan jadi tidak peduli. Saya nggak peduli betapa jeleknya nilai-nilai try out saya, betapa sekolah saya punya sejarah yang sangat minim tentang tradisi masuk ITB. Oh iya, saya juga pengen ngekos karena sumpek banget sama rumah.

Saya kadang heran sama keberanian yang saya punya di usia saya dulu. Dan saya juga tahu kemampuan saya nggak spesial juga sih. Tapi entah kenapa bisa-bisanya sampai segitunya. Well, sebenernya dulu saya agak jumawa sih. Watu itu saya keterima di UGM meskipun saya nggak belajar-belajar amat, meskipun om saya (dari hasil hitung-hitungan) memprediksi saya tidak akan masuk Elektro. Jadi ya gitu deh.. kadang gak pede banget, kadang jumawa banget. Tapi tetep, semangatnya gila!

Oh iya, sebenarnya postingan ini dimulai tanggal 18. Sore harinya si Mirza, anak undergrad NTU yang seumuran sama saya nyuruh saya masukin CV di career fair. Hahaha. Jadinya saya juga lihat CV dan tersadar bahwa selama 2 tahun ke belakang saya tidak menghasilkan progress apa-apa yang bisa masuk CV. :p

Tapi entahlah, hati saya selalu mengatakan bahwa belum saatnya saya mencari pekerjaan lain. Toh apapun yang terjadi nanti pasti ada jalannya. Tuhan tidak pernah tidak memberikan saya jalan dan plan B. Karena sampai detik ini toh tawaran pekerjaan selalu ada buat saya, dan selalu banyak orang yang bilang, “Ga usah khawatir kalo lo nggak lanjut, lo pasti banyak pilihan.”
Alhamdulillah.

Kayaknya mah tugas saya sekarang adalah membangkitkan Fikri yang 15 tahun ke dalam diri saya yang kini.. sudah.. mau 22 tahun. Hiks. Iya, saya rindu saya yang dulu, yang baik, yang bersemangat, yang rajin ibadah, gak pake acara galau-galauan. Semoga bisa kembali lagi seperti dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s