Gara-gara menulis postingan sebelum ini, saya jadi sedikit terbawa kenangan masa lalu. Dulu saya bukan anak rumahan. Saya sangat hobi kelayapan. Salah satu momen bahagia buat saya adalah saat saya mendapatkan dua benda: sepeda motor dan kunci rumah. Karena dengan dua hal itu saya bisa di luar rumah sampai malam. Sebelum memiliki dua benda itu, saya juga sering kelayapan di Game Center. Kadang naik bus, kadang naik sepeda, kadang minta diantar. Dan pernah sampai dijemput oleh salah satu Mas-mas Toko karena sudah kelewat malam.

Saya dulu tidak betah di rumah. Rumah tidak pernah menarik, saya selalu ingin keluar dari rumah. Makanya saya ingin ngekos, ingin kuliah di Bandung. Selain saya sumpek dengan banyaknya tamu yang sering mengunjungi rumah, saya juga sering berantem dengan adik-adik saya. Saya juga heran kalau melihat ke belakang. Bisa-bisanya saya berantem dengan makhluk-makhluk yang kalau dilihat di foto ini sangat lucu dan innocent.

Tapi memang begitulah, salah satu game paling seru di rumah dulu ya bikin gara-gara sama adik-adik. Udah gitu nanti kita pakai bikin konspirasi segala. Kadang saya berkoalisi dengan adik yang cowok, kadang berkoalisi dengan adik yang cewek. Terkadang mereka berdua yang berkoalisi. Mirip-mirip Romance of Three Kingdoms lah.

Kerukunan seperti foto yang tepat di atas ini memang jarang terjadi. Tapi sebenarnya kalau dipikir-pikir dan diingat-ingat, kami sering juga kok bikin gambar bareng, mengkhayal bareng (main drama-drama-an), edit-edit foto. Ya, ada juga lah sisi persaudaraan yang cukup normal di tengah segala ketidaknormalan yang terjadi.

Saking seringnya berantem yah, salah satu nasehat Ayah saya waktu saya mau pergi ke Bandung adalah

“Mbok ya kamu tuh yang ngayomin, yang sayang sama adik-adiknya. Kamu itu udah dewasa, udah kuliah, masa masih mau berantem sama adik-adik yang masih kecil.”

Saya ingat sekali, masa-masa dimana saya sering pergi tengah malam untuk cari makan di pinggir jalan KH A Dahlan. Untuk ke KH A Dahlan, cukup belok kanan dari Malioboro, di situlah tempat saya sering nongkrong di angkringan, kedai kebab, atau warung nasi goreng untuk makan saat kelaparan. Iya, rumah kami agak berbeda dengan rumah-rumah yang normal. Kami sekeluarga cukup sering makan di luar.

Ada suatu masa dimana seolah ada yang membisiki saya waktu saya hendak membeli nasi goreng

“Kelak suasana seperti ini lah yang akan kau rindukan dari Jogjakarta; berbagai lampu yang menyala di malam hari: lampu-lampu kendaraan, lampu merah, neon box toko-toko, lampu petromaks warung-warung, lampu penerang jalan; toko-toko yang sudah kau hapal; becak-becak dan tukang becak yang nongkrong di pinggir jalan; muka-muka familiar yang lalu lalang; gelandangan-gelandangan yang tidur di emperan toko; orang-orang yang dulunya waras tapi kini sudah tidak punya kesadaran lagi; angkringan dan nasi goreng bendol.”

Saat bisikan itu muncul, sebenarnya saya berada dalam fase tidak percaya bahwa saya akan bisa masuk ITB. Tapi kenyataan itu akhirnya terjadi. Dan setelah di Bandung, saya jadi menyadari, waktu 4 tahun yang saya habiskan bersama keluarga begitu berharga dan tidak akan bisa terulang kembali. Iya, saya dari kecil merantau. Umur lima tahun saya sudah mogok sekolah, sehingga dikirimkan ke Malang untuk tinggal bersama Eyang saya. Kalau bukan karena kelas akselerasi (waktu itu kelas akselerasi hanya ada di ibukota propinsi), saya hampir saja tetap ingin sekolah di Malang. Dan ternyata SMP hingga SMA hanya saya habiskan selama empat tahun. Kuliah di Bandung, sempat kerja di Jakarta, lalu sekarang di Singapura.

Saya selalu merasa seperti kakak yang tidak pernah ada dalam kehidupan adik-adik saya. Saya hanyalah orang yang kadang-kadang muncul saat lebaran atau liburan. Saya tidak pernah memberikan support yang maksimal kepada mereka. Saat kakak-kakak lain sibuk pulang demi mengajari adik-adiknya untuk persiapan UAN atau SPMB, saya sibuk sendiri di Bandung. Saya selalu merasa bahwa karena saya bisa sendiri, pastilah adik-adik saya bisa sendiri. Mungkin ini adalah salah satu penyesalan saya, sebagai seorang kakak, saya belum bisa menjadi sosok yang nyata untuk mereka. Saya dan mereka tidak bisa mengobrol dengan cair atau curhat-curhatan satu sama lain. Hubungan kami dingin. Tapi saya percaya, hal-hal ini juga yang mungkin akan membuat mereka jauh lebih kuat dari adik-adik yang lain yang memiliki kakak yang normal.

Dan saya selalu berdoa agar mereka selalu mendapatkan petunjuk Tuhan, agar mereka menjadi orang-orang yang lebih baik dari saya, tidak mengulang kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Ya, setelah mendoakan golongan orang tua, merekalah yang berikutnya ada di dalam barisan doa. Kalau saya sedang bersimpuh kepada Tuhan dengan segala ketidakberdayaan dan rasa bersalah, merekalah yang terlintas di benak saya, “Tuhan lindungi mereka, berikanlah mereka petunjuk dan kasih sayang-Mu”

Menyedihkan memang, saya belum bisa berbuat lebih banyak lagi selain berdoa.

558534_3676688045340_935137843_n

Oh iya, kami juga sangat jarang foto bersama. Foto bersama hanya terjadi dua kali, dan ini salah satunya. Karena berbagai hal sebenarnya saya sempat tidak ingin ikut wisuda. Tapi, waktu itu ibu saya bilang.

“Beneran nggak mau ikut wisuda? Sekarang mungkin kamu ngerasa nggak penting, tapi suatu saat nanti nyesel loh kalo nggak ikut”

Dan selain itu ada juga seorang teman saya yang selalu men-support saya yang tetep menyemangati saya untuk ikut wisuda. Dia adalah seseorang yang dulu selalu memberikan support buat saya. Hal-hal kecil seperti, “semangat ngerjain TA” di malam-malam hari saya dari jaman tingkat 4, ngasih kado yang nyindir saya untuk segera sidang, ngasih alasan-alasan yang logis kenapa saya harus ikut wisudaan, dan entahlah mungkin salah satu dari sedikit orang yang mengetahui alasan mengapa saya alergi terhadap wisuda. Honestly, saya mungkin dulu belum punya kecerdasan sosial yang cukup untuk memahami bahwa teman yang ini mengajarkan banyak hal. Dan dia adalah salah satu orang yang menguatkan saya hingga akhirnya saya tetap ikut wisudaan.

Ya dan akhirnya satu hari yang berharga itu benar-benar berharga buat saya. 

Oh iya, dulu saya sempat heran, entah kenapa Eyang saya sangat tertarik untuk datang wisuda cucunya. Saya pikir acara wisuda kan membosankan. Hanya gitu-gitu doang. Tapi kemarin dari obrolan bersama Bapak-bapak di flat saya jadi tahu mengapa saya tidak tahu alasannya.

“Saya tuh kadang suka heran Pak, kenapa ya orang tua pengen banget dateng wisuda anaknya?”

“Wah jadi Bapak dulu fik biar tahu rasanya”

“Kita anak wisuda TK aja rasanya sudah seneng kali”

Ya, buat kita semua, dimanapun kita berada, entah anak rantau atau bukan, seperti apapun kondisi keluarga, masih lengkap atau tidak orang tua dan anggotanya, semoga kita tetap bisa berusaha menjadi anggota keluarga yang soleh dan penyayang, yang lebih baik ke depannya :”)

*jarang-jarang kan saya cerita yang model begini di sini :p bikin mellow banget sih nulis ginian

3 thoughts on “Empat Tahun dan Satu Hari yang Tak Ternilai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s