Agar Kita Tidak Memutus Harapan Orang Lain

Sejujurnya saya adalah pribadi yang paling tidak suka saat ada orang melebih-lebihkan tentang saya, atau bicara apa-apa tentang saya yang tidak sepenuhnya benar. Tapi saat ada orang menjelek-jelekkan saya, saya cuek saja, kecuali kalau dia teman saya. Kalau dia teman saya yang saya peduli sama dia (dan saya percaya dia sedang dalam kondisi untuk bisa menerima masukan saya), saya akan bilang point blank ke dia bahwa dia salah.

Tapi jangan salah, saya melakukan itu bukan karena sakit hati, saya hanya ingin mereka menjadi lebih baik lagi. Kalau mereka berbuat seperti itu sama saya, saya mungkin akan kesel, marah untuk beberapa saat. Setelah itu saya akan minta maaf kepada mereka kalau ada kata-kata saya yang salah. Lagipula di era komunikasi teks seperti sekarang, lebih banyak miskom-nya sih, jadi mau sehati-hati apa juga seringnya masih ada gak nyambungnya. Harga yang harus dibayar di era chatting.

Nah, iya, sebenernya saya di sini cuman mau cerita tentang suatu wisdom yang saya dapat dari ibu saya. Saya orangnya punya tendensi untuk speak up ketika ada orang yang tidak update tentang hidup terkini dari saya, atau melebih-lebihkan kehidupan saya. Waktu itu kami sempat bercakap-cakap dengan seseorang. Lalu ketika orang tersebut menyebutkan sesuatu tentang saya yang agak sensitif, saya memilih untuk diam sejenak. Akhirnya ibu saya yang menjawabnya. Saat di angkot, ibu saya bilang seperti ini kepada saya yang esensinya seperti ini,

“Kamu itu, gitu aja kok nggak dijawab. Jawab gitu (sebuah jawaban yang benar meskipun tidak sepenuhnya sesuai konteks untuk diri kita) aja kan bisa. Dia sudah menaruh harapan sama kamu, masak kamu mau langsung mematikan harapan dia?”

Hari ini perasaan saya seperti itu lagi. Dan sebenarnya perasaan itu selalu ada setiap kali ada orang yang melebih-lebihkan tentang saya. Mungkin ini secara kontradiktif bertentangan dengan salah satu postingan saya beberapa hari yang lalu. Tapi di sini saya hendak menulis tentang rasa, bukan logika.

Saya, sebenarnya kesal ketika dianggap gimana gitu. Karena orang lain hanya lihat dari luar. Orang lain tidak pernah tahu apa yang sedang saya hadapi, bagaimana saya malu dengan diri saya sendiri saat orang lain mengira saya begitu. Saya punya tendensi untuk seolah-olah ingin menceritakan kepada mereka betapa menyakitkannya hal-hal yang saya rasakan

Tapi tunggu, perlukah orang lain tahu tentang itu semua? Bagaimana kalau kita, somehow, menjadi inspirasi buat mereka? Apa kita tega memutus harapan yang baru tumbuh dalam diri mereka? Bisa saja, hal-hal kecil yang kita “korbankan” dapat memberikan mereka kekuatan untuk menjalani hidupnya.

Dan kadang, kita tidak sedang bicara tentang orang yang kita kenal. Di era internet ini tak jarang kita berbicara tentang orang-orang asing yang berkorespondensi dengan kita, mengenal kita hanya melalui jejak-jejak kita di dunia maya: twitter, facebook, blog, tumblr, dll.

Tidak semua orang perlu menjadi tempat sampah untuk segala keluh kesah kita. Tidak semua orang perlu tahu betapa sakit hatinya kita. Tidak semua orang perlu tahu dengan detail perjuangan seperti apa yang sedang kita pertarungkan.

Maka itu, kita ikhlaskan saja. Cari jawaban-jawaban yang diplomatis untuk pertanyaan-pertanyaan yang terkadang mengiris hati.

Lagipula, sudah umur segini, tidak harusnya saya merasa sakit hati karena hal-hal itu. Sudah sering digituin kan. Sudah sering juga membuat lelucon atas tragedi yang saya alami. Hehe. Kalau teman-teman sering mendengar kata-kata dari saya,

“Gue mah tertawa di luar, tapi menangis di dalam hati. Teriris-iris seperti bawang bombay.”

ini adalah salah satu cara saya untuk mentransformasikan rasa sakit hati yang muncul seperti impuls menjadi sebuah komedi yang merileks-kan jiwa saya.

Seorang yang rendah hati tidak akan pernah menyanyikan lagu “aku yang tersakiti”. Seorang yang rendah hati tidak pernah tersakiti. Ia mengucapkan salam ketika dihina. Orang yang mampu mengucapkan salam adalah orang yang sabar karena itu dia tidak tersakiti. Orang yang tersakiti  adalah orang yang marah dan benci. Ketika tiada marah dan benci, maka seseorang tidak akan pernah tersakiti.

Ya motivasi saya terkadang simpel. Saya tidak ingin marah, tidak ingin merasa tersakiti (ingin bisa mengendalikannya), sebab saya ingin belajar untuk menjadi orang yang rendah hati seperti yang diajarkan Guru saya. Masih jauh dari ideal, tapi kalau dibandingkan dengan watak asli saya di waktu kecil, saya sudah banyak melunak. Alhamdulillah

Termasuk untuk kasus dimana kita berusaha memutus harapan orang lain, berusaha membuat orang lain mengerti apa yang kita rasakan seutuhnya. Mungkin itu terjadi karena sakit hati. Tapi, mari kita coba mengerti mereka, beri apa yang mereka butuhkan. Apa yang bisa menyenangkan hati kita, tanpa kita perlu berbohong? Apa jawaban yang bisa kita berikan kepada mereka tanpa harus membuat mereka merasa tidak enak kepada kita?

Jawaban seperti itulah yang akan bisa mengantarkan kita menjadi penjelamaan dari Cinta Kasih :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s