Jus Pilihan Cinta dan Cerita Hati tentang Rendang Basi

Cemburu hanya diam saat Cinta mengucapkan salam perkenalan. Di rumah Hati, akhirnya mereka resmi berkenalan. Dan Cemburu masih saja nakal. Ia teguk teh milik Cinta sampai ke penghabisan.

“Cemburu, seharusnya kau bisa lebih dewasa. Hormatilah Cinta, dia sudah datang dengan sopan dan niat baik melalui pintu depan. Tak seharusnya kau meminum teh yang aku sajikan untuknya. Lagipula, aku juga sudah menyediakan secangkir teh untukmu,”Hati mencoba menegur Cemburu.

Cemburu sama sekali tak menanggapi teguran Hati. Sejauh yang Hati ketahui, Cemburu memang sulit menerima saran, dan sulit untuk mengakui bahwa dirinya sudah berbuat salah. Ia justru menunjukkan sifat kekanak-kanakannya dengan menghabiskan teh yang memang disajikan untuknya dengan segera, lalu keluar dari rumah Hati dengan membanting pintu. Kini kita tahu penyebab engsel pintu belakang rumah Hati berbunyi sangat nyaring.

Hati selalu paham bahwa Cemburu dan Cinta tak akan bisa bersama terlalu lama di dalam rumah Hati. Salah satu akan keluar, jika yang lainnya bertahan. Maka dari itu Hati mempertemukan mereka, agar Hati tahu siapa yang akan tetap singgah.

“Wahai Cinta, maafkan aku atas kejadian barusan. Akan aku buatkan minuman yang baru buatmu, Jus Buah Naga kesukaanmu.”

“Tak apa-apa, wahai Hati. Mungkin saja Cemburu sedang ditimpa kemurungan. Mungkin yang barusan adalah caranya untuk menumpahkan kemurungan itu.”

“Tapi Cinta, ketahuilah bahwa sesungguhnya yang terjadi barusan merupakan jawaban atas pertanyaan yang menyebabkan kau jauh-jauh datang kemari,” tutur Hati sembari menyajikan Jus Buah Naga kepada Cinta.

Cinta hanya tersenyum pertanda mengerti. Kini kegundahannya terhenti setelah mengetahui bahwa ia bukanlah sang penyebab kekacauan.

Namun, Cinta tetaplah Cinta. Ia tak pernah kehabisan pertanyaan, ia selalu ingin tahu.

“Wahai Hati, aku ingin bertanya. Mengapa terkadang aku dihadirkan pada orang-orang yang sebenarnya tak ditakdirkan untuk bersama meskipun mereka punya kecocokan jiwa? Sedangkan tak jarang pula aku dihadirkan pada mereka yang tidak memiliki kecocokan jiwa, atau bahkan dihadirkan untuk mereka yang perasaannya tak akan pernah berbalas?

“Wahai Cinta, aku tak tahu pasti mengapa demikian. Terlalu banyak misteri dalam hidup ini. Namun, kalau boleh aku membuat perumpamaan, rasa-rasanya alasannya sama seperti penyebab kau menggemari Jus Buah Naga. Tak selamanya alasan yang jelas harus ada di belakangnya,” Hati menjawab dengan tersenyum manissembari meminum teh dari cangkirnya.

“Wahai Hati, aku paham akan perumpamaan yang kau buat. Akan tetapi, aku menjadi semakin kebingungan. Tahukah engkau bahwa sebenarnya, jika aku tak pernah mengenal Jus Buah Naga, mungkin Jus Alpukat adalah minuman kegemaranku yang nomor satu?” sembari menikmati Jus Buah Naga, Cinta mengajukan pertanyaan berikutnya.

“Oh ya? Aku baru tahu. Jadi sebelumnya kau tidak menyukai Jus Buah Naga, wahai Cinta?”

“Iya, betul sekali wahai Hati. Dulu sekali aku selalu meminum Jus Alpukat, tak pernah meminum Jus lain. Namun, semenjak kau membuatkan Jus Buah Naga untuk kali pertama, kegemaranku menjadi dua. Dan terkadang aku tak tahu mana yang lebih aku sukai.”

“Lalu Cinta, apa yang terjadi jika seandainya kelak aku membuatkan Jus Apel, atau Jus Melon, atau jus yang lainnya untukmu? Mana yang akan menjadi minuman favoritmu?”

“Wahai Hati, sejujurnya aku pun tak dapat memahaminya. Itu jugalah yang terkadang mengusik pemikiranku. Dan jika memakai perumpamaan yang kau cipta, aku pun tak tahu kapan aku harus memilih jus yang mana.”

Hati terdiam sejenak. Cinta sering memberikan pertanyaan-pertanyaan yang Hati tak tahu apa jawabnya. Sementara di luar, rumput pun tak bergoyang, tak ada yang bisa ditanyai.

Ketika Hati tak menemukan jawaban atas pertanyaan Cinta, maka ia pun balik mengajukan pertanyaan kepada Cinta.

“Wahai Cinta, pernahkah kau memakan rendang basi?”

Cinta terkejut dengan tanggapan dari Hati. Terkadang Hati menanyakan pertanyaan retoris yang sebenarnya dia sudah tahu jawabnya.

“Suatu hari aku pernah begitu kelaparan dan menemukan ada rendang di meja makan. Karena rendangnya sudah tidak hangat, aku lalu menggorengnya kembali. Hingga akhirnya aku tersadar bahwa rendang tersebut sudah beberapa hari berada di meja makan.”

“Lalu apakah kau memakannya?”

“Karena aku tidak mengetahui pengetahuan apakah rendang tersebut masih layak makan atau tidak, aku pun bertanya kepada ibuku apakah rendang dalam kondisi tersebut masih layak untuk dikonsumsi atau tidak. Aku kirimkan pesan singkat kepadanya. Namun sayang aku tak segera menerima balasan darinya”

“Namun, bukankah kau sudah sangat lapar, wahai Hati?”

“Benar Cinta, aku sudah terlalu lapar. Maka, aku pun akhirnya memutuskan untuk memakannya. Awalnya aku merasa yakin sebab baunya masih sedap dan rasanya masih wajar. Setelah aku menghabiskan setengah darinya, aku jadi ragu, mungkinkah ia menjadi sedap dan terasa baik-baik saja karena aku sudah menggorengnya dan menambahkan bumbu-bumbunya?

Maka aku memutuskan untuk tidak menghabiskannya. Aku berhenti memakan rendang tersebut meskipun rasanya masih enak. Dan di saat itu balasan dari ibuku datang”

“Apa yang dikatakan ibumu?”

“Ibuku berkata jika rasanya tidak berubah makan saja rendang itu.”

“Wah, berarti setelah itu kau kembali menghabiskannya?”

“Tidak, Cinta.”

“Mengapa?”

“Aku katakan pada ibuku, aku hanya memakan setengahnya karena tidak yakin. Lalu ibuku menjawab, baiklah kalau begitu lepaskan saja. Saat kita membuat pilihan kita harus yakin. Dan saat kita sudah tidak yakin, maka kita harus meninggalkan pilihan tersebut.”

Hati tersenyum. Cinta pun juga tersenyum mendengar jawaban Hati. Kini ia tahu mengapa ia dihadirkan ke dalam hati para manusia dengan bermacam cara. Sekalipun perumpamaan-perumpamaan yang mereka buat terkadang terlalu samar, Hati dan Cinta telah merasa menemukan jawabannya.

Rasa inilah yang terkadang tak dapat terangkai oleh logika, tak terdefinisikan oleh bahasa. Rasa inilah yang dapat menjembatani hal-hal yang seolah tak berkaitan. Hal-hal yang tak ada kaitannya di akal, tapi terasa begitu nyata dan saling berhubungan dalam perasaan. Dan terakhir, rasa ini jugalah yang menyebabkan Cinta dipertemukan dengan Hati.

—-

Cerita sambungan dari “Ketika Cinta Gundah Gulana”

2 thoughts on “Jus Pilihan Cinta dan Cerita Hati tentang Rendang Basi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s