Sawang Sinawang dan Algoritma Kebahagiaan

Sawang Sinawang dan Algoritma Kebahagiaan

Sudah lama nggak bikin log. Ini awalnya bakal ngoceh-ngoceh ngalor ngidul dulu soal gimana akhirnya kepikiran nulis ini. Kalo mau baca soal algoritma nya silahkan di skip ke bawah yang ada sub judulnya.

Aku nggak tau mau cerita dari mana. Mari kita mulai dari aktivitas beberapa hari terakhir.

1. Beberapa hari ke belakang banyak sharing sama orang-orang, baik orang-orang yang baru maupun temen lama yang udah lama nggak ngobrol (termasuk di antaranya dicurhatin soal relationship.. ya ya ya, ini hal yang cukup ngeri sih sebenernya baik kenal maupun gak kenal sama cowoknya)

2. Kemarin pagi dateng QE Delphin. Aing bangga siah bisa masuk NTU bareng Delphin, prestasi terkeren aing sampai saat ini: masuk bareng orang dengan perfect GPA.. sampe-sampe yang nyidang aja bilang “This is the first time I see student with perfect score” Dengan demikian resmi sudah 2 dari 3 orang yang masuk PhD barengan atas bujuk rayu Om Tegoeh udah QE.

3. Group meeting lagi setelah sekian bulan. Agak ngerasa gimana gitu karena senior di tim kerjaannya keren. Dan pas meeting kemarin profesor bener-benar ngasih motivasi. Beliau adalah seorang pendidik dan tetap mengajarkan murid-muridnya untuk bermimpi! Malu juga sih sampai sekarang masih jadi beban buat beliau.

4. Futsal seperti biasa. Hari ini main rada bagus dibanding minggu sebelumnya (ya ngegolin dua biji, assist beberapa, pas jadi kiper bikin banyak save) tapi masih jauh dari minggu sebelumnya lagi yang lagi gila-gilanya bikin banyak gol dan assist. Oya, tapi pas berangkat futsal inilah jadi kepikiran nulis beberapa topik. Pertama kepikiran buat nulis tentang algoritma kebahagiaan karena tempo hari nonton video TEDx yang isinya anak kecil bilang kalo dia suka ngerasa aneh tiap orang nanya anak kecil, mau ngapain kalo udah gede, karena sebenernya anak kecil hanya ingin bahagia, dan orang dewasa sering berasumsi bahwa bahagia itu otomatis. Kedua kepikiran juga buat nulis tentang tantangan masa depan ummat Islam di Indonesia biar bisa jadi rahmatan lil alamin. Tapi yang kedua terlalu berat, aku sendiri masih banyak maksiat, malu mau nulisnya. Continue reading “Sawang Sinawang dan Algoritma Kebahagiaan”

Advertisements

Membuat Yang Singkat Menjadi Berharga

Membuat Yang Singkat Menjadi Berharga

Saat berita-berita itu mulai heboh, gue berusaha mengingat-ingat, kenangan apa yang gue punya sama lo. Meskipun sekelas waktu TPB, kita bukan temen main, nggak deket, meskipun sering ketemu di daerah Cisitu kalo lagi cari makan (apalagi di bu olis yang sebelah kosan gue). Kalo buat gue sih yang paling berkesan dari lo adalah lo tetep mau dateng buat ngospekin adek-adek kelas kita dengan segala pemikiran lo yang kritis dan dalam di forum-forum swasta hehe.

Tapi kalo liat facebook lo dan banyaknya orang-orang yang terlihat begitu menyayangi lo, gue jadi ikut ngerasa gimana gitu. Pas dosen gue di kelas ngebahas pesawat yang lo naiki, dan dia bilang kalo menurut dia probability-nya seperti bit error rate pada LAN, itu bikin ngerasa gimana juga.

Denger-denger dari cerita, lo juga ga takut sama teroris-terorisan pas nyokap lo nanya ke lo. Lo berani man! Kadang gue bertanya-tanya, apakah ketika tali tas lo sempet putus tiga kali sebelum berangkat, apakah lo sudah tau bahwa lo akan dirindukan oleh orang-orang terdekat lo?

Tapi apapun itu, lo mengingatkan lagi bahwa hidup ini singkat, harus dibuat jadi berharga. Dan titik akhirnya tak bisa diduga. Lo udah bisa make waktu yang lo punya untuk menggoreskan kesan yang baik, terlihat dari orang-orang yang tetep nge-tag lo di social media selama masa pencarian MH370, mereka yang bilang betapa lo udah menginspirasi hidup mereka, lo keren man!

Dan gara-gara kisah lo ini, gue selalu mikir. Kalo giliran gue tiba nanti, apakah gue akan dirindukan seperti lo? Apakah hidup gue ini akan jadi berarti? Dan gue jadi sering mikir bahwa itu semua sangat dekat, itu semua tujuan akhir kita kan. Everybody leaves in the end.

 Selamat jalan Firman Chandra Siregar

Firman

sekali teman, tetap teman

Elektroteknik ITB 2007!

Sebagai teman seperjuangan menghadapi kelas-kelas TPB dengan dosen yang heboh-heboh, termasuk melawan perjuangan melawan kantuk di salah satu kelas, hanya ini yang bisa gue persembahkan sebagai penghormatan terakhir. Rest in peace yah bro!

[Nostalgia Kampus] 8 Hal yang Perlu Diwaspadai Saat Menjadi Danlap Berkuda

[Nostalgia Kampus] 8 Hal yang Perlu Diwaspadai Saat Menjadi Danlap Berkuda

Gara-gara satu dua hal, saya jadi sedikit nostalgia masa-masa di kampus. Sungguh masa-masa itu ngangenin dengan segala buku, pesta, dan cintanya.

Nah, kali ini saya ingin berbagi pengetahuan yang saya dapatkan saat aktif di organisasi kemahasiswaan. Bukan apa-apa, saya hanya ingin supaya bila ada yang melakukan hal sejenis, mereka paham risiko yang ada dan bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan untuk terjadi.

Jadi dulu setting acara ini adalah sebuah seremoni. Memang dibuat seperti lawakan biar berkesan, dengan muatan moral tertentu. Hal ini biasa disebut “jembatan keledai”. Bagaimana agar memuat isu politik dan sosial terkini dalam suatu interaksi ‘teatrikal‘. Continue reading “[Nostalgia Kampus] 8 Hal yang Perlu Diwaspadai Saat Menjadi Danlap Berkuda”

Creating an Engaging Class-Membuat Kuliah Jadi Menyenangkan

Postingan ini akan dibagi menjadi dua part: sesi curhatnya (dalam Bahasa Indonesia), dan sesi berbagi ilmunya (dalam Bahasa Inggris) 😀

I divided this post into two sections: the confiding section (written in Bahasa) and lesson sharing section (written in English).

Part 1

Sedikit curhat saja, semester ini saya baru benar-benar merasakan yang namanya kuliah. Inipun karena dipaksa keadaan. Dalam artian, ga sekedar dateng, tapi ya belajar dulu sebelum masuk kelas, berusaha memperhatikan dosen (meskipun sulit kalau misalnya gadget kita nyala sih :D, kadang juga tetep sambil baca Naruto), bertanya apabila ada yang tidak diketahui, lalu mengulang kembali pelajaran meskipun ujian masih lama.

Hal seperti ini belum pernah saya lakukan sebelumnya. Bukannya bangga (dan sebenarnya sedih), tapi saya dulu waktu S1 males-malesan sekali (lebih semangat ngerjain hal-hal lain). Jaman TPB saya masuk 3 besar orang yang paling sering bolos di kelas kalkulus 06. Dan saya sangat jarang kuliah (kecuali yang butuh absensi :D), ada yang saya cuman masuk dua kali selama satu semester (satunya ujian pula). Dan akhirnya sesalnya ya sekarang, kenapa dulu saya nggak disiplin, nggak pernah berusaha maksimal jadi nggak pernah tau bates saya seberapa.

Nah, pada kuliah Graduate Teaching for Teaching Assistant semester lalu (yang diakhiri dengan praktek mengajar), hal ini menjadi topik pembahasan. Seperti apa sih kelas yang interaktif? How to make an engaging class?

Tenggarong

Kalau tidak salah, pada diskusi di kelas akhirnya saya bercerita tentang kelas Media Interaktif yang pernah saya ambil jaman kuliah di ITB. Kelas ini merupakan kelas yang diselenggarakan oleh prodi DKV.

Saya pun menceritakan bahwa di kelas itu kami selalu diberikan contoh-contoh dengan membawa permainan-permainan tradisional dan dipertontonkan video-video contoh media interaktif. Selain itu kami juga dibagi ke dalam beberapa group untuk akhirnya membuat aplikasi. Ini dia anggota goup saya beserta program studinya: Continue reading “Creating an Engaging Class-Membuat Kuliah Jadi Menyenangkan”

Permainan yang Kita Hindari

*ditulis menjelang ketemu salah satu big boss!

“Kenapa lo selalu berpikir bahwa sama dia, lo akan mengacaukan semuanya seperti yang udah-udah? Kenapa nggak mikir kalo kali ini lo akan lebih baik buat dia?”

Amanda Kasella

Pertanyaan itu membuat saya kaget. Kejadiannya sudah dua tahun lalu sih, tapi mendadak terlintas di kepala. Dan meskipun kata-kata itu konteksnya cinta-cintaan, tapi postingan ini justru lebih fokus pada cita-cita dan pengembangan diri.

Harus saya akui, saya punya rasa takut. Tidak mengakuinya sama saja berkata tidak cacingan tapi gatalnya tetap terasa di dubur. Biarpun banyak yang bilang saya adalah risk-taker, saya pribadi merasa dulu saya orangnya play safe. Saya tidak berani berusaha lebih, karena takut mendapatkan hasil yang sama saja.

Saya takut kalah. Saya takut apabila saya berusaha lebih tapi hasilnya sama saja. Makanya saya menghindar dari beberapa permainan (ya, hidup kan isinya cuman permainan).

Tapi semakin kita takut, maka yang kita takutkan akan terus ada, semakin besar, dan menghantui. Seperti cacingan, kalau tidak minum combantrin ya akan tetap sakit. Hidup akan terus menekan kita. Mau terus lari dan jadi pecundang? Atau mau berjuang, tak peduli kalah menang tapi jadi terhormat karena sudah mau banting tulang?

“Kenapa takut? Lawan dari takut sebenarnya adalah harapan”

Mas Ivandeva

Dan untuk bisa punya harapan, kita hanya perlu Continue reading “Permainan yang Kita Hindari”

Usikan Singular

Judulnya nggak akan berkaitan dengan postingannya. Postingan ini lebih ke curhat casual. Hanya ingin menuangkan sedikit rasa bahagia yang saya dapatkan. Makanya pilih yang judulnya catchy juga.

(inti kebahagiaan ada di akhir sekali dari post ini)

Beberapa hari lalu Shinta Trisna, pacarnya temen saya Riko Fajar ngeline saya. Meskipun belum pernah ketemu kami beberapa kali chatting dan saya sempat curhat-curhat gitu dari sebelum memulai hubungan dengan seseorang sampai mengakhirinya, termasuk ngeshare cerita-cerita fiksi dan lagu absurd saya. Line itu akhirnya membuat saya teringat bagaimana saya pertama kali ngeblog.

shinta

Before Friendster, WordPress, and So On Continue reading “Usikan Singular”

Legacy: how mysterious life is and what we leave behind

Dear blog, this is the second time I’m writing log in English. My Indian friend asked me to do so because he doesn’t get the context whenever he tries to take out bahasa posts from my blog to google translate.

I was feeling so bored yesterday (saturday). All my housemates were going out. There was no futsal, not enough player. Besides, I just realized that I had been trapped in my Home-Campus-Home route for the past few weeks. In EL Rajasinga Group (a group which consists of ITB Electrical Engineering gentlemen from batch 2006 and 2007),  Muharif a.k.a Bombom asked whether we want to meet up in city area, just like the old time. This only happens if Bombom’s wife is in Indonesia.

However, Aria was in Indonesia, and Ikhsan a.k.a Mabok a.k.a the brand new husband was escorting his wife in little India. Only two of us left, and Bombom suggested we take a look at Sim Lim Square. I also needed a battery replacement for my tablet.

But then, when I asked when we should go, there was no answer from Bombom. So, in the afternoon, I decided to play basketball in HDB area.

Singapore Kindness Movement, does it work?

After playing for an hour, I waited for the vending machine near basketball court used by a young girl and her younger brother. It took quite long that I even thought to myself, “What took ’em so long?” Continue reading “Legacy: how mysterious life is and what we leave behind”

The Missing Piece Meets the Big O + Flatland, lalu Ke Cocoklogi

Bukannya saya suka mikir yang berat-berat, tapi kalo lagi boker kan pikiran suka melayang kemana-mana.

Jadi saya teringat bahwa pas tingkat 3 Adehazril pernah ngasih tau saya kalau dia pernah ngasih kado buku The Missing Piece Meets the Big O buat seorang wanita yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. #halah

http://www.youtube.com/watch?v=MCmZ2jrQooE Continue reading “The Missing Piece Meets the Big O + Flatland, lalu Ke Cocoklogi”

Klaster Pertemanan, Jalan Inovasi, dan Tantangan Beristiqomah

Seperti biasa, sehari-harinya pikiran saya selalu menghasilkan banyak topik yang kalau mau dijabanin satu topik bisa jadi sangat panjang. Maka di sini saya mau mencoba memeras intisarinya saja karena tidak ada waktu buat menulis semuanya (biar ga kebanyakan post juga di satu hari). Ini cuman tiga topik aja.  Continue reading “Klaster Pertemanan, Jalan Inovasi, dan Tantangan Beristiqomah”

Prioritas

Mari kita lestarikan kembali tulisan bergenre log.

Dear blog,

Kemarin siang di lift aku ketemu auntie-auntie yang bawa dedek bayi. Di luar dugaan dia ngajak ngobrol. Singapore nggak se nggak peduli itu kok, meskipun tiap hari saya harus lari ngejar bus dan orang-orang di sini tetep nyeberang sembarangan beberapa meter dari markas papolisi.

“Going to school ah? Why so late”

Agak nampar sih, cuman memang kemarin aku berangkat lebih siang dari biasanya soalnya baru tidur habis subuh. Anyway aku jadi inget kalo minggu lalu tuh sebenernya pengen nulis sesuatu yang berkaitan dengan prioritas gitu loh. Gara-garanya suatu sore saya ke kampus langsung menuju quad untuk makan stir fried yong dau fu.

Intermezzo dikit, aku anaknya picky banget soal makanan. Males banget nyoba makanan baru. Setelah nyobain si stirred yong dau fu ini enak juga dan jadi makan ini terus.

IMG_20140304_035137

Jadi di the Quad cafe itu ketemu Radit, anak undergrad yang udah mau lulus.  Continue reading “Prioritas”