Klaster Pertemanan, Jalan Inovasi, dan Tantangan Beristiqomah

Seperti biasa, sehari-harinya pikiran saya selalu menghasilkan banyak topik yang kalau mau dijabanin satu topik bisa jadi sangat panjang. Maka di sini saya mau mencoba memeras intisarinya saja karena tidak ada waktu buat menulis semuanya (biar ga kebanyakan post juga di satu hari). Ini cuman tiga topik aja. 

1. Klaster Pertemanan

Dari hasil diskusi dengan teman-teman, banyak yang setelah lulus berubah menjadi kebarat-baratan. Dari yang tadinya selalu bersemangat untuk bisa jadi role model, sekarang bilangnya, “gue udah bukan role model lagi”. Saya sendiri juga sempat ada di fase dimana saya mempelajari cara berpikir orang barat, termasuk ilmuwan-ilmuwan atheis.

Nah, satu hal yang perlu kita waspadai, lingkaran pertemanan kita akan mempengaruhi pikiran bawah sadar kita. Sebab, salah satu cara menembus faktor kritis adalah dengan mengasosiasikan diri kita kepada grup tersebut. (Hal ini sedikit saya tulis di bagian akhir dari postingan ini) Jadi sebenarnya sangat vital sekali dalam menentukan jalan kehidupan kita.

Lalu tadi pagi pas saya buka facebook, ada sebuah percakapan di group message:

Oknum 1: Statusnya Mas Bowo: It’s hard to impress your significant other with your achievements at work if you are working in science/engineering and she is a business school graduate #truestory

Oknum 2: or she is a pharmacist and you are in politics

Oknum 3: Or he’s a programmer and she’s in social science

Oknum 4: Or if you are in engineering and you haven’t met her yet

Oknum 5: hahaha klimaks

Terus pas di bus tadi saya ketemu Mas Tegoeh dan beliau ngajak ngopi sore ini tapi belum nelepon juga ampe sekarang. Biasanya kalau sama Mas Tegoeh akan ngobrolin masalah musik, akademik, teknologi, dan karir.  Terakhir kali ngobrol sama beliau, beliau nanya tentang jenis-jenis clustering algorithm untuk imaging.

Nah tiba-tiba saja saya tersadar, saya telah membuat banyak jaring-jaring pertemanan dengan topik yang spesifik. Ada group main-main, group curhat galau, group ngobrolin bangsa, group ngobrolin teknologi, group pengajian, dll.

Saya ingat pernah membicarakan ini dengan teman saya, tapi belum memformulasikannya dalam tulisan. Jadi, intinya mah gini, saya suka mikir ada beberapa premis yang bertentangan:

#1 Kita harus bisa jadi rahmatan lil alamin, menjadi cinta untuk semua, berbuat baik kepada sesama. Kita juga diperintahkan untuk menjaga tali silaturahmi.

-> Jadi gak boleh pilih-pilih teman?

#2 Kalau berteman dengan penjual ikan asin akan ketularan amis, kalau berteman dengan penjual parfum akan ketularan harum.

->Jadi harus pilih-pilih teman?

Nah, saya pikir solusinya sebenarnya simpel. Buatlah klaster pertemanan dan kuantifikasikan seberapa besar kedekatan kita dengan group tadi untuk masing-masing aspek. Dengan demikian kita bisa menerapkan filter yang cocok untuk masing-masing klaster.

Dengan membuat batasan tadi, kita jadi tahu kapan kita perlu mengambil value dari teman atau guru kita. Sebab, kita tidak akan bisa ahli dalam bisnis jika kita berguru pada guru sains yang tidak punya pengalaman bisnis. (Jadi inget kalau pelajaran kemuhammadiyahan dulu disuruh menghapalkan guru-guru Ahmad Dahlan mulai dari ilmu falak, tassawuf, fiqh, dll)

Saya tahu ini terlihat simpel, tapi seiring kita terlena oleh hidup, kita jadi lupa akan hal ini. Tak jarang, kita mengikuti pendapat orang-orang yang seharusnya tidak kita ikuti untuk aspek tertentu. Maka dari itu saya tulis ini sekedar untuk merefresh dan reminder buat diri saya pribadi.

Hal ini merupakan semacam assessment untuk teman-teman kita, agar kita tahu apakah lingkungan kita merupakan lingkungan yang ramah atau berbahaya bagi prinsip hidup yang kita anut. Ya, agar kita menjalani hidup dengan lebih sadar.

2. Jalan (menuju) Inovasi

Sebenarnya ada beberapa hal yang mendasari munculnya topik ini di kepala saya.

1. Setiap kali orang menyinggung studi PhD saya

2. Kemarin Bona sedikit komentar dan mengira saya sudah ngerasain bikin start-up

3. Setiap kali ada yang ngajakin gabung di bisnisnya

Saya di ujung tanduk. Dan karena di ujung tanduk jadinya saya selalu menyiapkan mental saya untuk segala situasi. Tapi silver-lining dari semua ini adalah saya dipaksa untuk belajar basic dari banyak area di Electrical Engineering.

Saya jadi menyadari kalau banyak sekali yang bisa dieksplorasi, termasuk untuk area yang saya geluti: signal processing, spesifiknya lagi radar. Banyak juga kok start-up dibidang ini, termasuk yang cukup seksi terkait biomedical imaging. Terakhir ngobrol sama dosen pembimbing TA juga beliau lagi ada proyek radar bersama LEN.

Nah bicara soal start-up yah, sebenernya saya tuh belum pernah bener-bener ngerasain bikin start-up. Dan lagi sehabis ikut tes Entreprenurial DNA Profile, dan baca bukunya, saya jadi sadar seperti kata Ade, saya orangnya bisanya menginisiasi tapi sulit me-manage. Saya jadi ingat, ibu saya sempat cerita kalau temennya yang konsultan bisnis juga bilang kalau ibu saya jenisnya sama. Gatau deh kalau ayah saya.

Dan meskipun belum pernah sampai launching, saya pernah terlibat di beberapa start-up yang masih dalam pengonsepan dan prototyping sembari mengerjakan proyek-proyek. Di situ saya memahami bahwa cari partner bisnis itu bener-bener harus sama orang yang klik sama kita sebagai rekan bisnis, bukan hanya sekedar klik sebagai teman. Selain itu soal prototyping juga, harus bisa bikin produk itu jadi dulu meskipun fiturnya minim. Dan tentu ini soal teknis banget. Makanya perlu buat punya knowledge dan skill lebih.

Terkadang saya tuh gatel sih. Kadang terlintas mau quit dan join sama temen saya yang memang punya ambisi untuk bikin technological based company yang isinya PhD dropouts. Serius, saya pengen banget bisa join sama mereka, karena kami punya visi yang sama. Gak sekedar bikin technological company, tapi visinya juga ingin membangun kolaborasi riset dengan ITB dan universitas-universitas di luar. Dan karena mereka adalah orang-orang gila dan saya udah lihat gimana kegilaan mereka. Bukan cuman smart, tapi guts mereka bro, they’ve got balls!

Tapi rupanya sampai sekarang saya masih di sini. Masih di ujung tanduk tapi jatahnya masih jadi PhD student. Risk-taking sih, riset saya pun rasanya masih jauh dan bukan sesuatu yang populer. Kalau akhirnya saya bisa ada di posisi aman, maka ini bisa turn the tables. Aneh sih, tapi saya percaya apapun yang terjadi nanti, semua akan ada hikmahnya.

Di waktu yang tepat nanti saya akan menemukan gap yang tepat pada market, dengan market yang tepat pada gap tersebut. Saya percaya.

Lagipula saya percaya jalan hidup orang unik. Tidak bisa dibandingkan. Sama halnya dengan Shannon yang hanya bikin sepuluh journal papers tapi sangat signifikan, nggak serta merta publish or perish kayak yang pernah saya tulis. Intinya ada banyak cara kok, tidak selalu pola yang umum adalah parameter yang tepat.

Saya terkadang tergoda untuk membanding-bandingkan. Dulu semester satu kayaknya saya udah mulai simulasi gitu sedangkan teman-teman saya belum. Tapi sekarang semua udah mikirin bahkan ada yang udah QE tapi saya masih kuliah. Mungkin memang jalan saya berbeda sama mereka, itu aja. Dan saya juga seharusnya paham, dari dulu jalan hidup saya unik. (paragraf ini sedikit curhat)

3. Tantangan Beristiqomah

Akhirnya tiba di bagian yang paling berat. Tapi tetep mau nulis aja deh, biar nanti jadi tamparan buat diri sendiri juga.

@rousyan cepcep. demi phd termuda indonesia fik. demi ridha Allah sih sebenernya.

Jadi memang saya percaya sekeras apapun kita berusaha untuk dunia, sehebat apapun pencapaian di mata dunia, itu tidak akan ada artinya jika kita tidak memperoleh ridho Tuhan.

Screenshot_2014-03-05-16-54-01-1

Ya, memang “alaa bi dzikrillahi tathma’inul quluub” ini selalu terngiang ( karena punya kaligrafi ini di rumah Jogja dulu, jadi tiap hari lihat :p). Di kala hati gelisah, galau karena ini itu, sebenarnya itu semua karena kita tidak mengingat Tuhan. Karena iman kita tipis, setipis pertahanan kita dari godaan dunia. Sebab, tidak ada kamus kalah, sedih, sakit hati, dan putus asa bagi orang-orang yang beriman. Ya itu tadi, semuanya soal kecil, mulai harta, tahta, jodoh, itu semua hanya daur ulang aja. Kalau kita ridho sama ketetapan Tuhan kita tidak akan pusing.

Lagipula sebenarnya yah, kalau pake istilah Your Job is Not Your Career, dimana kita bisa berganti-ganti dan dipecat dari pekerjaan tapi karir adalah perjalanan panjang dari kita, sebenarnya Your Supervisor is Not Your Owner. Bos kita tuh sebenernya bukan bos kita permanen, bukan pemilik kita. Pemilik kita sesungguhnya adalah Dia yang “invest” ke kita untuk jadi wakilnya di muka bumi, dan kita gak akan bisa lari dari itu. Gak akan dipecat.

Konsekuensi dari hal ini adalah, kita harus berislam secara kaffah. Tidak bisa cukup belajar fiqh-fiqh saja, tapi tidak bisa juga hanya berislam ala “syekh siti jenar” juga. Harus komplit. Dan memang jadi keliatan sangat berat.

Gimana nggak berat, baru mau ngomongin orang udah salah. Kalau kita ngomong sesuatu tapi nggak melaksanakannya nanti dosa, dosa merugi, merugi masuk neraka.

Tapi memang seperti itulah adanya. Terasa berat karena belum terbiasa mengerjakan yang benar. Sebenarnya soal “tantangan sih”. Tantangan berat. Dan tantangan berat itu sering terjadi karena belum tahu ilmunya.

“Mengingat Allah adalah seberat-beratnya pekerjaan, bagi mereka yang belum tahu ilmunya.”

Tapi yang sudah tahu pun, perlu berlatih. Awalnya setiap mau nembak harus keker-keker dulu, tapi karena sudah berlatih lama-lama jadi penembak feeling. Sekali tembak kena.

Nah, ini membawa saya kepada sebuah refleksi diri. Hal yang selama ini saya rasa paling berat adalah menjadi istiqomah. Saya ingat, di penghujung tahun 2011 saya sedang patah hati. Lalu saya minta evaluasi dari seseorang. Orang itu bilang,

“Apa ya fik, mungkin kurang istiqomahnya sih kayak yang lo bilang.”

Dan sekarang sudah tahun 2014 dan itu masih jadi setengah misteri buat saya. Awalnya sih satu misteri penuh karena saya benar-benar angin-anginan, pemuda tanggung. Secara ideologi dan pemikiran, saya bisa bilang saya sudah Islam, tapi kalau soal kelakuan, rasa-rasanya saya masih bagian dari:

“Kemuliaan Islam tertutupi oleh ummatnya”

Maka saya terus mencari tahu ilmu tentang istiqomah ini. Hingga akhirnya tahun baru kemarin saya mendapatkan jawabannya dari guru saya.

“…..Jadi begitulah. Dulu mereka jaman mahasiswa kan masih aktivis masjid, belum ada godaan apa-apa, sholat dhuha, tahajud masih kenceng, puasa senin kamis. Sekarang godaannya tambah besar, tapi pertahanannya makin tipis. Makanya kalah. Dan jadilah mereka menjadi orang-orang yang korupsi, yang tidak baik, dan melanggar aturan Tuhan”

“Pak, Bapak tadi sudah cerita ada banyak contoh bagaimana orang yang tadinya baik sekali tiba-tiba bisa berubah menjadi tidak baik. Lalu, bagaimana caranya agar istiqomah Pak? Sedangkan katanya iman itu naik turun.”

“Iman memang naik turun, tapi orangnya kan tidak. Mengerti?”

“Mengerti.”

Bohong. Sebenarnya saya tidak mengerti waktu itu. Tapi kalau dijawab tidak mengerti kok rasanya saya bodoh sekali. Memang terkadang butuh waktu yang sangat lama untuk mencerna pembicaraan seperti itu. Terlalu dalam untuk sekedar dicerna dengan bahasa dan logika.

Tapi tadi siang akhirnya saya ngeh bahwa yang dimaksud adalah kendali diri. Iman itu akan selalu naik turun. Tapi kita sebagai manusia bisa mengendalikan diri kita. Kita bisa memilih respon. Problemnya adalah ketika iman kita sedang turun, kita malah sering memilih untuk terlena dan terbawa arus. Ibadah jadi lebih malas! 

Seharusnya: tidak peduli iman naik atau turun, kita tetap fokus dalam beribadah, tidak membuat excuse. Itu yang susah! Melawan godaan dan ego. Jangan malah mikir gini

Gue males ibadah ini juga udah takdir.

Gak bisa bilang gitu men. Karena Tuhan itu mengikuti persangkaan hamba-Nya. Ujung-ujungnya sih, misterinya memang sudah setengah terpecahkan karena akhirnya saya paham teorinya. Tapi memang praktiknya masih jauh sekali. Kelakuan saya masih jauh dari pemikiran-pemikiran dan tulisan bijak (kalau pas yang bijak) yang ada di blog-blog ini.

Honestly akhir-akhir ini saya sempat merasa gersang. Pengen menuntut ilmu agama dengan lebih lagi. Salah satu yang bikin tambah pengen belajar adalah karena ada orang di facebook saya yang tiap hari status updatenya tentang fiqh terus dan saya gak paham istilah-istilahnya. Tapi ya kegersangan itu belum dikonkretkan.

Selama ini tuh saya rada sombong karena merasa dari kecil sudah belajar di sekolah-sekolah agama (walaupun gak yang segitunya sampe ikutan pesantren). Kalau boleh pake istilah Mario, dia selalu jawab gini tiap ada orang ngajak pengajian injil di kampus, gue udah kenal Yesus dari kecil, gue sekolah di sekolah kristen terus. Dan ada fase dimana saya fokus sama “siti jenar” style, sehingga menyepelekan ilmu-ilmu fiqh.

Tapi makin ke sini jadi sadar kalau saya udah mulai lupa semuanya karena udah lama ga belajar. Pas dulu SD rasanya apal surat ini deh, begitu dicoba lupa. Dulu di rapor Quran Hadits pernah dapet 10 deh, tapi apa coba yang diapal sekarang? Dulu Bahasa Arab pernah dapet 10 deh, tapi begitu twitteran sama anak MAN pake bahasa arab, bingung jawabnya.

Sekarang akhirnya sadar bahwa saya harus mulai lagi belajar dan berlatih dalam beribadah. Semoga diberi kekuatan oleh Yang Di Atas.

—-

Fyuh akhirnya kelar juga nulis tiga topik ini. Ternyata panjang dan tetep njelimet. Saya harus berlatih biar nggak njelimet dan lebih gampang dicerna nih. Dan kayaknya nanti perlu dipecah lagi jadi tiga post independen.

Sama sekalian pengen nulis ide tulisan berikutnya. Pengen bikin tulisan yang agak serius, yang banyak mikirnya:

1. Mitos Ilmu Ghaib dalam Tatanan Politik

2. Konstelasi Politik-Teknologi-Masyarakat

#biasanyawacanadoangsihkaloditulisgini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s