The Missing Piece Meets the Big O + Flatland, lalu Ke Cocoklogi

Bukannya saya suka mikir yang berat-berat, tapi kalo lagi boker kan pikiran suka melayang kemana-mana.

Jadi saya teringat bahwa pas tingkat 3 Adehazril pernah ngasih tau saya kalau dia pernah ngasih kado buku The Missing Piece Meets the Big O buat seorang wanita yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. #halah

http://www.youtube.com/watch?v=MCmZ2jrQooE

Lalu pernah suatu hari saya dan seorang teman (cowok) menonton video ini waktu kami tingkat 4 atau 5 bersama teman (cowok) yang lain di lab. Besoknya videonya dipost sama seorang cewek di tumblrnya.

Yah cukup segitu flashbacknya. Lalu saya kepikiran mau bikin yang kayak gitu. Hal yang simpel, tokohnya simpel tapi maknanya dalem. Mikir gini karena cerpen saya yang tentang Ketika Cinta Gundah Gulana punya model serupa.

Lalu saya pun jadi mikir-mikir. Keren juga kalau bisa bikin semacam Flatland. Dia pernah dijadikan Einstein untuk menjelaskan konsep 4 dimensi.

Ngomong-ngomong soal Flatland, saya dulu sama Afin pernah bahas Flatland ini untuk cocoklogi. Mikir kalau berarti mukjizat, Isra’ Mi’raj dan lain sebagainya itu bukti bahwa kita ada dimensi yang lebih rendah. Mungkin sebagai manusia kita lihat itu ajaib, padahal bagi Makhluk di dimensi yang lebih tinggi itu biasa.

Nah, lalu berujung kepada pemikiran saya tentang cocoklogi. Menurut saya secara saintifik kita tidak bisa menggunakan cocoklogi untuk membuktikan kebenaran agama. Karena yang seperti itu tidak bisa dibuktikan secara empiris. Tapi sebagai orang beriman, kita sepertinya boleh berfilosofi dan mengambil analogi untuk memperkuat keyakinan kita, selama itu sifatnya personal belief. Sebatas cara kita merasa bahwa Tuhan itu ada.

Tapi ini menimbulkan masalah saat pemahaman seseorang berbeda satu dengan yang lainnya. Saya pernah ngobrol sama salah satu dosen di sini. Kata dia, dulu supervisornya bilang kalau dengan sains, kita bisa merasakan bahwa Tuhan itu ada, meskipun tak bisa dijelaskan. Si dosen ini sendiri merasa menemukan Tuhan lewat fractal.

Suatu ketika kami pernah sedikit berdiskusi tentang pemahaman agama yang kami cocok-cocokkan dengan sains. Saya ambil analogi rangkaian listrik, beliau ambil analogi massa jenis bahan kimia. Hasilnya tidak cocok.

Saya sempat bertanya dalam hati, agama harusnya saintifik, tapi mengapa bertentangan. Ada sesuatu yang mengusik hati saya, entah beberapa bulan lalu.

Masalahnya sekarang kalau kita percaya kebenaran absolut itu ada (agama) seharusnya tidak bisa lagi kita pakai model dependant realism.

Tiba-tiba saya mendapatkan “aha” moment. Iya rupanya sebenarnya kita lupa bahwa level abstraksinya berbeda. Kita tidak bisa menjamin cocoklogi yang menganalogikan agama dengan apa yang ada dalam sains. Sebab dimensinya berbeda. Karena dimensi agama lebih tinggi.

Ini seperti antara mekanika newton dengan mekanika quantum.

Iya rupanya seperti itu.

Sebenernya ada lagi sih mau ditulis di log, tapi udah mau pulang deh. Kind of feeling bored gitu di lab.

*inspirasi diperoleh saat boker hari ini sambil dikejar waktu karena mau dateng seremoni lulus mata kuliah teaching assistant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s