Usikan Singular

Judulnya nggak akan berkaitan dengan postingannya. Postingan ini lebih ke curhat casual. Hanya ingin menuangkan sedikit rasa bahagia yang saya dapatkan. Makanya pilih yang judulnya catchy juga.

(inti kebahagiaan ada di akhir sekali dari post ini)

Beberapa hari lalu Shinta Trisna, pacarnya temen saya Riko Fajar ngeline saya. Meskipun belum pernah ketemu kami beberapa kali chatting dan saya sempat curhat-curhat gitu dari sebelum memulai hubungan dengan seseorang sampai mengakhirinya, termasuk ngeshare cerita-cerita fiksi dan lagu absurd saya. Line itu akhirnya membuat saya teringat bagaimana saya pertama kali ngeblog.

shinta

Before Friendster, WordPress, and So On

Sebelum dipinjemin buku itu sama Riko, saya mah bukan tipe-tipe nulis diary gitu kok (walaupun saya inget jaman SD pernah ada virus buku harian dan saya kayaknya sempet nulis itu beberapa kali; yang pake ngisi biodata, mivo, mavo, juga; light years before friendster and facebook). Tapi saya memang hobi bikin puisi dan cerita fiksi untuk bikin komik dan juga surat cinta.

Saya dari dulu orangnya suka banget cerita dan hiperbolis, selain itu hobi berdiskusi, berdebat, dan berargumentasi; gara-gara itu nggak jarang teman-teman bahkan guru yang kesal sama saya; kalau keluarga saya sih sudah menerima saya begitu adanya :p. Karena kesal dengan teman-teman yang kesal sama saya, saya akhirnya sempet curcol di binder. Saya lupa redaksinya, yang jelas kakak kelas saya pas SMP bernama Roro Dinar sempat membacanya dan bilang tulisan yang dimotivasi oleh kesedihan karena tidak pernah dimengerti oleh orang lain tersebut bagus.

[Oh iya, jadi ingat, ybs dulu dipuji sama guru SMA saya karena puisinya keren. Lupa juga redaksinya tapi kalau boleh diplesetkan dan digubah jadi versi saya bitnya jadi seperti ini:

kau anggap cinta kita embedded system

yang bisa kau bongkar pasang,

tapi hati-hati, aku pun juga bisa menyiramnya dengan air

hingga ia fail dan tak bisa beroperasi lagi.]

Blogging

Setelah dipinjami buku Kambingjantan oleh Riko, saya jadi tertarik ngeblog. Alasannya simpel, karena saya merasa kisah hidup saya nggak kalah tolol. Setiap harinya pasti ada ketololan yang saya lakukan.

Tapi entah mengapa saat membuat blog di friendster (dengan username memintalwaktu) jadinya justru malah kontemplatif gitu. Heran, usia belum 15 hidupnya kayak udah melankolis amat gitu loh.

Waktu kuliah akhirnya bertemu teman-teman sejenis di K-06. Waktu itu blogging kayanya seru banget, apalagi kalau lihat postingan di blog Sabrina yang banyak banget dan ceritanya aneh-aneh, bukan blognya yang sekarang http://kepik.wordpress.com/ tapi honeyglazedchicken blahblahblah.

Motivasi Ngeblog

Saya juga semakin ingin ngeblog setelah saya konsultasi dengan psikolog di Bimbingan Konseling ITB saat tahu usia saya belum 16 tahun:

Oh, pantesan, masih mencari jati diri ya? Cobalah kalau misalnya kamu lagi sebel, marah, kamu tulis itu. Setelah kamu tulis, kamu cari, apa penyebab kamu marah. Belajarlah memahami diri sendiri, karena yang bisa memahami dirimu ya cuman kamu..

Kayaknya (dilihat dari postingan blog saya) dulu saya sangat ter-inspirasi oleh kata-kata psikolog ini. Makanya saya jadinya ngeblog. Bikin banyak blog. Dan sampai sekarang saya punya banyak blog, mirip alter ego gitu. Ada yang memang beneran anonymous, ada juga yang half-anonymous.

Tapi ya gitu, saya mah bukan orang yang ingin jadi seleb blog, atau nulis blog diisi yang berat-berat biar keliatan kayak aktivis. Blog saya isinya mah beneran untuk self-discovery. Karena katanya dulu saya baca di suatu buku, “Siapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhan-Nya.”

Selain itu pada dasarnya saya sangat suka cerita. Tapi gak setiap hari saya bisa cerita ke orang, dan pada dasarnya saya adalah orang yang sering merasa kesepian. Bukan apa-apa karena apa yang tidak saya ceritakan meskipun terkadang ingin, jauh lebih banyak dan dalam daripada apa yang saya ceritakan di sini.

“Nothing makes us as lonely as our secrets.”

— Paul Tournier

Nggak Kayak ‘Aktivis’

Dan di sini jatuhnya saya lebih banyak menggunakan blog untuk bermeditasi, untuk memainkan perspektif saya atas apa yang terjadi dalam hidup saya. Lama-lama hal ini menjadi sebuah kebiasaan yang sangat sulit untuk ditinggalkan. Rasanya saya ingin suatu saat kemampuan menulis saya bisa menyamai kecepatan berpikir saya. 

Dari dulu saya juga nggak terlalu peduli sama pencitraan dan lain-lain. Mungkin saya adalah satu-satunya orang yang pernah jadi MWA Wakil Mahasiswa yang punya banyak blackmail di internet. Saya dulu pernah bikin foto-foto aneh termasuk video lypsinc Aura Kasih yang freak sekali.

Tapi emang kadang ga bagus juga sih. Pejabat kampus kok galau. Tapi saya mah tetap saya, nggak peduli citra dan ga peduli populer juga sih.

Seseorang pernah bilang kepada saya:

“Kalau baca blog kamu tuh beda sama aktivis-aktivis lain. Biasanya mereka isinya pemikiran-pemikiran dan kisah hidup mereka yang membosankan. Kalau kamu tuh ada galaunya juga.”

Hasna Tsaniya juga bilang kepada saya kalau saya tuh galaunya kayak beda gitu, galau yang tenang. Hahaha. Mungkin karena saya sudah beradaptasi dengan kegalauan berkepanjangan kali ya?

Menambah Konten di Internet

Saya teringat kata-kata Mas Ivandeva, bahwa jaman sekarang ini kita harus berupaya membuat konten. Dan menurut saya itu efek samping dari ngeblog.

Terkadang apa yang saya tuliskan rupanya berguna untuk orang-orang. Kadang mereka mengambil tulisan saya untuk dipublish lagi, ada juga yang menjiplaknya.

Tapi senang sekali saat tahu bahwa tulisan kita ada yang baca, bisa bermanfaat bagi orang lain. Bahkan nggak jarang ya, orang-orang itu merasa “ada sesuatu” dari tulisan saya. Terkadang ada orang-orang yang lebih tua yang ngeadd saya, kirim message bilang terinspirasi dan lain-lain. Padahal saya nulisnya ya biasa aja. Mengalir aja. Dan honestly, kadang saya kalau baca-baca lagi juga heran, kok bisa saya menulis seperti itu.

Tapi dari situ saya mulai paham inti dari semua ini. Seperti kata Paulo Coelho, “The novel wrore itself, the writer only typed it.” Sebenarnya cerita hidup saya bukanlah milik saya. Cerita ini mengalir sendiri, saya hanya memerankannya.

Dan lebih dari itu kisah hidup kita adalah bagian dari kisah hidup seluruh ummat manusia. 

Kita hanyalah medium, dan kisah hidup kita, sekalipun sepertinya kita yang menjalaninya, yang berpeluh-peluh, adalah usikan saja.

Dan saya sangat senang sekali bisa berbagi cerita dan menuliskannya!

(Karena memang bercerita adalah bagian dari kebutuhan bagi orang penyendiri dengan sedikit teman seperti saya. Hahahaha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s