Creating an Engaging Class-Membuat Kuliah Jadi Menyenangkan

Postingan ini akan dibagi menjadi dua part: sesi curhatnya (dalam Bahasa Indonesia), dan sesi berbagi ilmunya (dalam Bahasa Inggris)😀

I divided this post into two sections: the confiding section (written in Bahasa) and lesson sharing section (written in English).

Part 1

Sedikit curhat saja, semester ini saya baru benar-benar merasakan yang namanya kuliah. Inipun karena dipaksa keadaan. Dalam artian, ga sekedar dateng, tapi ya belajar dulu sebelum masuk kelas, berusaha memperhatikan dosen (meskipun sulit kalau misalnya gadget kita nyala sih😀, kadang juga tetep sambil baca Naruto), bertanya apabila ada yang tidak diketahui, lalu mengulang kembali pelajaran meskipun ujian masih lama.

Hal seperti ini belum pernah saya lakukan sebelumnya. Bukannya bangga (dan sebenarnya sedih), tapi saya dulu waktu S1 males-malesan sekali (lebih semangat ngerjain hal-hal lain). Jaman TPB saya masuk 3 besar orang yang paling sering bolos di kelas kalkulus 06. Dan saya sangat jarang kuliah (kecuali yang butuh absensi :D), ada yang saya cuman masuk dua kali selama satu semester (satunya ujian pula). Dan akhirnya sesalnya ya sekarang, kenapa dulu saya nggak disiplin, nggak pernah berusaha maksimal jadi nggak pernah tau bates saya seberapa.

Nah, pada kuliah Graduate Teaching for Teaching Assistant semester lalu (yang diakhiri dengan praktek mengajar), hal ini menjadi topik pembahasan. Seperti apa sih kelas yang interaktif? How to make an engaging class?

Tenggarong

Kalau tidak salah, pada diskusi di kelas akhirnya saya bercerita tentang kelas Media Interaktif yang pernah saya ambil jaman kuliah di ITB. Kelas ini merupakan kelas yang diselenggarakan oleh prodi DKV.

Saya pun menceritakan bahwa di kelas itu kami selalu diberikan contoh-contoh dengan membawa permainan-permainan tradisional dan dipertontonkan video-video contoh media interaktif. Selain itu kami juga dibagi ke dalam beberapa group untuk akhirnya membuat aplikasi. Ini dia anggota goup saya beserta program studinya:

  1. Karima Nurahmi Yulia – DKV ’08
  2. Moerdiani Dyah P (Diong) – DKV ’08
  3. Lukman Maulana – DKV ’08
  4. Halida Astatin – IF ’07
  5. Syarif Rousyan Fikri – EL’07

Kelas ini sangat berkesan karena kami akhirnya benar-benar membuat sesuatu. Walaupun tidak dipergunakan secara luas, tapi kami menghasilkan produk hasil kolaborasi berbagai ilmu. Kami membuat sebuah game modifikasi dari ular tangga, serta sebuah peta budaya interaktif dari kabupaten tenggarong. Saya kebagian mengimplementasikan terakhir, sementara untuk game diserahkan pada Atin yang merupakan anak IF.😀

Ini dia link untuk aplikasi yang saya buat. Agak berat karena 30 MB dan saya sudah tidak tahu lagi file aslinya dimana :))

https://dl.dropboxusercontent.com/u/17558289/MedinFinal.swf

Sebenarnya karena ingat kisah ini, lagi-lagi saya jadi menyadari kalau dalam dua tahun ke belakang sama sekali nggak bikin apa-apa hiks-hiks😦

Tapi sejujurnya kelas yang interaktif itu memang harus bisa men-challenge higher level of thinking dari seseorang. Dalam dua kelas yang saya ikuti, kebetulan ada bagian yang diajar oleh dosen yang sama. Dia sering mengajukan pertanyaan yang bersifat praktek dan menguji daya kritis, jadinya saya semakin penasaran dan mendengarkan.

Part II

For a long time, I have been complaining about the way teachers or lecturers teach me. As we were doing the engaging class simulation, I finally realized that teaching is not an easy job to do. It is not just about teachers giving lecture and students attending the class, it is about interaction in the class that really matters in the learning process. The quality of this interaction will determine whether a class is an engaging one or not.

We can further divide the approach of engaging class into active learning and collaborative learning. Both approaches are essentially intended to boost the enthusiasm of students. The first approach is more focused to the interaction between teacher and students while the second approach is more likely to emphasize the learning process in the interaction of student with their peers.

As for myself, I would prefer the active learning approach. In active learning approach, the focus is put on students’ active participation. The purpose of this approach is to keep students aware and connected to the learning process that takes places in class.

There are many methods that can be incorporated into this approach. Various media which contains visual representation or practical example can be very helpful to maintain the student’s interest to learn. Two-way communication must also be maintained in form of question and answer while the session is going on.  Of course, providing breaks and friendly environment in the class is a must to support the active learning process. However, the most important thing while designing an active learning lesson plan is to make sure the student could participate in the process of constructing a concept by following their thinking flow.

On the other hand, there are a few common mistakes that make a class not an engaging one. Teachers have tendency to give a lot of information and forget to relate those facts to the concept that is being taught (dry facts). In such a situation, students will encounter difficulty in putting those facts to the big picture. In another case, teachers teach monotonously and forget to bring up the two-way communication. These things should be avoided in order to conduct an active learning in class.

In my own field, which is electrical engineering, many visual representations or practical examples can be given during a lecture. We may use some computer program or animation to show some concept to students. There are also a few cases where we could perform a simple experiment in class which requires students to actively observe and participate on it.

I realize I am still far away from an ideal active learning facilitator. I will improve my confidence and mind-set to be able to facilitate an active learning. One of the most important things to keep in mind is to appreciate every student’s opinion or answer to the question we give. It often happens that I forget to appreciate every response from audiences just because their response is not like what I expect I may get from them. So, whenever they give response, I will respond it by saying appreciative saying such as, “It is a good question,” or “What an interesting opinion.” I think I could practice it every time I have the chance to present something, including research progress presentation in my team with my supervisor.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis tentang topik ini, tapi sementara ini dulu.

I still have a lot of thoughts in mind, but I guess this is it for now.

5 thoughts on “Creating an Engaging Class-Membuat Kuliah Jadi Menyenangkan

  1. Eh fik, jadi penasaran, udah pernah ngambil mbti personality test blm? Kamu apa? Soalnya aku bingung, katamu kan kamu kalo punya ide loncat-loncat (scattered and not connected?), tapi kalo dilihat-lihat lagi, tulisanmu flow-nya rapi lho fik (ato emang karena kamu jago verbal/bahasa ya? bahasa inggrismu juga rapi bener). Apa emang seimbang ‘P’ ama ‘J’-nya?

      1. Lah kamu introvert fik? Hahaaa, iya sih…
        Wah, kok jauh ya P ama J-nya? Mungkin gara-gara itu deliberate ya, jadinya flow-nya rapi, tapi bagus lho fik. Aku aja walopun deliberate masih kaco banget flow-nya😥

        Ini punyaku: http://www.mypersonality.info/arumjeni/
        Kapan hari itu udah kutulis kan, pengennya jadi ESTJ, hahaaa… Biar bisa lebih rapi mikirnya>:D

      2. Atau mungkin karena ada T nya yah? Jadi rapih dibandingkan org yg F?
        Tapi itu tuh suka ganti-ganti tauk mit. Kayaknya pas jaman kuliah tiap tes selalu ENFP. Baru skrg aja jadi INTP..
        Hidup sudah membuatku jadi lebih pemalu di dunia nyata tapi lebih sering nulis di blog :”>

      3. Wah, kalo aku tes ENFP terus, hahaaa… Mungkin karena pas kuliah dulu, temen2mu pada klik semua ama kamu, jadinya ekstrovert *sotoy*.

        Tapi kan kita sama-sama intuitif fik, itu malah menurutku yang lumayan bikin ga rapi juga. Perpaduan intuitif sama perceiving itu sih kayaknya yang bikin ga rapi, apalagi ditambah F juga kalo aku. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s