Gimana orang jaman dulu kepikiran untuk bernegara?

Pernah nggak sih lo bangun pagi dan berpikir, sejak kapan sih kita care bahwa hukum harus ditegakkan? Sejak kapan pemerintah harus jadi akuntabel? Kenapa gue terlahir di Indonesia? Kenapa bisa ada negara-negara? Kenapa sekarang demokrasi diagung-agungkan sedangkan jaman dulu monarki populer pisan? Kenapa negara ada yang maju ada yang enggak? Kenapa ada inequality di dunia ini?

Pertanyaan seperti ini menarik. Dan ketika itu berangkat dari rasa ingin tahu yang otentik, maka mempelajari yang namanya sejarah, ekonomi, sosiologi, atau antropologi menjadi asyik. Beda sama kalo kita belajar karena terpaksa.

Gue sendiri karena penasaran akhirnya mencoba nanya-nanya orang. Ada beberapa orang merekomendasikan beberapa buku. Di antara buku yang tersohor adalah Gun, Germs, and Steel. Konon, buku itu banyak memperhitungkan faktor lingkungan dan geografis sebagai pemicu evolusi peradaban manusia. Lalu ada lagi yang bilang, “mendingan lo baca ini aja, sebenarnya anti-tesis-nya sudah ada di buku Why Nations Fail (yang lebih menekankan bahwa semua itu karena institusi politik yang dibuat manusia)”. Faktor geografisnya sama bisa aja hasilnya beda dengan institusi politik yang berbeda.

Nah, lalu akhirnya saya menemukan sebuah buku yang menarik waktu jalan-jalan di toko buku sekitar satu setengah tahun lalu. Bukunya berjudul The Origins of Political Order. Yang menarik dari buku ini, ada tinjauan dari sudut evolutionary biology untuk membandingkannya dengan perspektif filsuf legendaris jaman dulu, dan juga dia mengambil contoh perkembangan peradaban manusia (munculnya state) dari negara-negara Asia, bukan Eropa.

Jadi kalau menurut buku ini, dari spesies yang masih sodara deket ama kita, sudah ada kecenderungan untuk berpolitik sebab hierarki sosial. Kumpulan simpanse dipimpin oleh Alpha Male dengan otoritas yang didapatkan, bukan diwariskan. Ya intinya mah manusia itu sebenarnya makhluk sosial (individunya sendiri altruist), dan bukan individualis dari sononya. 

Tapi, gimana yah namanya manusia. Kita tuh doyan berantem tapi juga doyan berkoalisi. Dan kalo berkoalisi, kita bakal pilih-pilih, pilih yang bisa dipercaya. Makanya, kalo cuman ada kita dan sodara kandung, kita akan berantem. Tapi begitu ada sepupu, nanti kita sama sodara berkoalisi untuk melawan sepupu. Lalu nanti kalo ada tetangga, kita, adik kita, dan sepupu kita, ngelawan tetangga. Ya, ternyata manusia itu punya preferensi terhadap orang-orang yang punya pertalian darah atau hubungan kekerabatan (gen-nya  sendiri selfish). 

Seiring dengan berkembangnya peradaban, kemampuan manusia dalam memikirkan hal-hal yang abstrak pun memunculkan hal-hal seperti norma, kepercayaan, dan ideologi, yang banyak mengatur tatanan sosial.  Dan hal-hal seperti norma yang diterima masyarakat menjadi hal yang secara otopilot dipatuhi manusia, menentukan bagaimana dia menjalani kehidupannya. Hal ini juga yang menyebabkan akhirnya manusia mengenal konsep kepemilikan properti.

Hal-hal ini yang ke depannya akan mengekstensifikasi kekerabatan dari yang tadinya sekedar masalah hubungan darah, menjadi hubungan ideologis.

Hal-hal inilah yang seiring dengan waktu mulai menyusun dan menjadi pemicu bagi evolusi tatanan politik manusia. Dari yang tadinya keluarga menjadi gerombolan keluarga hingga akhirnya menjadi gank satu suku. Nanti beberapa suku yang masih punya kesamaan leluhur juga bisa koalisi lagi.

Nah, terus gimana awalnya sekumpulan suku-suku ini bikin sesuatu yang formatnya seperti negara, dimana ada suatu otoritas sentral yang kuat yang mengatur suatu masyarakat lintas suku?

Gue sebenernya penasaran banget ama hal ini. Siapa sih yang pertama ngasih ide buat bikin negara? Bayangin awalnya ada beberapa kepala suku lagi kumpul gitu, kongkow-kongkow di warung, terus satu orang gila bilang, “Broh, gimana kalo kita bikin kelompok yang lebih gede, gue jadi Raja. Nanti gue yang ngatur-ngatur lo pada mesti ngapain”

Tapi pertanyaan seperti ini tetep aja sulit dijawab. Terlalu banyak teori yang masing-masing punya titik lemah.

Ada yang bilang karena sekumpulan orang punya kepentingan yang sama lalu bikin kontrak sosial.

Ada yang bilang karena butuh buat bikin proyek hidrolik untuk hajat hidup orang banyak.

Ada yang bilang karena populasi yang sudah semakin padat.

Ada yang bilang karena produk kekerasan, baik itu karena diserang pihak lain atau karena capek perang antar suku.

Ada yang bilang karena batas-batas geografis.

Ada yang bilang karena ada seorang pemimpin karismatik yang menyatukan suku-suku (seperti saat Nabi mempersatukan suku-suku di arab).

Tapi masalahnya dari contoh-contoh yang diambil, kita tetep aja susah untuk menentukan gimana suatu negara yang otentik dan orisinil terbentuk. Sebab pada kebanyakan kasus, ada negara lain yang sudah jadi di sekitar suku-suku yang hendak bikin negara itu. Jadi ini bisa dibilang lebih kayak kompetisi, “Broh, itu mereka aja bikin negara, kita juga musti bikin negara neh biar gak kalah”

Fyuh, udah deh segini dulu nulisnya dilanjut kapan-kapan lagi. Nanti aing gak belajar buat quiz malem ini huahauahuahua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s