Tentang Punggawa Perubahan dan Sindrom 25, Teori IMP vs DRTK

Dari yang saya amati kalau bertemu dengan sesama anak ITB biasanya yang diomongin masuk 2 kategori: cinta atau obrolan mengawang. Bukannya obrolan seputar cinta tidak mengawang apalagi bagi para pejuang cinta yang sering patah hati atau gak enak karena mematahkan hati tapi kalau obrolan seputar idealisme agar supaya (redundan sekali) kita bisa bikin perubahan di dunia itu jauh lebih mengawang dari obrolan tentang cinta yang selalu tak terjangkau dan tak konklusif.

Contoh obrolan absurd yang mengawang di bus:

“Menurut lo gue cocok nggak jadi Menteri Pemberdayaan Wanita?”

“Enggak, lo cocoknya jadi Menteri Akhlak dan Cinta”

“Wanjir kalo gue menteri akhlak, hancurlah moral bangsa. Gue mau jadi Menristek aja”

“Lo nggak cocok jadi Menristek. Menristek tuh harusnya kayak Mabok”

“Lah Habibie aja jadi Menristek”

“Habibie kan geek”

“Serius lo, Habibie geek, ngapain jadi menteri coba?”

“Ya itu karena disuruh”

Oke, sebelum memberikan potongan-potongan lain. Siapa sebenarnya orang yang saya ajak diskusi? Dia seseorang berinisial IMP, seseorang yang membuat teori (sebut aja teori biar keren, sebenernya cuman khayalan filosofis) Tiga Kesempatan:

bahwa sebenarnya kita selalu diberi kesempatan 3 kali untuk memutar waktu pada suatu kejadian

namun aturannya, ketika kita memutar waktu, kita akan lupa akan hal itu

Sama seperti saya, IMP dengan teori-teori Fisika Sosial-nya adalah orang yang punya keinginan terpendam untuk masuk jurusan psikologi. Semasa kuliah, dia adalah sparring partner dengan jam terbang perdebatan paling tinggi yang mencakup berbagai tema di berbagai tempat dan kota. Dan kami lebih sering tidak mencapai kesepakatan bersama.

Nah berhubung saya lagi malas nulis, tapi karena saya habis quiz dan pengen refreshing, saya bikin aja notulensi singkat mengenai diskusi kami.

Tipe Kepribadian Pemimpin

Jadi di sini kita sedikit ngebahas gimana seorang leader bisa rise to power.

1. Artis

Tipe artis ini adalah sosok yang secara individu sangat menonjol. Tapi dia tidak punya basis massa yang kuat, sehingga satu-satunya cara untuk dia memegang kekuasaan adalah bertemu dengan tipe pencengkeram massa.

Tipe artis ini contohnya Jokowi dan Habibie. Sentuhan personal mereka-lah yang membuat mereka dicintai dan dikagumi oleh publik.

2. Pencengkeram Massa

Tipe yang ini adalah seseorang yang bisa mengikat massa, bisa mengkonsolidasikan kelompoknya dan ‘menggiring’ opini dari massa-nya.

Tipe ini seperti Megawati atau Soeharto mungkin. Dari segi tampilan di media mereka cenderung diam.

Terlepas dari dua tipe yang dikemukakan IMP, DRTK ingin menambahkan bahwa sepertinya ada tipe satu lagi

3. Pemanuver Elitis

Tipe ini adalah seseorang yang punya manuver politik tingkat tinggi, dan bisa mempengaruhi para elitis yang di antaranya merupakan pencengkeram massa. Jadi dia nggak harus punya kualitas pribadi yang bikin publik kagum atau respek, dia hanya perlu trust dan influence terhadap para konsolidator massa.

Oh iya selain itu sepertinya bisa juga dibagi berdasarkan positioning image-nya di media atau publik.

1. Tipe High Profile

Terkadang tipe high profile ini nggak nyadar meskipun mereka masang profile yang tinggi tapi mereka cetek. (ya menyedihkan)

Tapi memang ada yang high profile dan memang high.

2. Tipe Low Profile

Yang low profile bisa jadi karena memang merendah atau memang tidak terliput media.

Kepribadian-kepribadian yang dibutuhkan untuk Membuat Sejarah

1. Konseptor

Tipe manusia dengan gagasan yang terkadang melampaui zamannya. Jika mereka sukses melakukan kaderisasi maka gagasannya akan dieksekusi oleh anak didiknya dan berbuah. Mereka ahli dalam melihat big picture.

2. Eksekutor

Tipe manusia yang bisa materialize ideas, sangat ahli di hal teknis. Biasanya yang akhirnya terkenal ya para eksekutor ini.

3. Pecinta Sejarah

Tanpa adanya pecinta sejarah, maka cerita epic tentang bagaimana peradaban manusia berubah ke arah lebih baik akan terlupa. Merekalah yang akan menjaga agar runtutan sejarah tetap lengkap dan tipe konseptor tidak dilupakan oleh sejarah.

Ibaratnya nih, orang-orang paling taunya HOS Tjokro itu nama jalan, tapi kalau udah belajar sejarah nanti doi baru deh tau kalo Soekarno, Musso, sama Kartosuwiryo pernah beguru ke doi.

Lalu dimanakah IMP dan DRTK dalam tipe-tipe absurd yang dibuat tanpa basis ilmiah tersebut?

IMP mengklaim bahwa DRTK sebenarnya tipe artis dan konseptor. Waktu DRTK bilang mau jadi eksekutor juga, mau ngerti hal-hal detail, mau jadi geek, IMP kekeuh bilang DRTK gak akan cocok, lebih cocok jadi konseptor.

Hal ini membuat DRTK merasa dejavu karena dulu juga pernah ada sosok yang berinisial I juga mengatakan bahwa DRTK tidak cocok dengan hal-hal berbau keprofesian. Tapi DRTK telah membuktikan bahwa dirinya pun bisa.

Selain itu DRTK merasa bahwa IMP tidak sebenarnya menganalisis bahwa dirinya adalah tipe konseptor tersebut dan mengajak-ngajak supaya DRTK jadi konseptor juga.

DRTK sendiri tidak mau membatasi dirinya menjadi salah satu tipe, DRTK adalah seseorang yang percaya bahwa ada manusia-manusia yang diciptakan dengan banyak talenta, mereka fluid dan bisa masuk ke berbagai tipe sesuai kebutuhan.

 

[curcol session]

Lagian kalau IMP tahu masa kecil DRTK, DRTK ini geek abis, makanya email alaynya jaman SMP inisialnya DRTK. DRTK dari SD sudah rajin membaca ensiklopedia dan mempraktekkan percobaan-percobaannya termasuk bikin periskop dan film kartun pakai kumpulan frame yang digerakkan dengan cepat, dan lain-lain. Demi kecintaannya terhadap tamiya, DRTK sudah belajar mainan solder dari kelas 5 SD untuk melilit sendiri kumparan dinamo. DRTK juga dari dulu suka ngulik-ngulik berbagai software, membongkar-bongkar alat elektronik termasuk HP 7650 meskipun tidak bisa mengembalikannya secara sempurna. Hanya saja seiring dengan berjalannya waktu DRTK mencoba mencari dunia lain, yang lebih banyak bacot, makanya pake belajar orasi segala.

[end session]

Jadi kalau menurut DRTK, tipe-tipe tersebut tidak fix. Bisa berubah dan seseorang bisa saja multi-modal.

Sindrom 25

Setelah dua tahun lulus, kami berdua akhirnya berada di jalan yang aneh. Dulu DRTK berpikir bahwa ia akan berbisnis atau bekerja untuk multinasional company, sementara IMP diyakini hendak sekolah lagi. Tapi sekarang kebalik.

IMP berpendapat bahwa setiap orang akan merasakan sindrom 25 yakni sebuah sindrom dimana orang akan galau dalam melakukan reorientasi terhadap hidupnya.

Ya memang, kehidupan setelah menjadi sarjana tidak semudah yang ada di khayalan para mahasiswa. Mungkin jaman mahasiswa dulu rasanya untuk jadi rektor atau gubernur, atau menteri tinggal selangkah lagi karena bukan hal yang sulit untuk berbincang dengan mereka dalam situasi yang egaliter. Tapi setelah lulus semuanya langsung deh kayak mengawang di angkasa sana dan kita kayak butuh naga Indosiar buat terbang ke sana.

Tapi entah ya, DRTK sendiri merasa bahwa kegalauan seperti yang dirasakan IMP sudah dirasakannya meskipun dia belum 25. Terkadang DRTK punya teori seperti ini

mungkin hari ini orang-orang mengata-ngatai saya galau, sebab hari ini saya habiskan semua jatah kegalauan saya sehingga di masa depan saya tidak akan galau lagi. Dan kelak, jika beruntung, kalian akan mengalami kegalauan serupa dengan yang saya alami sekarang. Kalau tidak beruntung artinya kalian tidak akan berkembang HAHAHAHAHA (tertawa ala MR BLEK yang ada di Saras 008)

Ya mungkin akibat dari akselerasi dan pergaulan dengan bapak-bapak dan kakek-kakek yang umurnya jauh di atas DRTK, jiwa DRTK tidak stabil dan banyak merasakan kegalauan yang belum seharusnya. Bisa jadi. Atau bisa juga DRTK memang hanya masih labil saja.

DRTK percaya bahwa ada suatu masa dimana kegalauan konseptual akan berakhir namun kegamangan manusiawi dalam kadar yang kecil tetap ada. Artinya kelak akan tiba suatu masa dimana seseorang tidak galau lagi menghadapi hidup sebab ia paham hidup ini untuk apa, dan yakin bahwa Tuhan sendiri yang akan menjaminnya dan tidak akan mengaramkan bahtera hidupnya. Namun memang semua ada teknisnya, ada rukun dan syaratnya, hal inilah yang terkadang berkontribusi pada kegamangan dalam mengambil keputusan teknis.

Lalu konkretnya?

Ya sebagai orang yang ingin menjadi kon, kami sering mengakhiri perdebatan dengan hal apa yang bisa kita lakukan. Maka sebenarnya ada juga topik pembahasan mengenai Project Jangan Salah Jurusan. Maklum karena IMP adalah tipe konseptor murni jadinya wacana doang, maka bersiaplah tangan dingin DRTK untuk membawa progresss.

Hanjis, aing mulut besar pisan siah. Padahal kemarin-kemarin juga sama Mabok ada beberapa wacana juga belom beres. Ya tapi sebenarnya bukan masalah konkret ga konkret, saat ini memang ada hal-hal dalam hidup DRTK yang lebih penting dari mewujudkan ide-ide liarnya. Manuver yang lincah semasa kuliah sudah tidak bisa lagi dilakukan oleh DRTK pada periode ini, sebab DRTK sedang disuruh belajar fokus oleh Tuhan YME.

Sekian dulu wassalam!

*sebenernya pengen bandingin yang teori-teorian di atas sama referensi ilmiah. pengen dikaitin juga sama tipe-tipe personality untuk bikin start-up dan scaling company yang ada di Heart Smarts Guts and Luck.. dan pengen juga nyari referensi yg pas di bidang politik juga. Next time deh

2 thoughts on “Tentang Punggawa Perubahan dan Sindrom 25, Teori IMP vs DRTK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s