“Dinda Effect” Jelang Pemilu, dan Lesson Learnednya

Beberapa hari lalu heboh-heboh soal Dinda yang mengeluh di path (dan rupanya discreenshot dan disebar-sebarin ama orang yang pastinya temen di pathnya sendiri) beserta pembelaannya. Lalu mulai muncul-lah reaksi-reaksi yang bisa diamati di facebook dan path.

Nah sekarang gue gamau bahas soal kasus itu dulu, tapi mau bahas sedikit efek yang bisa gue amati di timeline gue.

Salah satunya ini:

1. Bisakah kita mempercayai teman kita sendiri? Apalagi sekarang path udah nambah kuota temen? Apakah Anda memilih kuantitas atau kualitas?

Screenshot_2014-04-16-23-22-42-2

2. Terus ada lagi lawakan temen gue. Apakah suatu saat “Dinda Effect” ini akan jadi seperti ini? Masuk infotainment seperti Arya Wiguna dan kasus Mbah siapa (yang gue bahkan lupa namanya), dan mungkinkah kelak dia menjadi Caleg di Pemilu 2019. Akankah dia menang? 

Screenshot_2014-04-17-10-00-17-1

 

Ataukah nanti akan ada hashtag #MenolakLupa? Karena segitu pelupanya bangsa kita. (tapi buat anak seumuran gue mah bukan menolak lupa, jaman 98 aja gue masih 6 taun coy)

3. Lalu mulai muncul juga versi lawaknya:

Screenshot_2014-04-17-10-11-39

 

4. And Brace yourself, Dinda-related meme is coming!

5. Dan tapi anehnya pagi ini gue menemukan bahwa ada temen gue yang lain yang kemungkinan gak kenal mengupload screenshot lawakan temennya yang miriiiip:

Screenshot_2014-04-17-10-01-12-1

Fenomena apa ini? Apakah seperti scientist jaman dulu yang bisa membuat penelitian yang sama persis meski tinggal di lain kota dan gak ada internet?

Atau ini adalah efek dari theory six degrees of separation jadi sebenernya sumbernya satu tapi saling kenal.  Tapi kalo iya, kenapa ga skrinsut aja yang aslinya? Apakah temen gue yang tadi juga ngejiplak (trust nobody ahhaha)? Apakah mau takes credit, biar nampak keren di lingkungan pergaulan anda? (woles bro, ginian doang bukan plagiarisme ilmiah keleuuus :p)

6. Dan yang paling ultimate adalah ketika gue menemukan ada yang ngetag si Dinda nya. Gila men dunia udah makin interconnected, gatau deh temen gue gimana dapetnya, kayaknya sih gak kenal. Atau apakah sebenarnya dia sangat niat sampai bikin klonengan akun Dinda? Wallahualam. Tapi ini screenshot komen si Dinda.

Screenshot_2014-04-17-11-04-32-1

 

Dunia sudah semakin gentle, dan tentu saja men sama orang-orang langsung diajak bercanda seolah Dinda ini kenal sama semua.

“Dinda rumah di mana kerja di mana emang? Kalo saya lihat rutenya sama seperti mas XXX. Kalo sudah akur, mungkin bisa tebeng2an saja, ga ada ibu hamil lho di mobilnya mas XXX.”

“Dinda, kalo ibu hamil kan pagi2 morning sickness, jadi ga bisa berangkat pagi, Apalagi kalo hamil mandinya susah karena area yang dibersihkan lebih banyak. Kasihan mereka ya.”

“Iya mas XXX udah maafin kamu kok Din.. kebetulan dia perkumpulan Remaja Masjid di kompleksnya”

Yah gue sih jujur aja ketawa sama lawakan-lawakan ini. Ada juga yang mengingatkan Dinda supaya bersabar karena meme-nya akan mulai muncul hari ini. Huehuee.

Tapi kadang mikir kalo jadi Dinda nya apakah dia berpikir semua ini lawakan, atau dia merasa dibully? Apakah Dinda akan tertawa melihat meme-meme yang tentang dia? Semoga Dinda bisa menanggapinya dengan tertawa, anggep aja dihibur sama teman-teman baru yang dia mungkin bahkan ga kenal dan ga akan pernah ketemu. Kasihan kalau stress.

7. Sampe muncul, komentar temen gue: Apakah sebaiknya dibuat stomp versi Indonesia?

Stomp adalah website di singapore, citizen journalism, semacam tempat kelakuan orang-orang yang bikin risih orang lain didokumentasikan. Jadi kalo ada yang ngupil2 ingusan menjijikkan, atau pake baju kelewat seksi, suka dimasukin ke STOMP. Ada yang berantem juga.

Tapi ya ujung-ujungnya jadi kayak ajang bullying sih.

Nah udah kan. Sekarang sampai lah ke bagian lesson learned-nya:

1. Pendidikan Socmed merupakan bagian dari Future Parenting

Jaman anak kita nanti mungkin dari kecil sampe dewasa make socmed yang databasenya komplit. Sedih ga kalo pas dia nyari kerja nanti dihakimi dengan hal-hal ginian.

Gue aja kalo misalnya Friendster masih ada bisa nangis darah. 

Tentunya sebelum mendidik anak kudu bisa mendidik diri sendiri dulu sih.

*efek beberapa bulan lalu sempet terjebak di pengajian Anies Baswedan dengan tema parenting dan membaca bagian The Future of Parenting di buku The New Digital Age

2. Kalo lagi EMOSI diendapkan dulu, jangan reaktif

Iya, banyak keputusan yang dilandasi EMOSI sesaat ternyata berakibat jangka panjang. Kayak gini nih, bisa aja sebenernya dia udah ga emosi sama ibu-ibu hamilnya tapi akibatnya panjang.

3. Perlukah Gerakan Kebaikan Indonesia?

Ya sebenernya kasihan juga sih sama Dinda gini. Temen-temennya juga bukannya ngingetin malah ngeskrinsut yak. Tempo hari gue cerita ke temen gue kalo di singapore ada namanya Singapore Kindness Movement. Dia kerjanya ngepromote supaya orang mau berbuat baik dan ramah kepada orang lain, seperti:

-ngasih reserved seat buat yang membutuhkan

-senyum dan berinteraksi sama tukang bersih-bersih atau supir bus

-menolong stranger yang butuh bantuan

Nah waktu itu temen gue bilang gini:

“Wah kok gue ngerasanya kalo soal itu Indonesia lebih bagus ya?”

Tapi ya mungkin sekarang temen gue bisa mikir-mikir lagi. Siapa tau hal kayak gitu udah mulai perlu dilakukan di Indonesia oleh Pemerintah. Mulai bikin kampanye agar Indonesia tetap bisa menjadi masyarakat yang ramah, sebagaimana selama ini Indonesia dikenal dengan keramahannya.

Yak sekianlah tulisan tentang “Dinda effect” kali ini. Entah berapa lama efek ini akan bertahan. Apakah mungkin ini adalah konspirasi wahyudi? Atau mungkin pengalihan isu dari perpolitikan nasional saat ada politikus masuk kampus? Ataukah dia akan berakhir seperti flappy bird?

Btw, gue masih main flappy bird loh. Karena itu satu-satunya game di tablet gue. Dan berhubung dua hari ini cuman geletakan di kamar doang gue jadinya main itu. Dan score gue tetep aja cupu hiks:

Screenshot_2014-04-17-11-06-13

 

Sebagai penutup:

3 thoughts on ““Dinda Effect” Jelang Pemilu, dan Lesson Learnednya

  1. Gw sepakat Fik sama poin lo yang no 1. Gila ya, ada temen yang sampai segitunya screenshot status dia yg emang kontroversial gitu terus disebarin ke ranah publik, sampai akhirnya jadi korban bullying se-Indonesia.

    Nggak habis pikir gw. Bukannya ngingetin langsung malah nyebarin aib temannya ke mana-mana. Ckckck.

  2. hahaaa, tergantung tipe-tipenya sih, kalau mau berprasangka baik kali aja mau ngambil pelajaran tapi lupa ngesensor akun temennya *duh, aku juga pernah deh kayaknya :'(*
    sebenernya kalau menurutku kesimpulannya dari pihak ibu hamil dan mbak-mbaknya harus sama2 saling toleransi dan caranya baik-baik sih ya, soalnya aku pernah naik kereta ekonomi, ibu hamilnya super nyolot nyuruh aku minggir, tapi emang aga aneh gitu si ibu, trus ngomong2 sendiri, walaupun aku emang memprioritaskan dia tapi kan jadi gimana gitu juga, heu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s