22. Kado paling unik yang pernah kamu kasih dan kamu terima apa?

22. Kado paling unik yang pernah kamu kasih dan kamu terima apa?

Saya selalu berpikir saat seseorang ulang tahun bumi berputar seperti biasanya. Bukan sebuah hari dimana kita menjadi center of gravity. Lalu ketika pertanyaan itu muncul saya jadi berpikir. Tak banyak kado yang pernah saya beri, tak banyak pula yang saya terima. Gitu sih rasa-rasanya.

Sebuah kemeja dan dasi, lengkap dengan tulisan, “Kak, cepetan selesain TAnya, baju buat sidangnya kan udah ada :)”

Itu kado paling berkesan dan paling bersejarah

Continue reading “22. Kado paling unik yang pernah kamu kasih dan kamu terima apa?”

Advertisements

Saat Sekolah Tidak Mendukung Kreativitas (Curhatan Masa Lalu) dan Obrolan Gado-gado

Siang* tadi saya makan siang bersama Mas Tegoeh, Mbak Fika, dan Delphin. Seperti biasa, trigger diskusi adalah curhatan Mas Tegoeh dalam menghadapi student dan Ph.D studentnya serta kisah dia dalam membesarkan anak-anaknya (ada yang masih SD sudah diajarin sinus cosinus lah, yang SMP mempertanyakan Tuhan lah). Dalam diskusi hari ini kami lebih banyak bahas ITB sih sebenarnya (karena kami semua pernah kuliah di ITB). Selain itu  diakhiri dengan rasa frustrasi mengapa di Indonesia hal-hal yang sifatnya scientific fraud (Pembangkit Listrik Tenaga Hampa, Blue Energy, pupuk something, dll) bisa bikin heboh, sedangkan Pembangkit Listrik Tenaga Vortex yang dibikin Mas Tegoeh, Afin, dan Adam nggak bikin heboh.

Jadi kurang lebih begini hal-hal yang kami obrolin (ditambah dengan obrolan minggu sebelumnya):

20140520_222050

 

Gado-gado sih obrolannya. Cuman di akhir-akhir Mbak Fika pointed out bahwa dalam beberapa kesempatan saya justru curhat tentang masa SD saya terkait dengan gimana saya merasa kreativitas saya tidak diapresiasi. Awal mulanya Mas Tegoeh curhat bahwa mahasiswanya yang dari Indonesia kalau mengerjakan tugas ya sesuai yang disuruh saja, sementara yang dari Eropa punya inisiatif yang tinggi, nggak sekedar ngedesain tapi melakukan berbagai tes-tes penting meskipun tidak disuruh. Nah, pertanyaannya adalah, bedanya dimana? Continue reading “Saat Sekolah Tidak Mendukung Kreativitas (Curhatan Masa Lalu) dan Obrolan Gado-gado”

Orang-orang yang lebih tegar dalam menghadapi kehidupan yang lebih keras

Singkat saja. Saya sudah speechless semenjak pikiran ketika membaca kisah seorang teman saya.

Orang yang sedang mengalami fase hidup yang sama dengan saya, dua kali kehilangan Bapak hingga akhirnya kehilangan Ibu dan menjadi yatim piatu. Dia telah belajar menjadi Ayah, Ibu, dan kakak sekaligus. Dia juga sudah belajar untuk menghadapi segala urusan-urusan yang tak sesimpel yang orang seusianya hadapi. Dia diajari oleh Tuhan untuk menjadi kuat. Tak terbayang di fase hidup seperti sekarang-sekarang ini menerima cobaan seperti itu. Hidup saya jauh lebih lunak dan ringan rasanya jika dibandingkan.

Saya yakin setiap kejadian bermaksud mempertemukan kita dengan orang-orang yang akan menjadi signifikan bagi kehidupan kita. Jika hati kita mau peka, setiap orang membawa dengan mereka kebijaksanaannya masing-masing. Apakah itu musuhmu, orang yang kau benci, orang-orang yang kau anggap pendosa, atau bahkan temanmu sendiri yang tak pernah kau sapa dan kau tahu kehidupannya seperti apa. Kebijaksanaan hidup itulah yang menjadikan mereka seperti sekarang. Diperoleh dari kerasnya perjuangan. Dari hal-hal dan pertemuan acak ini, jika kita mampu berpikir, akan menjadi suatu pola. Dan pola itu yang membawa hati kita untuk bisa meraba dengan rasa, logika, dan air mata, bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi kita dari dekat. Sangat dekat.

A Night When Dusk Talked to Day

A Night When Dusk Talked to Day

Once upon a time, Dusk and Day were lounging together. They were looking at the sky as the way it is. It was not the sky which dances with Night nor the sky which dances with Dawn. The sky at its independent form, not attached to any knot of time. Of course, what they see is different to what earth creatures see, they are the Time itself after all.

20140504_185950

Accompanied by two cups of teh tarik, they enjoyed the beauty of the sky. Dusk, who had been so exhausted after fulfilling his duty, could now relax his muscle for a while. He straightened up his body, lying down at the top of the Tower of Time.

“I hope Night would enjoy his shift. This period would be a long one for him, just as usual,” said Day opening up the conversation

“Yeah, I guess we still have a lot of time before we need to wake Dawn up.. The sky is so beautiful, isn’t it?”

“Yes, it is”

“And the sky is always true to itself, becoming just exactly itself. Has it not ever been bored of it?”

That’s right, has the sky ever been bored to be the sky? thought Day. Continue reading “A Night When Dusk Talked to Day”

Malam Ketika Senja Berbincang dengan Siang

Malam Ketika Senja Berbincang dengan Siang

Pada suatu ketika, Senja dan Siang sedang duduk santai berdua. Mereka memandangi langit yang apa adanya. Bukan langit yang menari bersama Malam. Bukan pula langit yang sedang berlari bersama Fajar. Langit yang bebas, terlepas oleh ikatan para waktu. Ya, apa yang mereka lihat tentu berbeda dengan yang makhluk bumi lihat, bagaimanapun juga mereka adalah Sang Waktu itu sendiri.

20140504_185950

Sambil meminum secangkir teh tarik, mereka menikmati indahnya langit. Senja yang kelelahan setelah bertugas, kini bisa mengendorkan sejenak otot-ototnya. Ia pun meluruskan badannya, berbaring di atas atap Menara Waktu.

“Ah, semoga Malam menikmati gilirannya ya. Masa ini adalah masa yang panjang baginya, seperti biasa,” tutur Siang membuka pembicaraan

“Ya, aku rasa masih ada banyak waktu sebelum kita membangunkan Fajar.. Indah sekali ya langitnya,”

“Iya”

“Dan langit selalu jujur apa adanya, menjadi dirinya sendiri. Tak bosankah ia dengannya?”

Betul juga, pernahkah langit merasa bosan menjadi langit, pikir Siang. Continue reading “Malam Ketika Senja Berbincang dengan Siang”

Aktivitas Beberapa Hari Ke Belakang

Aktivitas Beberapa Hari Ke Belakang

Rasanya sudah lama sejak postingan terakhir. Sebenarnya selalu banyak hal yang ingin saya tulis. Apapun yang ada di pikiran dan dirasakan selalu ingin saya tulis. Hanya saja terkadang malas. Tapi saya tetap menulis sih di tumblr, itu udah dalam rangka memaksa diri sendiri biar inspirasinya tidak hilang.

Mari kita mulai dari membuat log dari yang dilakukan kemarin atau kemarinnya deh: Continue reading “Aktivitas Beberapa Hari Ke Belakang”

Analogi Pencarian Kebenaran dengan Pemrosesan Sinyal

Anggaplah kebenaran adalah suatu sinyal analog yang kontinyu sementara kita adalah sebuah mesin pintar digital. Hal ini akan memberikan implikasi bahwa kebenaran yang kita pahami akan bergantung kepada besarnya bit-precision dari Analog to Digital Converter (ADC), sampling frequency, dan juga sampling technique-nya.

Sinyal di alam tidak pernah berubah dengan segala hukumnya yang berlaku. Dengan asumsi ini maka Sains berkeyakinan bahwa dia akan bisa menjelaskan fenomena yang terjadi di alam karena memiliki hukum bersifat tetap. Dengan ini teknologi pun senantiasa berkembang dan berevolusi dengan basis sains.

Kembali pada pemrosesan kebenaran tadi. Bisa jadi (setelah pencarian) sinyal yang kita proses sudah tepat, namun ternyata teknologi yang kita miliki terbatas. Anggaplah sinyal audio. Sinyal audio dengan kualitas tinggi bisa diperoleh dengan bit-precision 16-bit. Kalau kita menggunakan bit-precision 8-bit ya tidak high definition. Akan ada sinyal-sinyal yang dibulatkan sehingga menyebabkan Quantization Error.

Tapi yang menarik adalah, sampai suatu titik, meski menambah bit-precision-nya, kualitas dari audio yang sampai ke otak kita pun tetap sama. Hal ini terjadi karena keterbatasan kita dalam mempersepsikan audio yang lebih tinggi lagi definisinya. Dan selain itu juga bisa jadi penggunaan bit-precision yang berlebihan berpotensi terlalu akurat sampai-sampai noise dianggap sinyal.

Nah, selama ini saya selalu bingung dengan “pencarian kebenaran tidak final“, apa maksudnya? Apakah jika saya sudah pada tempat dimana kebenaran berada, saya masih harus terus mencari? Lalu saya merasa inilah jawabannya.

Biar bagaimanapun pencarian kebenaran berdasarkan logika dan rasa bisa terus dilakukan agar kebenaran yang kita temukan lebih dalam lagi. Bisa jadi kita sudah berada di jalan yang benar, tapi kita belum seakurat itu di jalan kebenaran. Dan ingat, terlalu banyak kalkulasi justru bisa membuat sistem kita memroses sesuatu yang kita proses. Maka dari itu kita perlu punya intuisi, sampai di suatu titik kita bisa memutuskan trade-off yang bisa diambil.

Tapi biar bagaimanapun kebenaran yang kita akuisisi pada akhirnya tidak 100% sama dengan kebenaran yang sejati. Maka dari itu kita tak boleh dengan gampang mengolok-olok orang lain yang mengakuisisi kebenaran yang berbeda dengan kita, sebab selalu ada ruang untuk kesalahan bagi setiap manusia. Bisa jadi orang yang kita olok-olok justru memiliki pendekatan yang lebih baik dari kita, sehingga kita pikir sinyal yang mereka akuisisi salah.

Tapi tentunya berbeda jika kita sudah pernah mendapatkan sinyal yang sama dengan mereka, mungkin saja kita memang sudah melewati suatu iterasi.

Yah, namanya analogi.. mungkin tidak tepat juga. Bagaimana menurut Anda?

(terinspirasi oleh suatu khutbah Jumat entah kapan dan tentunya kuliah-kuliah seputar signal processing, dan juga banyaknya perdebatan di social media yang membuat jengah.)

 

Aku, Dia, Kekasih-Nya, dan Wajah-Nya

Pagi bermula saat kami saling berucap selamat pagi. Lalu aku pun mulai membuka-buka catatan. Hari itu hari yang istimewa, hari yang dinantikan sebab bersamanya lah akan ditunaikan sebuah kewajiban untuk menjalankan hidup. Tak lama kemudian doa dari orang-orang spesial yang kutemui dalam hidup, orang-orang yang dikasihi oleh-Nya pun semakin menambah haru dan kepercayaan bahwa Dia tidak tidur.

Siang hari diajaklah aku makan bersama. Di sana dia katakan sebagai teman akan berdoa untukku supaya dapat melanjutkan apa yang kumulai, namun sebagai seorang dengan peranan hidupnya dia berdoa supaya aku bisa bekerja bersama dia. Sekali lagi aku pun percaya bahwa Dia tidak tuli. Dia mendengar doa kita sehingga dikirimkannya semua yang membuat kita tenang, dikirimkannya orang-orang yang senantiasa memberikan kita semangat dan perspektif baru tentang kehidupan.

Jelang menuntaskannya, ada lagi kawan dari jauh yang mengucapkan doa. Tahu darimana dia? Pasti kawanku yang lain yang memberitahu. Dan semua hal ini membuatku begitu terenyuh.

Aku jalankan dengan gembira dan tulus ikhlas. Sekeras apapun kita berusaha tak bisa kita kendalikan seisi semesta. Maka di situlah upaya kita terangkai pula dalam doa yang tak kenal lelah dan kepercayaan akan rencana terbaik dari Dia. Disertai pula keyakinan bahwa takdir yang baik akan ada bagi mereka yang patuh.

Maka itu aku ada di sini, berusaha lebih keras terhadap diri sendiri. Telah banyak yang aku sia-siakan, alasan yang cukup bisa diterima agar aku bisa lebih menghargai hal-hal kecil ke depan. Telah begitu banyak keakuan yang terpupuk, alasan yang tepat untuk menghilangkannya dan mengubah hidup menjadi sesuatu yang penuh dengan keajaiban dan mukjizat.

Lalu saat itu semua selesai beban pun terangkat. Perjuangan ke fasa yang baru. Hati yang ditempa untuk menerima segala apa yang akan terjadi di masa depan. Serta jasmani yang ditempa untuk terus melanjutkan tugas-tugas yang tertunda.

Dan ceritanya adalah tentang wajah-wajah-Nya. Teman yang bertanya melalui telepon meskipun kami saling sulit mengerti aksen satu sama lain. Keluarga dadakan yang senantiasa memberikan kita kenyamanan pada tempat yang kita sebut rumah. Mereka yang berada nun jauh tapi masih menanyakan kabar. Serta orang-orang yang kita temui secara kebetulan tapi menjadi kawan baik dan memberikan peluang bagi kita untuk bisa mengalahkan hidup.

Semua ini aku pikir tak pernah terlepas dari leluhur-leluhur. Doa-doa mereka, serta anak-anak mereka yang menjadi bapak-ibu bagiku adalah anugerah tersendiri. Apa yang terjadi sehingga aku menemukan orang-orang yang begitu dikasihi-Nya tak pernah lepas dari semua interaksi-ku dengan keturunan leluhurku. Segala yang kami bicarakan, perdebatkan, alami, dan lalui telah mengantarkanku pada titik ini. Sebuah gerbang untuk perjalanan panjang menjemput akhir dari kehidupan yang harus dimaknai dan dijalani dengan penuh keikhlasan.

Saat kita pikir huru-hara telah terjadi bisa saja doa-doa lah yang menyelamatkan. Aku terkadang sedih dan merana berkawan nelangsa mengingat semuanya, tapi mungkin benar, sebenarnya bisa lebih kacau lagi. Kita telah diselamatkan meskipun kita tak pernah sadar. Dan apapun itu yang terjadi telah mengantarkan kita pada titik kesadaran bahwa akhirnya kita hanyalah manusia. Kita tak sempurna, dan tak akan pernah sempurna. Satu-satunya cara untuk membuat hidup kita lengkap adalah bersama dengan-Nya, bersama dengan kekasih-Nya, melihat jelas wajah-wajah-Nya dimanapun kita menghadapkan muka.

Dalam sandiwara ini kita menebak peran apa yang dikirimkan untuk kita. Kita bisa berkata apa saja tapi wajah-Nya akan memberikan reaksi yang sudah terencana. Maka inilah perjalanan untuk berperan dan mencari peran dalam waktu yang bersamaan. Dan terlebih pentingnya lagi, ini adalah sebuah perjalanan besar, pengalaman besar, pendidikan besar dari Sang Maha Guru.