Analogi Pencarian Kebenaran dengan Pemrosesan Sinyal

Anggaplah kebenaran adalah suatu sinyal analog yang kontinyu sementara kita adalah sebuah mesin pintar digital. Hal ini akan memberikan implikasi bahwa kebenaran yang kita pahami akan bergantung kepada besarnya bit-precision dari Analog to Digital Converter (ADC), sampling frequency, dan juga sampling technique-nya.

Sinyal di alam tidak pernah berubah dengan segala hukumnya yang berlaku. Dengan asumsi ini maka Sains berkeyakinan bahwa dia akan bisa menjelaskan fenomena yang terjadi di alam karena memiliki hukum bersifat tetap. Dengan ini teknologi pun senantiasa berkembang dan berevolusi dengan basis sains.

Kembali pada pemrosesan kebenaran tadi. Bisa jadi (setelah pencarian) sinyal yang kita proses sudah tepat, namun ternyata teknologi yang kita miliki terbatas. Anggaplah sinyal audio. Sinyal audio dengan kualitas tinggi bisa diperoleh dengan bit-precision 16-bit. Kalau kita menggunakan bit-precision 8-bit ya tidak high definition. Akan ada sinyal-sinyal yang dibulatkan sehingga menyebabkan Quantization Error.

Tapi yang menarik adalah, sampai suatu titik, meski menambah bit-precision-nya, kualitas dari audio yang sampai ke otak kita pun tetap sama. Hal ini terjadi karena keterbatasan kita dalam mempersepsikan audio yang lebih tinggi lagi definisinya. Dan selain itu juga bisa jadi penggunaan bit-precision yang berlebihan berpotensi terlalu akurat sampai-sampai noise dianggap sinyal.

Nah, selama ini saya selalu bingung dengan “pencarian kebenaran tidak final“, apa maksudnya? Apakah jika saya sudah pada tempat dimana kebenaran berada, saya masih harus terus mencari? Lalu saya merasa inilah jawabannya.

Biar bagaimanapun pencarian kebenaran berdasarkan logika dan rasa bisa terus dilakukan agar kebenaran yang kita temukan lebih dalam lagi. Bisa jadi kita sudah berada di jalan yang benar, tapi kita belum seakurat itu di jalan kebenaran. Dan ingat, terlalu banyak kalkulasi justru bisa membuat sistem kita memroses sesuatu yang kita proses. Maka dari itu kita perlu punya intuisi, sampai di suatu titik kita bisa memutuskan trade-off yang bisa diambil.

Tapi biar bagaimanapun kebenaran yang kita akuisisi pada akhirnya tidak 100% sama dengan kebenaran yang sejati. Maka dari itu kita tak boleh dengan gampang mengolok-olok orang lain yang mengakuisisi kebenaran yang berbeda dengan kita, sebab selalu ada ruang untuk kesalahan bagi setiap manusia. Bisa jadi orang yang kita olok-olok justru memiliki pendekatan yang lebih baik dari kita, sehingga kita pikir sinyal yang mereka akuisisi salah.

Tapi tentunya berbeda jika kita sudah pernah mendapatkan sinyal yang sama dengan mereka, mungkin saja kita memang sudah melewati suatu iterasi.

Yah, namanya analogi.. mungkin tidak tepat juga. Bagaimana menurut Anda?

(terinspirasi oleh suatu khutbah Jumat entah kapan dan tentunya kuliah-kuliah seputar signal processing, dan juga banyaknya perdebatan di social media yang membuat jengah.)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s