Pada suatu ketika, Senja dan Siang sedang duduk santai berdua. Mereka memandangi langit yang apa adanya. Bukan langit yang menari bersama Malam. Bukan pula langit yang sedang berlari bersama Fajar. Langit yang bebas, terlepas oleh ikatan para waktu. Ya, apa yang mereka lihat tentu berbeda dengan yang makhluk bumi lihat, bagaimanapun juga mereka adalah Sang Waktu itu sendiri.

20140504_185950

Sambil meminum secangkir teh tarik, mereka menikmati indahnya langit. Senja yang kelelahan setelah bertugas, kini bisa mengendorkan sejenak otot-ototnya. Ia pun meluruskan badannya, berbaring di atas atap Menara Waktu.

“Ah, semoga Malam menikmati gilirannya ya. Masa ini adalah masa yang panjang baginya, seperti biasa,” tutur Siang membuka pembicaraan

“Ya, aku rasa masih ada banyak waktu sebelum kita membangunkan Fajar.. Indah sekali ya langitnya,”

“Iya”

“Dan langit selalu jujur apa adanya, menjadi dirinya sendiri. Tak bosankah ia dengannya?”

Betul juga, pernahkah langit merasa bosan menjadi langit, pikir Siang. Pertanyaan iseng dari Senja menimbulkan pertanyaan baru muncul di pikiran Siang. Senja memang seperti itu, terkadang ia melontarkan kalimat asal-asalan yang mengusik. Bahkan bisa mengusik pikiran hingga Malam pulang.

“Wahai Senja, kau sendiri, apakah kau pernah merasa bosan dengan tugas yang kita emban? Menjadi Siang, menjadi Senja…”

“Eh?”

Pertanyaan Siang membangkitkan Senja. Sebenarnya ada pertanyaan lain yang belakangan mengusik hatinya. Ia yang tadi berbaring kini duduk sambil kembali meneguk teh tarik dari cangkir kecilnya.

“Wahai Siang, tahukah kau, aku terkadang bertanya pada diriku sendiri. Apa jadinya jika aku dilahirkan menjadi dirimu? Apa jadinya jika seorang Senja terlahir menjadi Sang Siang?”

Siang menatap Senja dengan tatapan yang seolah meminta Senja untuk menjelaskan lebih rinci tentang apa yang ia pertanyakan.

“Iya, apa jadinya jika aku terlahir dengan nama Siang, dan kau terlahir dengan nama Senja? Apakah aku akan tetap bernama Senja? Apakah warna yang akan dilihat oleh penduduk bumi nantinya? Apakah Siang akan menjadi Senja dan Senja menjadi Siang?”

Siang mengernyitkan dahi. Kata-kata Senja memang terdengar membingungkan, namun pesan yang Senja sampaikan tetap bisa tercerna olehnya. Hal inilah yang membuatnya mengernyitkan dahi, bukan karena ia tidak paham. Justru dia pun menyimpan pertanyaan yang sama jauh di lubuk hatinya.

“Atau Siang tetap Siang dan Senja tetap Senja? Ataukah Senja datang lebih awal daripada Siang?”

Kini Senja pun balik menatap Siang dengan tajam. Keduanya merasa menemukan pertanyaan demi pertanyaan yang penting untuk dipertanyakan. Mereka sudah terlalu lama bertugas sehingga mereka lupa bagaimana tugas demi tugas ini bermula. Runtuh dan bangkitnya kekuatan-kekuatan dunia. Matinya bintang-bintang di galaksi. Sudah terlalu banyak yang mereka saksikan. Tidak seperti manusia yang berdoa saat melihat komet dan memanggilnya ‘bintang jatuh’, mereka merasa biasa saja dengan segala fenomena semesta. Tak ada yang istimewa, sudah begitu kehendak Pencipta, pikir mereka. Dan kini, tiba-tiba saja mereka merasa ada hal yang perlu mereka cari jawabnya.

bersambung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s