Saat Sekolah Tidak Mendukung Kreativitas (Curhatan Masa Lalu) dan Obrolan Gado-gado

Siang* tadi saya makan siang bersama Mas Tegoeh, Mbak Fika, dan Delphin. Seperti biasa, trigger diskusi adalah curhatan Mas Tegoeh dalam menghadapi student dan Ph.D studentnya serta kisah dia dalam membesarkan anak-anaknya (ada yang masih SD sudah diajarin sinus cosinus lah, yang SMP mempertanyakan Tuhan lah). Dalam diskusi hari ini kami lebih banyak bahas ITB sih sebenarnya (karena kami semua pernah kuliah di ITB). Selain itu  diakhiri dengan rasa frustrasi mengapa di Indonesia hal-hal yang sifatnya scientific fraud (Pembangkit Listrik Tenaga Hampa, Blue Energy, pupuk something, dll) bisa bikin heboh, sedangkan Pembangkit Listrik Tenaga Vortex yang dibikin Mas Tegoeh, Afin, dan Adam nggak bikin heboh.

Jadi kurang lebih begini hal-hal yang kami obrolin (ditambah dengan obrolan minggu sebelumnya):

20140520_222050

 

Gado-gado sih obrolannya. Cuman di akhir-akhir Mbak Fika pointed out bahwa dalam beberapa kesempatan saya justru curhat tentang masa SD saya terkait dengan gimana saya merasa kreativitas saya tidak diapresiasi. Awal mulanya Mas Tegoeh curhat bahwa mahasiswanya yang dari Indonesia kalau mengerjakan tugas ya sesuai yang disuruh saja, sementara yang dari Eropa punya inisiatif yang tinggi, nggak sekedar ngedesain tapi melakukan berbagai tes-tes penting meskipun tidak disuruh. Nah, pertanyaannya adalah, bedanya dimana?

Lalu saya yang baru-baru ini membaca buku InGenius tergerak untuk menjawab berdasarkan pengalaman pahit di masa lalu. Menurut pengalaman saya, pendidikan formal di sekolah sering membuat saya kesal. Saya merasa tidak diapresiasi dengan ide-ide yang out of the box, dimarahi saat menjadi diri sendiri, dan juga dimusuhi teman saat saya mencoba lebih.

Curhatan #1 (tidak dihargai karena sesuatu yang out of the box)

Waktu itu pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 SD. Bu Guru menyuruh kami membuat sesuatu dari barang-barang bekas. Dicontohkan bisa kap lampu dan vas bunga. Saya merasa ingin membuat sesuatu yang lain, yang lebih bombastis. Maka saya buat meja belajar kecil dari kardus bekas, lengkap dengan lacinya. Saya bawa ke sekolah. Bawanya aja sudah malu sebenarnya, maklum saya jalan kaki dari rumah ke sekolah, melewati sebuah SMP pula.

Kebayang kan, saya yang masih kecil bawa-bawa barang dari kardus yang dibungkus kertas kado berukuran cukup besar. Membawanya saja kesulitan. Tapi tak apalah, toh saya membuat sesuatu yang lain dari yang lain. Teman-teman cuman pada bikin vas bunga, dan kap lampu, tapi saya bikin sesuatu yang lebih keren dan lebih guna. Nanti pasti Ibu Guru akan senang karena saya sudah serius sama tugas ini.

Tapi sayang, yang terekam di memori saya justru respon Ibu Guru yang kaget, “LOH LOH LOH Apaan ini??”

Dan entahlah saya merasa tidak diapresiasi. Tapi nggak papa deh, yang penting saya punya meja belajar baru. Walaupun akhirnya ga bertahan lama juga sih terus pretel sendiri. Hahaha

Curhatan #2 (saat inisiatif yang terlalu maju di jamannya tidak mendapat tempat)

Waktu itu entah kelas 2 atau kelas 3 SD saya agak lupa. Saya menjadi Seksi Ketertiban kelas, meskipun saya biasanya paling tidak tertib di kelas. Tapi entah ya, biarpun ketua kelas dan seksi-seksian yang ada di kelas SD itu cuma main-main, saya menanggapinya terlalu serius. Segera setelah terpilih menjadi seksi ketertiban, saya merencanakan sesuatu. Saya mau beli beng-beng untuk semua orang yang ada di daftar seksi-seksian itu. Terusnya, saya juga potong-potong kertas HVS menjadi kecil-kecil, lalu menuliskan, “Kumpul Pas Istirahat 1, Bahas Kelas” melipatnya lalu menaruhnya di laci-laci meja para seksi-seksi.

Sayang, pas istirahat 1 ga ada yang menanggapi serius ya sudahlah.

Curhatan #3 (dibully karena masalah sama satu guru)

Kejadian ini nyata pas SMP. Saya sempat berdebat soal peribahasa sama guru Bahasa Indonesia. Cuman emang apes, saya sok-sokan udah hapal suatu peribahasa tapi entah kenapa lidah jadi kelu pas mau membacakannya. Lalu jadi aja deh bulan-bulanan. Bahkan masalahnya ampe ke Guru lain, yakni Guru Aqidah yang terus-terusan sensi dan nyindir-nyindir. Huft banget yah.

Curhatan #4 (dimarahin karena nggak mencatat dan gak bawa buku pelajaran)

Saya paling males bawa buku pelajaran dan mencatat. Iya, meskipun tulisan saya rapi tapi saya males nyatet. Sampai dibilang sombong ke Tuhan dan lain sebagainya. Padahal kan setiap orang punya caranya masing-masing untuk belajar. Oh iya, kejadiannya waktu SMA.

Curhatan #5 (dimarahin karena semangat untuk aktif di kelas)

Pokoknya pernah waktu SMA, sebelum masuk kelas aksel, saya aktif gitu jawab-jawab di kelas. Terus dimarahin sama temen-temen yang lain karena yang lain cuman pada jawab sekali, ngapain saya sok-sokan jawab dua kali.

Curhatan #6 (malas kuliah karena merasa sistemnya tidak adil)

Jadi ceritanya semester tiga di ITB saya tidak lulus dua mata kuliah. Satu Rangkaian Elektrik, satunya lagi Algoritma dan Struktur Data, yakni dua mata kuliah core di STEI. Untuk yang pertama kasusnya gini, saya sudah dapat nilai C, lalu disebutkan di papan pengumuman seperti ini:

Bagi yang nilainya C ke bawah disarankan untuk mengikuti UAS

Karena sudah C ya saya males aja mau ikut UAS. EH tau-tau pas keluar nilainya malah jadi E. Dafu* banget kan yah? Itu kan misleading sekali pengumumannya. Sudah gitu untuk mata kuliah satu lagi nilai saya jadi rendah karena tubes di nol-in karena nggak ikut asistensi. Padahal saya yang ngerjain juga. Hiks.

Sejak itu saya jadi merasa sistem perkuliahan tidak adil. Manusia hanya menilai berdasarkan angka-angka. Berdasarkan aturan-aturan yang seenak udel para dosen tanpa kita dikasih tahu di awal. Maka semester berikutnya saya jadi makin males kuliah dan berakhir dengan ip satu koma hahahah.

Curhatan #7 (di NTU pun tidak lepas dari hal-hal semacam itu)

Ya, terkadang pun dosen juga cuman ngajar untuk exam aja. Misalnya nanya yang lebih cuman dibilang kalo examnya ga sampe segitu kok.

Yak demikianlah beberapa curhatan saya. Bukan berarti saya kreatif atau gimana, sebenarnya terkadang banyak hal yang saya kemukakan hanyalah justifikasi agar saya bisa jadi malas: dengan menyalahkan sistem. Misalnya dulu saya kalau nemu ada suatu paket latihan soal yang mengandung soal yang salah, maka saya akan mengkritisi paket tersebut dan malas mengerjakannya. Sepupu saya, Mbak Ovie juga pernah bilang kalau dulu saya malas mengerjakan PR dan malah bilang, “males ah ngerjain PR, gurunya nggak mutu kalau ngasih PR”

Ya memang sih di antara nasihat-nasihat yang diberikan ada yang membuat saya introspeksi diri. Apa benar sih saya sombong sama Tuhan? Rasanya nggak segitunya, tapi baguslah buat muhasabah. Karena pada akhirnya saya jadi sadar bahwa saya jaman dulu berpikir terlalu tinggi, terlalu perfeksionis, tapi performanya sendiri nggak seberapa, malesnya sama tukang bolosnya masya Allah. Yah sampai sekarang juga sih.

Hmm. apalagi ya, sebenarnya banyak yang ingin ditulis sih. Apalagi udah lama nggak ngeblog. Tapi segini dulu deh, udah malem, lagi pusing juga hiks.

 

*draft dibuat pertama kali tanggal 20 setelah makan siang ditraktir Mbak Fika demi ulang tahunnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s