“Adjacent Possibilities”, Kreativitas, dan Fisika Modern (sebuah pembenaran untuk procrastinating)

Ibu saya pernah bilang kalau terkadang dia bingung, sebenarnya anaknya ini emang agak pintar atau malah bodoh. Kenapa saya suka mikir yang rumit-rumit, kenapa yang simpel-simpel jadi rumit.

Saya juga bingung, dari dulu memang saya suka mikir yang rumit-rumit. Saya selalu ingin mencoba melihat segala sesuatu dari beragam sudut pandang. Semua orang terkadang kesal, kenapa saya suka mempertanyakan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Tapi kalau mereka tahu, sebenarnya saya justru ingin membuat penyederhanaan atas segala hal yang rumit. Saya selalu ingin bisa mencari segala keterkaitan dari hal-hal yang tidak terkait dan menyimpulkannya dalam suatu framework sederhana. Bukan buat apa-apa, hanya agar saya tahu bahwa kesimpulan yang saya ambil valid, tidak asal ambil dari orang lain. (Ibaratnya pengen haqqul yaqin, nggak sekedar ainul atau ilmul yaqin haha)

Ya, saya paham ada logika linier dimana semuanya jadi mudah, straight to the point. Tapi, ada kalanya kita perlu menjelajah kemana-mana, meskipun akhirnya perpindahan yang kita dapatkan tetap linier. Semua aturan simpel, elegan, tapi berfungsi secara kompleks, sebab dia diterapkan pada suatu sistem yang besar. (ngomong naon)

diambil dari sini: http://www.creativitypost.com/create/tina_seeligs_insights_on_creativity

Dan ini juga saya rasa berhubungan dengan kreativitas dan teori “adjacent possibilities(tentang inovasi oleh Steven Johnson yang dipinjem dari Biologi Kauffman). Bahan bakar dari kreativitas adalah imajinasi, menantang asumsi, mencari keterkaitan dari hal-hal yang sepertinya tidak berhubungan [1]. Saya pun jadi berpikir bahwa mungkin pikiran kita pun bekerja sebagaimana fenomena yang dijelaskan oleh fisika quantum. Continue reading ““Adjacent Possibilities”, Kreativitas, dan Fisika Modern (sebuah pembenaran untuk procrastinating)”

Dilema 20-an: Karir, Passion Khayalan, dan Higher Purpose untuk Pemenuhan Hidup

Dilema 20-an: Karir, Passion Khayalan, dan Higher Purpose untuk Pemenuhan Hidup

“Fik, bisa ditelepon nggak? Kasih gw pencerahan dong, lo lagi mikir apa?” (A)

“Bener Fik, shouldn’t care about living and dying” (B)

“Lo pernah ngerasa kehilangan arah ga sih? Ga punya target hidup? Ga punya temen yang pas buat dicurhatin?” (C)

Baru-baru ini saya sempat berbincang dengan tiga orang teman. Waktunya tidak bersamaan (A paling baru) tapi saya melihat isu yang sebenarnya ada di kepala mereka sama: yakni persimpangan antara profesi dan arah kehidupan.

IMG_20140522_223929

Perubahan kecil pada purpose, memberikan impact besar pada hal-hal di lapisan bawahnya yang lebih teknis [1]

Pada postingan ini saya akan memaparkan perbincangan dengan tiga teman saya pada halaman 2,3, dan 4. Lalu pada halaman 5 saya akan sedikit memberikan refleksi yang bisa saja menyimpulkan sesuatu.

Oh iya sebelum itu saya ingin berbagi komik trivia tentang kebahagiaan. Sumbernya dari sini: http://buttersafe.com/2012/08/16/the-seasick-squid/

The Seasick Squid

[Postingan yang Anda Tunggu-tunggu] Karena PhD student pun ada yang nasakom (1)

“Wanjir, epic kalo nanti ternyata Fikri jadi rektor ITB pernah IP 1,5 apalagi kalo jadi capres, gua siap kasih testimoni, dulu Fikri stress IP 1,5 jalan dari takashimaya ke old town udah sempet memikirkan karir ke depan sebagai instruktur gym, bikin band indie.” Bombom a.k.a Muhammad Arif di Orchard Sabtu Malam, 7 Juni 2014

Karena PhD student pun ada yang nasakom (1)

-kisah yang anda pikir fiksi, padahal 92% nyata-

Dua hari lalu saya mendadak teringat sebuah quote dibawah yang terjadi setelah latihan UATM:

Screenshot_2014-06-12-14-08-37-1

Ya, sebenarnya masih ragu tiap mau nulis tentang ini karena hal itu juga. Selain itu kan hidup saya sendiri kayak baru mulai gitu, masih banyak halangan dan rintangan yang akan saya hadapi dalam pengembaraan mencari kitab suci. Tapi seperti wahyu yang saya dapatkan setelah ujian terakhir selesai, saya merasa tetap perlu menuliskannya. Karena kalau enggak dimulai bisa aja ga akan pernah ditulis ujung-ujungnya. Selain itu rasanya semalam saya mendapatkan semacam pertanda (ada yang komen di postingan cerita nasakom saya pas S1) sehingga saya putuskan menulis cerita ini. Dan demi menyampaikan cerita yang utuh, maka akan ada grafik GPA(IP) saya pada seri tulisan ini.

Semester 1

Mencetak Rekor: The worst performance they’ve ever seen

Awal Mula

Detail tentang bagaimana akhirnya saya menjadi PhD student akan saya ceritakan di lain post (bisa dibilang salah satu pertimbangan penting saya dalam meng-accept offer dari NTU adalah kisah PhD Grind), yang jelas di awal saya menjadi PhD student di EEE NTU saya mengenal dua orang PhD student lainnya yang seangkatan. Kami sama-sama mengikuti rekrutmen yang di-organize oleh Mas Tegoeh yang merupakan dosen di School of Mechanical and Aerospace Engineering(MAE). Mereka adalah Mbak Fitri (TI UGM 2006-MAE) yang merupakan dosen, dan Delphine (Telekomunikasi ITB 2008-EEE) yang highest GPA di angkatannya. Sedangkan saya sendiri adalah mantan nasakom yang secara tak terduga bisa diterima di program direct PhD.

Salah satu orang yang pertama saya kenal di sini bernama Afin (FT ITB 2003, Mechanical Engineering NUS). Dia bilang pada saya bahwa sudah tepat ambil PhD dan di Singapura, nanti kalau jadi menteri juga cucok lah kalo punya PhD, dan bagusnya di Singapura bakal diajarin nulis dengan bagus. Selain itu di sini kita masih bisa bangun network sama orang-orang penting di Indonesia, pokoknya dia bilang bahwa Singapura ini akan jadi salah satu titik penting dalam kehidupan saya. Kita banyak ngobrolin wacana-wacana kebangsaan, riset, dan teknologi yang disertai impian konyol seperti punya kastil dan naik macan, jadi presiden yang nanti kerjanya nyamperin wapres pas lagi sibuk terus main gitar buat nyemangatin, mau bikin ereksiometer, virtual reality yang enggak-enggak. Hingga akhirnya saya bertanya soal tips-tips ujian dan mendapatkan nilai. Kata Afin sih woles aja karena gak jauh beda lah sama di ITB. Santai aja. Dan sebagai orang yang gak pernah taktik, kalau orang bilang woles aja mah saya akan sangat menyangat woles.

Oh iya dari awal sampai sini juga sempet ngobrol sama elektro 06: Bombom, Aria, Baim, dan Kevin Jo. Waktu itu Kevin Jo berencana resign. Saat itu dia juga sempet bertanya apakah saya yakin mau ambil Ph.D, banyak yang setelah setahun udah cabut. “Tapi ya nanti lo lihat lagilah kalo udah setaun, mungkin aja lo cocok, mungkin aja ga cocok tapi ngerasa udah nanggung juga,” begitu kalimat pamungkasnya.

Sementara itu terkadang saya masih galau soal pilihan hidup yang saya buat. Benarkah mau ambil Ph.D? Apalagi topiknya radar yang saya sama sekali nggak punya basic . Terus kan saya ambil direct Ph.D, kadang mikir, harusnya master dimana dulu kek biar bisa jalan-jalan. Terus saya nanya Delphin apa motivasi dia dan dia jawab dia memang mau jadi dosen atau researcher, jadi lebih baik ambil Ph.D langsung. Oh iya sempet saya keceplosan bilang gini, “Hmm, apa gue jelek-jelekin aja nilai gue yah, biar downgrade jadi master?” Di kemudian hari saya tersadar bahwa nggak perlu dijelek-jelekin juga nilai saya sudah jelek sendiri. Hahaha

Tentang Orang Baik di Pemerintahan

Sedikit postingan karena mendadak teringat ucapan RI 99 dan sekaligus karena hilang mood gara-gara udah capture data-data gak taunya ada codingan yang salah.

Jadi waktu itu beliau mengatakan bahwa “Dia orang baik..“, me-refer kepada salah seorang eks Menteri yang menjabat dari 1998-2004. Ya hal ini mengingatkan kembali bahwa tidak semua menteri adalah orang baik. Tidak semua menteri orang pintar. Tidak semua menteri (termasuk yang dari partai Islam maupun yang memimpin departemen yang mulia) merupakan orang yang saleh. Level kebaikan dan kesalehan tiap orang pun beda-beda dan tentunya hanya Tuhan yang berhak menilai. Tapi, kalau orang sudah baik betul, manusia pun pasti bisa merasakannya.

Selain itu umumnya, menteri-menteri yang baik dan saleh itu punya amalan-amalan khusus, tirakat-nya kuat. Semakin mereka naik, semakin kuat pula tirakat mereka. Hal inilah yang menjaga mereka dari hal-hal yang haram. Sementara beberapa yang tadinya tirakatnya kuat justru kendor saat sudah menjabat.

Tapi yang namanya politik memang keras yah. Ada orang baik yang dikriminalisasi, ada juga yang bersalah tapi aman dari jerat hukum. Dan selain itu, persepsi ini pun dibangun lewat media. Dengan demikian sebenarnya sangat riskan bagi kita untuk men-judge seseorang baik atau tidak, atau membuat seolah-olah ada pertarungan antara grup orang baik melawan grup orang jahat, dan lain sebagainya. Lagi pula dalam gerbong politik, bukan hanya orang-orang di lingkaran Sang Raja lah yang memegang peranan vital.

Dan hal ini yang membuat saya sampai sekarang belum menentukan pilihan. Sulit memang. Terkadang saya mengkhayalkan pesan revolusi yang disimbolkan dalam kisah Syekh Siti Jenar. Kita perlu orang-orang yang tanpa tedeng aling-aling, mengungkapkan yang benar dan yang salah dengan jelas tanpa bumbu. 

Tapi kalau bicara ideal mah, saya pernah dikasih tahu, bahwa jika seandainya ada lima orang saja di antara menteri-menteri kita yang benar-benar baik, menjalankan syariat yang lurus dan tarikat yang putih cemerlang, maka seharusnya Indonesia bisa sejahtera. Dengan laku prihatin yang demikian, maka seharusnya mereka bisa menjadi sosok Islam yang rahmatan lil ‘alamiin, bukan Islam kulit luar saja yang justru membuat bangsa ini semakin bersedih dan justru membuat Islam menjadi terhalang cahaya kemuliaannya.

Yah pada akhirnya lebih baik kita berdoa agar tetap ada orang-orang baik di lingkaran-lingkaran vital pemerintahan, siapapun presidennya nanti.

*postingan ini dipersembahkan oleh obrolan grup penyamun yang tiba-tiba saja sempat ngebahas obrolan yang cukup dalam.. dan mendadak berganti judul dari yang mulanya, “arti sahabat” menjadi “menyambud ramadhan”

Tensor: Setelah 9 Bulan Tidak Bimbingan

Tensor: Setelah 9 Bulan Tidak Bimbingan

Rabu (28/5) yang lalu saya bertemu supervisor untuk mendiskusikan riset setelah 9 bulan lamanya hiatus. Bukan karena nunggu supervisor melahirkan, sebab beliau adalah seorang lelaki. Penyebabnya adalah karena sesuatu yang akan saya jelaskan di postingan mendatang. 😀

Profesor blusukan ke lab

Pertemuan itu terjadi setelah hari kamis (22/5) sebelumnya profesor mampir ke lab dan menanyakan progres saya. Waktu itu saya bilang bahwa saya sedang mengerjakan sesuatu sembari menunjukkan simulasi yang terus berjalan di matlab (padahal sebenarnya sedang browsing atau youtube-an :D, simulasi matlab hanya kedok)

“How long have you been here, is it one and a half”

“It’s about two years”

“So is this your third or fourth semester?”

“Fourth”

“Any progress? We must discuss next week. Write a summary of what you’ve done”

“Okay”

“Next week after monday, we’ll discuss”

Lalu sudah beliau kembali berlalu. Maklum beliau termasuk orang sibuk karena juga merupakan Deputy Head of Division. Oh iya, kenapa after monday, sebab hari seninnya (26/5) ada talk tentang Memristor dari Prof. Leon Chua (iya saya pengen cerita tentang talk-nya di lain kesempatan). Tentu saja setelah itu saya langsung merasa ancaman a.k.a stress karena belum ada progress. Lihat tuh, supervisor aja sampai lupa saya udah berapa lama di sini.

Saya ingat, biasanya hari sabtu dan minggu itu termasuk dalam hitungan hari oleh profesor. Dulu pernah saya mengajukan cuti untuk hari senin pada hari kamis sore (tepat saat jam kantor beres). Lalu beliau bilang, “You still have 4 days, make some progress and write a technical report”. Saya pun lalu berencana untuk mengerjakan di hari sabtu dan minggu. Apalagi hari jumat (23/5) nya saya sempat diskusi dengan seorang post-doc, dan dia bilang dia sudah mengimplementasikan hal yang juga ingin saya implementasikan dengan data real dan berfungsi. Jadi saya pikir dengan memperbaiki bagian yang itu saya bisa melaporkan sebuah progress ke supervisor. Oh iya, jumat itu saya juga ulang tahun. Tapi ya hari tetap saja seperti biasa. Bahkan senior saya sampai nanya pas di lab,

“Today is your birthday, so is there any special arrangement?”

“No, the world moves just like usual”

Lalu saya pun kembali mencoba mengutak-atik program saya tapi tetap tidak jalan. Yah sabtu sama minggu juga sama saja..apa daya, nonton serial lebih menggoda 😀 Begitulah dilema procrastination. Saat stress kita merasa butuh hiburan. Tapi setelah hiburan beres semakin stress karena penyebab stressnya belum kelar :))

(btw sekarang nyobain pake pagination, jadi lanjutannya di next page)