Tentang Orang Baik di Pemerintahan

Sedikit postingan karena mendadak teringat ucapan RI 99 dan sekaligus karena hilang mood gara-gara udah capture data-data gak taunya ada codingan yang salah.

Jadi waktu itu beliau mengatakan bahwa “Dia orang baik..“, me-refer kepada salah seorang eks Menteri yang menjabat dari 1998-2004. Ya hal ini mengingatkan kembali bahwa tidak semua menteri adalah orang baik. Tidak semua menteri orang pintar. Tidak semua menteri (termasuk yang dari partai Islam maupun yang memimpin departemen yang mulia) merupakan orang yang saleh. Level kebaikan dan kesalehan tiap orang pun beda-beda dan tentunya hanya Tuhan yang berhak menilai. Tapi, kalau orang sudah baik betul, manusia pun pasti bisa merasakannya.

Selain itu umumnya, menteri-menteri yang baik dan saleh itu punya amalan-amalan khusus, tirakat-nya kuat. Semakin mereka naik, semakin kuat pula tirakat mereka. Hal inilah yang menjaga mereka dari hal-hal yang haram. Sementara beberapa yang tadinya tirakatnya kuat justru kendor saat sudah menjabat.

Tapi yang namanya politik memang keras yah. Ada orang baik yang dikriminalisasi, ada juga yang bersalah tapi aman dari jerat hukum. Dan selain itu, persepsi ini pun dibangun lewat media. Dengan demikian sebenarnya sangat riskan bagi kita untuk men-judge seseorang baik atau tidak, atau membuat seolah-olah ada pertarungan antara grup orang baik melawan grup orang jahat, dan lain sebagainya. Lagi pula dalam gerbong politik, bukan hanya orang-orang di lingkaran Sang Raja lah yang memegang peranan vital.

Dan hal ini yang membuat saya sampai sekarang belum menentukan pilihan. Sulit memang. Terkadang saya mengkhayalkan pesan revolusi yang disimbolkan dalam kisah Syekh Siti Jenar. Kita perlu orang-orang yang tanpa tedeng aling-aling, mengungkapkan yang benar dan yang salah dengan jelas tanpa bumbu. 

Tapi kalau bicara ideal mah, saya pernah dikasih tahu, bahwa jika seandainya ada lima orang saja di antara menteri-menteri kita yang benar-benar baik, menjalankan syariat yang lurus dan tarikat yang putih cemerlang, maka seharusnya Indonesia bisa sejahtera. Dengan laku prihatin yang demikian, maka seharusnya mereka bisa menjadi sosok Islam yang rahmatan lil ‘alamiin, bukan Islam kulit luar saja yang justru membuat bangsa ini semakin bersedih dan justru membuat Islam menjadi terhalang cahaya kemuliaannya.

Yah pada akhirnya lebih baik kita berdoa agar tetap ada orang-orang baik di lingkaran-lingkaran vital pemerintahan, siapapun presidennya nanti.

*postingan ini dipersembahkan oleh obrolan grup penyamun yang tiba-tiba saja sempat ngebahas obrolan yang cukup dalam.. dan mendadak berganti judul dari yang mulanya, “arti sahabat” menjadi “menyambud ramadhan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s