“Fik, bisa ditelepon nggak? Kasih gw pencerahan dong, lo lagi mikir apa?” (A)

“Bener Fik, shouldn’t care about living and dying” (B)

“Lo pernah ngerasa kehilangan arah ga sih? Ga punya target hidup? Ga punya temen yang pas buat dicurhatin?” (C)

Baru-baru ini saya sempat berbincang dengan tiga orang teman. Waktunya tidak bersamaan (A paling baru) tapi saya melihat isu yang sebenarnya ada di kepala mereka sama: yakni persimpangan antara profesi dan arah kehidupan.

IMG_20140522_223929

Perubahan kecil pada purpose, memberikan impact besar pada hal-hal di lapisan bawahnya yang lebih teknis [1]

Pada postingan ini saya akan memaparkan perbincangan dengan tiga teman saya pada halaman 2,3, dan 4. Lalu pada halaman 5 saya akan sedikit memberikan refleksi yang bisa saja menyimpulkan sesuatu.

Oh iya sebelum itu saya ingin berbagi komik trivia tentang kebahagiaan. Sumbernya dari sini: http://buttersafe.com/2012/08/16/the-seasick-squid/

The Seasick Squid

9 thoughts on “Dilema 20-an: Karir, Passion Khayalan, dan Higher Purpose untuk Pemenuhan Hidup

  1. Wuahhh mantap ya Fikkk, aku bahkan baru mau mulai fase yang baru, dan gara2 baca tulisanmu aku malah jadi terinspirasi untuk ga err “ngebayangin enaknya” karena pasti ntar nemuin tantangan2 juga disana… Huah, very great story… Sepakat Fik, tugas kita adalah mencari ridho Allah, teorinya kalo ngejar ridho Allah mah harus ikhlas dan legowo dengan apa2 yang harus dikorbankan dan akan terkorbankan… Tapi kerasa banget ya sisi manusia kita sebagai manusia, bahwa ikhlas atau legowo itu susah bangettt walopun tau hadiahnya sebesar “ridho Allah”, semangatttt *panjang banget komenku*

    1. Makasih udah baca dan komen panjang mits!, seneng bisa cerita2.semoga berguna!..
      yeah, susah memang mit kalo belom biasa, yang penting berusaha jadi orang yang lebih baik aja setiap harinya.. huehuehue

    2. sedikit tanggapan…
      Allah itu ridho dg kehidupan umatnya… ngapain ridhonya dicari… malahan kita yg manusia sulit ridho dg kehendakNya.. banyak ngeluh, minta, dsb…

      1. Terima kasih tanggapannya.

        Tapi mohon maaf, saya tidak sependapat dengan kata-kata “ngapain ridhonya dicari”, kalau keyakinan saya berpendapat bahwa mengejar ridho-Nya lah yang idealnya menjadi esensi manusia dalam menjalani hidup.

        Tuhan telah menciptakan hukum alam. Orang bisa saja menembakkan pistol ke kepalanya sendiri, dan tentu saja akan meninggal. Namun, itu bukan berarti Tuhan meridhoi hal tersebut. Sehingga benar, Tuhan selalu menyiapkan hal yang baik untuk umat-Nya, tapi sering kita tidak ridho dengan itu. Maka dari itu kita harus menjalani hidup dengan azas mencari ridho Tuhan, agar Tuhan pun mudah-mudahan pada akhirnya meridhoi kita.

        Jadi untuk poin yang terakhir saya sepakat, tapi yang awal tidak. Hehe

  2. Thanks for sharing Fik! kesimpulan yang pada akhirnya kita diposisikan seperti aktor di acara “Akhirnya Datang Juga!” itu sangat menarik, mungkin nanti aku bakal pake analogi itu juga kalau sharing ke temen yang lain. (sekalian minta ijin repost nih, haha)

  3. sedikit saya klarifikasi,
    bolehlah kita mencari ridho, Allah itu mudah memberi kita ridho. justru kita yg sulit memberikan ridho kpd-Nya, ketika kita memiliki ekspektasi tinggi terhadap hidup kita, dan ekspektasi tsb tdk tercapai, terkadang manusia itu kecewa dan mengungkapkan kekecewaannya kpd Allah dan merasa hidup ini tdk adil.

    “kalau kita sdh ridho thdp penderitaan kita, maka kita akan diberi kebahagiaan oleh-Nya”

    mungkin itu yg bisa saya sampaikan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s