“Adjacent Possibilities”, Kreativitas, dan Fisika Modern (sebuah pembenaran untuk procrastinating)

Ibu saya pernah bilang kalau terkadang dia bingung, sebenarnya anaknya ini emang agak pintar atau malah bodoh. Kenapa saya suka mikir yang rumit-rumit, kenapa yang simpel-simpel jadi rumit.

Saya juga bingung, dari dulu memang saya suka mikir yang rumit-rumit. Saya selalu ingin mencoba melihat segala sesuatu dari beragam sudut pandang. Semua orang terkadang kesal, kenapa saya suka mempertanyakan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Tapi kalau mereka tahu, sebenarnya saya justru ingin membuat penyederhanaan atas segala hal yang rumit. Saya selalu ingin bisa mencari segala keterkaitan dari hal-hal yang tidak terkait dan menyimpulkannya dalam suatu framework sederhana. Bukan buat apa-apa, hanya agar saya tahu bahwa kesimpulan yang saya ambil valid, tidak asal ambil dari orang lain. (Ibaratnya pengen haqqul yaqin, nggak sekedar ainul atau ilmul yaqin haha)

Ya, saya paham ada logika linier dimana semuanya jadi mudah, straight to the point. Tapi, ada kalanya kita perlu menjelajah kemana-mana, meskipun akhirnya perpindahan yang kita dapatkan tetap linier. Semua aturan simpel, elegan, tapi berfungsi secara kompleks, sebab dia diterapkan pada suatu sistem yang besar. (ngomong naon)

diambil dari sini: http://www.creativitypost.com/create/tina_seeligs_insights_on_creativity

Dan ini juga saya rasa berhubungan dengan kreativitas dan teori “adjacent possibilities(tentang inovasi oleh Steven Johnson yang dipinjem dari Biologi Kauffman). Bahan bakar dari kreativitas adalah imajinasi, menantang asumsi, mencari keterkaitan dari hal-hal yang sepertinya tidak berhubungan [1]. Saya pun jadi berpikir bahwa mungkin pikiran kita pun bekerja sebagaimana fenomena yang dijelaskan oleh fisika quantum.

Nah, sebelumnya saya jelaskan apa yang saya tahu tentang Artificial Genuine Intelligence (seidkit banget sih, nggak pernah spesifik belajar AI). Dalam salah satu implementasi AGI, kita berusaha menjadikan satuan terkecil (representasi) dari kecerdasan berupa “atom” [2]. Atom-atom ini nanti saling dikaitkan. Misalnya kita kasih tau si komputer bahwa “Buku adalah jendela dunia“, maka nanti ada suatu atom yang berisi “buku”, dan ada atom yang berisi “jendela dunia”. Lalu mereka terhubung, sehingga ketika kita bertanya, “Apa jendela dunia?” si komputer bisa menjawab “buku”, melihat dari struktur antar atom ini.

Nah saya pikir, sebenarnya pikiran manusia mengembara kemana-mana sebelum akhirnya membuat suatu kesimpulan. Sebenarnya saya agak lupa bagaimana persisnya saya bisa memikirkan tentang hal ini, maklum saya awam soal fisika (tapi masih sok-sokan masukin di post :)) ). Kalau tidak salah waktu itu saya habis baca buku Stephen Hawking dibahas tentang fenomena dan beberapa interpretasi dari quantum mechanics. Hmm gimana ya jelasinnya, langsung dengan gambar saja karena dia berbicara dari ribuan kata (padahal karena sebenernya saya ndak paham-paham amat jadi ndak bisa jelasin toh :D )

Feynman Paths

 

gambar diambil dari [3]

Nah mungkin saja sih (tebak-tebakan saya), saya adalah tipe yang menjelajahi bahwa ada berbagai alur dalam proses menalar dari A ke B, sehingga terkesan rumit. Padahal mungkin setiap orang sebenarnya mengalami hal yang sama, hanya saja tidak menyadarinya atau mengungkapkan alur-alur tersebut. Sedangkan saya orang yang cukup kurang kerjaan untuk memikirkan hal-hal itu (berbagai probabilitas alur berpikir) dan masih lebih kurang kerjaan lagi untuk membawanya ke obrolan.

Renungan ini saya dapatkan di kamar mandi saat membaca buku [1] beberapa bulan lalu. Setelah itu saya coba search di internet dan rupanya ketemu suatu artikel bahwa manusia berpikir seperti quarks. Memang ada indikasi yang menunjukkan bahwa konsep yang ada di fisika modern ini juga applicable untuk menjelaskan cara berpikir manusia [4].

Nah lalu, apa hubungannya dengan “adjacent possibilities“? Teori ini mengungkapkan bahwa proses inovasi itu sebenarnya bukan sebuah lompatan ide yang drastis dari ide-ide yang ada sekarang, melainkan suatu next-step dari ide-ide cutting edge yang ada. Bisa jadi suatu penemuan di suatu bidang bisa diimplementasikan di bidang yang lain. Bisa jadi apa yang ada di suatu bidang dikembangkan lebih lanjut. Yang jelas tahapannya bukan bersifat lompatan dramatis, tapi lebih meminjam-minjam dan mengembangkan pola-pola yang sudah ada menjadi pola yang baru. Tentu saja kreativitas lah yang bisa membuat koneksi antara ruang satu dengan ruang lainnya.

Oh iya hal ini juga yang melandasi semakin gencarnya riset inter-disipliner. Implikasinya macem-macem. Ada yang memakai konsep evolusi untuk ikut menjelaskan tentang proses pembentukan tatanan politik manusia. Ada yang menggunakan konsep yang ada di neurosains untuk radar. Nah makanya, terkadang procrastinating itu perlu, siapa tahu kita bisa dapet ide untuk kerjaan kita dari hal-hal lain yang secara sepintas tidak berhubungan.

Referensi:

[1] InGenius: A Crash Course on Creativity

[2] http://wiki.opencog.org/w/OpenCogGlossary

[3] The Grand Design

[4] http://www.newscientist.com/article/mg21128285.900-quantum-minds-why-we-think-like-quarks.html#.U6fAXvm1bYg

Saya tahu, tidak seharusnya saya menulis ini sekarang. Harusnya ada prioritas. Tapi seperti inilah saya, dan saya selalu siap menjalani risiko atas pilihan bodoh yang saya buat seperti procrastinating atau melanggar prioritas. 

Sebenarnya saya selalu punya topik yang ingin ditulis, banyak sekali. Saya sudah menuliskannya di pikiran saya dan hanya butuh waktu (yang terasa begitu terbatas) untuk menuliskannya. Saya sudah menstrukturkan apa saja yang ingin saya tulis saat saya berjalan kaki, saat menunggu bus, saat di kereta. Dan sialnya, saya selalu teringat begitu banyak calon tulisan itu tidak menjadi huruf-huruf yang bisa dibaca. Maka hari ini saya putuskan menulis postingan yang sudah lama mengendap ini. Hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s