Sebelum Kata, Setelah Masa

Literatur peranakan at Peranakan Museum – View on Path.

Aku, kau, dan mereka mungkin telah lama lupa

Tapi seseorang pernah suguhkan sebuah cerita

Yang tak pernah aku cermati sebelumnya

Bahwa puisi adalah ibu dari segala bahasa

Maka dengannya Langit kirimkan surat-surat

Dan para sufi mengabadikan ekstase sukma

Hingga matematikawan munculkan pola pada deret angka

 

Mulanya,

Jauh sebelum citra dan aksara menjadi anak cucunya

Dengan getar nada, rima, serta irama

Bayi-bayi telah berbicara tanpa gramatika, meraba tanpa kenal tekstur , dan melihat tanpa ada pantulan cahaya

Dalam misykat kandung ibunda

Sebagai lukisan, dunianya tanpa warna, pendarnya lampaui ultra dan infra

Dia adalah kumpulan gelombang realita, meski tak lazim dan tak terbayangkan

Mengingatkanku akan Einstein dan mekanika, bahwa waktu-ruang hanyalah suatu matra

Biarpun memberi ragam makna dan bikin banyak orang terlena

 

Namun dia adalah bahasa, dia adalah mistis

Saat kini arti diksi kian terkikis, dia hadir secara magis

Tetap ada pesan, tanpa suara mesti terhantar

Mengalir dalam getaran kalbu meski raga terpisah oleh kilo beribu

Tetap mengusik, dialah bahasa ibu

 

Dahulu,

Ibu berpuisi aku selalu mendengarkan

Sabda-sabda yang dinyanyikan, serta gemericik air di tengah gelap malam

Sekalipun terlupa, juga tak terekam, sebab detak dan detik itu sudah lama berlalu

Ketika sembilan bulan di perut ibu

Jika hendak mengingat, payahlah aku

Bahkan saat aku baru bisa melagu  ba bi bu, pun tak lagi ada di memoriku

 

Kini,

Satu yang pasti aku ketahui hari ini bertambah hitung usia ibu

Ibu yang mengajarkan berbincang untuk selalu mencari Kebenaran

Sedari sebelum aku mengenal kata hingga setelah aku berkejar-kejaran dengan masa

 

Dan seiring hari,

Kasih ibu selalu tumbuh bagai pohon yang tinggi menjulang kokoh mengakar

Meski berat pedih jika ingin ditakar, jalan yang dilalui telah menjelma jadi penempa sabar

Aku percaya, suatu saat nanti semua ‘kan lunas terbayar, kelak, saat segala keraguan luluh hilang terbakar

Hendak ditukar dengan keyakinan mantap teguh lurus pada Sang Pemilik Fajar

Sampai pertemuan itu datang, aku berdoa supaya kami sekeluarga tetap diberi-Nya kekuatan

Guna membersihkan hati dan jiwa, untuk tetap menulis kisah hidup dengan ikhtiar penuh kesadaran

Sebagai sepenggal cerita yang telah dimulai sebelum kata dan akan tetap abadi setelah masa

 

Singapura, 44

Syarif Rousyan Fikri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s