Mencari #2

“Hidup ini singkat, dan saat kau menyesal semuanya sudah berakhir.”

Satu lagi orang bercerita tentang pengalamannya. Tiba-tiba saja instingku berkata bahwa bagian dari ikatan takdir pula yang membuatnya mengatakan ini padaku. Dan baginya pribadi, apa yang dialaminya seharusnya dapat menjadi suatu titik balik.

“Menurutku ini semua adalah tentang bagaimana kau memaknainya,”

kataku seraya membalikkan badan. Ku haturkan ucapan sampai jumpa. Terkadang aku pun bisa merasa bosan. Rasanya sudah dari lama dia bilang padaku ia hendak mencari. Tapi seberapa serius ia dalam mencari?

Bukan hanya dia. Dan kebanyakan mereka bahkan tak tahu apa yang harus mereka cari. Dalam hidup ini. Dalam satuan yang manusia tak pernah bisa membayangkannya secara utuh dengan akal dan rasa.

Di awal tahun ini pula seorang teman mendatangiku dengan tiba-tiba. Dia katakan ingin berkunjung. Kami berdua adalah orang-orang yang terdampar pada bidang studi yang tidak optimal bagi garis-garis talenta yang kami punya. Banyak yang kami lalui bersama, meski akhirnya harus berpisah di perempatan.

Saat ia datang, ia pun sedang berada dalam dilema-dilema hidup. Aku pun hanya bisa bercerita pengalamanku dan mengatakan hal-hal klise yang entah bagaimana bisa mengantarkan hidupku pada titik sekarang. Semua orang punya nilai dan pertimbangannya masing-masing biar bagaimanapun juga.

Menariknya, suatu ketika kami menjelajah kota dan secara tak sengaja ia melontarkan kata-kata bijak,

“Mungkin karena kau tak tahu apa yang kau cari, maka kau tak pernah menemukannya”

Dia ucapkan itu hanya karena aku menemukan tempat yang selama ini tak pernah aku ketahui.

Dan juga, beberapa minggu lalu ada pula yang bertanya padaku,

“Hei kau, dengan segala filosofimu itu, jadi apa yang harus kita cari dalam hidup”

Aku terdiam sejenak. Dalam beberapa detik aku berpikir bahwa jawabannya bukanlah terdiri atas barisan kata yang diartikulasikan melalui udara. Tapi aku pikir, aku belum menguasai bahasa untuk menjawabnya, maka sebagai seorang manusia aku pun mengeluarkan kata-kata klise.

Aku sadar bahwa mengungkapkannya dengan seperti itu tidak akan membuat jawabanku berarti. Apalagi untuk orang yang usianya seumuran dengan orang tuaku.

Tapi, aku tak punya pilihan kan?

Biarlah, mungkin memang belum saatnya mereka mendapatkan jawaban. Sebab jawaban itu akan datang di saat yang tepat, bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam mencari.

Aku rasa kisah-kisah tadi cukup untuk menemani lamunanku di kereta kali ini. Sebuah jalan panjang menuju rumah.

Tiga tahun lalu aku tak dapat memahami apa yang menyebabkan seorang ibu begitu senang. Bukan hanya dia, tapi teman-temannya pun juga merasa senang. Padahal bagi pemuda yang sedang melakukan perjalanan itu sendiri, rasanya biasa-biasa saja.

Kini, saat orang terdekatku sendiri yang berhasil melewati satu anak tangga dalam perjalanan terpenting dalam hidupnya, aku sedikit bisa merasakan kesenangan itu.

Biar bagaimanapun, pencarian dan perjalanan ini tak hanya milik kita seorang bukan? Maka dari itu kita tak boleh lelah untuk berjalan bersama orang-orang di sekeliling kita.

Bukankah saat pencarian ini berakhir, lebih bahagia jika kita bersama dengan mereka? Maka jangan lupa kirimkan doa. Agar kita dan mereka tak berhenti mencari.

Kopi ini sudah dingin, mungkin saatnya aku hengkang dari coffee shop ini. Lidahku memang tak pernah cocok dengan kopi, sebab yang aku butuhkan hanyalah suasana untuk bisa menuliskan kisah-kisah tentang pencarian.

Lanjutan dari Mencari #1

Still a long-yet-short way to go to the half-way, but the power of slacking off is real

Finally, I think now is the right time to start writing down this sort of informal research journal of mine (I can always find the right time to procrastinate 😀 ). It won’t be technical. It’s more about how I feel when I’m doing the so called research.

(Intermezzo: I just knew a few days ago, even a person like Delphine Helena Marpaung will skip it if there’s any equation in someone’s blog. I thought she was more robotic and ‘equationic’ than that LOL)

“I’m happy for you, because you started to produce more results.”

I felt so relieved when my supervisor talked like that. Initially, I was hesitant to met him because I feel I’m too slow. I mean, I have pushed myself more than the way I used to be (because I know I was late already for my QE), but of course my standard is still very low. But, once again, it’s good to have all the favorite TV series on break so I didn’t watch any series for the last 1-2 months (but I miss them already!!). I even put so many books on self (miss them but need to know the priority, but I still have my Toilet-book if you know what I mean LOL).

Ok, so here the story goes..

I started QE initiation Continue reading “Still a long-yet-short way to go to the half-way, but the power of slacking off is real”

Hakikat Berbisnis

Ini adalah salah satu topik yang dari dulu ingin saya catat. Banyak buku mengajarkan kita untuk menerapkan akhlak yang baik, ibadah-ibadah formal, serta bersedekah dalam berbisnis. Namun, kalau kata Guru saya, sebenarnya kita berbisnis itu ya untuk berakhlak mulia. Bukan sebaliknya, kita berakhlak untuk berbisnis. Berbisnis itu untuk silaturahmi, bukan sekedar silaturahmi untuk berbisnis.

#lurus

Kita harus meniatkan segala tindak-tanduk kita untuk mengejar ridho Tuhan semata. Begitu idealnya. Dalam urusan apapun yang kita jalani, apapun pekerjaan kita, apapun peranan kita, kita harus niatkan itu sebagai bentuk penghambaan kepada ilahi.

Sehingga, di situlah kita melakukan yang terbaik bagi siapapun dengan niat mengerjakan perintah Tuhan: saling mengenal, saling tolong-menolong, dan memakmurkan bumi. 

Berbisnis, bukanlah untuk keren-kerenan, pencitraan, atau bahkan mengejar harta semata. Dan, karena berbisnis adalah suatu manifestasi pengabdian kepada Tuhan, iapun harus dilakukan dengan cara-cara yang baik pula. [ada artikel menarik yang saya temukan: http://alfaizin.tumblr.com/post/64478182217/lurus-lah]

#sudut pandang

Saya teringat dulu waktu saya sedang mengikuti program Apprenticeship di IBM, rasanya kok saya menjadi buruh dan instrumen kapitalis yah? Lalu Mas Ivandeva memberikan saya suatu sudut pandang lain. Misalnya kalau kita posisi kita di bagian Business Partner , esensinya sebenarnya adalah memajukan bisnis lokal itu sendiri.

Lalu, misalnya ada yang bilang mengapa kok mahal sekali (kapitalis) ya karena kita harus tetap bisa menjaga kualitas, menjaga service kita, makanya ada harga. Nah, dengan sudut pandang seperti itu, kita bisa menemukan makna. Dan dengan meniatkan itu sebagai bentuk beribadah, kita tidak menjadi budak kapitalis, tapi kita niatkan untuk menjadi kacungnya Tuhan. Semua tergantung sudut pandang banget sih memang, tergantung niat kita. Mungkin kalau yang sekarang dapat rezekinya di perusahaan asing, Tuhan sedang menakdirkan belajar dan mungkin perannya lagi gitu. Kalau ke depannya dikasih peran yang lebih baik, lebih ideal dengan idealisme, yasudah disyukuri saja.

#berbagi

Saya mendapatkan cerita. Ini tentang orang yang sebenarnya sudah baik, tapi masih bisa menjadi lebih baik lagi. Seorang pengusaha yang lurus sudah mendapatkan ijin untuk mengelola sumber daya alam di suatu daerah. Semua sudah siap. Entah sudah berapa M lah yang sudah digelontorkan untuk membangun perusahaan itu. Calon pembeli juga sudah ada. Namun akhirnya belum goal juga terkendala deal dengan warga. Dan dia gak pake premanisme untuk deal itu.

Di sinilah sebenarnya dibutuhkan mental berani berbagi. Kebanyakan orang kekeuh ingin mempertahankan yang namanya kepemilikan dalam berbisnis. Padahal jika semangat berbaginya lebih, mungkin bisnisnya bisa lebih maju. Misalnya, dengan memberikan para pegawai saham, sehingga punya rasa kepemilikan terhadap perusahaan. Mungkin kepemilikan si pemilik bisnis jadi berkurang, keuntungan pun dibagi-bagi, tapi toh di sini para pegawai jadi lebih semangat bekerja, bisnis bisa lebih maju.. dan rezeki bisa dibagi lebih proporsional.

Nah sesuai ilustrasi di paragraf awal, mungkin saja problem deal-deal-an dengan warga bisa saja diatasi dengan mengalah. Mengorbankan keuntungan atau kepemilikan, dengan bayaran berupa keamanan jangka panjang untuk bisnis tersebut sebab warga sekitar punya rasa memiliki.

Tentu saja memang lebih hebat lagi kalau sudah di level social business seperti yang dilakukan oleh Muhammad Yunus, dimana bisnisnya memang tidak diniatkan mengejar profit, tapi memang mengejar target sosial. 

Subhanallah.

#arogansi

Berhubung teman-teman yang saya kenal banyak yang bisnis tentu saja saya banyak berbincang dengan mereka. Ada yang sudah tersohor karena sering dapat penghargaan, masuk koran dll. Ada juga yang tidak terliput media tapi nilai proyek yang ditangani sudah orde juta USD. Ada juga yang selow-selow saja dapet lumayan. Ada yang bisnisnya jalan-jalan aja anteng-anteng aja, gak heboh-heboh, biasa aja. Dan banyak model lainnya.

Terkadang waktu ngobrol dengan teman-teman ini saya bisa merasakan ada beberapa yang di saat tertentu, mereka berbicara dengan arogansi. Ya mungkin mereka mengungkapkan fakta. Tapi kita selalu bisa merasakan, kapan fakta itu sudah dibumbui arogansi. 

Orang yang pencitraan mungkin saja melakukan itu sebagai marketing. Tapi itu tidak membuat orang yang tidak melakukan pencitraan bisa berbangga karena tidak melakukan pencitraan misalnya, dan merendahkan yang sering nongol di media. Tapi ya mungkin sudut pandang lainnya adalah, dia sedang memotivasi bahwa sebenarnya yang nongol di media terlihat keren gak sekeren itu. Ya saya sih kembali lagi ya, setiap orang punya perannya masing-masing.

Dan lagi, saya kurang suka saat ada rekan saya yang karena sudah merasa menemukan panggilannya, lantas ngata-ngatain orang lain. Seriously, walaupun mereka adalah sahabat-sahabat saya, saya tidak nyaman dengan itu. Tapi karena saya menghargai personal stance mereka dan tahu karakter mereka, ya saya diamkan saja. Kita tidak bisa mengatur bagaimana cara orang lain berpikir, tapi kita selalu bisa memberikan moral compass sesuai dengan prinsip kita.

Jadi semua orang punya perannnya masing-masing. Kita tidak boleh meremehkan. Pemilik bisnis tidak boleh meremehkan orang-orang yang jadi engineer misalnya. Karena meskipun mereka membayar engineer jauh lebih murah dari profit mereka sekalipun, itu tidak membuat mereka jauh lebih mulia. Sebab tanpa adanya engineer pun bisnis mereka tidak akan jalan.

Kita tidak boleh menghina orang-orang yang memiliki passion berbeda dengan kita. Setiap orang punya kesukaannya masing-masing kok. Dan setiap manusia yang sadar untuk berkarya pasti berguna untuk orang lain di sekitarnya.

#kesimpulan

Ya intinya segala urusan kita di dunia ini harus diniatkan untuk Tuhan. Dilaksanakan dengan cara yang lurus, “wa ta’awanu alalbirri wattaqwa wa laa ta’awanu alal itsmi wal udwaan”,”wa ahalallahul bai’a wa harramarriibaa” (mohon dikoreksi kalau salah, gak ngecek dulu spellingnya).. dan aturan-aturan lain.

Dan jangan sampai kebalik-balik niatnya. Itu kalau mau hidup dengan hakikat yang sejati loh.

Dan ya, karena bos kita Tuhan, ya kita harus senantiasa memberikan dedikasi terbaik kita pada setiap pekerjaan. Kalau belum bisa baik ya harus diupayakan lebih baik lagi.

Next, mungkin saya juga hendak membahas tentang bagaimana peran sifat amanah dan persahabatan bisa mengantarkan kita pada suatu “Lucky Network”. Network jenis ini bukan jenis network yang berisi “important contacts”, ini justru merupakan network yang isinya teman-teman kita yang suatu saat bisa menjadi pintu rezeki kita. Selain itu saya juga ingin mengaitkan antara yang ada di tulisan ini dengan tulisan-tulisan dari buku-buku bisnis yang saya baca (ya tentunya rada akademis karena beberapa dari HBR).

Terakhir, saya hendak menutup catatan ini (yang kebanyakan inspirasinya saya peroleh dari Guru saya dan orang tua saya, dan pengamatan terhadap teman-teman) dengan sebuah kalimat bijak:

Seperti tanaman-tanaman, sekarang pohon kecil ternyata nantinya jadi pohon beringin, sebaliknya ada yang sekarang kelihatannya tanamannya tumbuh subur tapi tidak ada buahnya.

Perfeksi-Metakognisi

Sabtu 9 Juli, kurang lebih hampir pukul 11 pagi. Di bus 199, ingatan autobiografi saya melemparkan saya pada sebuah momen di masa SMP. Mbak-mbak kuliahan sedang PKL di kelas saya. Karena saya songong, saya merasa tertantang waktu dia bilang bisa menebak kepribadian (katanya dia belajar psikologi ototodidak). Maka seorang anak berusia 11 tahun pun disuruh menggambar gunung dan matahari.

Saya letakkan mataharinya tinggi menjulang di atas. Lalu berkata si mbaknya, “Kamu orangnya perfeksionis.

Merasa tidak terima seolah-olah kepribadiannya ditelanjangi si anak pun menimpali dengan segera, “Tidak, saya tidak perfeksionis, saya orangnya apa adanya,” disertai beberapa bantahan lainnya yang sebenarnya merupakan wujud arogansi masa muda.

Dalam sepersekian detik, si anak sadar bahwa benar, dirinya adalah seorang yang perfeksionis, namun orang tuanya mendidiknya untuk belajar menghargai apa yang ada meskipun tidak sempurna.

Tidak semua mimpi harus diwujudkan, biar tidak manja. Apalagi saat ospek (yang disebut FORum TAaruf dan SIlaturahmi), tidak semua barang-barangnya harus sesuai spek. Mungkin karena orang tua saya juga malas direpotkan dengan hal-hal kecil semacam itu, sementara mereka punya kesibukan kerja yang luar biasa. Atau mungkin juga mereka benar-benar ingin anaknya belajar untuk bersyukur dan menghargai apa yang ada.

Lalu ingatan demi ingatan kembali memutar-mutar seputar analisis mengenai kepribadian saya yang agak kompleks dibandingkan teman-teman sekelas (diukur dari panjangnya kotak penjelasan di hasil psikotes). Saya masih ingat garis-garis besar hasil psikotes jaman SMP meskipun kertasnya sendiri sudah saya sobek-sobek, saya juga melipat-lipat dan melempar-lempar rapor SD dan piala-piala yang saya punya. Hal itu terjadi saat saya marah, entah kenapa saya lupa.

Semuanya berhubungan. Hingga akhirnya saya beranjak dewasa pun saya masih berpikir dengan hasil analisis-analisis itu. Entahlah, mungkin memang pernah ada suatu masa dimana saya benar-benar maniac dengan hal-hal seperti itu. Melakukan sendiri tes-tes kepribadian pada diri saya sendiri waktu saya masih SMP. Membeli banyak buku-buku psikologi, tes IQ, tes kemampuan akademik, dan bacaan seputar kecerdasan-multi.

Lalu, di tengah itu semua saya selalu mendapatkan suatu pemahaman bahwa ketidaksempurnaanlah yang menjadikan manusia sempurna sebagai seorang manusia. Ada hal-hal yang saya tanyakan ke psikolog tentang analisis-analisis tersebut namun tetap menjadi pertanyaan dan terkadang saya tidak mau mencari tahu jawabannya secara saintifik. Saya memilih untuk mencari jawabannya melalui kontemplasi-kontemplasi acak seperti ini yang berjalan dengan natural seiring dengan upaya saya menghargai proses kehidupan.

Berhipotesis. Jika saya diberikan sesuatu yang lebih dan menjadi sempurna, mungkin saya akan jauh lebih sombong dibandingkan sekarang. Ingin apa-apanya sempurna. Dan, mungkin saya tidak akan bisa soft landing menjadi saya yang sekarang dengan beragam kejadian abnormal dalam hidup saya.

Dan rupanya ini adalah suatu nikmat yang tersendiri. Sebab tanpa adanya nikmat itu, mungkin saya tidak akan diberikan jalan untuk kembali mengingat Tuhan di kala masa-masa sulit yang saya alami. Saya selalu kembali menyadari bahwa ada sesuatu di luar batas kita, justru saat saya paham bahwa saya punya batasan.

Ya. Agak sulit untuk mengungkapkannya di sini, tapi dari analisis itu saya selalu merasa bahwa ada sebuah gap dalam diri saya. Saya diberikan sesuatu yang cukup istimewa, tapi tidak sempurna. Saya diberikan kapabilitas yang tinggi merata di segala aspek, namun tidak diberikan angka yang tinggi menjulang. Terlebih lagi dari aspek kemampuan untuk mendayagunakan potensi itu, saya diberikan segala keunggulan namun menjadi angin-anginan sekaligus. Mereka selalu bilang saya sebenarnya bisa meraih apapun yang saya mau, menjadi apa saja, memperoleh nilai sempurna. Dengan kata “namun”.

Luar biasa. Semuanya seolah dirancang untuk membuat saya memahaminya di usia yang ke-22. Sebelas tahun dari kejadian itu.

Oya, bahkan, sampai sekarang perfeksionisme itu belum hilang dari diri saya. Selama kuliah, baik di ITB, dan di NTU, saya masih mengejar itu. Dan karena kekurangan saya yang tidak saya tambal, saya gagal mengejar perfeksionisme.Saya selalu ingin lari dan malu dari ketidaksempurnaan itu. Malu dengan apa yang seharusnya bisa saya capai. Beruntung, saya memiliki orang tua dengan nasihat klasik ala mereka yang membuat saya tetap bertahan meski tidak dengan hasil yang sempurna. Justru saya kembali dididik untuk senantiasa bangkit dari kegagalan, bermental lebih keras dari baja.

Perfeksionisme itu tetap ada. Namun bedanya, sekarang saya memahami kondisi ini dengan resolusi yang lebih tinggi dibanding 11 tahun lalu. Dan dari sini saya belajar untuk menghargai semua proses yang ada. Kesombongan saya, dia juga belum hilang. Dia terus ada, tapi saya sudah memahami keberadaannya. Bersama pula dengan sifat saya yang mudah jenuh dan angin-anginan. Saya mengakui keberadaan mereka. Saya paham ketika mereka sedang muncul. Saya kini telah menjabatkan tangan saya dengan mereka dan bersama-sama ingin menjadi pribadi yang lebih sadar akan dirinya sendiri.

Setiap orang punya masa lalu dan kekurangan, tapi justru Tuhan jadikan itu sebagai kelebihan bagi mereka yang mau memikirkannya dan mempergunakannya untuk senantiasa berjalan di jalan-Nya.

Kekuranganmu di masa kini dan kesalahanmu di masa lalu, adalah jalan menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Dan jangan berhenti mengayuh jika tak ingin terjatuh, tetap berjalan meskipun ada lampu merah menghadang, sekalipun itu di negeri singa.

Mencari #1

Masih segar di ingatanku saat usiaku masih delapan belas. Suatu malam di kota Medan, aku duduk bersama seorang Kakek tua yang merupakan kakek dari kakak kelasku sendiri di universitas. Dia pikun. Dia bahkan lupa bahwa dua tahun sebelumnya sudah pernah bertemu denganku.

Kakek tua itu lalu bercerita bagaimana dulu dia meninggalkan pekerjaannya sebagai pilot selama setahun. Dia bilang bahwa ada sesuatu yang jika ia tidak temukan, hidupnya akan sia-sia tak berarti sama sekali. Maka dia pun pergi mencari kebenaran yang ia pertanyakan. Sekembalinya dari situ, alih-alih dimarahi dijauhi atau dicemooh sebagai aneh, teman-temannya justru tertarik untuk melakukan hal serupa: mencari kebenaran.

Dia menceritakan itu berulang-ulang. Entah berapa kali, mungkin lima kali? tujuh kali? atau lebih? Sampai akhirnya anaknya yang masih kecil datang dan membawakan obat untuknya. Yang membuatku terkesan adalah, dengan segala kepikunan yang dipunya, Kakek ini memberi impresi bahwa hal itu adalah hal yang paling penting dalam hidupnya; yang tiada ia sesali. Ia seolah menyuruhku untuk cari kebenaran itu selama aku masih punya waktu. Dan kata dia, beruntunglah jika kelak aku menemukan kebenaran itu, sekalipun mungkin kebenaran itu lain dari apa yang diyakini oleh orang kebanyakan.

Di masa yang lain, aku bertemu dengan seorang scriptwriter. Salah satu yang terbaik di negeri ini menurut seorang Pembantu Rektor suatu institut kesenian. Pertemuan kami cukup singkat. Pertama dan terakhir. Sebab tak lama setelahnya aku dengar kabar bahwa dia meninggal.

Perbincangan cukup menarik sebab dia waktu itu juga membahas tentang ‘Ku Antar Ke Gerbang‘ yang baru saja saya baca. Waktu itu katanya, sedang ada yang berencana untuk menggarapnya jadi sebuah film. Tentu saja kawan-kawannya sendiri yang menulis skenarionya.

Seniman ini merasa telah diberikan nyawa kedua. Semua orang mengira bahwa dia akan mati setelah suatu operasi. Isi perutnya sudah tak karuan lagi bahkan waktu itu ia tak dapat duduk lesehan. Aku dengar bahwa dalam pencariannya, dia telah melewati berbagai macam kehidupan. Dari bergaul dengan orang-orang di lokalisasi, hingga komunitas homoseksual. Semua demi membuat suatu karya seni yang menjiwai. Dari kehidupan-kehidupan hitam hingga mereka yang menyukai sesama jenis telah ia selidiki. Dan dari segala pencarian, akhirnya ia sampai di tempat itu; suatu tempat yang memberikan ketenangan. Bersama pencarian ini, ia pun sudah meniatkannya sebagai karya terakhir; membuat film tentang akhlak mulia.

Film tersebut akhirnya tak jadi dibuat. Ia meninggal di awal proses. Tapi satu hal yang dia yakini, nyawa kedua-nya tak sia-sia. Sebab ia telah menemukan apa yang dicarinya.

Mata yang enak dipandang

Dulu pernah ada yang tanya saya di ask.fm tentang buku sastra klasik Indonesia. Meskipun saya tahu Eyang Kakung saya penggemar berat karya-karya Hamka, dan meskipun Om saya mencekoki buku-buku Pram, saya sendiri belum membaca semua buku-buku itu. Lalu beberapa hari lalu, seseorang bercerita kalau dia suka baca buku Ahmad Tohari. Waktu saya pulang saya sempatkan membeli buku ini.

Judulnya tidak pernah asing. Mata yang enak dipandang. Sampai sekarang saya baru sempat membaca dua cerpen di sini. (dan sebenernya saya rencananya mau menuliskan postingan ini hari minggu atau senin kemarin kalau kerjaan saya beres. rupanya kerjaannya gak beres-beres sampai sekarang. jadi yaudah sempetin nulis aja deh :p)

Okeh, sekarang langsung saja, impresi yang saya dapatkan dari buku ini adalah Ahmad Tohari menggali sudut pandang dari orang-orang yang dipandang sebelah mata. Dan saya mendapati hal ini sebagai sebuah perspektif yang menarik dalam memperluas horizon kita.

Dalam “Mata yang enak dipandang”, dikisahkan tentang seorang pengemis buta dan bocah penuntunnya. Intriknya menarik, tapi pesan magis yang saya tangkap adalah: orang baik itu memiliki mata yang enak dipandang.

Pesan magis ini bagi saya menggambarkan sebuah intuisi yang dimiliki manusia. Manusia seiring dengan berjalannya waktu bisa merasakan apakah seseorang atau baik atau tidak hanya dari tampilan luar. Sebaliknya, seorang manusia yang baik akan dapat menonjolkan aura-nya.

Ini mengingatkan saya akan cerita Eyang saya bahwa pernah jaman dahulu kala saat beliau mengunjungi suatu pabrik, (ceritanya waktu itu mbabat alas buat usaha ibu saya) tiba-tiba yang punya sudah mau percaya dan bertransaksi dengan tidak dibayar lunas. Alasannya sederhana dan rasanya sangat berkesan ke Eyang Putri,

“Waktu ibu turun dari mobil, saya sudah merasa bahwa ibu adalah orang baik”

Ya, mungkin sesuatu semacam itu memang ada.

Lalu di cerita yang kedua, saya lupa judulnya. Kalau tidak salah waktu jebris ada di rumah. Kisahnya tentang seorang pelacur yang hidup bertetangga dengan tokoh agama. Dan istri dari tokoh agama tersebut merupakan sahabat pelacur tersebut sejak kecil.

Pelajaran yang saya ambil adalah, hidup tidak selamanya hitam putih. Alangkah baiknya jika kita lebih bijak dalam menyikapi segala fenomena kemanusiaan.

Sebenernya ada beberapa hal yang pengen diposttt.. tapi seperti biasa. Too many things to do, so little time available, but you can always bring color into Agumon’s world!!

Access expired, so it’s been 2 years for real? (Warning: it contains a lot of pictures!)

Today I was shocked. When I was about to offer Maghrib, I found my access card expired when I tapped it to get out of lab. Then I decided to go back home earlier than usual (by asking lab mate to tap her card for me), although initially I was planning to stay until 12 because I need to do extra work and give some revision to my supervisor.

2 y.o. matric card

Nonetheless, it gives me a chance to contemplate for a moment of what I’ve been through.You know, when things consume us, we often don’t realize how far we’ve gone through the game. Just like this figure below.

This is my life

Kidding!

Let’s start with what happened today. It’s a milestone. Continue reading “Access expired, so it’s been 2 years for real? (Warning: it contains a lot of pictures!)”

Log: Short-term Memory Loss dan IQ Lumba-Lumba

Suatu ketika saya pernah ngetweet tentang IQ 125. Yakni karena Richard Feynman mengaku-ngaku bahwa IQ-nya 125 (which is highly unlikely, untuk ukuran one of the most brilliant scientist. But you know, saying his IQ 125 with such a magnificent accomplishment could be seen from two different perspective: the power of hard working, or false modesty). Mungkin aja dari beberapa tes, dia pilih angka paling kecil buat dipublikasikan. 125 sih konon above average, merely respectable.

Koko, siswa profesional 

Tapi sejak saat itu saya selalu diejek-ejek IQ 125. Lalu adalah seseorang bernama Koko, seorang yang masuk TN lewat jalur professional hire, mengaku bahwa dia pernah tes IQ dan IQ-nya 67. Saya pikir itu nonsense yah. Karena sebenarnya dengan IQ segitu sudah masuk intellectual disability. Tidak mungkin dia bisa dihire oleh TN untuk menjadi siswa profesional! Continue reading “Log: Short-term Memory Loss dan IQ Lumba-Lumba”

Mudik

Huft, akhirnya akan menyempatkan ngeblog lagi.

Lebaran kemarin saya mudik, meskipun hanya cuti 2 hari. Sebelum berangkat sempat salah perhitungan waktu untuk ke airport.Kebingungan, apakah akan ketemu supervisor atau tidak. Tapi akhirnya ketemu supervisor dan untungnya beliau terlihat senang dan mengijinkan saya untuk berlibur dengan tenang sebagaimana saya post di path/tumblr:

Hari ini akhirnya setor draft paper setelah telat 2 minggu. Tadi sempet ragu dan mau kabur aja gausah ketemuan tapi email aja. Soalnya report belom beres juga. Tp timingnya rupanya pas. And It turned out my sup was quite happy about it. Katanya enjoy your celebration.. you’ve been working so hard for the last two months. Find a girlfriend. Katanya schrodinger pas liburan honeymoon ato sama pacarnya balik2 dapet ide banyak. Terus gw disuruh setor 2 ide baru habis liburan.
Untung ketemuan sama doi cepet.. jadi bisa segera ke bandara. Terus karena nggak sempet beli oleh2 pamit ke ibu dan dibilangnya “kita bisa kumpul aja udah disyukuri”

Pas di airport sempet ketipu dengan pergantian gate di changi. Harus jalan dari ujung ke ujung, begitu sampe gate yang bener langsung boarding. Sebelum boarding sempet dikasih tau seorang perempuan tua kalau ada sesuatu yang indah di langit:

Continue reading “Mudik”