Log: Short-term Memory Loss dan IQ Lumba-Lumba

Suatu ketika saya pernah ngetweet tentang IQ 125. Yakni karena Richard Feynman mengaku-ngaku bahwa IQ-nya 125 (which is highly unlikely, untuk ukuran one of the most brilliant scientist. But you know, saying his IQ 125 with such a magnificent accomplishment could be seen from two different perspective: the power of hard working, or false modesty). Mungkin aja dari beberapa tes, dia pilih angka paling kecil buat dipublikasikan. 125 sih konon above average, merely respectable.

Koko, siswa profesional 

Tapi sejak saat itu saya selalu diejek-ejek IQ 125. Lalu adalah seseorang bernama Koko, seorang yang masuk TN lewat jalur professional hire, mengaku bahwa dia pernah tes IQ dan IQ-nya 67. Saya pikir itu nonsense yah. Karena sebenarnya dengan IQ segitu sudah masuk intellectual disability. Tidak mungkin dia bisa dihire oleh TN untuk menjadi siswa profesional!

Kenapa professional hire? Karena pada dasarnya dia mendapatkan beasiswa di TN untuk menyumbangkan prestasi di olimpiade. Dia sendiri jarang sekolah di sana, bahkan wali kelasnya aja tidak kenal sama dia. Mirip seperti agen-agen rahasia intelijen.

Oh iya kata dia IQ 67 itu seperti lumba-lumba. Tapi masa iya lumba-lumba segitu berprestasinya dan bisa memainkan beragam alat musik. Ya begitulah Koko, melumba-lumba untuk mendewa.

Mungkin juga sebenarnya Koko adalah jelmaan siluman lumba-lumba. Tidak bisa dites IQnya dengan tes untuk manusia.

Diba si anak exchange. Yang saya sempat lupa namanya.

Oh iya entah kenapa saya merasa akhir-akhir ini sering short-term memory loss. Jadi sabtu malam saya menginap di rumah Koko untuk gegitaran, sekaligus saya mau bikin musikalisasi puisi gitu deh (ceritanya refreshing akhir minggu sebelum banyak deadline menanti seperti biasa. hari ini aja nih disempet-sempetin ngeblog heheu)

Nah, ikut bersama kami adalah seorang exchange student dari UGM bernama Diba, anak IC juga. Cowok. Untuk melindungi pembaca dan yang bersangkutan, berikut kami berikan penampakan Diba.

Meskipun saya sudah kenalan dari Jumat sore terus kita bercanda-bercanda bareng. Secara ajaib saya lupa namanya di keesokan harinya. Sampai-sampai saya harus tanya Koko. :))

Oh iya kemarin pas kita mau makan bareng, karena berangkatnya dari tempat beda-beda, dan busnya penuh. Saya nggak tahu kalau Diba ini ada di bus yang sama. Pas nyampe Husna sama Garda naik saya tanya mereka, “Diba mana?” “Oh dia katanya masih 5 bus stop lagi”

Tiba-tiba aja, di sebuah bus stop yang tidak semestinya, ada seseorang turun. Dia adalah seorang anak muda yang kebingungan begitu turun bus. Saya yang tersadar bahwa itu Diba langsung memberi tahu Garda dan Husna. Husna melambaikan tangan, Diba melihat dari luar bus dengan tampang melas. Dia harus jalan agak jauh. Kasian. Padahal doi puasa.

Saat Anda ngomong meyakinkan tapi salah.

Terus entah kenapa saya sering membuat beberapa kesalahan elementer dalam berkomunikasi. Jadi si housematenya Koko namanya Bang Falah. Entah kenapa saya ingatnya malah Solah.. karena di adzan ada Hayya Alalfalah dan Hayya Alassholah

Terus saya sok-sokan merenung gitu kemarin di hadapan anak-anak IC. “Gua sebenernya miris sama orang-orang yang menghina Israel. Kan ada tuh Nabi yang namanya Isroil.”

Lalu Garda menimpali, “Isroil nama malaikat kali.”

Terus ada lagi kejadian pas ngebahas IQ lumba-lumba Koko. “Jadi memang yah, manusia itu diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Sebagaimana Allah berfirman, Iqra’ bismirobbikalladzii khalaq”

Langsung Garda menimpali, “Woi, itu ayatnya bukan yang itu”

Entahlah saya juga heran. Saya jadi ingat, waktu itu dengan meyakinkannya saya bilang ke teman saya yang asal Pakistan tentang Nasi Padang, “You know what, Padang is actually a province in Indonesia.”

I can’t be more wrong.

Makanan Gratis di wisudaan.

Nah ngomong-ngomong soal kenalan, ada kejadian lucu. Yang namanya Kevin, seorang PhD student kawan saya, dia (dan saya dan Husna juga sih) ikut makan-makan gratis di wisudaan Tony. Padahal rupanya dia belum kenalan sama Tony. Bahkan udah ampe foto bareng beberapa kali, baru kenalan. Hahahah

Ya. Pada saat seorang teman saya tegang karena besoknya akan ijab qabul, saya masih asik mencari makanan gratisan. Hahaha

Duh nulis apalagi ya.

Oiya, sepulang dari rumah Koko, kemarin pagi saya iseng nganterin garda potong rambut. Sebelumnya pas di Malang disuruh potong rambut tapi saya males-malesan terus ga sempet karena masih pada tutup setelah lebaran.

Di tukang rambut, si Auntienya nanya, “You cakap melayu tak”. Saya iyain terus bingung deh dia ngomong apa. Akhirnya jadi kayak gini:

Shock banget sih. Dulu saya pikir kalau misalnya celana, baju, sepatu, ngikutin mode ala-ala singapore gapapa deh. Asal jangan rambut. Tapi sekarang malah jadi gini.

Tapi prinsipnya saya tidak mau menyesali keadaan. Saya sempat down dan tidak berani keluar rumah (halah lebay). Sampai akhirnya instagram memulihkan kepercayaan diri saya. Dengan berbagai filter, dan efek, bisa juga terlihat keren.

rousyanmusic’s avatar

Langsung deh dijadiin profpic soundcloud :))

Ah segitu dulu dehhhh.

Nih bonus. Foto seorang sarjana yang baru lulus bernama Radit sang pengelana pencari wanita tapi tidak ketemu-ketemu.

4 thoughts on “Log: Short-term Memory Loss dan IQ Lumba-Lumba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s