Mata yang enak dipandang

Dulu pernah ada yang tanya saya di ask.fm tentang buku sastra klasik Indonesia. Meskipun saya tahu Eyang Kakung saya penggemar berat karya-karya Hamka, dan meskipun Om saya mencekoki buku-buku Pram, saya sendiri belum membaca semua buku-buku itu. Lalu beberapa hari lalu, seseorang bercerita kalau dia suka baca buku Ahmad Tohari. Waktu saya pulang saya sempatkan membeli buku ini.

Judulnya tidak pernah asing. Mata yang enak dipandang. Sampai sekarang saya baru sempat membaca dua cerpen di sini. (dan sebenernya saya rencananya mau menuliskan postingan ini hari minggu atau senin kemarin kalau kerjaan saya beres. rupanya kerjaannya gak beres-beres sampai sekarang. jadi yaudah sempetin nulis aja deh :p)

Okeh, sekarang langsung saja, impresi yang saya dapatkan dari buku ini adalah Ahmad Tohari menggali sudut pandang dari orang-orang yang dipandang sebelah mata. Dan saya mendapati hal ini sebagai sebuah perspektif yang menarik dalam memperluas horizon kita.

Dalam “Mata yang enak dipandang”, dikisahkan tentang seorang pengemis buta dan bocah penuntunnya. Intriknya menarik, tapi pesan magis yang saya tangkap adalah: orang baik itu memiliki mata yang enak dipandang.

Pesan magis ini bagi saya menggambarkan sebuah intuisi yang dimiliki manusia. Manusia seiring dengan berjalannya waktu bisa merasakan apakah seseorang atau baik atau tidak hanya dari tampilan luar. Sebaliknya, seorang manusia yang baik akan dapat menonjolkan aura-nya.

Ini mengingatkan saya akan cerita Eyang saya bahwa pernah jaman dahulu kala saat beliau mengunjungi suatu pabrik, (ceritanya waktu itu mbabat alas buat usaha ibu saya) tiba-tiba yang punya sudah mau percaya dan bertransaksi dengan tidak dibayar lunas. Alasannya sederhana dan rasanya sangat berkesan ke Eyang Putri,

“Waktu ibu turun dari mobil, saya sudah merasa bahwa ibu adalah orang baik”

Ya, mungkin sesuatu semacam itu memang ada.

Lalu di cerita yang kedua, saya lupa judulnya. Kalau tidak salah waktu jebris ada di rumah. Kisahnya tentang seorang pelacur yang hidup bertetangga dengan tokoh agama. Dan istri dari tokoh agama tersebut merupakan sahabat pelacur tersebut sejak kecil.

Pelajaran yang saya ambil adalah, hidup tidak selamanya hitam putih. Alangkah baiknya jika kita lebih bijak dalam menyikapi segala fenomena kemanusiaan.

Sebenernya ada beberapa hal yang pengen diposttt.. tapi seperti biasa. Too many things to do, so little time available, but you can always bring color into Agumon’s world!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s