Mencari #1

Masih segar di ingatanku saat usiaku masih delapan belas. Suatu malam di kota Medan, aku duduk bersama seorang Kakek tua yang merupakan kakek dari kakak kelasku sendiri di universitas. Dia pikun. Dia bahkan lupa bahwa dua tahun sebelumnya sudah pernah bertemu denganku.

Kakek tua itu lalu bercerita bagaimana dulu dia meninggalkan pekerjaannya sebagai pilot selama setahun. Dia bilang bahwa ada sesuatu yang jika ia tidak temukan, hidupnya akan sia-sia tak berarti sama sekali. Maka dia pun pergi mencari kebenaran yang ia pertanyakan. Sekembalinya dari situ, alih-alih dimarahi dijauhi atau dicemooh sebagai aneh, teman-temannya justru tertarik untuk melakukan hal serupa: mencari kebenaran.

Dia menceritakan itu berulang-ulang. Entah berapa kali, mungkin lima kali? tujuh kali? atau lebih? Sampai akhirnya anaknya yang masih kecil datang dan membawakan obat untuknya. Yang membuatku terkesan adalah, dengan segala kepikunan yang dipunya, Kakek ini memberi impresi bahwa hal itu adalah hal yang paling penting dalam hidupnya; yang tiada ia sesali. Ia seolah menyuruhku untuk cari kebenaran itu selama aku masih punya waktu. Dan kata dia, beruntunglah jika kelak aku menemukan kebenaran itu, sekalipun mungkin kebenaran itu lain dari apa yang diyakini oleh orang kebanyakan.

Di masa yang lain, aku bertemu dengan seorang scriptwriter. Salah satu yang terbaik di negeri ini menurut seorang Pembantu Rektor suatu institut kesenian. Pertemuan kami cukup singkat. Pertama dan terakhir. Sebab tak lama setelahnya aku dengar kabar bahwa dia meninggal.

Perbincangan cukup menarik sebab dia waktu itu juga membahas tentang ‘Ku Antar Ke Gerbang‘ yang baru saja saya baca. Waktu itu katanya, sedang ada yang berencana untuk menggarapnya jadi sebuah film. Tentu saja kawan-kawannya sendiri yang menulis skenarionya.

Seniman ini merasa telah diberikan nyawa kedua. Semua orang mengira bahwa dia akan mati setelah suatu operasi. Isi perutnya sudah tak karuan lagi bahkan waktu itu ia tak dapat duduk lesehan. Aku dengar bahwa dalam pencariannya, dia telah melewati berbagai macam kehidupan. Dari bergaul dengan orang-orang di lokalisasi, hingga komunitas homoseksual. Semua demi membuat suatu karya seni yang menjiwai. Dari kehidupan-kehidupan hitam hingga mereka yang menyukai sesama jenis telah ia selidiki. Dan dari segala pencarian, akhirnya ia sampai di tempat itu; suatu tempat yang memberikan ketenangan. Bersama pencarian ini, ia pun sudah meniatkannya sebagai karya terakhir; membuat film tentang akhlak mulia.

Film tersebut akhirnya tak jadi dibuat. Ia meninggal di awal proses. Tapi satu hal yang dia yakini, nyawa kedua-nya tak sia-sia. Sebab ia telah menemukan apa yang dicarinya.

One thought on “Mencari #1

  1. Pingback: Mencari #2 | R

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s