Perfeksi-Metakognisi

Sabtu 9 Juli, kurang lebih hampir pukul 11 pagi. Di bus 199, ingatan autobiografi saya melemparkan saya pada sebuah momen di masa SMP. Mbak-mbak kuliahan sedang PKL di kelas saya. Karena saya songong, saya merasa tertantang waktu dia bilang bisa menebak kepribadian (katanya dia belajar psikologi ototodidak). Maka seorang anak berusia 11 tahun pun disuruh menggambar gunung dan matahari.

Saya letakkan mataharinya tinggi menjulang di atas. Lalu berkata si mbaknya, “Kamu orangnya perfeksionis.

Merasa tidak terima seolah-olah kepribadiannya ditelanjangi si anak pun menimpali dengan segera, “Tidak, saya tidak perfeksionis, saya orangnya apa adanya,” disertai beberapa bantahan lainnya yang sebenarnya merupakan wujud arogansi masa muda.

Dalam sepersekian detik, si anak sadar bahwa benar, dirinya adalah seorang yang perfeksionis, namun orang tuanya mendidiknya untuk belajar menghargai apa yang ada meskipun tidak sempurna.

Tidak semua mimpi harus diwujudkan, biar tidak manja. Apalagi saat ospek (yang disebut FORum TAaruf dan SIlaturahmi), tidak semua barang-barangnya harus sesuai spek. Mungkin karena orang tua saya juga malas direpotkan dengan hal-hal kecil semacam itu, sementara mereka punya kesibukan kerja yang luar biasa. Atau mungkin juga mereka benar-benar ingin anaknya belajar untuk bersyukur dan menghargai apa yang ada.

Lalu ingatan demi ingatan kembali memutar-mutar seputar analisis mengenai kepribadian saya yang agak kompleks dibandingkan teman-teman sekelas (diukur dari panjangnya kotak penjelasan di hasil psikotes). Saya masih ingat garis-garis besar hasil psikotes jaman SMP meskipun kertasnya sendiri sudah saya sobek-sobek, saya juga melipat-lipat dan melempar-lempar rapor SD dan piala-piala yang saya punya. Hal itu terjadi saat saya marah, entah kenapa saya lupa.

Semuanya berhubungan. Hingga akhirnya saya beranjak dewasa pun saya masih berpikir dengan hasil analisis-analisis itu. Entahlah, mungkin memang pernah ada suatu masa dimana saya benar-benar maniac dengan hal-hal seperti itu. Melakukan sendiri tes-tes kepribadian pada diri saya sendiri waktu saya masih SMP. Membeli banyak buku-buku psikologi, tes IQ, tes kemampuan akademik, dan bacaan seputar kecerdasan-multi.

Lalu, di tengah itu semua saya selalu mendapatkan suatu pemahaman bahwa ketidaksempurnaanlah yang menjadikan manusia sempurna sebagai seorang manusia. Ada hal-hal yang saya tanyakan ke psikolog tentang analisis-analisis tersebut namun tetap menjadi pertanyaan dan terkadang saya tidak mau mencari tahu jawabannya secara saintifik. Saya memilih untuk mencari jawabannya melalui kontemplasi-kontemplasi acak seperti ini yang berjalan dengan natural seiring dengan upaya saya menghargai proses kehidupan.

Berhipotesis. Jika saya diberikan sesuatu yang lebih dan menjadi sempurna, mungkin saya akan jauh lebih sombong dibandingkan sekarang. Ingin apa-apanya sempurna. Dan, mungkin saya tidak akan bisa soft landing menjadi saya yang sekarang dengan beragam kejadian abnormal dalam hidup saya.

Dan rupanya ini adalah suatu nikmat yang tersendiri. Sebab tanpa adanya nikmat itu, mungkin saya tidak akan diberikan jalan untuk kembali mengingat Tuhan di kala masa-masa sulit yang saya alami. Saya selalu kembali menyadari bahwa ada sesuatu di luar batas kita, justru saat saya paham bahwa saya punya batasan.

Ya. Agak sulit untuk mengungkapkannya di sini, tapi dari analisis itu saya selalu merasa bahwa ada sebuah gap dalam diri saya. Saya diberikan sesuatu yang cukup istimewa, tapi tidak sempurna. Saya diberikan kapabilitas yang tinggi merata di segala aspek, namun tidak diberikan angka yang tinggi menjulang. Terlebih lagi dari aspek kemampuan untuk mendayagunakan potensi itu, saya diberikan segala keunggulan namun menjadi angin-anginan sekaligus. Mereka selalu bilang saya sebenarnya bisa meraih apapun yang saya mau, menjadi apa saja, memperoleh nilai sempurna. Dengan kata “namun”.

Luar biasa. Semuanya seolah dirancang untuk membuat saya memahaminya di usia yang ke-22. Sebelas tahun dari kejadian itu.

Oya, bahkan, sampai sekarang perfeksionisme itu belum hilang dari diri saya. Selama kuliah, baik di ITB, dan di NTU, saya masih mengejar itu. Dan karena kekurangan saya yang tidak saya tambal, saya gagal mengejar perfeksionisme.Saya selalu ingin lari dan malu dari ketidaksempurnaan itu. Malu dengan apa yang seharusnya bisa saya capai. Beruntung, saya memiliki orang tua dengan nasihat klasik ala mereka yang membuat saya tetap bertahan meski tidak dengan hasil yang sempurna. Justru saya kembali dididik untuk senantiasa bangkit dari kegagalan, bermental lebih keras dari baja.

Perfeksionisme itu tetap ada. Namun bedanya, sekarang saya memahami kondisi ini dengan resolusi yang lebih tinggi dibanding 11 tahun lalu. Dan dari sini saya belajar untuk menghargai semua proses yang ada. Kesombongan saya, dia juga belum hilang. Dia terus ada, tapi saya sudah memahami keberadaannya. Bersama pula dengan sifat saya yang mudah jenuh dan angin-anginan. Saya mengakui keberadaan mereka. Saya paham ketika mereka sedang muncul. Saya kini telah menjabatkan tangan saya dengan mereka dan bersama-sama ingin menjadi pribadi yang lebih sadar akan dirinya sendiri.

Setiap orang punya masa lalu dan kekurangan, tapi justru Tuhan jadikan itu sebagai kelebihan bagi mereka yang mau memikirkannya dan mempergunakannya untuk senantiasa berjalan di jalan-Nya.

Kekuranganmu di masa kini dan kesalahanmu di masa lalu, adalah jalan menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Dan jangan berhenti mengayuh jika tak ingin terjatuh, tetap berjalan meskipun ada lampu merah menghadang, sekalipun itu di negeri singa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s