Hakikat Berbisnis

Ini adalah salah satu topik yang dari dulu ingin saya catat. Banyak buku mengajarkan kita untuk menerapkan akhlak yang baik, ibadah-ibadah formal, serta bersedekah dalam berbisnis. Namun, kalau kata Guru saya, sebenarnya kita berbisnis itu ya untuk berakhlak mulia. Bukan sebaliknya, kita berakhlak untuk berbisnis. Berbisnis itu untuk silaturahmi, bukan sekedar silaturahmi untuk berbisnis.

#lurus

Kita harus meniatkan segala tindak-tanduk kita untuk mengejar ridho Tuhan semata. Begitu idealnya. Dalam urusan apapun yang kita jalani, apapun pekerjaan kita, apapun peranan kita, kita harus niatkan itu sebagai bentuk penghambaan kepada ilahi.

Sehingga, di situlah kita melakukan yang terbaik bagi siapapun dengan niat mengerjakan perintah Tuhan: saling mengenal, saling tolong-menolong, dan memakmurkan bumi. 

Berbisnis, bukanlah untuk keren-kerenan, pencitraan, atau bahkan mengejar harta semata. Dan, karena berbisnis adalah suatu manifestasi pengabdian kepada Tuhan, iapun harus dilakukan dengan cara-cara yang baik pula. [ada artikel menarik yang saya temukan: http://alfaizin.tumblr.com/post/64478182217/lurus-lah]

#sudut pandang

Saya teringat dulu waktu saya sedang mengikuti program Apprenticeship di IBM, rasanya kok saya menjadi buruh dan instrumen kapitalis yah? Lalu Mas Ivandeva memberikan saya suatu sudut pandang lain. Misalnya kalau kita posisi kita di bagian Business Partner , esensinya sebenarnya adalah memajukan bisnis lokal itu sendiri.

Lalu, misalnya ada yang bilang mengapa kok mahal sekali (kapitalis) ya karena kita harus tetap bisa menjaga kualitas, menjaga service kita, makanya ada harga. Nah, dengan sudut pandang seperti itu, kita bisa menemukan makna. Dan dengan meniatkan itu sebagai bentuk beribadah, kita tidak menjadi budak kapitalis, tapi kita niatkan untuk menjadi kacungnya Tuhan. Semua tergantung sudut pandang banget sih memang, tergantung niat kita. Mungkin kalau yang sekarang dapat rezekinya di perusahaan asing, Tuhan sedang menakdirkan belajar dan mungkin perannya lagi gitu. Kalau ke depannya dikasih peran yang lebih baik, lebih ideal dengan idealisme, yasudah disyukuri saja.

#berbagi

Saya mendapatkan cerita. Ini tentang orang yang sebenarnya sudah baik, tapi masih bisa menjadi lebih baik lagi. Seorang pengusaha yang lurus sudah mendapatkan ijin untuk mengelola sumber daya alam di suatu daerah. Semua sudah siap. Entah sudah berapa M lah yang sudah digelontorkan untuk membangun perusahaan itu. Calon pembeli juga sudah ada. Namun akhirnya belum goal juga terkendala deal dengan warga. Dan dia gak pake premanisme untuk deal itu.

Di sinilah sebenarnya dibutuhkan mental berani berbagi. Kebanyakan orang kekeuh ingin mempertahankan yang namanya kepemilikan dalam berbisnis. Padahal jika semangat berbaginya lebih, mungkin bisnisnya bisa lebih maju. Misalnya, dengan memberikan para pegawai saham, sehingga punya rasa kepemilikan terhadap perusahaan. Mungkin kepemilikan si pemilik bisnis jadi berkurang, keuntungan pun dibagi-bagi, tapi toh di sini para pegawai jadi lebih semangat bekerja, bisnis bisa lebih maju.. dan rezeki bisa dibagi lebih proporsional.

Nah sesuai ilustrasi di paragraf awal, mungkin saja problem deal-deal-an dengan warga bisa saja diatasi dengan mengalah. Mengorbankan keuntungan atau kepemilikan, dengan bayaran berupa keamanan jangka panjang untuk bisnis tersebut sebab warga sekitar punya rasa memiliki.

Tentu saja memang lebih hebat lagi kalau sudah di level social business seperti yang dilakukan oleh Muhammad Yunus, dimana bisnisnya memang tidak diniatkan mengejar profit, tapi memang mengejar target sosial. 

Subhanallah.

#arogansi

Berhubung teman-teman yang saya kenal banyak yang bisnis tentu saja saya banyak berbincang dengan mereka. Ada yang sudah tersohor karena sering dapat penghargaan, masuk koran dll. Ada juga yang tidak terliput media tapi nilai proyek yang ditangani sudah orde juta USD. Ada juga yang selow-selow saja dapet lumayan. Ada yang bisnisnya jalan-jalan aja anteng-anteng aja, gak heboh-heboh, biasa aja. Dan banyak model lainnya.

Terkadang waktu ngobrol dengan teman-teman ini saya bisa merasakan ada beberapa yang di saat tertentu, mereka berbicara dengan arogansi. Ya mungkin mereka mengungkapkan fakta. Tapi kita selalu bisa merasakan, kapan fakta itu sudah dibumbui arogansi. 

Orang yang pencitraan mungkin saja melakukan itu sebagai marketing. Tapi itu tidak membuat orang yang tidak melakukan pencitraan bisa berbangga karena tidak melakukan pencitraan misalnya, dan merendahkan yang sering nongol di media. Tapi ya mungkin sudut pandang lainnya adalah, dia sedang memotivasi bahwa sebenarnya yang nongol di media terlihat keren gak sekeren itu. Ya saya sih kembali lagi ya, setiap orang punya perannya masing-masing.

Dan lagi, saya kurang suka saat ada rekan saya yang karena sudah merasa menemukan panggilannya, lantas ngata-ngatain orang lain. Seriously, walaupun mereka adalah sahabat-sahabat saya, saya tidak nyaman dengan itu. Tapi karena saya menghargai personal stance mereka dan tahu karakter mereka, ya saya diamkan saja. Kita tidak bisa mengatur bagaimana cara orang lain berpikir, tapi kita selalu bisa memberikan moral compass sesuai dengan prinsip kita.

Jadi semua orang punya perannnya masing-masing. Kita tidak boleh meremehkan. Pemilik bisnis tidak boleh meremehkan orang-orang yang jadi engineer misalnya. Karena meskipun mereka membayar engineer jauh lebih murah dari profit mereka sekalipun, itu tidak membuat mereka jauh lebih mulia. Sebab tanpa adanya engineer pun bisnis mereka tidak akan jalan.

Kita tidak boleh menghina orang-orang yang memiliki passion berbeda dengan kita. Setiap orang punya kesukaannya masing-masing kok. Dan setiap manusia yang sadar untuk berkarya pasti berguna untuk orang lain di sekitarnya.

#kesimpulan

Ya intinya segala urusan kita di dunia ini harus diniatkan untuk Tuhan. Dilaksanakan dengan cara yang lurus, “wa ta’awanu alalbirri wattaqwa wa laa ta’awanu alal itsmi wal udwaan”,”wa ahalallahul bai’a wa harramarriibaa” (mohon dikoreksi kalau salah, gak ngecek dulu spellingnya).. dan aturan-aturan lain.

Dan jangan sampai kebalik-balik niatnya. Itu kalau mau hidup dengan hakikat yang sejati loh.

Dan ya, karena bos kita Tuhan, ya kita harus senantiasa memberikan dedikasi terbaik kita pada setiap pekerjaan. Kalau belum bisa baik ya harus diupayakan lebih baik lagi.

Next, mungkin saya juga hendak membahas tentang bagaimana peran sifat amanah dan persahabatan bisa mengantarkan kita pada suatu “Lucky Network”. Network jenis ini bukan jenis network yang berisi “important contacts”, ini justru merupakan network yang isinya teman-teman kita yang suatu saat bisa menjadi pintu rezeki kita. Selain itu saya juga ingin mengaitkan antara yang ada di tulisan ini dengan tulisan-tulisan dari buku-buku bisnis yang saya baca (ya tentunya rada akademis karena beberapa dari HBR).

Terakhir, saya hendak menutup catatan ini (yang kebanyakan inspirasinya saya peroleh dari Guru saya dan orang tua saya, dan pengamatan terhadap teman-teman) dengan sebuah kalimat bijak:

Seperti tanaman-tanaman, sekarang pohon kecil ternyata nantinya jadi pohon beringin, sebaliknya ada yang sekarang kelihatannya tanamannya tumbuh subur tapi tidak ada buahnya.

2 thoughts on “Hakikat Berbisnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s