Mencari #2

“Hidup ini singkat, dan saat kau menyesal semuanya sudah berakhir.”

Satu lagi orang bercerita tentang pengalamannya. Tiba-tiba saja instingku berkata bahwa bagian dari ikatan takdir pula yang membuatnya mengatakan ini padaku. Dan baginya pribadi, apa yang dialaminya seharusnya dapat menjadi suatu titik balik.

“Menurutku ini semua adalah tentang bagaimana kau memaknainya,”

kataku seraya membalikkan badan. Ku haturkan ucapan sampai jumpa. Terkadang aku pun bisa merasa bosan. Rasanya sudah dari lama dia bilang padaku ia hendak mencari. Tapi seberapa serius ia dalam mencari?

Bukan hanya dia. Dan kebanyakan mereka bahkan tak tahu apa yang harus mereka cari. Dalam hidup ini. Dalam satuan yang manusia tak pernah bisa membayangkannya secara utuh dengan akal dan rasa.

Di awal tahun ini pula seorang teman mendatangiku dengan tiba-tiba. Dia katakan ingin berkunjung. Kami berdua adalah orang-orang yang terdampar pada bidang studi yang tidak optimal bagi garis-garis talenta yang kami punya. Banyak yang kami lalui bersama, meski akhirnya harus berpisah di perempatan.

Saat ia datang, ia pun sedang berada dalam dilema-dilema hidup. Aku pun hanya bisa bercerita pengalamanku dan mengatakan hal-hal klise yang entah bagaimana bisa mengantarkan hidupku pada titik sekarang. Semua orang punya nilai dan pertimbangannya masing-masing biar bagaimanapun juga.

Menariknya, suatu ketika kami menjelajah kota dan secara tak sengaja ia melontarkan kata-kata bijak,

“Mungkin karena kau tak tahu apa yang kau cari, maka kau tak pernah menemukannya”

Dia ucapkan itu hanya karena aku menemukan tempat yang selama ini tak pernah aku ketahui.

Dan juga, beberapa minggu lalu ada pula yang bertanya padaku,

“Hei kau, dengan segala filosofimu itu, jadi apa yang harus kita cari dalam hidup”

Aku terdiam sejenak. Dalam beberapa detik aku berpikir bahwa jawabannya bukanlah terdiri atas barisan kata yang diartikulasikan melalui udara. Tapi aku pikir, aku belum menguasai bahasa untuk menjawabnya, maka sebagai seorang manusia aku pun mengeluarkan kata-kata klise.

Aku sadar bahwa mengungkapkannya dengan seperti itu tidak akan membuat jawabanku berarti. Apalagi untuk orang yang usianya seumuran dengan orang tuaku.

Tapi, aku tak punya pilihan kan?

Biarlah, mungkin memang belum saatnya mereka mendapatkan jawaban. Sebab jawaban itu akan datang di saat yang tepat, bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam mencari.

Aku rasa kisah-kisah tadi cukup untuk menemani lamunanku di kereta kali ini. Sebuah jalan panjang menuju rumah.

Tiga tahun lalu aku tak dapat memahami apa yang menyebabkan seorang ibu begitu senang. Bukan hanya dia, tapi teman-temannya pun juga merasa senang. Padahal bagi pemuda yang sedang melakukan perjalanan itu sendiri, rasanya biasa-biasa saja.

Kini, saat orang terdekatku sendiri yang berhasil melewati satu anak tangga dalam perjalanan terpenting dalam hidupnya, aku sedikit bisa merasakan kesenangan itu.

Biar bagaimanapun, pencarian dan perjalanan ini tak hanya milik kita seorang bukan? Maka dari itu kita tak boleh lelah untuk berjalan bersama orang-orang di sekeliling kita.

Bukankah saat pencarian ini berakhir, lebih bahagia jika kita bersama dengan mereka? Maka jangan lupa kirimkan doa. Agar kita dan mereka tak berhenti mencari.

Kopi ini sudah dingin, mungkin saatnya aku hengkang dari coffee shop ini. Lidahku memang tak pernah cocok dengan kopi, sebab yang aku butuhkan hanyalah suasana untuk bisa menuliskan kisah-kisah tentang pencarian.

Lanjutan dari Mencari #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s