Salik Era Kini

Begitu banyak orang yang dalam diam mempertanyakan tentangnya. Lalu membaca begitu banyak kitab masa kini, bergelut dengan logika, abstraksi dan hingga terjebak ilusi; terlupa bahwa yang dibutuhkan untuk sampai ke sana adalah mulai melangkah; bukan meributkan segala penunjuk arah.

Tak sedikit pula yang melangkah, meski mereka tak pernah pusingkan arah. Ada yang tetap menyusuri pagar. Ada pula yang sudah tersasar, tapi tak tahu kalau tersesat dan masa bodoh; ah mereka mah tak perlu dibahas lagi.

Continue reading “Salik Era Kini”

Advertisements

Catching Up QE Report Deadline

Initially, I thought making a video blog would be easier. Since I couldn’t find inspiring time to write blog, and it’s like a few weeks since my last log. So I decided to give it a try yesterday:

It’s not really good, as I was doing it spontaneously before playing futsal. It’s quite difficult as english isn’t my mother tongue, I guess I need to create a proper script for the next video blog.

Yeah, so currently I’ve been writing up my report. I was feeling unwell in the previous week, so I didn’t go to the lab for two or three days. Too much staring at monitor makes you feel dizzy. I know that I have my deadline, but in the end I know that our well-being (physically and mentally) is more important than whatever we’ve been up to.

At the week before, I even tried to contemplate and enjoy the situation in a lake. I wrote some Indonesian poem there. You know, sometimes you just feel wanna stop for a while from the hustle bustle in life.

In the week before that week, I went to Jakarta. The funny stories are:

– I was offered an earlier flight because my flight was overbooked. Although initially I was planning to chill out at the airport, enjoying Thai food, I ended up hurrying to catch up the earlier flight and to eat just¬†a cup of instant noodle ūüė¶

– However, because of delay, my schedule ‘reverted’ back to the original schedule :)) But luckily, I unexpectedly met some college friends at Cengkareng (also thanks to path which somehow showed my location although I¬†turned it off)

—initially I’ve finished this post, but then somehow it’s not saved although I’ve clicked¬†the publish button ūüė¶ ūüė¶ T_T due to some error, so maybe I will just post some summary —

– I visited airport three days in a row. In the second day, I spent more than 6 hours, traveled from terminal to terminal. Initially I planned to go to BNI to reset my i-banking password, but they were all closed. I talked to my mom it’s okay to take a walk around the airport since usually we’re in hurry. I didn’t realize what I wished for. My brother’s flight got delayed a few hours. The flight status display at SHIA is not reliable. It said my brother’s plane was landed at around 4, but it turned out his actual arrival was around 6.

– I met one of Bujang FC members. We rarely talked and it turned out he’s graduated from ITB too and also taking the same flight.

– I did manage to register for autogate in SHIA, yeah finally!!

– I don’t know why, but when I visit Jabodetabek, even for a short trip, it always bring some spiritual recharge. So many secrets of life were revealed during these short trips.

Coming back from the spiritual retreat, I started writing up my report (as I told in the previous paragraph). And as I’ve said in the video blog, once again I encountered the situation where I overestimated my capability at work. So at the end of the first week of this month, I just finished writing up the equation. Initially I thought I could finish all of it at the end of the first week. Pffftttt

However, because I wasn’t getting any better I decided to take more rest. But then Dannis went here to attend Google CMO Academy. So I decided to meet him, and yeah, I didn’t regret it at all because talking with an old friend who shares the same initial point after graduation and the same interest to dream big, is always energizing.

And then, finally we finished the book of Singapore’s education system. I’m so glad that finally I got the chance to give even a small contribution to my country. I think it’s been 2 years I’m living a quiet life. Only thinking about myself. Discovering myself. But it’s the best investment I had in life so far since it’s constructing the very foundation of my journey in becoming ‘The True Self’ or ‘Diri Sejati’ as stated in some Javanese Spirituality book I read a few years back.

What else did I write this morning ?

Umm, I think I’m gonna put some photos later to complete the story. And at the end of the day, I realized that I still need to exercise my gratitude muscle.

And now let’s get back to work!!

 

 

24.35, Sudah Digariskan

Baru-baru ini aku sering tertawa sendiri, persis seperti orang gila. Rasanya lepas, dan seolah mendapat ilham, tanpa harus menggunakan  obat-obatan psychedelic. Rasanya sudah lama sejak terakhir kali aku merasakan seperti ini.

Adalah suatu hal yang tak berhenti membuatku tertawa saat menyadari bahwa adikku sudah sufi. Bukan aku yang menilainya, tapi tentu saja seseorang yang memang sufi betul. Kalau aku mana paham, mana yang sufi mana yang bukan. Sedang beliau, beliaulah yang menjadi rujukan kami. Bahkan saat beliau mengatakannya, aku langsung tertawa,

“Sudah sufi itu”

Aku tak bisa berhenti tertawa. Senang rasanya melihat adikku yang aku saksikan dia dari kecil hingga awal masa remajanya (meskipun akhirnya aku tak sepenuhnya mengikuti perkembangannya di pertengahan) telah menjadi seorang sufi. Ada rasa bangga atas segala perjuangan dan perjalanan hidupnya.

Dan aku tak bisa berhenti tertawa menyadari ini, mengingat dia sedang marah saat mengungkapkan suatu hal yang diluar logika umum. Tapi ya justru itu, dia sudah sufi. Aku sendiri justru belum tahu apakah aku ini sufi atau bukan. Aku selalu ingin menjadi sufi, sebab menurut buku yang ku baca mereka yang senantiasa membersihkan jiwanya karena tersadar bahwa dunia ini penuh debu yang mengotori pakaian putihnya meski sudah berhati-hati.

Tapi, selain itu ada juga beberapa hal yang semakin aku yakini keberadaannya. Kita adalah entitas yang saling berinteraksi pada abstraction layer yang lebih rendah. Maka dengan hukum ini, segala pertemuan kita dengan masing-masing orang bersifat hitung-hitungan pasti di tingkat tersebut.

Semua sudah digariskan. Mengapa kita bertemu dengannya, mengapa kita mengalaminya, dan kemana kita dipersiapkan. Yang perlu kita lakukan hanyalah memegang teguh garis itu, lurus dalam perjalan, serta erat dalam menggenggam frekuensi Ke-Tuhan-an. Dengan demikian akan tercapailah semua yang telah dipersiapkan.

Satu hal yang semakin dalam aku pahami bahwa bala bisa menjadi rahmat dan rahmat pun bisa menjadi bala. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Mau kemana?

Segala gelombang kebaikan yang kita osilasikan kelak akan memantul pada diri kita sendiri. Maka buah dari kebaikanlah, orang-orang baik dipertemukan. Buah dari kebaikan orang-orang jahat pula yang membuat mereka dipertemukan dengan orang baik. Dan ketika hati mereka siap, orang-orang jahat itu sudah selangkah lagi membuka pintu kebaikan.

Namun lebih dari itu semua, aku kembali menyadari bahwa segala pertemuanku dengan seluruh ciptaan adalah pelajaran untuk diriku sendiri.Iya. Setelah membuktikan ucapan-ucapan itu aku jadi paham, tugasku sederhana: sampaikan, dan terus belajar.

Hati orang? Itu Tuhan yang menggenggam. Bahkan hatiku sendiri tak terhitung berapa kali dibolak-balikkan-Nya.

Teringat pula aku dulu sering bertanya tentang banyak hal, persis seperti tokoh utama pada cerita Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Namun beruntung, tak perlu aku berbaring dan dijelaskan jawabannya oleh malaikat dengan melintasi ruang waktu. Sekarang pun aku mendapatkan satu lagi jawaban atas salah satu pertanyaan masa kecilku: mengapa aku dilahirkan dari ibuku?

24.35 adalah jawabannya. Dia adalah ibu yang entah mengapa kebetulan membaca buku tentang misykat cahaya lalu¬†melantunkan ‘panggilan’ itu pada saat anaknya dalam kandungan.

Ya, rasa-rasanya semua keberuntungan yang aku terima adalah berasal dari sana. Sebab telah dipanggil sedari kecil, hal yang kelak akan menyelamatkanku sampai hari akhir.

Rasa syukur pun rasanya memenuhi jiwa, tak terbendung dan tak tersalurkan. Aku hanya bisa berdoa agar aku tetap bisa berusaha menjadi orang baik.

Lagipula, hari ini kembali aku menyadari bahwa jalanku telah dihiasi banyak kesulitan dan kemudahan. Membuatku semakin paham bahwa ini semua hanyalah proses yang harus dilalui. Hidup pada akhirnya hanyalah bermain gundu.