24.35, Sudah Digariskan

Baru-baru ini aku sering tertawa sendiri, persis seperti orang gila. Rasanya lepas, dan seolah mendapat ilham, tanpa harus menggunakan  obat-obatan psychedelic. Rasanya sudah lama sejak terakhir kali aku merasakan seperti ini.

Adalah suatu hal yang tak berhenti membuatku tertawa saat menyadari bahwa adikku sudah sufi. Bukan aku yang menilainya, tapi tentu saja seseorang yang memang sufi betul. Kalau aku mana paham, mana yang sufi mana yang bukan. Sedang beliau, beliaulah yang menjadi rujukan kami. Bahkan saat beliau mengatakannya, aku langsung tertawa,

“Sudah sufi itu”

Aku tak bisa berhenti tertawa. Senang rasanya melihat adikku yang aku saksikan dia dari kecil hingga awal masa remajanya (meskipun akhirnya aku tak sepenuhnya mengikuti perkembangannya di pertengahan) telah menjadi seorang sufi. Ada rasa bangga atas segala perjuangan dan perjalanan hidupnya.

Dan aku tak bisa berhenti tertawa menyadari ini, mengingat dia sedang marah saat mengungkapkan suatu hal yang diluar logika umum. Tapi ya justru itu, dia sudah sufi. Aku sendiri justru belum tahu apakah aku ini sufi atau bukan. Aku selalu ingin menjadi sufi, sebab menurut buku yang ku baca mereka yang senantiasa membersihkan jiwanya karena tersadar bahwa dunia ini penuh debu yang mengotori pakaian putihnya meski sudah berhati-hati.

Tapi, selain itu ada juga beberapa hal yang semakin aku yakini keberadaannya. Kita adalah entitas yang saling berinteraksi pada abstraction layer yang lebih rendah. Maka dengan hukum ini, segala pertemuan kita dengan masing-masing orang bersifat hitung-hitungan pasti di tingkat tersebut.

Semua sudah digariskan. Mengapa kita bertemu dengannya, mengapa kita mengalaminya, dan kemana kita dipersiapkan. Yang perlu kita lakukan hanyalah memegang teguh garis itu, lurus dalam perjalan, serta erat dalam menggenggam frekuensi Ke-Tuhan-an. Dengan demikian akan tercapailah semua yang telah dipersiapkan.

Satu hal yang semakin dalam aku pahami bahwa bala bisa menjadi rahmat dan rahmat pun bisa menjadi bala. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Mau kemana?

Segala gelombang kebaikan yang kita osilasikan kelak akan memantul pada diri kita sendiri. Maka buah dari kebaikanlah, orang-orang baik dipertemukan. Buah dari kebaikan orang-orang jahat pula yang membuat mereka dipertemukan dengan orang baik. Dan ketika hati mereka siap, orang-orang jahat itu sudah selangkah lagi membuka pintu kebaikan.

Namun lebih dari itu semua, aku kembali menyadari bahwa segala pertemuanku dengan seluruh ciptaan adalah pelajaran untuk diriku sendiri.Iya. Setelah membuktikan ucapan-ucapan itu aku jadi paham, tugasku sederhana: sampaikan, dan terus belajar.

Hati orang? Itu Tuhan yang menggenggam. Bahkan hatiku sendiri tak terhitung berapa kali dibolak-balikkan-Nya.

Teringat pula aku dulu sering bertanya tentang banyak hal, persis seperti tokoh utama pada cerita Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Namun beruntung, tak perlu aku berbaring dan dijelaskan jawabannya oleh malaikat dengan melintasi ruang waktu. Sekarang pun aku mendapatkan satu lagi jawaban atas salah satu pertanyaan masa kecilku: mengapa aku dilahirkan dari ibuku?

24.35 adalah jawabannya. Dia adalah ibu yang entah mengapa kebetulan membaca buku tentang misykat cahaya lalu melantunkan ‘panggilan’ itu pada saat anaknya dalam kandungan.

Ya, rasa-rasanya semua keberuntungan yang aku terima adalah berasal dari sana. Sebab telah dipanggil sedari kecil, hal yang kelak akan menyelamatkanku sampai hari akhir.

Rasa syukur pun rasanya memenuhi jiwa, tak terbendung dan tak tersalurkan. Aku hanya bisa berdoa agar aku tetap bisa berusaha menjadi orang baik.

Lagipula, hari ini kembali aku menyadari bahwa jalanku telah dihiasi banyak kesulitan dan kemudahan. Membuatku semakin paham bahwa ini semua hanyalah proses yang harus dilalui. Hidup pada akhirnya hanyalah bermain gundu.

 

2 thoughts on “24.35, Sudah Digariskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s