Persamaan-persamaan tentang Cinta (Dari Matematika sampai Behavioral Economics)

*judulnya persamaan-persamaan karena terkadang sebatas disama-samakan atau dicocok-cocokkan.

Sekali-sekali ngeblog tentang sesuatu yang berjiwa muda deh. Daripada dibilang berjiwa tua mulu hahaha.. Lagian ada temen-temen yang suka nyuruh saya bikin memoar tentang cinta.. jadi nanti ini mungkin bakal ada semacam refleksi dari saya.. (sebelum lanjut mau curcol: karena udah sebulan-an ga olah raga, futsal juga pada off semua.. tadi memutuskan untuk lari dan baru 3/4 kiteran HDB complex udah sakita seluruh badan hiks. 6 puteran di bawah menit dan dapet A di pelajaran Olah Raga I pas di ITB hanya tinggal kenangan. Tapi andai itu jadi syarat lulus PhD, saya yakin banyak PhD student yang ga lulus hahaha)

Seperti biasa kalo TLDR dan mau skimming aja cukup baca yang dibold. Tapi intinya part-partnya adalah: Rumus-rumus cinta, Usaha-usaha manusia untuk membuat teori tentang cinta, signifikansi cinta bagi manusia, dan juga refleksi personal saya.

Jadi hari selasa yang lalu saya mimpi tentang persamaan cinta. Ada seorang temen, PhD student tahun keempat di Fisika yang baru-baru ini update status kalo doi udah publish paper yang ke-6. Meanwhile saya sendiri belum publish-publish dan ini udah ketiga kalinya sesi publikasi di progress report tahunan saya berisi: Nama Saya, Nama Supervisor Saya, “Judul Paper Saya” (to be submitted in IEEE BLABLABLA). (Dan saya sekarang bukannya lanjut bikin paper malah bikin blog post absurd. Gapapalah weekend coy) Mungkin karena faktor ini, dan karena sebelum-sebelumnya saya habis bikin-bikin cerpen atau surat tentang cinta juga sih ya.. akhirnya saya mimpi si teman saya ini (Namanya Ipur) menunjukkan sebuah paper tentang rumus-rumus cinta.

Nah, saya agak lupa pastinya, di paper yang ditunjukin Ipur itu ada beberapa rumus. Saya rasa rumus yang saya lihat di sana mungkin adalah:

1. Rumus yang disebutkan di video ini: model matematis untuk hal-hal yang berkaitan dengan relationship/marriage/sex

Memang beberapa minggu yang lalu saya sempat menonton ini.

2. Rumus gaya listrik

|\mathbf F|=k_e{|q_1q_2|\over r^2}\qquad

(source: wikipedia.org)

Saya ingat, dulu saya pernah make rumus ini untuk berdebat soal cinta bersama Zia sehabis ngariung TEDxBandung di Dago (aduh nama tempatnya selasar apa sih lupaaak). Dan Zia sekarang sudah menemukan tambatan hatinya dan sudah banyak bertransformasi.

Ya sebenernya kalau cinta dianggap listrik, artinya semakin jauh jarak seseorang maka gaya cintanya mengecil. Jarak di sini bisa beneran jarak fisik, atau jarak secara batin, maupun jarak dari segi prinsip hidup yang dianut.

3. Rumus gaya gravitasi

F = G \frac{m_1 m_2}{r^2}

(source: wikipedia.org)

Ya rumus ini 11-12 dengan rumus sebelumnya

Nah seingat saya ada sekitar 6 persamaan deh di paper itu. Lalu saya kasih tau ke Ipur tentang persamaan-persamaan lain yang saya tau:

1. Persamaan matematis yang bikin grafik berbentuk hati

HeartCurves

(Source: http://mathworld.wolfram.com/HeartCurve.html)

Jadi ini agak ga berhubungan. Tapi di mimpi itu saya tunjukin dengan graphic generatornya google. Lalu keluar gambarnya. Tapi sayang sekarang malah pas saya nyoba di graphic generator google ga jalan T_T Continue reading “Persamaan-persamaan tentang Cinta (Dari Matematika sampai Behavioral Economics)”

Poetry Entropy

For so long, I have been wondering why great sufis are famous because of their ‘poetries’. Even in Javanese tradition, mystic tended to encode some form of wisdom in form of poetry (such as: Suluk Wujil, Serat Wedhatama). While I’m currently busy preparing report, paper, etc, I couldn’t prevent myself to browse through the internet, and even reading some paper from Journal of History of Sufism (although I myself rarely open IEEExplore with pure curiosity.. Isn’t it ironic? LOL).

One day, I just bothered by the word “emanation“. It appeared on the English translation version of Anak Semua Bangsa. It was when Jean Marais told Minke that his writing is probably just a reflection of Minke’s character, not even its emanation. What’s the difference between emanation and reflection anyway? I once heard the notion that we are God’s emanation. It was a very long time ago. Probably, I did look for it in the past. But now that I’m clueless, I started to look it up.

I stumbled upon emanation theory from Al-Farabi. I read some kind of Indonesian academic paper on it, and some English. I can’t be more puzzled by this idea. Probably I need to check what Plotinus said about it in the first place, the very source of Al-Farabi’s Islamized version of emanation theory. (Sometimes I think I should have been enrolled in Philosophy major, but maybe God knows that I’d still read these stuffs while my official field of study is Electrical Engineering :p)

Befuddled and puzzled with all of it, my mind all of a sudden turned its attention into a story of “The Conference of the Birds” by Faridudin Attar. It was quoted on one of my favorite books in the chapter where the book discuss the art of loving. Probably because I’m having problem with love life, hence I remembered this part haha. The quoted story was so fascinating. And then I said to myself, who is this guy, Fariduddin Attar? Yes, he’s also a sufi. It is said that Rumi also drew inspiration from him. I set out to find the full poetry, but I haven’t got it yet. But then I got some graphical illustration and some youtube video discussing the poem. So, instead of playing songs from my Spotify playlist, I listened to those videos while I was working on my presentation slides.

And then when I went out for breathing some fresh air. I saw this tree, and wrote something; then posted it to my instagram:

What do you see? We do not see things as they are. We see things as we are. Those who know will not speak. Those who speak do not know. Birds are looking for Simurgh. Simurgh is looking for them. For everything you see is the face of Simurgh while Simurgh is sitting at the throne; closer to you than your jugular vein.

What do you see?

We do not see things as they are

We see things as we are

Those who know will not speak

Those who speak do not know

Birds are looking for Simurgh

Simurgh is looking for them

For everything you see is the face of Simurgh while Simurgh is sitting at the throne;

closer to you than your jugular vein.

Continue reading “Poetry Entropy”

What I Think When I Watch Lucy

Since two weeks ago, I have been trying to slow down my tempo for the previous weeks I felt headache too often. I go home early. I try to have fun, watching lots of movies, tv series, reading lots of books (some activity that has been paused for a while/few months). Anyway, I had my first draft of QE report reviewed by my supervisor on Sept 26th. Initially he was planning to give the feedback on Monday 29th. I was about to go to some cafe with Adhi and Keoni when suddenly he called and asked me to come over at 6 pm. And then we went through the draft. He was on leave for the week after. I finally printed out and submitted my QE report in the previous week.

And time feels like moving too fast. This is my third year. My supervisor expect me to finish my research in the next one solid year. I don’t know why but he seems optimistic although I have not yet published any publication.

Time. It’s one of the most crucial things in the whole world. And as been told in Lucy, Continue reading “What I Think When I Watch Lucy”

Sedikit Tentang Lebih Dari Sekedar Politik

Simbol Politik

Suatu hari saya diajak orang tua saya bersilaturahmi ke seorang pengusaha/pengacara internasional. Kebetulan beliau sedang ada tamu, jadinya meski sudah masuk di ruangan, saya sempet nonton diskusi beliau. Waktu itu sedang ngomongin masalah suatu perusahaan tambang di Indonesia timur.

Setelah selesai, kami pun lanjut ngobrol-ngobrol. Waktu soal nyinggung-nyinggung politik, orang tua saya bilang kalau saya nggak boleh ikut-ikutan kalo soal politik. Terus si Bapak ini bilang kalau misalnya suatu saat ada yang minta jadi menteri tapi jangan ditolak, sembari bercanda.

Meskipun dekat dengan orang-orang politik, si Bapak ini tidak begitu suka dengan politik. Waktu itu Bapak ini mengungkapkan kepada saya tentang cita-citanya untuk membangun wadah bagi pemuda untuk berkarya secara nyata. Bukan seperti ICMI yang hanya digunakan untuk politik.

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah buku yang ditulis alumni ITB yang kini menjadi dosen sosiologi di NTU. Judul bukunya The Technological State in Indonesia: the Co-constitution of High Technology and Authoritarian Politics. Dari membaca buku itu saya jadi lebih mendapatkan big picture atas apa yang disampaikan oleh Bapak tadi beberapa tahun lalu.

Bagaimana ICMI bisa dibangun di tengah-tengah orde baru, bagaimana relasi antara Habibie-Soeharto adalah hal yang menarik untuk dipelajari. Dan, lebih dari sekedar simbol-simbol politik, visi kemajuan teknologi adalah sesuatu yang sangat menarik. Buat saya, ada hal-hal yang meski dalam prakteknya dijadikan simbol-simbol politik kekuasaan (karena Pak Harto sebagai Bapak pembangunan membutuhkan sesuatu yang akan membawa dia menuju puncak Grandiose) merupakan hal-hal yang sangat penting sebagai bentuk manifestasi ke-manusia-an, memberikan sumbangsih bagi peradaban manusia.

— sejujurnya agak sulit bagi saya untuk menuliskan racauan ini secara sistematis. sebenarnya kalau terlihat lompat-lompat, berarti ada alur yang saya skip untuk mempersingkat penulisan. — Continue reading “Sedikit Tentang Lebih Dari Sekedar Politik”

Menuju Waskitha

Dalam khazanah spiritual Jawa, seseorang yang ajeg melakukan laku tirakat akan dapat mencapai waskitha. Di tahap ini, intuisi seseorang lebih tajam. Dia akan dapat menangkap apa yang tidak bisa ditangkap oleh panca-indera.

Dikisahkan bahwa seseorang dapat mencapai tahap ini karena dia lebih mawas diri, fokus pada perbaikan diri dan berusaha menjinakkan ego pribadi.

Kalau boleh meminjam istilah barat, laku-laku tirakat (yang bisa saja termanifestasi dalam bentuk meditasi) akan meningkatkan resolusi seseorang dalam memahami dirinya sendiri. Pemahaman diri sendiri sangatlah halus. Kuantifikasinya sangat subjektif, tapi sangat nyata bagi subjek yang mengalaminya.

Apakah ini empiris? Rasanya ini adalah empirisme personal. Mirip dengan cara kita mendefinisikan manis. Bisa terdapat ribuan definisi manis, selama kita masih bergerak dalam dimensi kata.Dan kita belum berbicara mengenai esensi dan kaitan antara ‘pengukuran’ dengan ‘kenyataan’.

Kembali ke topik, saya termasuk orang yang meyakini bahwa untuk meraih waskitha diperlukan pembimbing. Sebab, untuk mencapai sesuatu yang lebih dari indera semata, dibutuhkan sebuah referensi. Beberapa ajaran yang saya pernah dengar kabar anginnya justru menyaratkan bahwa seseorang harus mencarinya sendiri. Namun, saya meyakini bahwa perjalanan jiwa adalah sebuah perjalanan di sebuah medan yang kita tidak ketahui.

Kita, tak pernah tahu apakah sebuah firasat atau ilham yang kita peroleh adalah benar atau tidak. Sebagai seorang manusia, apalagi setelah merasa memiliki pengetahuan, ego akan menuntun kita untuk membenarkan ilham yang datang pada kita. Hal ini sejalan dengan cara pikiran kita mengambil keputusan.

Dalam pemikiran yang tidak jernih, kita akan berpikir secara bias. Kita berusaha mencocok-cocokkan kebenaran/realita sesuai dengan asumsi awal yang kita punya. Lalu, kita berusaha menyingkirkan hal-hal yang tidak sesuai dengan asumsi kita. Kita juga menghargai lebih sesuatu yang erat kaitannya/dimiliki oleh diri kita.

Sampai saat ini, dalam perjalanan peradaban dan pengetahuan, manusia hanya bisa memodelkan realita. Maka dari itu, dalam perjalanan ini ego masih bermain. Dan seberapa kadar kesejatian kebenaran jika ia masih dipengaruhi oleh ego pribadi?

Selain itu, ada satu hal yang saya rasa benar. Dalam perjalanan menuju waskitha, kita harus jujur pada diri sendiri. Kita tidak bisa berbohong seraya berkata bahwa kita sudah terlepas dari ego. Tahap pertama dari semua ini adalah menerima bahwa kita masih berkait dengannya. Berkawan dulu dengannya. Dengan ini kita bisa merekam, seberapa besarnya ego kita.

Dengan kejujuran ini, kelak kita pun akan menyadari bahwa dalam hal-hal tertentu, kita telah bisa melepaskan ego. Kita hanya bermain gundu di sini. Sewajarnya saja, tidak dikendalikan oleh ego.

Tadinya pun saya merasa hal seperti ini di luar batas logika. Bagaimana mungkin seseorang bisa merasakan kadar kesombongan dalam dirinya sendiri? Bagaimana mungkin seseorang bisa merasakan kadar kesombongan dari orang lain? Tapi mungkin sebelum bisa mendefinisikan ‘manis’ dalam dimensi kata, kita harus bisa merasakannya dulu. Meskipun tetap, itu tidak menjamin definisi yang kita buat benar dan diterima orang lain.

Itulah waskitha. Dan kita harus mengejarnya. Sebab ini merupakan salah satu fase yang harus kita jalani. Dia hanya persinggahan, dan bukan tujuan.